
Rina pun akhirnya keluar dari kamar mandi dengan berbalut jubah mandi milik Chris. Rambutnya basah dan matanya terlihat sembab, habis menangis.
Melihat pakaiannya yang sepertinya tidak nyaman, Chris pun berinisiatif meminjamkan salah satu kaos dan celana pendeknya.
"Pakailah."
Tanpa banyak bertanya, wanita itu pun menerimanya. Ia sudah cukup lelah kalau harus berdebat lagi dengan suaminya.
"Aku ke kamar mandi dulu."
Melihat pria itu sudah menutup pintu kamar mandi dengan rapat, Rina pun mulai mengganti bajunya.
Pakaian Chris benar-benar kebesaran baginya. Celana pendeknya bahkan tidak bisa ia pakai.
Melihat tampangnya di cermin, ia tampak menggelikan. Kaos Chris tampak menjuntai, memperlihatkan salah satu bahunya. Panjangnya pun sampai menutupi lututnya.
Tapi melihat pakaian kerjanya yang sudah menjadi setumpuk baju kotor, mau tidak mau ia terpaksa mengenakannya. Apalagi kaos ini cukup nyaman untuk dibawa tidur.
Ia baru akan mengangkat salah satu kakinya ke tempat tidur, saat pintu kamar mandi terbuka.
Rina tidak menyadari bahwa penampilannya terlihat sexy di mata suaminya. Pandangan suaminya pun turun ke dadanya, ketika mengetahui bahwa isterinya tidak mengenakan apapun di baliknya. Jakunnya terlihat naik turun dengan susah payah.
Tapi Rina yang sudah kelelahan hanya melengos, dan beringsut masuk ke dalam selimut. Tidak sadar sama sekali bahwa ada seorang pria yang tampak kelaparan menatapnya.
Berusaha untuk mengendalikan nafsunya, Chris pun mengikuti isterinya ke tempat tidur. Rina tampak membelakangi dirinya.
Mengumpulkan keberaniannya, dengan perlahan ia pun menyentuhkan tangannya di punggung isterinya. Sedetik, punggung isterinya tampak tegang namun kemudian terasa rileks, ketika pria itu mulai mengusap-usapnya lembut.
Beringsut mendekat, Chris mendekap lengan isterinya dan meletakkan hidungnya di bahu isterinya, untuk kemudian turun dan ia pun menundukkan kepalanya di sana.
"Maaf..."
Rina yang belum tidur hanya terdiam mendengar permintaan maaf Chris. Matanya terbuka.
"Maafkan aku..."
Suara suaminya terdengar lirih dan Rina dapat merasakan bahunya sedikit basah.
"Maafkan aku, Rin..."
Pelukan Chris mengerat.
Mata Rina tampak berkaca-kaca dan tanpa diinginkannya, air matanya pun mengalir.
Malam itu, kedua manusia yang sebelumnya telah dipersatukan dengan pernikahan, untuk pertama kalinya, telah berani untuk mulai mengungkapkan perasaan masing-masing.
Paginya, Chris terbangun sendirian. Khawatir isterinya telah meninggalkan dirinya, ia pun segera mencari keberadaan wanita itu. Dan merasa lega ketika menemukan isterinya telah berada di meja makan bersama dengan ibunya.
"Selamat pagi Chris."
Ibunya menyapanya dengan ceria, seolah tidak pernah ada masalah apapun.
Pria itu pun melangkahkan kakinya dengan pelan menuju meja makan. Ia duduk dan tidak berapa lama, isterinya mulai melayaninya seperti biasa.
Masakan yang dibuat Rina terlihat lezat seperti biasanya, tapi pagi itu Chris merasa ada gumpalan besar di perutnya yang membuatnya tidak bisa menikmati sarapannya. Ia masih mengingat pembicaraan mereka tadi malam.
Melihat anaknya yang tampak tidak bersemangat, ibu Chris pun memegang tangannya.
"Chris, nanti mamah minta tolong Rich untuk mengantar ke rumah ya?"
Mengerjapkan matanya, pria itu bertanya, "Memang Pak Udin kemana mah?"
Dengan santai ibunya menjawab, "Dia izin mau liburan dengan keluarganya."
Dahi Chris berkerut, ia curiga dengan perkataan ibunya. Pak Udin, supir mereka, hampir tidak pernah meminta cuti apapun kecuali sakit. Karena memang ia sudah tinggal sendiri.
