Unsaying Words

Unsaying Words
BAB VII - Keputusan Rina (1)



Flashback 2 minggu yang lalu.


Dari kejauhan, tampak sosok seorang wanita yang sedang berdiri di samping makam yang masih baru. Rambutnya tampak berkibar-kibar tertiup angin yang cukup kencang sore itu, pertanda akan adanya badai malam nanti. Ia telah berdiri berjam-jam, tapi tampak tidak ada niat untuk beranjak dari tempatnya bahkan ketika titik-titik air hujan mulai berjatuhan.


Wanita itu hanya menatap nanar pemandangan di bawahnya. Di depannya terlihat 3 makam identik yang saling berjejer, menandakan bahwa mereka memiliki hubungan kerabat. Si wanita yang membawa buket bunga segar tampak masih belum memutuskan akan meletakkan bunganya di mana. Ia malah menutup matanya dan menengadah ke arah langit, membiarkan cucuran air hujan yang mulai menderas menampar dan membasahi wajah serta tubuhnya. Yang ada di pikirannya hanya satu: Haruskah ia menyusul mereka semua?


***


Mendengar pintu apartemen yang terbuka, Chris pun segera keluar dari kamarnya dan menuju ruang depan. Sudah beberapa hari ini Rina pulang larut, dan Chris mulai mengkhawatirkannya. Isterinya selalu pulang dalam keadaan wajah yang kusut dan terlihat lingkaran hitam di matanya, tapi setiap Chris bertanya, ia tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Chris tahu isterinya berbohong padanya, tapi tidak tahu bagaimana cara untuk mengorek informasi darinya. Hubungannya dengan Rina memang tidak seperti pasangan lainnya dari awal.


Chris melihat isterinya masuk dengan raut muka yang sama seperti hari-hari sebelumnya, bahkan hari ini bibirnya terlihat membiru seperti kedinginan. Kulitnya pun tampak pucat keunguan dan sedikit berkerut, seperti ia telah berjam-jam berendam di dalam air. Mengamati penampilan isterinya, ia melihat bahwa rambutnya basah tapi pakaiannya kering.


"Kamu kehujanan?" Tanpa sadar Chris bertanya.


Rina hanya melirik suaminya sekilas sebelum melangkah menuju kamarnya.


Tidak suka diacuhkan, otomatis Chris langsung memegang lengan atas Rina untuk menghentikan isterinya masuk ke kamar.


"Rina!"


Sentuhan Chris yang tiba-tiba membuat tubuh Rina langsung menegang dan tanpa diinginkannya, membuat badannya gemetar tanpa bisa dikontrol. Reaksi sang isteri yang tidak terduga, membuat Chris buru-buru melepaskan cengkraman tangannya. Ia juga langsung mundur beberapa langkah untuk membuat isterinya tidak merasa terancam.


Setelah melihat gemetarnya berkurang, Chris pun meminta maaf pada isterinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut."


Rina yang juga tidak menduga reaksi tubuhnya, hanya bisa mengangguk dalam diam. Ia juga tampak mengelus lengan atasnya yang bekas dipegang oleh suaminya. Tampak berusaha menghilangkan jejak tak kasat mata yang membuatnya ketakutan.


Merasa bahwa waktunya tidak tepat, Chris memutuskan untuk menunda hal yang ingin dibicarakannya sampai besok pagi.


"Ada yang ingin kubicarakan. Apakah besok pagi kamu ada waktu sebelum ke kantor?"


Rina sebenarnya sedang mengambil cuti panjang, apalagi semenjak ayahnya tambah parah dan akhirnya harus berpulang. Jadi, tentu saja besok waktunya sangat luang. Dan ia pun sudah memutuskan langkah apa yang harus diambilnya terkait pernikahannya dengan Chris. Kebetulan sekali suaminya juga ingin berbicara dengannya. Ia merasa lebih cepat masalahnya dengan Chris diselesaikan, maka akan lebih mudah bagi dirinya untuk memutuskan jalan hidupnya nanti, apalagi ketika sudah tidak ada sesuatu yang mengikat mereka lagi.


