
Biar kukatakan, terkadang aku tak tahu mengapa semua berjalan begitu tak jelas dan lamban. Publikasi dokumen lama (padahal butuhnya segera), kehidupan percintaan yang rasanya patut di-blacklist (karena para pria ataupun wanita terkadang memilih 'sebangsa' mereka), bahkan kematian pun bisa jadi hanyalah permainan dewa yang sedang bosan (P. S. ini sering terjadi)! Aku yakin tugas dan pekerjaan setiap orang itu banyak. Aku juga meyakini bahwa beberapa di antara kalian muak dengan hidup yang nyaris tak pernah sesuai rencana kita.
Well, aku rasa itu mirip dengan bagaimana para tokoh kita di sini menjalani hidup mereka. Bahkan aku yakin, ada bagian dimana kalian menemukannya sangat membosankan untuk dibaca per katanya. Sama. Baik Ruvia, Putra Mahkota, maupun yang lainnya, pasti sudah sangat bosan dengan kisah tentang kehidupan sehari-hari mereka yang tak seseru atau semenarik itu. Khususnya Kareen dan para 'teman'-nya yang mati begitu saja atas dasar kebosanan dewa dan harus bermain dalam kisah-kisah demi menghibur Sang Dewa.
Sekali lagi, banyak hal terjadi di luar perkiraan kita, bahkan menghancurkan keseluruhan rencana kita pada hari tertentu. Banyak hal juga yang terjadi sampai kita terkadang lupa bahwa kita perlahan hancur karenanya. Bukan ingin mengusik kalian dengan pemikiran kalian yang pasti sudah penuh, hanya ingin memberi sedikit dari kata-kata 'obat' yang mungkin bisa membantu dalam keseharian.
“Hey, just want to tell you. Whoever who you are and no matter what you do, you are you and be yourself is the best. If the world says you are the worst, then remember that I said, “you're the best!”.”
>“Hei, hanya ingin memberitahumu. Siapapun dirimu dan tak peduli apapun yang kau lakukan, kau adalah kau, dan menjadi dirimu sendiri adalah yang terbaik. Bila dunia berkata bahwa kaulah yang terburuk, lalu ingatlah bahwa aku berkata, “kaulah yang terbaik!”.”
__________
Ruvia mulai menghitung-hitung sudah berapa banyak tokoh yang dijumpainya dan… masih ada satu orang…! Meski ia tak benar-benar perlu untuk bertemu orang satu ini, ada efek positif yang menggugahnya, sayangnya, tetap ada efek negatif dari pertemuan dengan orang ini.
Efek positif, pertama, Ruvia sudah pasti mendapat jaminan untuk tak mati; kedua, orang ini hanya akan melihat dan mendengar perkataan Ruvia bila mereka sungguh bertemu; ketiga, orang ini adalah kunci menuju seri kisah berikutnya. Maksudnya, kisah tambahan yang ditulis Kareen sebagai seri penutup novel terbarunya. Efek negatif, pertama, Ruvia harus bisa membaca niat orang ini atau dia 'tamat'; kedua, ia tak tahu apakah orang ini adalah 'orang baik' atau sebaliknya; ketiga, demi apapun, meski ia yang menciptakan tokoh ini, ia tak pernah membayangkan rupa tokoh ini sebelumnya! Bagaimana bila orang ini memiliki rupa seperti harimau yang siap menyerang, atau lebih buruk lagi, seperti pembunuh bayaran yang siap mencabut nyawanya kapan saja.
Meski pikirannya penuh dengan pro dan kontra, kakinya terus melangkah entah ke mana. Neo yang menemaninya tadi entah tertinggal di mana. Yah, lebih buruk lagi, bisa saja ia tiba-tiba sampai di tempat asing dengan para 'penjual' yang siap 'mengambil'-nya.
“Uff…!” Ruvia terhenti karena wajahnya menabrak punggung seseorang. Orang yang membelakanginya ini mengenakan jubah bulu berwarna putih.
“Ma-maaf…” Kata-katanya hilang begitu saja ketika ia melihat yang ditabraknya. Di sana berdiri tegap seorang pria berambut perak dan bermata merah, berkulit pucat dengan bulu-bulu putih yang membalutnya, membuatnya terlihat seperti seekor kelinci.
“Oh, tidak apa, Nona.” Pria itu tersenyum tipis padanya, kemudian bersimpuh lutut di hadapan Ruvia. “Nama?” tanya Ruvia pura-pura tak tahu dan bertingkah layaknya anak kecil.
Pria itu mengambil tangan kanan Ruvia dan mendaratkan kecupan di atas punggung tangannya. “Poltere, salam kenal, Nona kecil.” Pria bernama Poltere itu membuat Ruvia merinding. Demi apa?! Baru saja disebut, sudah datang!
“Harus kuakui…”
“Apa?”
“Oh? Bagaimana bila 'dipercepat' saja?”
“Oh my, good idea! Aku sangat suka skip bagian tdk penting. Hehe… well, shall we?”
Zzzeephh…
Gambaran pertemuan Ruvia dan Poltere begitu saja berganti menjadi kenampakan padang rumput yang luas dengan penampakan langit memerah sebagai latar belakang. Seorang gadis berambut pirang panjang dengan pakaian berkuda menginjakkan kakinya pada lahan dengan rerumputan rendah. Rambut panjangnya melambai perlahan termainkan oleh angin yang serentak mempermainkan alam sekitarnya. Wajahnya bersih dengan kulit pucat dan garis wajah yang halus, dengan bibir tipis berwarna merah layaknya buah beri.