Tidak mau menentang kemauan ibunya, Chris pun mengiyakan permintaannya.
"Boleh saja mah. Nanti Chris bisa-"
"Rina katanya mau mengantarmu ke kantor."
Perkataan ibunya membuat pria itu tersedak makanannya.
Rina pun segera mengambilkan air putih untuk suaminya, dan dengan perlahan menepuk-nepuk punggungnya.
Sambil melirik isterinya, Chris pun meminum airnya. Mukanya tampak memerah.
Setelah memastikan makanannya telah kembali ke jalur yang benar, pria itu menoleh pada Rina yang tampak tenang menikmati sarapannya.
"Kamu mau mengantarku?"
"Ya. Tadi mamah meminta tolong padaku." Tanpa menoleh, isterinya menjawab.
Menoleh pada ibunya yang duduk di seberangnya, alis Chris terangkat. Ia bertanya tanpa bersuara. Apa maksudnya ini?
Ibu Chris yang sedang meminum tehnya, hanya memberikan isyarat mata pada anaknya. Tampak senyum jahil terpatri di bibirnya.
Mengerti maksud ibunya, pria itu bertanya hati-hati pada isterinya. Ia tidak mau gegabah lagi.
"Kalau kamu keberatan, aku-"
"Tidak apa. Toh kita searah." Potong Rina pelan. Ia masih belum mau memandang suaminya.
Perilaku Rina membuat hati Chris kembali sakit. Ia menundukkan kepalanya.
"Kita akan berangkat jam 07.00. Aku akan mandi duluan." Setelah itu, isterinya pun pamit untuk pergi ke dalam kamar mereka.
Melihat isterinya sudah masuk ke dalam kamar, Chris pun menyenderkan tubuhnya di kursi dan menghela nafas panjang.
"Sabarlah Chris."
Ia memandang ibunya yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Pasti butuh waktu untuk menyembuhkan suatu luka kan? Tapi bukan berati luka itu tidak akan sembuh."
Chris menutup matanya, ia kembali teringat perbuatannya yang menurutnya tidak bisa dimaafkan, bahkan oleh dirinya sendiri.
"Tapi Chris sudah sangat menyakitinya mah. Chris tidak tahu apakah Rina mau memaafkan Chris..." Jawabnya lemah. Ia mulai merasa kalah.
Ibunya kembali menggenggam tangan anaknya. Ia meremasnya kuat, yang membuat anaknya akhirnya memandang dirinya.
"Chris, ingatlah, isterimu bukanlah wanita yang lemah. Ia hanya sedang berada di persimpangan pilihan."
Mata ibunya memancarkan sorot yang kuat ketika menambahkan.
"Dan pilihannya sangat tergantung pada dirimu. Seberapa besar kamu mau dan bisa membuatnya untuk memilih dirimu kembali. Semuanya tergantung padamu Chris."
Wanita tua itu pun melepaskan genggaman pada anaknya dan menyesap tehnya kembali.
Ia pun meletakkan cangkir tehnya di meja dan memutarnya perlahan.
"Yakinlah Chris. Mamah memilih Rina sebagai pendampingmu bukan karena kasihan. Tapi mamah melihat tekad yang kuat dari dirinya."
Dan perkataan terakhir ibunya pun membuat hati Chris membuncah bahagia.
"Dan mamah yakin, bahwa Rina adalah pendamping hidupmu yang paling tepat."
***
Ketika mereka berada di parkiran, Chris meminta kunci mobil dari Rina.
"Tidak kenapa-kenapa. Rasanya tidak pantas saja kalau aku hanya menumpang di mobilmu. Paling tidak biarkan aku menyetir sampai ke kantormu."
Tidak berkata apa-apa lagi, Rina pun akhirnya masuk ke dalam mobil.
Sadar bahwa kursi penumpang masih dalam posisi kemarin, Rina pun berusaha memajukan kursinya sesuai dengan tinggi badannya. Sayangnya pedalnya entah kenapa terasa macet, mungkin karena lama tidak digunakan. Ia terlihat kesulitan menggerakkannya.
Melihat isterinya kesulitan, Chris pun segera membantunya untuk menggerakkan pedal tersebut dan tanpa sengaja mendorong kursinya dengan cukup kencang. Hal itu membuat Rina menabrak badan Chris, yang untungnya tidak keras tapi membuat posisi mereka menjadi cukup intim.
