
Rina merasakan kepalanya diusap-usap dengan lembut. Tangan yang menyentuhnya terasa besar dan hangat. Ia juga merasa terkadang tangan itu mengusap pipinya dan bahkan sedikit mencubit-cubitnya lembut. Siapa sih yang iseng begini.
Membuka matanya, Rina melihat sekeliling kamarnya. Sadar tidak berada di kamarnya sendiri, ia pun perlahan bangkit dari tidurnya. Ia melihat tubuhnya diselubungi oleh selimut tebal, yang melindungi dari dinginnya AC.
Setelah kesadarannya terkumpul, Rina pun teringat dengan mantan suaminya. "Chris!"
Ia pun segera keluar dari kamar untuk mencari pria itu.
Rina cukup kaget ketika melihat bahwa di ruang makan sudah ada beberapa orang yang berkumpul. Ada mantan suaminya, ibu Chris dan seorang pria asing yang tidak pernah ditemuinya.
Ibu Chris tersenyum melihat kedatangannya.
"Kemari sayang."
Dengan ragu, Rina pun melangkahkan kakinya mendekati ibu Chris. Tanpa disangka, Chris menariknya mendekat dan ia berdiri di antara pria itu dan ibunya.
Pria itu meletakkan tangannya secara posesif di pinggangnya ketika memperkenalkan dirinya. "Kenalkan dok, isteriku."
Jantung Rina berdegup dengan kencang. Apa maksud Chris?
Berniat akan menanyakannya nanti, ia pun membalas uluran tangan si dokter.
"Halo. Kita baru pertama bertemu. Panggil saya dr. Herman."
Rina teringat kata-kata Chris tadi sore, dan sadar bahwa pria ini adalah dokter mantan suaminya. Sepertinya hubungan mereka cukup akrab.
Melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 21.00, Rina sedikit terkejut ketika sadar bahwa ia sudah cukup lama berada di apartemen ini.
"Malam dok. Nama saya Rina." jawabnya sopan.
Ia sebenarnya ingin segera berpamitan pulang, tapi situasi ini tampak akan sedikit menahannya untuk lebih lama di sini. Rina tidak mau mempermalukan Chris dan ibunya.
Rina berdiri dengan cukup canggung. Ia tidak tahu harus duduk di mana. Satu-satunya kursi yang tersisa adalah di sebelah dr. Herman, dan tampaknya aneh kalau ia duduk di sana.
Saat sedang berfikir, Chris tiba-tiba menariknya ke pangkuannya. Rina duduk di atas paha pria itu. Merasa tidak nyaman dan akan bangkit berdiri, kedua tangan Chris malah semakin memeluk pinggulnya dengan erat.
"Di sini saja. Tidak ada kursi lain." Bisiknya di telinganya.
Kedua orang tua yang ada di depannya sedikit terkejut, tapi kemudian mereka melanjutkan mengobrol seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jadi, ini isterimu Chris?"
Sang dokter mengamati wanita muda di depannya dengan penuh minat.
"Ya. Ini isteriku." Chris tersenyum bangga dan mengamati wajah Rina di depannya.
Rina hanya bisa tersenyum kikuk. Ia berada dalam situasi yang sama sekali tidak disukainya.
"Apa pekerjaanmu Rina?" Tanya si dokter kembali.
"Saya Manager Keuangan di restoran dok."
"Wow, manager? Karirmu cukup cemerlang ya."
Komentar si dokter membuat Rina tersipu malu. "Biasa saja dok."
"Dia sangat pintar memasak dok." Tiba-tiba Chris menimpali.
"Ah... pantas saja kamu jadi malas makan akhir-akhir ini, Chris. Apakah karena isterimu tidak mau memasak untukmu lagi?"
Si dokter tampak terkekeh dengan perkataannya sendiri. Sepertinya ia sudah bisa membaca permasalahan anak muda di depannya ini.
Wajah Chris sedikit merona mendengar asumsi si dokter yang benar-benar tepat sasaran. Pujian untuk isterinya malah menjadi bumerang baginya.
Merasa bersalah pada mantan suaminya, Rina berniat untuk membelanya.
"Bukan begitu dok-"
"Sudahlah dok. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri." Ibu Chris tiba-tiba menengahi pembicaraan ini. Ia merasa kasihan pada menantunya yang terlihat serba salah.
"Lagi pula, bukannya ini sudah saatnya kamu pulang? Kasihan isterimu di rumah."
