Vol. I The Perfect First Queen

Vol. I The Perfect First Queen
Bab XI—Alexander Alfonsus de Jennite



Ruvia memandang heran kedua kakaknya, Leon dan Theo, yang tampak cemas. Sebelumnya, Leon dengan barbar masuk ke dalam kamar Ruvia dan menanyakan siapa pun 'Al' itu. Dan ya, kini kedua kakaknya itu berada di dalam kamarnya, duduk di atas sofa empuk dalam kamarnya sambil menikmati teh. Yah, meski pada kenyataannya, hanya Ruvia yang menikmati teh tersebut kala ia duduk di pangkuan Theo yang sedang berdebat dengan Leon saat ini.


“Bagaimana bisa 'ia' mengenal Ru? Mereka bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya.”


“Seharusnya, tidak. Tapi, bagaimana bisa Ru tahu tentangnya bila tidak pernah bertemu? Ru sudah sangat jarang keluar rumah setelah peristiwa 'itu', kan?”


'Itu'? Apa?


“Entahlah, aku juga sangat heran dengan itu. Dan, ya, Ru bahkan tak pernah lagi keluar, kecuali untuk memenuhi panggilan dari istana atau keluarga kerajaan. Aku sangat bisa tekankan bahwa ia bahkan sangat teramat tak pantas menginjakkan kakinya dan menampakkan dirinya yang kotor itu ke hadapan gerbang kediaman Duke Marque ini.”


Aha, ya, bisakah jangan terlalu menghina seperti itu? Ruvia menjadi sangat heran, sebenarnya, siapa orang yang sedari tadi mereka hina?


“Em… Kakak, siapa sebenarnya 'ia' yang kakak 'bicarakan' sedari tadi?” Pertanyaan Ruvia membuat perdebatan berhenti dengan Theo dan Leon yang memandangnya panik.


Mereka terdiam dan saling melempar kode lewat mata. Ruvia hanya diam sambil menyesap tehnya, menunggu balasan atas pertanyaannya.


“Si 'Seribu Taktik', mungkin Ru belum pernah mendengarnya, tapi ia termasuk orang yang sangat diperhitungkan oleh raja,” ujar Theo.


“Orang itu adalah penguasa sihir gelap. Rumornya, ia yang membunuh ibunya dan adik perempuannya yang kala itu baru berusia satu tahun dengan sihir gelapnya di usianya yang baru lima tahun. Bagaimana bisa kau harapkan manusia seperti itu layak untuk bertemu dengan Ru yang murni ini?!” sambung Leon dengan penekanan pada kalimat di akhir seolah ia sungguh setuju akan ketidaklayakan siapa pun orang yang ia maksudkan.


Theo mengeluarkan buku dari saku dalam jasnya, ia membuka beberapa halaman sebelum berhenti, kemudian menunjukkannnya kepada Ruvia. “Ini adalah Alexander Alfonsus de Jennite.” Ia menunjuk satu lukisan kecil dengan tulisan indah nama serta informasi singkat mengenai orang yang dimaksud itu.


Dari lukisan itu, Ruvia tahu bahwa 'Alexander' ini memiliki rambut hitam dengan beberapa helai yang berwarna keperakan dan kedua mata yang berbeda warna, sebelah kiri berwarna merah darah, dan sebelah kanan berwarna ungu gelap. Wajahnya cukup cantik untuk ukuran lelaki, dengan raut wajah datar dan pandangan mata yang dingin. Siapa pun pelukisnya, Ruvia harus memuji betapa berbakatnya ia dalam pekerjaannya.


Lalu? Apa yang salah? Ruvia menyukai gambaran mengenai 'Alexander' ini, tapi mengapa kedua kakaknya malah tampak sangat tak suka?


“Jangan terlalu dekat dengannya, ia berbahaya.” Ucapan Theo membuat Ruvia terdiam. “Benar, ia 'sangat' berbahaya! Ru jangan pernah dekat dengannya!” sahut Leon seolah menekankan perkataan dari kembarannya tadi sambil memandang langsung ke mata Ruvia.


Mata gadis kecil itu seolah mengatakan mengapa-tak-boleh dan sambungan berupa ia-tampak-baik-dan-tak-berbahaya. Baik Theo atau pun Leon hanya bisa menghela napas berat. 'Jangan begitu, Kakak. Kalian akan cepat menua bila sering menghela napas berat seperti itu…'


“Yah, intinya, ia bukan orang baik. Jadi, kalau bisa, jangan terlalu dekat dengannya. Dan kalau bisa lagi, jangan pernah bertemu dengannya.” Setelah mengucapkan hal itu, Leon dengan gusar mengacak-acak rambutnya. Mata emasnya menyala seolah ingin menerkam orang yang sedari tadi menjadi alasan tersulutnya amarahnya.


