Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
Bab IV—Eberyna Marcum lac Foru (II)



Kesedihan adalah akhir dari kemurkaan. Kemurkaan adalah buah dari pengkhianatan.


Dan pengkhianatan


Adalah akibat dari pengkhianatan lainnya bukan?


_________


Surat balasan datang dan hal itu membuat Ratu Patavinae tersenyum. Surat balasan itu berisi bukan hanya ia diizinkan untuk datang, tetapi juga beberapa cerita konyol yang sang raja lontarkan. Tampaknya sang raja tahu bahwa sahabatnya yang satu ini meski tersenyum, menyimpan sejuta rahasia dan perasaan lain di baliknya.


Begitu ia selesai membaca surat balasan itu, ia langsung bergegas mempersiapkan diri. Para pelayannya sudah mulai bersiap sejak hari dimana ia mengirimkan surat itu, jadi persiapan sudah nyaris selesai. Ia berpapasan dengan Pangeran Francez yang sedang berjalan bersama beberapa pelayan yang membawakan tumpukan buku untuknya.


“Ibu,” sapa Pangeran Francez ketika melihat Ratu Patavinae berjalan mendekat sambil menunduk hormat singkat. “Apa Ibu akan segera berangkat?” tanyanya yang tahu bahwa ibunya sudah mendapatkan surat balasan dari raja kerajaan tetangga.


Ratu Patavinae tersenyum, “Ya, Ibu akan segera berangkat ke sana.” Namun, senyum manis itu berganti menjadi senyum nakal ketika melihat putra kecilnya yang mencebikkan pipi. Ia mencubit kecil pipi Pangeran Francez dan bertanya, “Apa? Kamu ingin Ibu bawakan sesuatu juga?”


Wajah Pangeran Francez seketika memerah, “I-itu… aku dengar pemanah berbakat lahir di kerajaan itu. Ja-jadi… emm…” Ratu Patavinae tertawa kecil melihat putranya yang gugup. Meski ia jarang melihat putranya yang satu ini gugup atau bertingkah sesuai usianya, tapi ia lega mengetahui bahwa putranya masihlah anak-anak. Owh… bagaimana dia bisa melepaskan makhluk seimut ini untuk menghadapi dunia yang bisa langsung melahapnya?


Ratu Patavinae hanya bisa menahan teriakan di dalam benaknya dan membalas, “Ibu bisa membawakanmu guru dari sana bila putra kecil Ibu ingin belajar memanah.” Pangeran Francez menengadah dan mendapati wajah ramah serta mata jernih ibunya seolah membenarkan perkataan yang baru saja diucapkan.


“Sungguh? Aku pasti akan belajar dengan serius!” serunya dengan nada sumringah. Ratu Patavinae hanya bisa tertawa melihat hal itu, “Ya, Ibu pastikan itu. Sampai jumpa nanti, Francez.”


Ia kembali berjalan setelah melihat putranya pamit dan berjalan kembali bersama para pelayannya. Ia sudah sangat siap untuk pergi menuju Kerajaan Jurisch. Oho, dia tak sabar untuk melihat keindahan dunia.


Ia berangkat setelah sarapan keesokan paginya. Ditemani putrinya, Shachrone, yang mendesaknya untuk pergi bersama.


“Ibu yakin tak ingin kami ikutserta?” tanya Pangeran Jouisle kala membantu ibunya masuk ke dalam kereta kuda. “Ya, tak apa. Aku yakin adikmu takkan membuat masalah,” ujarnya kala melihat wajah tak yakin dari kedua putranya, Jouisle dan Francez, yang berdiri di pelataran keberangkatan.


Dan begitulah mereka berangkat dengan kereta yang merentangkan sayap besinya. Putri Shachrone sudah sangat antusias meski faktanya, mereka baru menempuh seperempat dari jauh total perjalanan.