"Tentu saja. Besok kita bicara."


Setelah itu, ia pun masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi.


Keesokan paginya, Chris sudah menghirup wangi masakan dari ruang makan dan hal ini membuat perutnya keroncongan. Meski tidak mau diakuinya, ia sebenarnya merindukan masakan isterinya. Sudah beberapa hari ini, Rina tidak pernah memasak lagi yang membuat Chris harus gigit jari setiap pulang ke rumah. Padahal ia sudah menolak beberapa undangan makan malam dari partner bisnisnya di beberapa restoran mahal, hanya untuk pulang dan menikmati masakan isterinya.


Pemandangan di meja makan membuat jantung Chris berdebar kencang tanpa ia ketahui alasannya. Rina terlihat sedang menata makanan di meja dengan celemek menutupi bajunya. Pakaian yang dikenakan isterinya biasa saja, tapi entah kenapa penampilan Rina terlihat cantik di mata Chris. Raut wajah isterinya pun terlihat bahagia dengan rona yang cerah, tidak seperti malam sebelumnya. Terpana dengan yang sedang dilihatnya, membuat Chris menghentikan langkahnya dan hanya memandangi isterinya.


"Chris?"


"Chris!"


Panggilan ke-2 Rina yang sedikit keras membuat Chris tersadar dari lamunannya dan langsung menuju meja makan untuk duduk dengan salah tingkah. Jantungnya masih berdebar tak karuan ketika mengamati isterinya mengambil makanan untuk dirinya. Betapa ia merindukan hal ini beberapa hari belakangan. Melihat piringnya yang penuh dengan lauk pauk yang disukainya, membuat pipi Chris sedikit memerah bahagia. Tubuhnya tampaknya lebih jujur dibanding otaknya, bahwa ia sudah terbiasa dengan kehadiran isterinya.


Chris selalu memakan masakannya dengan lahap dan sebisa mungkin mencuci piring bekas makannya sendiri. Ia bahkan tidak pernah komplain lagi mengenai gaya berpakaian isterinya ketika mereka datang berkunjung ke rumah ibunya, meski Rina tidak mengenakan pakaian yang sudah dibeli oleh Chris. Komentar Chris di awal pernikahan mereka, membuat Rina jadi bertanya-tanya mengenai seberapa serius pendapat suaminya tentang penampilannya karena hal ini tidak pernah diungkit lagi. Yang tentu saja dari hal-hal kecil seperti ini membuat mata Rina menjadi tertutup dengan asumsinya, bahwa suaminya menyukainya.


Sambil tersenyum penuh ironi, Rina menunduk dan mengaduk-aduk makanan di piringnya. Setelah menyadari kenyataan sebenarnya, tentu saja Rina sudah tidak berani berfikir macam-macam mengenai suaminya. Hatinya saat ini sudah cukup terluka dan ia tidak ingin menambahnya dengan mengulangi kebodohannya lagi dan lagi. Ditambah saat ini dirinya yang sebatang kara, membuat Rina harus lebih kuat menghadapi kehidupan. Ia tidak ingin terpuruk pada masalah pernikahannya yang sebenarnya sudah memiliki akhir yang jelas.


"Hmm... Bo-, Boleh nambah?"


Pertanyaan Chris yang ragu-ragu dan tidak terduga, membuat Rina mendongakkan wajahnya. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Chris yang tampak tidak berdosa dan seperti anak-anak. Entah mengapa hal ini membuat Rina merasa terharu, karena tanpa harus dikatakan pun suaminya ternyata menyukai masakannya. Akhirnya ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya selama ini, dan hal ini membuat Rina ingin menangis bahagia. Berusaha mengontrol hatinya yang membuncah, Rina pun melayani suaminya kembali dengan perasaan yang berbunga-bunga. Baru kali ini ia merasa dapat berperan menjadi seorang isteri yang sebenarnya bagi suaminya.