Chris terlihat seperti memeluk Rina, dan tangan kanannya tanpa sengaja berada di paha isterinya yang sedikit terbuka karena pergerakan tersebut. Keduanya terdiam dengan jantung yang bertalu-talu di dada mereka.
Dengan perlahan, Chris menggerakkan kepalanya yang membuat pipi mereka saling bersentuhan. Pria itu sedikit menunduk, memperhatikan detail wajah isterinya. Ia hampir tidak bisa menahan dirinya ketika melihat mulut isterinya yang sedikit terbuka.
"Kamu tidak apa-apa?" Bisiknya.
Aliran nafasnya yang berbau mint menerpa indra penciuman Rina dengan sangat kuat.
Pikiran wanita itu sejenak terasa kosong. Ia hanya mampu menatap bibir Chris yang merah muda dan tampak mengundang.
Nafas keduanya mulai terasa berat, ketika menyadari bahwa mereka memiliki ketertarikan yang sama. Entah setan dari mana, tangan kanan Rina bergerak sendiri untuk mengelus dada suaminya dan meremasnya. Ia ingin merasakan otot-otot suaminya.
Sentuhan isterinya membuat Chris sedikit menggeram, dan menggerakkan tangannya lebih ke atas. Mulai masuk ke dalam rok isterinya.
Ia pun menunduk dan akan mencium isterinya-
Tin-Tinnnn!
Suara klakson yang tiba-tiba, membuat pasangan itu terkejut dan segera kembali ke posisi masing-masing.
Chris mencengkram kemudi dengan perasaan marah, ketika melihat penyebab kegagalannya adalah seorang pengemudi yang tidak bisa masuk ke area parkiran karena tidak membawa kartu akses. Sialan!
"Sebaiknya kita segera berangkat. Kalau tidak, kamu bisa terlambat ke kantor."
Rina mengingatkan suaminya sambil memandang keluar jendela. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang dan mukanya yang memerah seperti tomat.
Chris yang juga berada dalam kondisi sama, dengan tanpa banyak bicara mulai menggerakkan mobil tersebut menuju kantor isterinya.
Sampai di tempat parkiran restoran, Rina heran dan bertanya pada suaminya.
"Kenapa kamu mengantarku duluan? Kenapa tidak ke kantormu dulu?"
Dengan perlahan, Chris mengembalikan kursi pengemudi ke posisi semula. Ia tidak ingin isterinya kesulitan lagi nanti.
Sambil berjalan bersama, mereka menuju pintu restoran yang masih bertanda 'closed'.
"Chris?"
Penasaran, isterinya masih bertanya, karena suaminya belum menjawab dan belum mengembalikan kunci mobilnya.
"Dimana pintu masuknya?" Tanyanya ketika melihat pintu restoran masih terkunci.
"Lewat samping."
Mereka pun masuk ke pintu yang bertanda 'khusus karyawan' dan memasuki ruang makan yang masih sepi. Suaminya tampak mencari seseorang.
Secara kebetulan, salah satu pintu kantor terbuka dan memperlihatkan pria yang bernama Thomas kemarin. Bibir Chris membentuk senyuman licik. Ini dia, orang yang dicarinya.
Entah insting dari mana, mungkin karena sudah cukup lama bergelut di dunia bisnis dan terbiasa bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan dengan tipu muslihat yang bermacam-macam, membuat Chris dapat dengan cepat menangkap tanda bahaya. Dan ia tahu dengan pasti, bahwa si Thomas ini memang mengincar isterinya.
Ketika si Thomas mendekat, Chris pun dengan segera meraup pinggang Rina yang membuatnya menempel pada tubuhnya. Ia menunjukkan kepemilikan.
Thomas terlihat kaget, ketika melihat Rina menempel dengan intim pada tamu yang baru dijumpainya kemarin. Ia terlihat mengepalkan tangannya.
Saat itu, secara berbarengan beberapa pegawai terlihat baru datang untuk shift pagi, termasuk Chef mereka. Melihat situasi yang tidak biasa, pria-pria itu malah menyempatkan diri untuk menonton.
"Tuan... Tolong lepaskan tangan Anda dari pegawai saya."
