Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
Bab V—Eberyna Marcum lac Foru (III)



Aku tahu bila mencintai itu menyakitkan


Dan aku lebih tahu lagi


Kehilangan itu jauh lebih mengerikan


Jelas aku tahu tak boleh seperti ini


Tapi aku tak sanggup menolak pesonamu


Aku semakin tak mampu menahan tangis


Di kala yang lain mati rasa atas kehilanganmu


__________


Cyllenae berjalan cepat menuju pelataran keberangkatan. Ia tak mengenakan gaun berlapis tebal seperti yang biasa ia harus kenakan, ia sekarang hanya mengenakan pakaian berkudanya yang berwarna putih.


“Kakak!” serunya ketika melihat Eberyna keluar dari lorong Timur. “Selamat pagi, Cyllenae. Bagaimana tidurmu?” balas Eberyna yang juga mengenakan pakaian yang sama dengan Cyllenae, hanya saja yang ia kenakan berwarna cokelat muda.


“Nyenyak, Kak. Tampaknya, Dewi Bulan [11] selalu menemaniku. Ah, aku sedang memikirkan kenaikan pajak kerajaan. Kupikir kita bisa mengubah sedikit ketentuan pajak itu, rakyat menengah ke bawah mungkin akan mengalami kesulitan untuk membayarnya bila masih dengan ketentuan yang sama, bagaimana menurut Kakak?” ujar Cyllenae sambil berjalan menuju ruang makan.


“Kupikir itu bisa saja kita ubah, tetapi kurasa pajak seperti untuk perhiasan dan pembelian dari luar negara perlu ditingkatkan serta pajak penjualan ke luar negara perlu diturunkan bila masih ingin mendapat nilai yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya atau meningkatkannya.” Eberyna membalas sambil ikut berjalan di sebelah Cyllenae.


Keduanya memang suka berdiskusi, tapi apa waktu ini adalah waktu yang tepat? Dan lagi, mengapa pakaian mereka malah tampak seperti ingin berkuda dan bukan untuk pergi ke kerajaan lain? Namun, tak ada satu pun dari mereka yang saling mengomentari jenis pakaian yang dikenakan dan hanya berdiskusi sambil berjalan menuju tujuan mereka.


“Eberyna, Cyllenae! Tunggu aku!” Suara itu membuat keduanya berhenti dan menoleh ke belakang untuk mendapati Raczach dengan setelah putih dengan aksen tali berwarna emas.


“Selamat pagi, Kakak.” Eberyna dan Cyllenae memberi hormat dan langsung diterima Raczach dengan rangkulan pada masing-masing pinggang dari kedua gadis itu dan berjalan bersama mereka menuju ruang makan.


“Hei, hei, aku dengar kalian akan pergi ke Kerajaan Sarch. Atau kalian mengganti jadwal menjadi berkuda hari ini?” ujar Raczach yang sedari tadi mengamati pakaian berkuda mereka.


“Bukankah akan menyenangkan berkuda sambil melihat pemandangan selama perjalanan menuju kerajaan?” ujar Eberyna yang diangguki Cyllenae. “Lagipula, mungkin ini hanya pendapat pribadiku, tapi rasanya mengenakan gaun berlapis itu membuat seseorang sulit berjalan atau bergerak dengan cepat.” Cyllenae sungguh membenci ide untuk mengenakan buntalan kain tebal yang menyusahkannya kala memanah hewan buruan yang gesit.


Raczach tertawa kecil. Sebelum memasuki ruang makan, ia melepas pinggang Eberyna dan gadis itu langsung masuk setelah pamit. Namun, ia masih memegang pinggang Cyllenae dan berkata, “Tahan saja penderitaan itu untuk sementara. Toh nanti kamu bebas mengenakan ataupun tidak buntalan kain itu.” Raczach mengelus rambut Cyllenae cepat sampai sedikit menghancurkan tatanan rambutnya dan memasuki ruang makan menyusul Eberyna.


Cyllenae hanya bisa terdiam sambil merapikan rambutnya. ‘Yah, itu bukan ide yang buruk.’ Batinnya sambil tersenyum kemudian memasuki ruang makan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di dalam kamar besar bernuansa coklat, Cyllenae tak bisa berhenti mengetukkan jari-jarinya pada lengannya yang lain. Kenapa? Itu karena sejak awal kedatangan mereka, segala jenis sumpah serapah sudah nyaris melayang dari bibirnya. Bagaimana tidak?


Pangeran Jouisle, yang katanya 'sempurna', pria idaman, atau apalah itu, malah memandang kakaknya, Eberyna, seolah tak puas.