Si dokter terlihat mendelik pada wanita tua di seberangnya. "Kamu mengusirku?"
"Oh Tuhan. Apakah kamu sedang PMS?" Ibu Chris balas melotot pada temannya.
Setelah sedikit perdebatan kecil di antara keduanya, dr. Herman pun pamit pulang.
Ketika dr. Herman dan Chris hanya tinggal berdua di lorong apartemen, pria tua itu pun memegang pundak anak muda di depannya.
"Chris. Kamu harus ingat bahwa ada perbedaan antara pria dan wanita." Ia memulai nasihatnya.
"Pria sering menggunakan logika, sedangkan wanita lebih banyak memakai emosinya. Tapi bukan berarti, hal itu tidak bisa terbalik."
"Saat kita menyayangi seseorang, justru pria lebih banyak menggunakan emosinya dan justru wanitalah yang banyak memakai logikanya. Kamu tahu kenapa?"
Chris menggelengkan kepalanya.
"Ini teoriku, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun."
"Pria lebih banyak menunjukkan rasa sayangnya melalui perbuatan. Tanpa ia harus mengatakan sesuatu pun, orang di sekelilingnya dapat tahu mengenai perasaan pria itu terhadap orang yang dikasihinya."
"Berbeda dengan wanita. Ketika ia sudah menyayangi seseorang, ia justru membutuhkan adanya kejelasan dan itu tidak cukup hanya melalui perbuatan."
Pria tua itu tersenyum, ketika mengingat perjalanan hidupnya bersama isterinya dulu.
"Seorang wanita, entah mengapa memiliki rasa insecure yang lebih besar dibanding pria. Mereka butuh claim dan untuk di-claim."
Ia pun menepuk lengan Chris dengan cukup keras, sebelum melanjutkan.
"Saat kamu mencintai seseorang, jangan pernah ragu untuk mengatakannya. Katakan dengan jelas dan mantap kalau kamu mencintainya. Meskipun itu hanya sekali untuk seumur hidup."
***
Ketika Chris kembali ke dalam apartemen, ia melihat ibunya dan Rina sedang mengobrol di ruang makan. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi muka isterinya terlihat keruh dan matanya memerah.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Pria itu bertanya santai, tapi jantungnya berdebar keras. Ia sedikit banyak sudah menebak apa yang kedua wanita itu bicarakan di belakangnya. Dan ia merasa takut.
Mendengar pertanyaan Chris, isterinya hanya menoleh ke samping. Menolak untuk memandangnya. Hati Chris merasa sakit melihatnya.
Sang ibu hanya menatap tajam pada menantunya, dan terlihat mengepalkan tangannya. Menarik nafas, ia pun memandang anak semata wayangnya.
"Chris, mamah akan menginap malam ini."
Hal ini cukup mengejutkan, karena ibunya hampir tidak pernah menginap di rumah Chris terkecuali terpaksa.
Tanpa mau mendengar jawaban anaknya, ia pun menambahkan. "Mamah akan tidur di kamar tamu."
Setelah itu, ibunya pun beranjak dari duduknya. Tapi ia kemudian berhenti saat sudah berada di depan pintu kamar.
"Dan mamah mau, supaya besok pagi sarapan dari isterimu sudah ada di meja makan." Dan ia pun masuk ke dalam kamar tanpa menoleh lagi.
Suasana pun menjadi canggung ketika hanya tersisa Chris dan Rina di ruang makan.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia tidak mau isterinya marah padanya, tapi ia juga tidak mau Rina pergi dari rumahnya malam ini. Chris masih ingin bersamanya. Seterusnya.
"Rina-"
"Kita harus bicara."
Suara isterinya terdengar tegas. Matanya pun menatap tajam pada mantan suaminya.
"Di kamar."
Setelah itu, Rina pun langsung masuk ke kamar utama tanpa menunggu mantan suaminya.
Sampai di kamar, Chris pun menutup pintunya pelan. Ia sama sekali tidak mau bertengkar lagi dengan isterinya. Pengalamannya dulu membuatnya sangat merasa bersalah pada isterinya.
Isterinya tampak berdiri di ujung ruangan, kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Raut wajahnya terlihat tegang, sama seperti beberapa minggu lalu.
Sebelum berbicara, wanita itu menarik nafas. Berusaha untuk meredakan emosinya.
"Chris, kata mamah, kamu belum mengurus perceraian kita di pengadilan?"
Tahu bahwa hal ini lambat laun akan terungkap juga, pria itu mengakui dengan jujur.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau bercerai darimu."