'Em… baiklah, mari kita lupakan saja hal ini. Aku tak ingin kedua kakak ini semakin tampak gusar.'


Mereka menghabiskan hari itu di kamar Ruvia, sambil membaca buku, menikmati teh dan kudapan manis, bahkan Theo dan Leon juga menunjukkan pertunjukan kecil dengan sihir elemen mereka. Maksudnya, sungguh seharian penuh! Yah, kecuali ketika mereka diminta membersihkan diri terlebih dahulu oleh Liz.


“Liz,” tanya Ruvia setelah kedua kakaknya kembali ke kamar mereka masing-masing dan meninggalkannya berdua dengan Liz di sini, di kamar milik gadis kecil itu. “Ya, Nona?” balas Liz sambil menyisir rambut Ruvia. “apa Liz tahu siapa Alexander Alfonsus de Jennite?”


Kedua tangannya terhenti, kemudian perlahan kembali bergerak, “Mengapa Nona menanyakan tentang beliau? Dimana Nona pernah bertemu dengan beliau?” tanyanya.


“Aku… entahlah aku hanya penasaran dan aku bermimpi tentangnya.” Jawaban Ruvia membuat tangan Liz bergerak dengan kaku, meski tetap menyelesaikan tugasnya dengan baik.


“Apa bisa Nona menceritakan kepada saya bagaimana mimpi tersebut?” Liz tampak cemas atau lebih tepatnya… ketakutan.


Ruvia menceritakan segalanya, mulai dari melihat dirinya yang keracunan sambil pemandangan tragis di medan perang. Setelah diceritakan mimpi itu, Liz tampak bimbang. Matanya seolah mengatakan bagaimana-ini-bisa-terjadi, namun bibirnya tetap terkatup rapat tanpa satu kata pun yang keluar.


“Nona, saya mohon… tolong jangan dekati beliau…” Tanpa Liz beritahu pun, kedua kakakku itu sudah memperingati berulang-ulang… “Tenang saja, Liz. Kalau Dewa tidak berkehendak, kami tidak akan mungkin bertemu,” balas Ruvia sambil tersenyum tipis.


Ia agak penasaran, sebenarnya, apa yang diperbuat 'Alexander' ini? Ia membuat nyaris semua orang yang mendengar namanya langsung merasa terbebani. Ruvia ingin mencaritahu lebih jauh, tapi bila sampai Liz dan kedua kakaknya saja melarang, berarti memang itu hal yang berbahaya.


Baiklah, mari kita hentikan rasa penasaran itu. Batinnya sambil menghela napas pasrah.


Setelah makan malam, semua orang di kediaman Duke Marque kembali ke ruang peristirahatan mereka, kecuali para pengawal yang akan berjaga di luar dan dalam kediaman. Ruvia sudah terbaring di ranjangnya dengan gaun tidur berlengan panjangnya yang berwarna putih susu dengan aksen pita di bagian dada. Masalahnya, ia tak bisa melompat ke alam mimpi sekarang.


Ia menoleh ke sisi kanan dan kirinya seolah mencari sesuatu, ia mendapati cangkir usang yang tadi pagi diserahkan oleh Neo kepadanya. Ia berpikir, mungkin saja, ia bisa melihatnya lebih jelas sekarang. Maka dari itu, ia turun dari ranjang sambil membawa cangkir itu ke arah jendela besar yang tertutup tirai di kamarnya itu.


Ia membuka tirai itu dan membiarkan cahaya bulan yang redup masuk ke dalam sebagian kecil dari kamarnya. Cangkir usang itu tampak seperti kristal bening yang sangat cantik, seolah segala macam tanda usang yang ada terhapuskan oleh cahaya bulan. Kini Ruvia bisa melihat jelas apa yang terukir di sana.


Itu adalah gambar wajah seorang wanita dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Mata wanita itu tampak sangat tajam, dengan hiasan mahkota di atas kepalanya dan permata di keningnya. Ruvia tak tahu siapa wanita itu, yang ia tahu, ia merasa sangat tak asing dengan penampilan itu.


Ruvia kini juga dapat melihat jelas tulisan di dekat pegangan cangkir yang dimaksud oleh Neo. Itu adalah huruf Agnisia, hanya saja ini model kuno dimana hanya pihak gereja yang masih mempelajarinya. Meski begitu, Ruvia tahu cara membacanya karena diajari salah satu pelayan wanita yang adalah mantan murid kebiarawan.


Tulisannya kecil dan rapi, terukir di sana, “Seribu permohonan kepada Seribu Pohon Kehidupan. Yang dicintai sudah hancur dan sisakan luka mematikan. Kehancuran akan segera tiba, mengapa masih tiada protes diserukan?”