‘Asal kau tahu saja, kakakku yang sempurna tak mungkin mau dengan kau yang jauh di bawah dari kata sempurna!’ Setidaknya itu yang diteriakkannya di pikiran, tetapi ketika melihat mata Eberyna yang seolah mengatakan jangan-katakan-hal-itu, ia tak punya pilihan selain menelan kembali keinginan untuk menyumpahserapahi pangeran sombong itu. Ah, semakin dipikirkan semakin membuatnya kesal saja!


Pada akhirnya, ia mengambil panah dari atas meja serta panah di dalam tasnya dan beranjak menuju ‘lapangan pelatihan’ yang sudah ia tanyakan keberadaannya dari awal kedatangannya. Langkahnya cepat, orang-orang mungkin berpikir bahwa ia sedang terburu-buru. Tapi bagi orang-orang yang sudah mengenalnya, langkah cepat dengan ketukan keras dan tegas itu berarti ia sedang kesal.


Ia sampai di sebuah pelataran dimana rumput-rumput dipangkas pendek dan rapi, beberapa papan target dipasang sejauh seratus meter dari tempatnya berdiri. Lapangan pelatihan itu sangat sepi meski hari masih pagi dan seharusnya, para prajurit atau pengawal akan berlatih setiap pagi di sini. Yah, mungkin beda tradisi, itu yang dipikirkan Cyllenae.


Ia memasang anak panah pada busurnya, kemudian menarik dan melepaskannya ketika ia rasa cukup. Dan lontaran anak panah yang ia arahkan dengan asal itu mencapai target, tepat di tengah. Sama dengan anak panah kedua, kemudian ketiga.


Meski sudah mengenai target tepat sasaran sekalipun, Cyllenae masih saja tampak kesal. Ia sudah mengganti pakaiannya menjadi gaun polos berwarna putih-nila beraksen pita pada leher. Meski tak suka, ia tetap mengenakannya karena pelayan pribadinya, Guido, memaksa. Dan bila ia tak mengenakkannya, ia akan dilarang bertemu dengan kakaknya, Eberyna.


Bayangkan saja, mana tahan ia sehari saja tak bertemu dengan Eberyna. Ide di benaknya bisa meledak bila tak bertemu dengan kakaknya atau pun orang dengan ilmu sepadan.


“Ah, aku sangat berharap Io ada di sini.”


“Siapa Io?”


“!!!”


Jelas Cyllenae langsung waspada setelah mendengar suara dari balik punggungnya. Ia malah sudah memikirkan cara mematahkan atau mengancam orang yang tak ia ketahui itu. Namun, teringat pula ancaman kakaknya, Zurychna, untuk tak langsung mematahkan bagian tubuh seseorang ketika tak terancam.


Ehem, tunggu sebentar, apa yang terjadi di sini? Cyllenae yang tadinya geram pada Sang Putra Mahkota dan nyaris mematahkan tulang seseorang yang ternyata Pangeran Kedua, malah duduk menikmati teh dan kudapan manis di taman belakang Istana Rialton, istana khusus Pangeran Kedua.


“Jadi, apa yang membuat Putri Cyllenae tampak gusar sedaritadi sehingga panah-panah itu tampak bisa menghabisi selusin tentara sekaligus?” ujar Francez sambil menyesap tehnya.


Cyllenae merasa kurang suka dipanggil dengan gelar 'putri' miliknya seolah kesopanan yang ada hanya tercipta karena adanya gelar yang mengikatnya itu. “Sebentar, Pangeran. Saya mohon untuk tidak memanggil saya dengan kata 'putri' tersebut. Mohon panggil saya dengan Cyllenae saja.”


Francez mengerjap sebentar, lalu tersenyum dan membalas, “Boleh, itu juga boleh.” Yah, meski menurut tradisi dari kerajaan ini, memanggil seseorang tanpa kata 'Tuan', 'Nona', atau gelar lainnya, dapat dianggap sebagai suatu ikatan yang akrab. 'Tidak buruk juga.' Batinnya sambil mencicip kudapan manis yang ada.


Dan fakta baru yang diketahui Francez, Cyllenae menyukai kudapan berbahan apel dan teh bunga Vie Vida [12]. Bibir tipis sewarna apel merah dengan mata sewarna berlian dan bermahkotakan untaian rambut perak, itu adalah perwujudan yang bagai dewi di mata Francez.


“Indah…”


“Maaf?”


“A-ah, tidak ada. Bagaimana menurutmu tempat ini?” tanya Francez mengubah topik. 'Nyaris saja…” Batinnya tanpa mengubah senyum di wajahnya.


Cyllenae tersenyum tipis, “Saya pikir tempat ini sungguh indah dan mempesona. Saya yakin saya akan sangat menikmati masa tinggal saya di sini.”


“Bukankah ada yang membuatmu gusar tadi? Maaf, tapi apa boleh saya bertanya, mengenai apakah hal itu?” Francez mengulang pertanyaannya yang masih belum terjawab tadi.