“Haruskah kita menghitung menggunakan rumus Fisika kapan kita akan tiba?” ujar Ratu Patavinae yang membuat kerutan halus di muka Putri Shachrone. “Apa itu ‘Fisika’? Apa itu pengetahuan yang Ibu pelajari di negeri jauh yang Ibu ceritakan?” balas gadis muda itu dengan mata berbinar sebab mengharapkan cerita menarik.


“Haha… tidak-tidak, hanya bercanda.” Yah, Ratu Patavinae sungguh hanya bercanda. `Cukup sampai sini pengetahuan yang kubagikan pada mereka, aku tak boleh melampaui batas.ʼ batinnya sambil memandang ke luar jendela kereta terbang itu.


Lekuk gunung dan kilauan air sungai yang terpapar cahaya matahari membuat perjalanan ini tak semembosankan yang ia bayangkan. Ia ingat ketika ia harus menghabiskan nyaris 30 jam perjalanan menuju Negara A untuk menunaikan tugasnya, itu sungguh perjalanan yang membosankan serta melelahkan. Tapi, meski begitu, ia rindu masa itu. Karena selama 30 jam yang terasa bagai selamanya, ia bertemu orang yang menjadi alasannya selalu menunggu penerbangan berikutnya.


“… bu… Ibu… Ibu!” seruan dari Putri Shachrone menariknya kembali dari lamunannya. “Ya, Rone? Ada apa?” Mendengar Ratu Patavinae memanggil nama kecilnya, kekesalannya karena merasa terabaikan tadi lenyap pergi bersama angin.


Sambil mencebikkan pipinya, ia berkata, “Paman Kusir berkata bahwa kita akan segera sampai ke wilayah Kerajaan Jurisch. Oh, dan sesungguhnya, aku ingin bertanya, Ibu.” Mendengar hal itu, Ratu Patavinae hanya tersenyum seolah mempersilakan putrinya untuk melanjutkan.


“Aku dengar Pangeran Criztope dari Kerajaan Jurisch sangat cerdas dan gemar membaca buku. Dan emm… perpustakaan Kerajaan Jurisch terkenal dengan buku-bukunya yang sangat lengkap dari seluruh penjuru negeri. Apa… aku boleh ke sana?” Semakin lama semakin kecil pula suara Putri Shachrone seolah ia sudah menduga bahwa ia akan dilarang. “Tentu.”


Putri Shachrone hanya bisa menampilkan muka terkejutnya, “Sungguh?” tanyanya memastikan. “Ya, kamu bisa melakukannya. Tetapi, kamu harus berlaku sopan dan santun serta tidak membuat keributan.” Putri Shachrone tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menganggukkkan kepalanya berkali-kali dengan kecepatan tinggi.


Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di pelataran Kerajaan Jurisch. Mereka disambut oleh delapan orang pelayan wanita dan enam orang pelayan pria.


Salah satunya, pria yang tampak berusia 40-an mendekat dan berujar, “Selamat datang di Kerajaan Jurisch, Ratu Patavinae les Abilegae dan Putri Shachrone alembic el Syricam. Kami sangat terhormat dapat menyambut kedatangan Yang Mulia.”


“Kehormatan itu milik kami, Torquatus.” Mendengar namanya disebut dengan ramah oleh Ratu Patavinae yang bahkan mengingat namanya yang hanyalah seorang pelayan membuatnya sangat senang. Dengan sangat profesional, ia menuntun keluarga kerajaan itu menuju Aula Pertemuan. Putri Shachrone? Ia sudah langsung meminta dituntun ke perpustakaan kerajaan. Hah… ia memang selalu tak sabar bertemu dengan lembaran tebal tanpa nama itu.


Di dalam Aula Pertemuan yang bernuansa coklat hangat, duduk seorang pria berusia nyaris enam puluh tahun di atas singgasana yang terbuat dari logam mulia dan bantalan empuk berwarna coklat tua. Di sisi kirinya berdiri tiga orang lelaki muda dan dua orang gadis muda, di sisi kanannya berdiri seorang lelaki muda serta dua orang gadis muda. Takkan ada yang tahan dengan keindahan yang terpancar dari mereka, bahkan ia percaya sampai Putri Shachrone yang biasanya tak terlalu peduli pada orang lain pun bisa terkagum dengan mata berbinar seolah mendapat buku baru kala melihat mereka saat ini. ‘Yah, dia akan melewatkan banyak hal.’ Batinnya.


