
Sementara itu di dalam restoran, Rina menghadapi beberapa pasang mata yang memandangnya. Kebanyakan di antara mereka menatap kagum, tapi hanya satu orang yang melihatnya dengan pandangan berbeda.
"Lerina. Ke ruangan saya."
Ketika ia melewati beberapa pegawai dan Chef untuk mengikuti Thomas, mereka menggodanya dengan membuat adegan seolah sedang berciuman.
Melihat kelakuan rekan-rekan kerjanya, hanya membuat Rina tersenyum dan tidak terlalu menanggapinya. Ia pun masuk ke ruangan Thomas.
Thomas sedang duduk di balik mejanya. Mukanya terlihat kusut dan tertekan. Padahal ia sudah jauh-jauh hari merencanakan untuk membuat pengakuan cinta pada wanita yang saat ini berdiri di depannya.
Membuka laci mejanya, ia melihat sebuah kontak cincin yang telah dibelinya 1 tahun lalu. Dengan kesal, ia pun membantingnya sampai laci itu menutup. Betapa sial dirinya!
Rina bersikap tenang menghadapi kelakuan pria di depannya. Ia sudah terbiasa menghadapi emosi Thomas yang cenderung naik turun, apalagi ia juga harus menghadapi perilaku suaminya yang justru tanpa emosi di rumah.
Situasi di restoran yang memang menekan, terkadang dapat memancing seseorang untuk dapat berteriak dan membentak tanpa sadar. Tapi tetap tujuannya adalah untuk profesionalisme pekerjaan. Tidak ada yang bersifat personal. Sampai saat ini.
Pria itu memandang Rina tajam.
"Siapa dia?"
"Suamiku."
Thomas mengepalkan tangannya. Ia menggertakan giginya.
"Kamu tidak pernah bilang kalau sudah menikah."
"Kamu tidak pernah bertanya."
Emosi Rina yang cenderung stabil inilah yang membuat Thomas semakin tertarik padanya. Ia sudah tertarik padanya ketika pertama kali melihat Rina masuk ke restorannya, yang membuatnya melakukan segala cara agar Rina mau pindah ke tempatnya padahal saat itu, Rina telah memiliki karir yang cukup menjanjikan di perusahaan sebelumnya.
"Kapan kamu menikah?"
"Setahun yang lalu."
Pria itu terkejut mendapati kenyataan ini. Ia hanya terlambat selangkah dari si brengsek itu.
"Bagaimana kalian bertemu?"
Rina memandang Thomas dengan intens, matanya mulai menyipit.
"Saya kira, itu bukan urusanmu Thomas."
Thomas tiba-tiba menggebrak meja di depannya dengan keras.
"Itu menjadi urusanku! Karena kamu pegawaiku!"
Rina terdiam memandang pria di depannya. Ia sama sekali tidak menyukai bahwa Thomas mulai mencampuradukan urusannya. Ia tidak suka kehidupan pribadinya di otak-atik oleh orang lain, apalagi orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengannya.
Wanita itu mengambil sesuatu dari tas yang dibawanya. Yang ternyata kartu pegawainya.
Ia meletakkan kartu itu dengan pelan di atas meja.
"Kalau kamu tidak terima memiliki pegawai yang sudah menikah, maka saya bersedia untuk mengundurkan diri."
Mata Thomas terlihat nanar melihat kartu di depannya. Ia tidak menyangka kalau Rina akan langsung mengambil langkah ekstrim.
"Saya akan segera mengurus administrasinya pagi ini. Permisi."
Melihat wanita itu yang berbalik akan keluar ruangan, Thomas segera beranjak dan dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.
"Lerina. Bukan seperti itu maksudku. Jangan begini."
Suara Thomas terdengar memohon. Ia tidak mau sampai Rina meninggalkannya. Bagaimana pun, ia terancam kehilangan seorang pegawai yang sangat kompeten baginya.
Rina melihat lengannya yang dicekal kuat oleh pria di depannya.
"Lepaskan saya."
Thomas malah mempererat cengkramannya, membuat Rina mulai mengernyitkan dahi menahan sakit.
"Thomas, lepaskan saya."
"Jika aku tidak mau?"
Menatap mata pria itu, Rina sadar bahwa Thomas serius. Ia harus mencari cara keluar dari situasi ini. Ia tidak mau memakai kekerasan.
"Thomas, kamu tahu kenapa saya menerima pekerjaan ini?"
Mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka, membuat pria itu mengerjapkan mata dan tidak sadar telah melonggarkan pegangannya.
Wanita itu pun segera menarik tangannya dan langsung mundur, mencari jarak aman.
"Kamu tahu kalau saya sangat menyukai konsep restoranmu ini? Saya bahkan menerapkannya di rumah."
Kata-kata Rina tampak membasuh pikiran Thomas yang tadinya terselimuti amarah.
"Saya juga sangat menyukai visi misimu, dan bagaimana caramu memperlakukan para pegawaimu."
"Tapi apa kamu tahu alasan utama yang menyebabkan saya mau menerima tawaranmu?"
Mata Thomas memandang Rina, bertanya-tanya.
"Saya menerima karena saya menyukai uang. Dan kamu saat itu menawarkan gaji yang jauh lebih tinggi dari tempat saya sebelumnya."
Pria itu mengerjapkan matanya, kaget dengan kejujuran Rina.
"Ketahuilah Thomas, saya adalah wanita yang materialistis."
Rina tersenyum melihat Thomas hanya mematung menatapnya.
"Kamu tahu siapa suami saya, kan? Kamu pikirkanlah sendiri."
Setelah itu, ia pun keluar ruangan dan langsung pergi meninggalkan restoran.
Sampai di mobilnya, Rina menangkupkan kepalanya pada kemudi dan menghembuskan nafasnya keras. Maafkan aku Chris.
Ia terpaksa mempergunakan nama Chris untuk membuatnya dapat lepas dari mantan atasannya. Ia harus menekankan pada pria itu, bahwa Thomas tidak akan bisa mempergunakan kekuasannya atas dirinya karena ia memiliki suami yang jauh lebih kaya darinya. Oh Chris, aku benar-benar minta maaf.
Setelah itu, Rina pun meninggalkan tempat parkiran. Ia juga masih tidak tahu akan kemana tujuannya saat ini.
***
Siang itu, Chris dan Rich pun tiba di restoran. Sudah beberapa kali Chris melakukan panggilan pada Rina, tapi isterinya tidak menjawab sama sekali. Ia mulai mengkhawatirkan isterinya, apalagi mengingat kejadian tadi pagi.
Gelisah dalam duduknya, Chris pun tanpa sengaja menumpahkan gelas di mejanya. Hal ini menyebabkan taplak di meja mereka menjadi basah. Untungnya mereka sudah selesai makan dan sedang menunggu bill tagihan.
Dengan segera, salah satu pelayan yang sedang membawa bill menghampiri mereka dan membereskan kekacauan yang dibuat tamunya.
Ketika pekerjaannya selesai dan menengadah melihat tamunya, pelayan yang masih muda itu pun tersenyum ceria. "Oh, Anda Pak Chris yang waktu itu. Sudah sehat, Pak?"
Rich yang sedang memeriksa tagihan dan mengeluarkan kartunya, menatap pelayan muda itu dan segera mengenalinya. "Kamu pelayan yang membawakan air waktu itu, kan?"
Pelayan itu pun menoleh pada Rich. "Benar, Pak."
Chris mencoba mengingat-ingat gadis di depannya ini. Samar-samar, ia memang tahu bahwa ada seseorang yang membawakan air minum untuknya saat itu.
Ingatannya yang tajam pun segera mengingat nama anak ini. "Cindy kan?"
Terkejut kalau pria ganteng di depannya mengingat namanya, pipi Cindy pun terlihat memerah. Ia akan menceritakan ini pada teman-teman sekolahnya nanti.
"Iya, Pak." Cindy tersenyum sangat lebar, memperlihatkan deretan giginya yang cukup rapih.
Pandangan Chris sedikit melembut melihatnya. Ia melihat ketulusan dari diri anak ini.
"Terima kasih ya waktu itu."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya senang bisa membantu Bapak."
Saat Cindy akan membawa bill beserta kartu dari Rich, tiba-tiba Chris menghentikannya.
"Kamu tahu dimana Rina?"
Sejenak, anak itu kelihatan ragu. Sebelum menjawab, ia pun celingak-celinguk, memastikan tidak ada orang yang mendengarkan mereka.
"Sebenarnya Ibu Lerina sudah tidak bekerja di sini." Ia sedikit berbisik.
Mendengar informasi yang tidak diduganya, alis Chris berkerut dalam.
"Apa yang terjadi?"