Cyllenae mengepalkan tangan kanannya di atas pangkuannya. “Hanya seseorang yang tidak menerima suatu kesempurnaan.” Dengan begitu, Cyllenae mulai menceritakan sumber kegusarannya dan entah bagaimana mulai bercerita mengenai hal tak terduga di waktu lainnya.


“Ah…” Francez tak menyangka, hanya dengan pertanyaan singkat darinya akan membawanya menuju rahasia yang seharusnya tak ia ketahui dan masa kelam di balik sosok Cyllenae dan Eberyna, calon isteri kakaknya.


Semakin hari semakin banyak ia mendengar berbagai kisah yang membuatnya sampai tak tahu harus mulai bercerita dari mana. Ia bahkan tak tahu cara menenangkan Cyllenae serta dirinya sendiri yang semakin hari semakin tak dapat lepas dari bayangan gadis dengan senyuman dingin yang membuatnya semakin ingin memeluk tubuh yang tampak rapuh itu dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


“Jangan cemas, Lena, aku di sini. Aku di sini…” Air matanya mengalir, dalam pelukannya, Cyllenae yang terbaring dengan mata yang nyaris kosong namun baginya, masih berkilau indah.


“Francy… jangan menangis, aku… hanya akan istirahat sebentar… dan kita… akan bisa bermain ber… sama anak kita lagi…” Ia hanya bisa memeluk erat tubuh Cyllenae yang tampak sangat rapuh. Ia tak ingin kehilangan wanita itu! Ia bahkan tak bisa menepati janji seperti 'menjaga Cyllenae' dengan baik. Ia memang tak berguna!


“Jangan… salahkan… dirimu… Francy tak salah… tak ada yang salah…” Tangannya bergetar seolah butuh tenaga yang sangat besar hanya untuk menyentuh wajah pria yang kini memeluknya. Pria itu menggenggam erat tangannya, “Tidak, Lena tak boleh pergi! Bagaimana dengan Velix? Dia butuh sosokmu, bagaimana dengan aku? Aku butuh dirimu…” Pria yang biasanya bertampang gagah itu kini tampak mengibakan dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


Lagi, Cyllenae tersenyum, sama seperti kala pertama kali wanita itu tersenyum dan membuatnya jatuh cinta. “Berbahagialah, Francy… selamat tinggal…” ujarnya perlahan, kemudian semuanya sunyi.


Hatinya seolah terhenti untuk beberapa detik lamanya. Memutuskan untuk tak percaya, ia menggoncang pelan tubuh Cyllenae. Meski, ia tahu apa yang terjadi, tapi ia memilih untuk menolak kenyataan yang ada. Ia belum siap…


“Lena? Cyllenae? Jangan bercanda, Sayang. Cyllenae? CYLLLEEENNNAAAEEE!!!”


Hari itu, bukan hanya satu orang yang merasa dunianya runtuh. Yang lainnya juga mengalami hal yang sama. Dalam ruangan gelap, ditemani oleh malam sunyi yang menjadi saksi bisu kesedihan paling mendalam mereka yang kehilangan cinta sejati mereka. Dengan tangisan meraung dari satu pihak dan tangisan dalam diam dari pihak lainnya. Semuanya hancur, lenyap bersama hilangnya jiwa wanita terkasih mereka.


Beristirahatlah dalam damai, Cyllenae Marcum ach Xynias dan Eberyna Marcum lac Foru. Semoga dewa-dewi membawa kalian dengan damai ke sisi mereka yang mendengar doa dan permohonan dari orang-orang yang mengasihi dan dikasihi kalian.


__________


[11] Dewi Bulan adalah salah satu dewi yang dipercaya menjelajahi setiap penjuru dunia kala malam tiba. Konon dipercaya, bila dapat tidur nyenyak dan bahkan bermimpi indah, maka Dewi Bulan menyertai dan memberkati malam orang tersebut. Serta esok harinya, akan mendapat berkat yang membahagiakan.


[12] Vie Vida adalah jenis bunga yang biasa diijadikan teh yang menjadi komoditas utama Kerajaan Zeuxine dengan tanah subur yang kaya akan tanaman herbal. Bunga ini dipercaya sebagai bentuk hadiah dari para peri kepada leluhur keluarga Kerajaan Zeuxine yang menemani dan menghantarnya dengan damai ke depan gerbang menuju surga.


__________


Pahlawanku, tragis memang matimu


Tapi kuharap, dengan laku dan kataku


Aku dapat guratkan senyum di wajahmu


Agar engkau tenang di sana menunggu


Kami yang 'kan kembali ke pangkuanmu


—Key, 10/11/19 | Selamat Hari Pahlawan!