Hal ini jelas tak bisa ditolak oleh Ratu Patavinae yang pecinta keindahan dunia, meski begitu, yang paling menarik perhatiannya adalah Sang Raja. Dengan rambut pirang emas dan mata hijau zamrud, serta wajah yang masih rupawan di usianya yang kian menua. Bahkan Ratu Patavinae takkan berbohong ketika mengatakan bahwa pria itu begitu tampan.


“Sahabatku, Ratu Patavinae, apa yang membawamu ke kediamanku yang sederhana ini?” ujar Sang Raja. Ratu Patavinae tersenyum, kemudian menunduk sedikit tanda hormat. “Raja Gregormarcum, aku percaya kediamanmu ini indah sama seperti terdahulunya. Kedatanganku ke sini adalah untuk mencarikan calon isteri untuk salah satu putraku. Bagaimana menurutmu?”


Sahabatnya, Raja Gregor, adalah orang yang paling dipercayanya. Ketika Raja Gregor masih muda, ia pernah terluka berat di hutan dan Patavinae adalah orang yang membawanya keluar dari hutan dan merawatnya hingga pulih. Kalau bukan karena Patavinae yang jatuh hati pada Raja Kareenzach, pasti Raja Gregor sudah menjadikannya mempelai baginya. Meski cintanya seolah tak terbalas, ia masih menjalin hubungan baik dengan wanita yang sudah ia kenal selama lebih dari tiga puluh tahun itu. Apalagi, ketika putri ketiganya, Eberyna, lahir dan langsung kehilangan ibunya, Patavinae adalah orang yang menenangkannya dan memberikan kasih sayang seorang ibu padanya.


Tetapi terkadang, ia, Raja Gregor, bukan hanya cemas pada Eberyna, tapi juga Cyllenae, putri keempatnya. Gadis itu sungguh berbeda dengan putri-putrinya yang lain. Memiliki ibu, tapi seolah tak memilikinya. Hidup namun terasa kosong, kuat namun tampak lemah dan rapuh. Itu yang membuatnya cemas setiap kali gadis itu pamit keluar istana bersama saudara-saudarinya.


Ratu Patavinae mengenal semua putri dari Raja Gregor. Yang Pertama, Putri Iyorvanz dari Ratu Marione, ibunya meninggal karena sakit ketika wabah menyerang. Iyorvanz sangat menyukai senjata, ia bersama dengan kedua saudaranya, Pangeran Raczach dan Pangeran Kuznetsova, sering pergi ke pengrajin senjata untuk melihat proses pembuatan senjata dan bahkan mencoba membuatnya sendiri. Iyorvanz mewarisi kecantikan ibunya dengan mata merah delima dan rambut cokelat kemerahan serta aura tegas yang menurun dari ayahnya yang adalah seorang raja. Tapi, yang ia tahu, Putri Iyorvanz sudah menikah dengan Pangeran Caecilius Quintus ri Orientalium, pangeran dari Kerajaan Zeuxine.


Meski merasa sayang, ia harus melewatkannya karena jelas ia tak ingin peperangan terjadi antara kerajaannya dan Kerajaan Zeuxine. Yang kedua adalah Putri Zurychna dari Ratu Foru, gadis itu mudah bergaul, kemana pun ia pergi ada saja temannya. Ia pecinta petualangan dan eksperimen, bersama pelayan-pelayannya ia melakukan banyak hal yang membuat orang-orang tak sanggup menutup mulut mereka. Ia mewarisi segalanya dari ayahnya kecuali wajah dan cara berpikir, dengan rambut pirang serta mata hijau zamrud seperti ayahnya, siapa pula yang tak jatuh hati padanya. Dan sayangnya lagi, gadis ini sudah ditunangkan dengan Duke Franklin Kansas je Mikha.