Hah? Mengapa isinya malah seperti ini? Biasanya, huruf Agnisia digunakan untuk menuliskan kata-kata pujian terhadap dewa, bangsawan, atau keluarga kerajaan, tapi, mengapa ini malah seperti kata-kata provokatif?


Ruvia memutar cangkir itu, berusaha mencari kelanjutan atau penjelasan dari kata-kata itu. Di bagian bawah cangkir, terdapat tulisan lagi. Ruvia pun membacanya sambil mencerna maksudnya, “Yang Mulia, semua telah lenyap. Tanah ini telah mati, Tuan. Seluruh festival kesenangan telah senyap, Nyonya. Hambamu ini harus bagaimana melewati dunia mati tanpa arti ini, Tuhan?”


A-ah, ya. Semakin dibaca semakin membuat tak paham. Apa maksud semua ini? Percayalah, Ruvia bukan tipe orang yang puitis atau menyukai kata-kata bunga, dengan kata lain, ia jelas tak menyukai kata-kata bermakna ganda atau tak jelas maknanya.


“Eh? Apa itu tadi? Aku merasa ada yang menyentuh jariku…” Ruvia menoleh ke kiri dan kanan, mencari barangkali ada serangga yang tanpa sengaja masuk ke kamarnya. Tapi, nihil. Ia memegang tengkuknya dengan heran, “Yah, mungkin hanya perasaanku.”


Ruvia melangkah ke tengah kamarnya, kemudian meletakkan cangkir aneh yang membuatnya kebingungan tadi ke atas meja. Ia melangkah kembali ke ranjangnya dan memutuskan untuk tidur setelah memeriksa keadaan sekitar yang tampak aman dan memang hanya ada ia seorang diri di sana. Kemudian, ia tertidur dengan selimut yang ditariknya nyaris sampai menutupi kepalanya.


Ruvia tak sadar, di balik kegelapan, tepat di sebelah sofa yang berhadapan langsung dengan meja yang tadi ia singgahi, terdapat seseorang. Memandangnya dengan kilau mata berwarna merah, layaknya pedang yang haus akan darah. Detik berikutnya, orang tersebut menghilang seolah memang tak pernah ada di sana sebelumnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Nona, apa Anda akan mengunjungi Yang Mulia Permaisuri lagi?” tanya Alen sambil menghidangkan makanan pembuka berupa buah yang ditumbuk dan diberi madu ke hadapan Ruvia yang sudah siap dengan gaunnya yang berwarna biru muda dan sepatu bertumit rendah berwarna putih. Rambut pirang keperakannya dijepit dengan jepit rambut perak berukir. Ia adalah definisi atas perkataan 'Pakai apa pun tetap cantik'.


Ruvia menggeleng, “Aku akan menemui Yang Mulia Raja.” Ia menyantap sarapan 'pembuka' dengan tenang, meski mendapati wajah terkejut Alen yang kentara. Alen langsung 'menormalkan' raut wajahnya dan berujar, “Semoga berkat Tuhan bersama Anda, Nona.”


Ohoho, baiklah… Sebenarnya, ada apa ini semua? Bukankah seharusnya ia bertemu dengan Sang Raja? Mengapa ia harus bertemu lelaki yang dihina habis-habisan oleh kedua kakaknya?!


Aha, tampaknya dewa kehilangan akalnya lagi. “Achoo!” Dewa di alam sana bersin dan memandang sekitar dengan tatapan aneh. “Apa kini virus juga menjangkit dewa? Hmm…”


Di bawah teduhnya Pohon Schwervieil [25], terlihat seorang anak lelaki berambut hitam bersandar pada batang pohon—yang tampak sudah berusia lebih dari sepuluh generasi bangsawan atau lebih dari dua abad—dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Matanya tertutup rapat, angin yang memainkan rambutnya dan menerpa wajah pucatnya seolah tak dapat membuatnya terusik. Ruvia tak bisa berkata-kata, seolah semua kata-katanya sudah terambil dan lenyap karena keindahan di depan matanya.


Ia dapat melihat jelas ada beberapa 'roh' di sekitar anak lelaki itu. Yang duduk di sisi kanannya berwujud wanita elf dengan rambut perak yang panjang, mata yang tertutup dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya, dan gaun putih tipis panjang yang membalut sempurna tubuhnya. Yang berdiri di sisi kanannya, di belakang 'wanita elf', berwujud seorang pria dari bangsa campuran antara elf dan manusia dengan rambut pirangnya yang dipotong ringkas, mata emas yang tajam, telinga lancip dengan anting kecil berupa permata pada ujungnya, dan seragam layaknya tentara khusus kerajaan. Di sisi kiri, duduk dan bermain berbagai jenis 'roh' kelas bawah dengan tubuh mungil mereka yang hanya seukuran satu kepalan tangan orang dewasa.