"Pagi tadi sepertinya Ibu Lerina bertengkar dengan Pak Thomas. Ada yang melihatnya membanting pintu kantor dan langsung pergi dari restoran."
"Dia resign atau dipecat?" Tanya Chris memastikan.
"Tidak ada yang tahu. Saat briefing pagi, Pak Thomas hanya mengatakan kalau Ibu Lerina sudah tidak akan bekerja di sini lagi."
Anak itu menarik nafas, ia kelihatan sedih. "Padahal Ibu Lerina sangat baik. Ia sering mentraktir kita-kita dan membawakan masakannya."
Tangan Chris yang berada di atas meja tampak terkepal. Hati Rich mulai ketar-ketir melihat perilaku bosnya, ia harus bersiap menghadapi kemungkinan kalau bosnya akan meledak.
Sebelum Cindy pergi, Chris pun memberikan tips yang cukup besar untuk anak itu.
"Te-terima kasih Pak."
Matanya berkaca-kaca, sangat berterima kasih pada pria di hadapannya. Jarang ada tamu kaya yang mau memperhatikan orang kecil sepertinya.
Setelah pelayan itu pergi, Chris pun segera beranjak menuju kantor Thomas.
Melihat itu, Rich berusaha menahannya. Ia takut kalau bosnya akan lepas kontrol seperti waktu itu.
"Bos, mengenai hal ini-"
Mengerti kekhawatiran asistennya, pria itu menepuk bahu Rich pelan. Ia tersenyum.
"Jangan khawatir Rich. Kamu tunggu saja di mobil."
Rich kemudian melihat bosnya mengetuk ruang kantor Thomas pelan, dan menunggu dengan sabar di depannya. Sepertinya semua masih aman.
Memastikan kalau bosnya sudah masuk ruangan, Rich pun kemudian pergi mengurus pembayaran dan memutuskan akan menunggu saja di dalam mobil.
Dalam ruangan kantor Thomas, Chris tampak melihat-lihat berbagai macam piagam yang terpasang di dinding. Ia memang harus mengakui kalau restoran milik Thomas adalah salah satu yang terbaik di kotanya.
"Mau minum apa Pak Chris?"
Berbalik menghadap pria itu, Chris hanya berucap datar. "Saya lebih suka Anda memanggil nama belakang saya, Dieter."
Sedikit gelagapan karena reaksi yang tidak terduga itu, Thomas pun segera meminta maaf.
"Maaf, Pak Dieter. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda."
Chris hanya tersenyum samar menanggapinya. "Tidak apa. Saya hanya terbiasa mempergunakan nama belakang saya untuk hal-hal yang terkait dengan pekerjaan."
Pria itu pun segera mempersilahkan Chris untuk duduk di sofa, namun dengan sopan ditolaknya.
"Saya hanya akan sebentar di sini."
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Thomas pun segera membuka pembicaraan.
"Pak Dieter, mengenai penawaran Anda waktu itu-"
"Apakah Anda masih menyimpan kartu nama saya?"
Terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu, Thomas pun segera mengeluarkan kartu nama Chris yang masih disimpan di kantong kemejanya.
"Oh, tentu saja."
"Boleh saya memintanya?" Chris mengulurkan tangannya.
Dengan bingung, Thomas pun menyerahkannya.
Tanpa diduga, Chris merobek kartu itu menjadi 4 bagian dan memasukkannya ke kantong jasnya. Tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk melihatnya. Ia juga yakin bahwa Thomas belum sempat mencatat nomornya dimana pun.
Thomas tertegun melihat yang dilakukan pria di depannya.
"Pak Dieter, kenapa-"
"Tidak ada alasan spesifik sebenarnya. Saya hanya memutuskan tidak akan pernah bekerja sama dengan restoran yang memperlakukan pegawainya dengan tidak profesional."
Raut muka Thomas terlihat pucat. Betapa bodohnya dia.
Chris pun membuka pintu ruang kantor Thomas dan menoleh pada pria itu.
"Saya harap, kita tidak pernah bertemu lagi. Karena kalau itu sampai terjadi, saya hanya akan menjadi Chris. Suami dari Rina, isteri saya."
Setelah itu, Chris pun menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Thomas yang meratapi kebodohannya. Hari ini ia kehilangan 2 hal yang berharga, karyawannya yang kompeten dan juga kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya. Dan itu terjadi karena keserakahannya.