Berlanjut ke yang ketiga, Putri Eberyna dari Ratu Foru. Ia sudah mengenal anak ini sejak Eberyna baru lahir, ibu kandungnya meninggal setelah melahirkannya, membuat Patavinae iba dan memilih untuk merawatnya meski banyak pelayan yang ditugaskan untuk merawatnya. Ia sangat pandai dalam literasi, politik, bahkan ia lah yang mengatur bisnis dan kebijakan ekonomi di Kerajaan Jurisch. Gadis itu sama cantiknya dengan para saudarinya, dengan mata merah delima dan rambut sehitam langit malam, membuat semua orang selalu ingin berhenti untuk memandangnya sejenak. Meski begitu, semakin lama, Eberyna tumbuh menjadi sangat dingin dengan aura naga es raksasa [9].


Yang terakhir adalah Putri Cyllenae dari Ratu Xynias. Meski gelarnya ‘ratu’, tapi sesungguhnya Xynias adalah putri dari kerajaan seberang yang kalah dalam perang melawan Kerajaan Jurisch. Dengan begitu, Xynias adalah bentuk penyerahan atau upeti dalam upaya peredaan perang. Maka, tak heran kalau Cyllenae memiliki kulit yang sangat pucat, rambut sewarna batu kuarsa atau sebutan yang cukup sering dipakai ialah sewarna perak, dan mata bagai berlian yang menjadi ciri khas kerajaan seberang.


Namun, sekali lagi, ada buruknya memiliki hal itu. Ia dihina dan dianiaya oleh para pelayan yang ditugaskan ke istananya, karena rupa seperti itu jarang ditemukan di wilayah Kerajaan Jurisch. Apalagi ibunya adalah 'upeti' atas perang, sudah pasti hal seperti 'itu' akan terjadi, bukan?


Ibunya, Xynias, pun tak peduli akan tangisan lirih dari gadis itu bahkan menambah penderitaan gadis itu dengan melakukan kekerasan. Maka, tak heran Cyllenae bertumbuh menjadi pribadi yang dingin dan semakin hari semakin serupa dengan Sangre del Dragon [10], ia belajar memanah, berpedang, dan berkuda dari saudara-saudari seayahnya. Berbeda dengan para pelayan, saudara dan saudarinya memperlakukan ia dengan baik serta sering mengajaknya keluar dari istana yang selama ini memenjarakannya. Ia adalah tipe orang yang dapat berubah berbeda sama sekali di depan orang yang ia anggap dapat dipercaya dan tak mengancam. Ia juga pandai dalam berpolitik dan dekat dengan Eberyna karena sering membahas dan bahkan menyusun kebijakan politik-ekonomi bersama.


Sesungguhnya, tanpa harus menilik satu per satu dari mereka, Ratu Patavinae jelas tahu kandidat terbaik adalah Putri Eberyna dan Putri Cyllenae, masalahnya adalah keduanya membenci orang yang hanya tampang bagus tanpa kinerja. Masalahnya lagi, ia takut bila ia membawa mereka, bisa saja malah putranya yang panas karena berbicara dengan mereka yang suka berdebat masalah politik-ekonomi, bahkan kekuatan militer kuat sekali pun bisa mereka lenyapkan hanya dengan kata-kata.


Ratu Patavinae hanya bisa menghela napas berat di kamarnya, kemudian teringat bahwa ia tak melihat Pangeran Criztope, putra kelima sahabatnya di Aula Pertemuan tadi. Ia juga teringat akan putrinya yang belum kembali dari perpustakaan kerajaan meski matahari sudah turun dari singgasananya.


“Eh? Aku pikir itu hanya mitos. Wah, Pangeran memang sangat berpengetahuan luas!”


“Ti-tidak, bukan begitu. Aku hanya membacanya dari buku saja, aku bisa meminjamkan bukunya bila kamu mau.”