Mendengar jawaban itu, Rina menekan kedua matanya dan tertawa ironis.
Ia menjatuhkan dirinya di pinggir tempat tidur dan mendongakkan kepalanya. Hampir saja ia tertawa histeris, untung pengendalian dirinya terhadap tekanan cukup kuat.
"Kamu tidak mau bercerai denganku?"
Hati Chris sakit melihat ekspresi ketidakpercayaan dari isterinya.
"Kamu tidak mau bercerai dariku?" Rina kembali membeo sambil memandang pria itu.
Melihat Chris hanya diam, Rina pun berdiri dari duduknya. Sejujurnya ia juga tidak mengharapkan jawaban apapun dari mantan suaminya.
"Ini bukan bahan bercandaan Chris!"
Nada suaranya tiba-tiba meninggi. Wanita itu merasa hidupnya telah dipermainkan.
Muka Rina mulai memerah, emosi mulai menguasai dirinya. Saat ini, ia benar-benar marah pada pria di hadapannya. Apa belum cukup hidupnya sudah porak poranda setahun terakhir?
Chris mencoba untuk menenangkan isterinya. "Rina-"
"Kamu kira, aku wanita yang mudah dipermainkan Chris?"
Pertanyaan isterinya membuat Chris terkejut. "Tidak-"
"Hanya karena kamu punya uang, kamu mengganggap orang miskin sepertiku mudah untuk kamu tindas?"
Pria itu mengernyitkan dahinya. Hatinya benar-benar terluka, tidak mengira isterinya setega itu mengatakan hal seperti itu padanya.
"Bukan begitu Rin-"
"Tapi itu yang kamu lakukan padaku selama pernikahan kita!" Skak mat.
Chris benar-benar terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Rina membuang pandangannya ke samping. Mukanya memerah, hidungnya kembang kempis berusaha untuk meredakan emosinya dan agar ia tidak lepas kendali. Ia masih mengingat mertuanya ada di kamar sebelah. Bah, ternyata ia masih punya mertua.
Setelah merasa cukup tenang. Ia memandang pria di seberangnya.
"Segera urus perceraian kita, seperti rencanamu semula."
Mata Chris terlihat berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus melakukan pembelaan apa. Semua memang salahnya.
"Rina..."
"Aku mau mandi."
Wanita itu pun masuk ke kamar mandi, dan menutup pintunya sedikit kencang. Meninggalkan Chris yang masih termangu di tempatnya.
Di dalam kamar mandi, Rina memandang tampilan dirinya di kaca. Ia melihat lagi dirinya sebagai pecundang. Setelah berhasil menjejakkan kakinya ke bumi dengan susah payah, suaminya malah berusaha membuatnya kembali melayang.
Pengalaman setahun terakhir telah mengajarkannya kehidupan yang pahit, dan ia telah berusaha untuk menerimanya.
Ia telah menerima kenyataan bahwa Chris sama sekali tidak menyukainya. Ia bahkan mau menerima kenyataan bahwa dirinya bukan siapa-siapa bagi suaminya. Ia juga bahkan mau mencoba untuk sekedar menjadi teman bagi pria itu, dan tidak lebih.
Tapi, apa pula ini? Di saat ia masih mencoba menata hatinya yang remuk redam, pria itu baru memutuskan bahwa ia ingin mempertahankan rumah tangga mereka?
Tubuhnya merosot ke lantai dan ia pun memeluk kedua kakinya. Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan sehingga harus menghadapi cobaan ini?
Di luar, Chris memegang pintu kamar mandi. Ia ingin mengetuknya tapi tidak berani. Samar-samar, ia dapat mendengar suara isak tangis dari dalam. Berapa kali sudah ia membuat isterinya menangis?
Ia pun akhirnya memilih untuk duduk di tepi tempat tidur. Chris baru menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan dulu ternyata dapat berakibat fatal.
Selama pernikahannya, ia memang tidak pernah peduli mau dibawa kemana rumah tangganya. Karena dari awal, ia pun menganggap pernikahan mereka hanya sementara.
Ia terlambat menyadari bahwa ia membutuhkan isterinya. Ia baru menyadari bahwa ia ternyata telah terikat pada isterinya.
Chris mengusap wajahnya kasar dan menekan kedua matanya yang mulai mengeluarkan air. Ia tidak mau isterinya pergi meninggalkan dirinya. Tapi masalahnya sekarang, ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya untuk menyelamatkan pernikahan ini.