
Malam itu Chris tidak pulang ke rumah. Demikian juga dengan malam berikutnya. Setelah 2 malam berturut-turut suaminya tidak pulang, Rina memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya tanpa memberitahu Chris.
Pagi itu cuacanya cerah namun terasa sejuk. Rina memarkirkan mobilnya di halaman yang luas itu dan setelah keluar dari mobilnya, ia sengaja berjalan dengan lambat-lambat dan menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan berbagai jenis bunga yang terhampar di sepanjang jalan menuju teras rumah ibu Chris. Semuanya terlihat terawat dan indah.
Rina bertanya-tanya berapa lama dan usaha apa yang dibutuhkan oleh mertuanya untuk merawat bunga-bunga itu agar terlihat indah seperti sekarang ini. Meski tahu bahwa ibu Chris memiliki tukang kebun, namun khusus untuk menanam tanaman baru, membuat stek dan mengganti media bagi tanaman-tanaman tertentu, mertuanya selalu melakukan sendiri. Ia mengatakan ada kepuasan tersendiri ketika bisa menumbuhkan dan merawat sebuah tanaman dengan usahanya sendiri. Kita juga akan jadi lebih menghargai sesuatu dari yang kita hasilkan sendiri.
Pesan mertuanya masih terngiang-ngiang di telinga Rina sampai saat ini.
"Rina!"
Panggilan mertuanya membuat Rina menoleh dan tersenyum riang. Ibu mertuanya terlihat baru keluar dari rumah kacanya sambil membawa berbagai peralatan berkebun. Ia pun segera menghampiri mertuanya untuk membantunya membawa perlatan-peralatan itu.
"Tumben ke sini? Mana Chris?"
Sumringah mertuanya bertanya sambil berjalan menuju teras rumah, dan melepaskan kedua sarung tangannya.
Biasanya Chris dan Rina akan berusaha menyempatkan diri datang di hari Sabtu atau Minggu. Hampir tidak pernah mereka berkunjung di hari-hari biasa seperti ini, yang tentunya membuat ibu Chris gembira karena tidak merasa kesepian. Meski tinggal dengan anak-anak tirinya, namun suasana rumah akan jadi sepi di pagi hari ketika mereka semua sudah berangkat ke kantor atau pun sekolah. Makanya ia akan mencari-cari kesibukan, salah satunya dengan merawat tanaman-tanamannya.
"Sendirian, mah."
Si ibu yang sudah memakan asam garam kehidupan langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari menantunya. Ia pun menyuruh Rina untuk meletakkan peralatan yang dibawanya di meja teras dan langsung mengajaknya untuk masuk ke rumah.
"Mba Sum, tolong sediakan teh panas ya. Dua, untuk Rina juga."
Si ibu kemudian menyuruh menantunya untuk duduk dulu di ruang keluarga, menunggunya pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.
Saat menunggu di ruang keluarga, Rina pun melihat-lihat berbagai foto yang terpajang di salah satu dinding yang sudah berpuluh-puluh kali dipandangnya bila ia berkunjung ke rumah ini. Berbagai foto Chris mulai dari bayi hingga dewasa tergantung dengan rapih di sana. Saat Chris lulus sekolah, wisuda, sampai kemudian pandangan Rina terhenti di salah satu foto yang baru dilihatnya pertama kali.
Itu adalah foto keluarganya. Dalam foto itu, terlihat dirinya dan Chris berdiri berdampingan, mengapit ibu mertuanya yang duduk di tengah mereka. Wajah mertuanya tampak bahagia, demikian juga dengan Rina dan Chris yang tersenyum lebar menatap kamera. Foto ini diambil beberapa minggu lalu, tepat sehari sebelum peristiwa itu terjadi dan sejak kejadian malam itu, mereka belum pernah datang lagi untuk berkunjung ke rumah ini.
Tanpa sadar Rina mengusapkan jari-jarinya di permukaan foto itu dan tersenyum. Ia mengingat kenangan lucu saat mereka mengambil foto keluarga ini. Setelah mengambil foto pertama, si fotografer tiba-tiba meminta Chris untuk melepaskan sepatunya. Tentu saja Chris menolak, ketika kemudian fotografer tersebut memperlihatkan hasil jepretannya sebelumnya. Tidak ada yang salah dengan hasil fotonya, tapi proposionalnya menggelikan. Tubuh Chris tampak menjulang di antara 2 wanita yang terlihat seperti kurcaci di sampingnya. Akhirnya ia mengalah untuk melepas sepatunya, bahkan sedikit menekuk kakinya agar mereka mendapatkan proporsi yang seimbang di dalam frame kamera.
"Lucu ya waktu itu?"
Tiba-tiba mertuanya sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
"Anak itu benar-benar jadi bulan-bulanan saudaranya. Baru kali itu, ia terlihat mati kutu menghadapi ledekan mereka."