Selesai sarapan, mereka pun akhirnya kembali duduk berhadap-hadapan dan baru akan memulai pembicaraan saat ponsel Chris tiba-tiba berbunyi. Mendapat gangguan yang tidak diharapkan membuat Chris kesal dan berniat akan mematikan ponselnya, namun terhenti ketika melihat nama peneleponnya.


Tidak enak hati, Chris pun meminta izin pada isterinya untuk menjawab telepon tersebut.


"Maaf, aku harus menjawabnya."


Melihat bahwa itu pasti sesuatu yang penting membuat Rina menganggukkan kepalanya.


Dengan sabar, ia pun memperhatikan saat Chris tampak menjauh untuk menerima telepon tersebut. Saat ini, Rina berusaha merekam sebanyak mungkin sosok suaminya. Matanya tampak tidak berkedip, berusaha untuk menyerap bayangan suaminya yang sedang berdiri membelakanginya. Ia mungkin tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bertemu dengan Chris di masa mendatang.


Saat suaminya kembali ke ruang makan, raut mukanya tampak keruh. Chris menarik nafas sebelum menjelaskan pada isterinya.


"Sepertinya pembicaraan kita harus ditunda dulu. Saat ini ada masalah yang urgent, dan aku harus ke kantor. Rich sudah di bawah, menunggu."


Rina pun berinisiatif mengambilkan tas kerja Chris yang tergeletak di sofa tengah, sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Menerima tas dari isterinya, Chris pun tersenyum samar. Ia merasa hatinya tiba-tiba menghangat menerima perlakukan isterinya yang tidak biasa. Dengan ragu-ragu, isterinya pun menyerahkan sesuatu yang tampak seperti kotak bekal makanan padanya. Chris pun menerimanya dengan mata bertanya-tanya.


Ketika Chris sudah keluar dari pintu apartemen dan bersiap menuju lift, Rina tiba-tiba memegang lengan Chris untuk menghentikan suaminya.


"Chris."


Chris berhenti dan berbalik untuk memandang isterinya.


Meski Chris sudah berdiri di depannya, tapi Rina tetap belum mau melepaskan pegangannya dari tangan suaminya. Sejenak Rina tampak terpaku pada genggaman tangannya di pergelangan Chris. Ini adalah pertama kalinya ia berinisiatif menyentuh suaminya. Jari-jarinya terlihat mungil melingkari pergelangan suaminya. Panas kulit Chris yang mulai terasa terserap ke telapak tangannya secara perlahan-lahan, membuat Rina menyadari bahwa ia benar-benar telah menyentuh suaminya.


"Chris."


Sambil menunduk, Rina mengucapkan kembali nama suaminya seperti mantra dan baru kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatapnya.


"Chris, aku menyetujui permintaan ceraimu. Aku akan menandatanganinya."


Kata-kata Rina terdengar mantap ketika mengucapkannya dan setelah itu, ia pun melepaskan tangan suaminya. Ia sudah yakin dengan keputusannya.


Kepala Chris terasa kosong mendengar pernyataan isterinya yang seperti petir di siang bolong. Ia sama sekali tidak menyangka Rina akan mengatakan keinginan cerai dengan cara yang seperti ini. Apalagi mereka baru saja menjalani sarapan bersama yang menyenangkan untuk pertama kali. Bibir Chris terasa kelu dan jantungnya mulai bertalu-talu. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tidak ingin mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan disesalinya, Chris hanya bisa berkata dengan dingin.


"Nanti kita bicarakan lagi."


Chris pun segera meninggalkan isterinya tanpa mau mendengar jawabannya. Ketika sudah berada di dalam lift, ia melihat bahwa isterinya masih berdiri di depan pintu apartemen mereka dan memandang dirinya. Sampai pintu lift menutup pun, Chris menyadari bahwa isterinya masih tetap setia menatap kepergiannya. Ia tidak pernah berfikir, bahwa itu adalah kali terakhirnya ia akan melihat sosok sang isteri.