Ruvia ingin sekali melihat lebih dekat, tapi tak baik mengganggu istirahat seseorang apalagi memperhatikannya sampai seperti ini. 'Seperti stalking saja.' Batinnya sambil melangkah dengan sangat perlahan agar tak membangunkan manusia lainnya yang berada tak jauh dari tempat ia kini berdiri.


Tepat sebelum ia berhasil bergerak sejauh tiga meter dari posisinya tadi, sensasi dingin terasa di punggungnya. Gawat!


“Apa yang kau mau?” tanya sebuah suara dari balik punggungnya. Ruvia terlalu takut untuk berbalik karena dari suara rendah dan perlahan siapa pun yang sedang di belakangnya itu, dapat disimpulkan bahwa orang itu marah!


Ya ampun… bagaimana ini? Bagaimana ini? Masa' kan Ruvia yang bahkan belum menginjak usia sepuluh tahun, akan tewas karena 'tak sengaja' stalking orang?!


“Jawab…”


Oh, kedengarannya, ini akan menjadi masalah. Ruvia tak punya pilihan lain selain berbalik perlahan, membungkuk hormat, dan berujar, “Maaf, Tuan. Saya hanya lewat saja. Apa yang saya perbuat sehingga Tuan mengacungkan pedang pada saya?”


Meski, ia tak berminat untuk berlama-lama berada di sana, tapi ia tak dapat bergerak. Ia dapat melihat jelas, pedang berkilau yang diacungkan padanya dengan aura mengintimidasi dari yang mengacungkannya bisa membunuhnya kapan saja. Bahkan semua 'roh' di sekitarnya langsung bersikap waspada seolah siap menyerang.


Mata anak lelaki di hadapannya tampak seperti kucing yang cukup disukai Kareen, odd eyed cat. Yang kiri semerah darah dengan aura membunuh yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri hanya dengan memandangnya sekilas, yang lainnya berwarna ungu gelap yang mengeluarkan aura yang dapat menekan tubuh lawannya tanpa mengangkat tangannya sekali pun. Rambut hitamnya dengan beberapa helai keperakan tampak halus bila disentuh dan tubuh tegapnya yang bermandikan cahaya matahari membuat Ruvia terpesona. Tapi, lagi, ia sedang tak dalam posisi untuk mengagumi rupa seseorang!


Orang di hadapannya adalah Alexander Alfonsus de Jennite! Orang dengan julukan mengerikan—yang meski terdengar keren— yang mampu membuat yang lain merinding ketakutan hanya dengan mendengar namanya. Oh, Tuhan, dari semua orang, mengapa harus anak ini?


Sungguh… apa yang Ruvia lakukan sampai diperlakukan seperti ini?! Mengapa pula para 'roh' juga ikutan bersikap waspada padanya?!


__________


[25] Pohon Schwervieil adalah tanaman obat yang dijuluki 'Penyelamat Jiwa' dan dipercaya merupakan perwujudan dari Dewi Tanaman, Etablir. Seluruh bagian dari pohon ini dapat dimanfaatkan sebagai obat, tapi, biasanya, untuk membuat obat dari pohon ini, dibutuhkan pelatihan dan izin khusus yang resmi. Hal ini disebabkan adanya efek samping yang akan tercipta bila dengan sembarangan mengolah bagian tertentu. Diidentikkan dengan dedaunannya yang berwarna biru gelap seperti ketika waktu malam, bunga berwarna ungu gelap yang berbentuk seperti teratai, dan buah berwarna kebiruan yang berbentuk serupa dengan buah persik. Kulit kayu pohon ini berwarna putih kebiruan dengan garis-garis kayu berwujud seperti ukiran kata-kata khusus dari huruf Agnisia.


__________


Kau tahu jelas semua ini hanya kesia-siaan


Kesia-siaan yang membawa kehancuran


Kehancuran yang membawa kemusnahan


Kemusnahan yang hanya bisa bawakan kesedihan


Darah di tanganku tak dapat hilang


Tidak dengan air danau ataupun air suci


Kemanusiaanku mereka kata tak ada lagi


Tapi kupikir, mereka yang membuatnya terhalang


Oleh sikap mereka yang tak manusiawi


Yang bawa satu per satu mati dalam duniawi


—Al, yang pernah ada untukmu. Dalam tidurmu, untuk melindungimu. Dari mimpi buruk yang menakutimu, dari kenyataan yang perlahan membunuhmu.