Suara samar seorang gadis dan lelaki yang sedang berbincang tertangkap oleh pendengaran Ratu Patavinae. Ia jelas mengenal suara itu, hal ini membuatnya tak sabar untuk membuka pintu kamarnya ketika suara itu semakin jelas terdengar. Ya, tapi ia menahan diri untuk tak merusak waktu mereka.


“Baiklah, terimakasih sudah mengantarku kembali, Pangeran.”


“Tentu, tentu. Selamat malam, selamat beristirahat.”


Dan akhir dari perbincangan adalah sang lelaki yang melangkah pergi dan pintu yang dibuka oleh sang gadis.


“Ah, Ibu? Kapan Ibu kembali dari Aula? Aku pikir Ibu akan menghabiskan waktu lama berbincang dengan sahabat Ibu mengingat sudah lebih dari lima tahun tak bertemu muka.” Itu perkataan Putri Shachrone ketika memasuki ruangan dan menyadari keberadaan ibunya, kemudian menaruh buku tebal bersampul hijau yang dipeluknya tadi ke atas meja di sebelah ranjang.


Ratu Patavinae hanya mengedikkan bahu dan malah bertanya, “Jadi, apa Rone tertarik pada lelaki barusan?” Seketika wajah Putri Shachrone langsung merona, “A-apa yang membuat Ibu berpikir seperti itu? Ibu menguping, ya?” balasnya.


Ratu Patavinae tertawa kecil, “Oh, ini hanya tebakan Ibu, sayang. Tapi tampaknya, itu adalah kebenaran. Bukankah begitu, sayang?” Ia tertawa puas ketika melihat Putri Shachrone lagi-lagi terdiam dan hanya bisa merona. Oh, ya, itu hal yang menyenangkan untuk jatuh cinta, bukan?


Seolah teringat, Putri Shachrone mengerjap beberapa dan bertanya, “Ibu, siapakah yang akan Ibu bawakan untuk Kakak?” Yah, tak ada salahnya ia bertanya, toh memang itu tujuan awal kedatangan mereka. “Ibu pikir akan membawa Eberyna dan Cyllenae.”


“Hah? Mengapa dua? Bukankah Kakak hanya akan mendapat satu?” tanya Putri Shachrone heran. Ratu Patavinae membalas, “Eberyna untuk Kakak Jouisle dan Cyllenae untuk Kakak Francez. Bukankah Rone ingin saudari lebih banyak?”


Dengan mata berbinar Putri Shachrone mengangguk cepat. Tetapi seolah tersadar, ia bertanya lebih jauh, “Ibu, bukankah Kak Francez hanya butuh guru memanah? Mengapa Ibu malah mencarikannya calon isteri?” Ratu Patavinae hanya menghela napas pelan, “Ibu hanya ingin menolong seseorang. Ah, dan nanti akan Ibu beritahukan rencananya. Percayalah, semuanya pasti berhasil!”


Mendengar hal itu, Putri Shachrone hanya bisa pasrah dengan apapun yang menjadi keputusan ibunya. ‘Semoga Kak Francez memaafkanku karena ikut mendorongnya ke kegelapan.’ batinnya setelah mendengar rencana ibunya yang menurutnya gila.


___________


[9] Naga Es Raksasa adalah hewan kuno yang konon katanya tinggal di gunung di daerah kekuasaan Kerajaan Zeuxine. Hewan ini menghembuskan napas dingin yang membekukan, dengan sisik yang akan membekukan apapun yang menyentuhnya. Hewan ini dikenal sangat kejam, meski begitu hewan ini tetap dianggap sebagai penjaga Kerajaan Zeuxine dan para warga di dalamnya.


[10] Sangre del Dragon adalah istilah mengenai darah naga. Meski darah naga dapat memberi hidup abadi, tapi bila menyentuh orang yang tak sepatutnya, akan membawa kematian yang mengenaskan. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang membawa keuntungan berlimpah, namun bisa langsung melenyapkannya bila ia menganggap yang lainnya itu ancaman atau tak layak.