Dengan suara berat, Thomas berusaha mengusir pria menyebalkan ini. Ia takut Rina mendapatkan pelecehan seksual dari orang yang tidak dikenalnya.
"Kenapa saya harus melepaskannya?"
Chris malah balik menantangnya. Tatapannya tajam dan menunjukkan rasa permusuhan. Rina yang berada dalam pelukannya tidak berdaya, ketika suaminya dengan kuat namun lembut, mencengkram pinggangnya hingga membuatnya menempel padanya.
"Karena-"
"Dia adalah isteri saya sendiri."
Pria itu memotong dan menempelkan bibirnya pada kening Rina.
Pengumuman yang dikatakan dengan datar tapi mengejutkan itu membuat sekeliling restoran menjadi hening.
"Saya datang untuk berterima kasih karena Anda mengizinkan pegawai Anda untuk mengurus orang yang sedang sakit." Ia pun mencium kening Rina dengan cepat.
Chris kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya.
"Perkenalkan, nama saya adalah Chris Dieter. Terus terang, saya tertarik dengan cita rasa masakan Anda dan bila Anda berminat, saya berencana untuk menggunakan jasa Anda untuk acara meeting dengan para klien saya."
Pria itu bukanlah orang bodoh. Ia adalah pebisnis handal, dengan otak yang encer. Ia tidak mau claim-nya terhadap isterinya sendiri hari ini bisa merugikan isterinya nanti.
Thomas hanya bisa termangu menatap kartu nama di tangannya. Pertama, ia mendapatkan kejutan kalau wanita yang disukainya ternyata sudah bersuami. Padahal ia mengajak Rina untuk membantu bisnisnya 2 tahun yang lalu, hanyalah alasannya untuk mendekatkan diri.
Kedua, kartu nama yang ada ditangannya menunjukkan owner dari salah satu perusahaan property terbesar di negeri ini. Ia sudah beberapa kali mengajukan proposal ke mereka dan tidak satu pun diterima. Sekarang kesempatan ini di depan matanya, tapi dengan resiko hatinya hancur berkeping-keping.
Ia memandang pasangan di depan matanya, tidak sadar bahwa tampangnya sangat menyedihkan.
Dalam hati, Chris merasa kasihan pada pria itu. Tampaknya perasaannya tulus pada isterinya. Tapi masalahnya, Chris tidak akan pernah mau berbagi miliknya dengan siapa pun.
Memecahkan keheningan yang tidak mengenakkan tersebut, Chris pun tersenyum.
"Kalau Anda tertarik, Anda bisa menghubungi saya di nomor tersebut."
"Beb, bisa antarkan aku ke depan?"
Panggilan Chris yang tidak biasa, membuat Rina dengan linglung mengantarkan suaminya ke area depan restoran.
Ketika mereka sampai di area parkiran, secara ajaib mobil yang dibawa Rich sudah terparkir dan siap untuk membawa bosnya ke kantor.
Bingung dengan keadaan ini, Rina pun bertanya, "Loh, bukannya Rich-?"
Dengan cepat, Chris pun mencuri ciuman dari bibir isterinya.
Mata Rina membulat mendapatkan perlakuan tidak biasa dari suaminya.
Chris pun menyerahkan kunci mobil Rina ke tangan isterinya.
"Aku akan datang makan siang nanti. Jaga dirimu."
Setelah itu, dengan penuh ***** suaminya pun mencium dirinya kembali, sebelum akhirnya ke mobil dan menyuruh Rich menjalankan kendaraannya.
Memandang kepergian Chris bersama Rich, Rina hanya bisa meraba bibirnya yang terasa bengkak karena kelakuan suaminya.
Tanpa diinginkannya, hatinya merasa bahagia. Ia merasa sudah menjadi milik Chris.
Di dalam mobil sendiri, Rich melihat bosnya terlihat tersenyum bahagia melalui kaca spion. Tampang bosnya benar-benar 180 derajat berbalik dibanding kemarin, padahal baru 1 hari ia bertemu dengan isterinya.
Chris mengeluarkan sesuatu dari kantong. Itu adalah dua cincin milik Rina. Ia sebenarnya ingin mengenakannya di jari kelingkingnya, tapi tidak cukup. Ia pun menyimpannya kembali dalam kantong dalam jasnya. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk mengembalikannya.
Pada akhirnya, hanya Rina-lah satu-satunya yang berhak untuk memilikinya.