Sambil terkekeh, ibu Chris pun duduk di sofa dan menyuruh Rina untuk duduk di sampingnya.
Ketika Rina sudah duduk di sofa, mertuanya tiba-tiba mengambil kedua lengan Rina dan menggenggamnya erat di pangkuannya.
Matanya terlihat teduh ketika bertanya, "Jadi, ada masalah apa dengan kalian?"
Memandang mata mertuanya yang jernih, membuat Rina hampir meneteskan air matanya tapi ia memutuskan untuk tidak menangis lagi. Bagaimana pun dari awal, penyebab kekacauan ini adalah dirinya. Chris dan ibunya terseret karena permasalahan pribadinya.
"Mah..."
Hati-hati ia memulai. Rina menundukkan kepalanya dalam, tidak berani menatap mertuanya. Ia merasa sangat bersalah.
Setelah menguatkan hatinya, Rina memandang ibu mertuanya kembali dan berkata, "Rina memutuskan untuk berpisah dengan Chris."
Si ibu yang sebenarnya sudah memperkirakan hal ini hanya bisa menarik nafas tajam dan melepaskan genggaman tangannya dari Rina. Ia kemudian menyesap teh yang telah tersedia dengan perlahan dan dengan khidmat menutup matanya, berusaha untuk dapat menikmatinya meski hatinya yang sedih membuat teh itu terasa lebih pahit dari biasanya.
Melihat mertuanya diam saja, membuat Rina merasa pertahanannya mulai hancur.
"Mah..."
Tanpa memandang menantunya, si ibu menyesap tehnya kembali dan bertanya, "Kenapa? Apa penyebabnya?"
Baru kali ini Rina mendengar nada suara ibu mertuanya yang tegas dan kaku. Sebelum ia mulai berbicara, tiba-tiba mertuanya menoleh padanya dan melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak pernah Rina sangka-sangka.
"Apa Chris selingkuh?"
"Hah?"
Si ibu memegang kedua tangan Rina dengan erat dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Katakan Rin, apakah Chris berselingkuh darimu?"
Otomatis Rina langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Kamu yakin?"
Lagi-lagi Rina hanya bisa menundukkan kepalanya berkali-kali untuk menjawab mertuanya.
Puas dengan jawaban menantunya, si ibu mengeluarkan nafas lega dan kemudian berkata enteng, "Kalau begitu, seharusnya permasalahan kalian masih bisa diselesaikan."
Goong!
***
Rina akhirnya menceritakan mengenai pertengkaran-pertengkarannya dengan Chris, yang mengindikasikan ketidakcocokan diantara mereka. Ia juga tidak mau mengikat Chris selamanya pada dirinya, mengingat mereka berdua menikah tanpa cinta. Sedapat mungkin Rina tidak menceritakan detail-detail kejadian dalam rumah tangganya, karena bagaimana pun hal-hal itu adalah aib bagi dirinya dan Chris. Cukuplah hanya mereka berdua yang tahu.
Ia juga mengatakan bahwa sudah saatnya Chris dan dirinya menempuh jalan masing-masing, mengingat sudah tidak ada lagi yang mengikat hubungan mereka berdua. Rina pun jujur mengatakan bahwa ayahnya telah berpulang beberapa hari yang lalu.
Mendengar informasi ini, ibu mertuanya pun kaget bukan kepalang. Ia sedikit marah pada menantunya.
"Apa?! Kenapa kamu tidak kasih tahu mamah?"
Sedikit gugup, Rina berusaha menjelaskan pada mertuanya.
"Maaf mah, saat itu Rina memang tidak bisa berfikir jernih dan langsung mengurus pemakamannya di hari yang sama."
Sambil mendelik mertuanya bertanya, "Chris tahu?"
"Tidak."
Ibu mertuanya mendesah keras, "Rinaaaa!"
Rina hanya bisa menutup kedua matanya, bersiap untuk menghadapi kemarahan mertuanya.
Sejenak, sang mertua terlihat menghela nafas panjang dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tidak akan setega itu kalau harus memarahi menantunya yang baru saja kehilangan ayahnya beberapa hari yang lalu. Setelah merasa dirinya lebih tenang, ia kembali menggenggam kedua tangan menantunya yang terasa dingin. Kasihan sekali gadis ini! Ia sedikit banyak tahu kisah keluarga Rina dari ceritanya dulu, dan tahu bahwa sekarang perempuan ini tidak memiliki siapa-siapa lagi.
"Rin." Mertuanya memulai pembicaraan.
"Mamah mau sedikit bercerita."