“Via!” Gadis itu menoleh mendengar seseorang memanggilnya. Matanya tajam seolah dapat membunuh dengan hanya matanya. Namun, sebuah senyuman terpatri di wajahnya, menjadikan wajahnya tampak cantik dan manis dengan lesung pipi yang dalam dan sedikit rona merah pada pipinya.
“Nae,” ucap Ruvia dengan senyuman yang masih belum turun dari wajahnya.
“Hei, hei, Via akan menghadiri kelas Ratu Pertama, bukan?” Ruvia memandangi gadis berusia tak jauh darinya yang menggandeng lengannya dengan manja. “Kurasa, iya. Lagipula, tahun ini, kelas akan kedatangan Madam Tio.”
Madam Tio adalah guru sihir yang mengajar secara khusus dalam Akademik Khusus Pendidikan Sihir. Hanya ada beberapa orang yang bisa menjadi murid pilihannya, bukan karena kalian memiliki harta melimpah ruah, bukan karena kalian punya kekuasaan atau latar belakang keluarga yang baik, bukan juga karena kalian memiliki rupa yang layak dipuja. Beliau hanya mencari yang terbaik dari yang terbaik. Mungkin kau takkan menyangka bahwa orang paling tak berguna di kelas reguler, bisa saja diangkatnya menjadi muridnya.
Mungkin kalian merasa aneh mengapa itu bisa terjadi, namun sebenarnya, hal ini sangat lazim di mata Madam Tio dan bangsanya, Bangsa Hexerei. Bangsa ini memiliki mata yang dapat melihat potensi setiap manusia baik dalam sihir ataupun bidang lainnya, mereka juga dapat melatih potensi ini menjadi lebih hebat daripada yang ada dalam kisah dongeng atau legenda. Kemampuan mereka terbilang cukup langka mengingat keturunan Bangsa Hexerei yang cenderung menutup diri atau hidup dengan berbaur dalam masyarakat pada umumnya agar tak dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Namun, tak menutup kemungkinan ada yang membuka diri dan membantu negara atau pihak tertentu dengan keahlian mereka.
Madam Tio ialah salah satu yang membuka diri, berkat putra angkatnya yang memintanya untuk mengajar di Akademik Khusus Pendidikan Sihir. Sayangnya, putranya itu mengalami cacat seumur hidup pada mata dan kaki karena adanya kecelakaan dalam proses pembelajaran (well, katanya 'kecelakaan'). Meski begitu, putranya diangkat menjadi guru tetap dalam bidang sihir air dan berburu. Putranya biasa dipanggil Art, yang berarti alam, memiliki potensi tinggi dalam sihir air, sihir penyembuh, sihir api, dan semuanya termasuk ke dalam kelas surgawi!
Sekedar informasi, kelas surgawi ialah kelas keenam dari total tujuh kelas sihir. Kelas pertama, kelas tanah, merupakan kelas terendah dengan kemampuan sihir yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari (nyaris semua orang memilikinya). Kelas kedua, kelas bumi, tak jauh berbeda dengan kelas tanah, hanya saja memiliki penguasaan sihir yang lebih baik. Kelas ketiga, kelas pertengahan, merupakan kelas yang banyak dimiliki oleh pemburu karena dapat memperkuat senjata dan dapat menghilangkan aura keberadaan dalam taraf tertentu. Kelas keempat, kelas langit, merupakan kelas yang banyak dimiliki oleh ahli pedang yang turut menggunakan sihir dalam pelatihan.
Kelas kelima, kelas langit terakhir, merupakan kelas khusus untuk batas penerimaan biarawan (kelas ini biasanya paling kuat dalam sihir penyembuhan dan sihir air). Kelas keenam, kelas surgawi, merupakan kelas dengan para ahli yang telah dilatih khusus dengan potensi tinggi yang biasanya memang sudah talenta sejak lahir. Kelas ketujuh, kelas keabadian, sesuai namanya, kelas ini dapat membuat seseorang menjadi abadi, menguasai segala jenis sihir, dan mampu menghancurkan beberapa negara tanpa menggerakkan jarinya sedikitpun. Cukup jarang ditemukan yang memiliki sihir kelas ini di muka bumi karena biasanya, yang telah mencapai sihir kelas ini, akan ditarik untuk tinggal dalam Komunitas Pengurusan Sihir yang jelas ada di sisi lain dunia. Ya, dunia orang 'sana'.
Kini sudah dua puluh murid yang dibina oleh Madam Tio selama lima belas tahun ia mengajar, Ruvia tak mungkin melewatkan kesempatan emas ini. Meski ia sudah menyelesaikan Pendidikan Khusus Ratu Pertama, ia masih dalam usia yang seharusnya mengenyam pendidikan itu. Ia sudah dibebaskan dari kewajiban mengikuti kelas, namun, ia masih diizinkan mengikuti kelas bila ingin. Omong-omong, Madam Tio baru berusia tiga puluh tujuh tahun pada akhir tahun ini dan putranya kini sudah berusia dua puluh dua tahun pada awal tahun ini.
Omong-omong lagi, ia tak sabar bertemu Madam Tio dan 'bermain' dengan sihir. Ruvia sungguh antusias akan kehadiran Madam Tio, ia jelas akan sangat menikmati apapun yang akan diajarkan, meski hanya sihir kelas tanah sekalipun. Namun, seperti biasa, kenyataan jarang sejalur dengan ekspektasi.