Mendengar nada suara ibu mertuanya yang lembut membuat Rina akhirnya berani mengangkat wajahnya. Setelah itu, ibu Chris pun mengalihkan pandangannya ke depan dan menghela nafas pelan. Matanya tampak menerawang, mencoba mengingat masa lalunya.
"Kamu tahu kenapa mamah bisa bercerai dari ayah Chris?"
Rina menggelengkan kepalanya. Selama mereka menikah, Chris hampir tidak pernah bercerita apapun tentang keluarganya. Semua informasi mengenai suaminya, didapat Rina dari Rich atau pun langsung dari ibunya sendiri.
Ibu mertuanya kembali memandang dirinya dan berkata sambil tersenyum.
"Mamah bercerai dari ayah Chris karena kebodohan mamah sendiri."
Rina terdiam, menunggu kelanjutan cerita dari wanita tua di sampingnya.
Mertuanya melepaskan pegangannya dari Rina dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Raut penyesalan tergambar di wajahnya ketika matanya kembali menerawang ke masa lalu.
"Kamu masih ingat, saat pertemuan kita pertama kali, mamah pernah bilang kalau mamah punya anak perempuan maka dia akan seperti kamu?"
Dalam diam, Rina mengangguk.
"Mamah pernah keguguran."
Ketika mengatakan itu, mata mertuanya tampak berkaca-kaca.
Informasi yang bersifat sangat pribadi ini membuat Rina cukup kaget. Ia pun hanya bisa terdiam, berharap ibu mertuanya mau melanjutkan kembali ceritanya.
"Saat itu, usia mamah sudah tidak muda lagi. Chris juga sudah memasuki masa remaja. Kehamilan kedua ini karena mamah yang memang masih menginginkan anak perempuan."
Ibu mertuanya menjeda ucapannya. Ia menarik nafas yang panjang sebelum melanjutkan.
"Kehamilan yang berisiko, terutama di usia mamah saat itu. Ayah Chris bahkan dokter sebenarnya sudah menolak kemungkinan itu, tapi mamah yang memaksa. Sampai akhirnya kandungan mamah tidak kuat dan terjadi pendarahan. Kondisi kesehatan yang sudah melemah pun membuat rahim mamah harus diangkat dan tidak akan pernah bisa hamil lagi."
Tanpa disangka, Rina melihat mertuanya meneteskan air matanya ketika bercerita. Ia pun segera mengambil tisu dan menyeka pipi ibu mertuanya.
Mengambil tisu dari tangan menantunya, si ibu menyeka matanya sendiri. Ia pun melanjutkan ceritanya lagi sambil memandang Rina.
"Kejadian itu membuat mamah menutup diri dari ayah Chris. Mamah benar-benar depresi, yang membuat tidak bisa berfikir jernih. Saat itu, mamah hanya ingin bisa menyalahkan orang lain dan yang terdekat adalah ayah Chris."
Ia menunduk menatap tangannya, sebelumnya mengusapkan hidungnya dengan tisu.
"Kalau kamu tahu, ayah Chris adalah orang paling sabar yang pernah mamah temui. Tapi ternyata, kesabaran seseorang pun ada batasnya."
Setelah air matanya mengering, ibu mertuanya menoleh untuk menatap Rina dan menggenggam tangannya kembali.
"Hal yang mamah pelajari dari pengalaman ini adalah saat kamu ada masalah, usahakan melihat segala sesuatunya dengan menggunakan akal sehatmu, jangan emosimu."
"Saat kamu sedang galau, tanyakan pada dirimu sendiri apakah keputusanmu sudah benar atau justru salah? Dulu, mamah mengambil keputusan salah dengan meninggalkan ayah Chris yang justru menjadi bumerang bagi mamah."
Ibu mertuanya meremas tangan Rina dan melanjutkan, "Ketika memutuskan untuk kembali, raganya ternyata sudah bukan menjadi milik mamah meski hatinya masih."
"Hal yang paling mamah benci dari sebuah pernikahan adalah perselingkuhan. Jadi meski tahu itu salah mamah, karena mamah, tapi mamah tetap tidak bisa menerimanya."
"Pertengkaran dalam rumah tangga adalah hal biasa. Tentu akan meninggalkan luka, tapi lama-lama luka itu akan sembuh dan menghilang. Tapi luka karena perselingkuhan, dia mungkin akan sembuh tapi tidak akan pernah menghilang. Bekasnya akan selalu ada, dan tetap menyisakan rasa sakit di dalamnya. Tentu saja, itu yang berlaku bagi mamah. Setiap orang memiliki batas toleransi yang berbeda-beda."
Mertuanya kemudian menatap Rina dengan teduh dan berkata, "Sekarang pertanyaannya, apakah luka yang kamu peroleh selama bersama dengan Chris akan menyisakan bekas yang masih terasa sakit, atau dapat diusahakan untuk sembuh dan menghilang seiring waktu?"