
Rina akhirnya bisa dengan halus mengusir tetangganya yang dengan keukeuh berusaha menawarkan produk dari salah satu MLM yang diikutinya.
Menarik nafas lelah, ia pun berbalik dan melihat suaminya yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Chris."
Rina tersenyum, dan mengangkat tangannya untuk merapihkan rambutnya ke belakang telinganya.
Saat itulah Chris baru menyadari bahwa ada lebam di pergelangan tangan isterinya. Ia pun segera menghampiri isterinya dan memegang tangannya lembut. Ia melihat lebam yang terlihat seperti bekas cengkraman seseorang.
Mata Chris menyipit. "Dia melukaimu?"
Menyadari arah mata suaminya, Rina berusaha untuk melepaskan dirinya tapi tidak dibiarkan oleh Chris.
"Thomas melukaimu Rina?"
Rina menunduk menatap lantai. Ia sangat tidak menyukai pembicaraan ini.
"Tidak."
"Lalu ini apa?" Tuntut suaminya.
"Dia tidak sengaja."
Chris melepaskan tangan isterinya dan mundur.
"Kamu membelanya?"
Wanita itu menatap suaminya tajam.
"Aku tidak membelanya. Aku hanya mengatakan sebenarnya."
Pria itu mengepalkan tangannya. Baru kali ini ia merasakan perasaan seperti ini. Ia cemburu.
"Apa yang terjadi?"
Melihat bahwa suaminya masih berkepala dingin, Rina pun berusaha menjelaskan.
"Dia tidak terima aku mengundurkan diri. Ia marah. Hal yang wajar."
"Tapi tidak wajar kalau dia melukaimu!"
Nada suara Chris sedikit tinggi. Ia tidak suka mendengar isterinya membela pria lain, yang jelas-jelas menyukai wanita itu.
Rina tidak suka mendengar nada Chris, yang seolah-olah mengkhawatirkannya.
"Kamu juga pernah melakukan hal yang sama Chris." Deg.
"Kamu juga pernah lepas kontrol ketika marah, kan?"
Rina memandang suaminya dengan dingin. Ia sebenarnya tidak mau mengungkit hal ini, tapi suaminya yang memaksanya.
Suaminya hanya menatapnya dalam diam. Rina tidak bisa membaca ekspresinya.
"Apakah saat itu aku menyalahkanmu? Tidak kan?"
"Saat itu, aku tidak bermaksud melukaimu Rina. Saat itu, aku marah pada orang lain." Jawab suaminya pelan.
Wanita itu menghela nafasnya lelah dan mendongakkan kepalanya. Ia merasa lelah saat ini. Membuatnya tidak bisa berfikir jernih ketika mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.
"Bukannya itu jauh lebih buruk Chris? Kamu marah pada orang lain tapi melampiaskannya padaku. Setidaknya objek kemarahan Thomas memang aku."
Rina yang sedang melihat ke arah lain tidak mengetahui ekspresi suaminya, yang saat itu terlihat sangat hancur. Pria itu merasa harapannya remuk, melihat bahwa isterinya masih mengingat peristiwa buruk itu sebagai kenangan yang mengerikan.
"Begitu burukkah aku di matamu?"
Mendengar pertanyaan suaminya, wanita itu mendongak. Chris tidak memandang dirinya.
"Begitu burukkah aku sehingga kamu pun tidak mau memberitahukan padaku mengenai ini?"
Pria itu melemparkan dengan pelan 2 dokumen yang ditemuinya tadi ke atas meja tamu.
Wanita itu melihat surat kematian ayahnya dan foto kehamilannya. Ia mengerutkan keningnya.
"Bagaimana kamu menemukannya?"
"Apakah penting?"
"Kamu membongkar barangku?" Rina benar-benar tidak suka privacy-nya di ganggu.
"Aku menemukannya tidak sengaja."
"Apa maumu Chris?"
Pria itu tidak percaya kalau Rina akan bertanya seperti itu. Ia hanya ingin penjelasan.
"Aku hanya ingin penjelasan. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Rina memandang suaminya dengan ekspresi marah.
"Ayahku sudah mati, dan aku hamil! Apa yang perlu dijelaskan lagi?"
Chris memandang Rina dengan sakit hati. Ia benar-benar merasa terluka saat ini.
"Rina, aku ini suamimu."
Wanita itu malah mendengus sinis. "Sejak kapan?"
Mata Chris mulai memerah. Ia tidak menyangka kalau isterinya dapat berubah sedrastis ini gara-gara dia.
"Sejak kapan kamu menjadi suamiku Chris? Dalam 1 tahun kita menikah, tidak pernah sekali pun kamu mengakui aku sebagai isterimu."
Chris mengepalkan kedua lengannya. Berusaha untuk mengendalikan emosinya. Ia harus berfikir jernih ketika menghadapi kemarahan isterinya, karena memang semua kesalahannya.
"Setidaknya kamu bisa memberitahukan kematian ayahmu padaku. Setidaknya aku bisa membantumu mengurus pemakamannya. Aku juga berhak untuk tahu bukan?"
Chris berusaha memberikan pengertian pada isterinya dengan lembut. Ia harus memperbaiki semua yang telah dirusaknya. Satu demi satu.
Mendengar suara suaminya yang lembut, Rina mendongak. Ia melihat Chris memandangnya dengan lembut dan ekspresinya penuh pengertian. Mata Rina berkaca-kaca.
Ia tahu kalau ia salah. Bagaimana pun Chris adalah orang yang telah membiayai pengobatan ayahnya. Ia berhak untuk tahu mengenai kematiannya.
Rina mengerjapkan matanya, berusaha menahan air matanya untuk keluar.
"Maafkan aku. Saat itu, aku tidak bisa berfikir jernih." Ia menunduk.
Chris maju, berdiri di depannya.
"Boleh aku memelukmu?" Tanyanya lembut.
Melihat tubuh suaminya yang terbuka untuknya, Rina pun akhirnya melingkarkan tangan ke sekeliling pinggang Chris.
Chris mengeratkan pelukannya. Ia mencium ubun-ubun isterinya dengan lembut.
"Menangislah."
Wanita pun semakin memeluk suaminya dengan erat, meminta kekuatannya. Pada akhirnya, ia pun dapat menangis dengan leluasa. Ia dapat menangis di pelukan orang lain. Rina pun akhirnya dapat merasakan bahwa ia tidak hidup sendiri di dunia ini.
"Chris..., Chris..."
Pria itu mengusap-usap punggungnya, berusaha menenangkan isterinya yang sesegukan di pelukannya. Tampaknya cukup lama sudah ia berusaha menahan tangisnya selama ini.
"Menangislah Rin. Aku disini."
Chris mencium kening isterinya dan menutup matanya. Ia merasa lega.
Chris merasa lega, ketika akhirnya ada satu permasalahan yang sudah dapat diselesaikannya.
***
"Sudah tenang?"
Chris memberikan air putih pada isterinya.
Rina mengangguk, sambil meminum airnya dengan pelan.
"Terima kasih." Bisiknya.
Ia meletakkan gelasnya di meja dan mengepalkan tangannya. Ia menunduk.
"Maaf Chris. Aku tadi tidak bermaksud-"
Suaminya malah memeluknya kembali.
"Sudahlah. Aku juga salah tadi." Ia memulai dengan pelan.
"Justru aku yang harus meminta maaf padamu. Karena sudah menyakitimu selama ini."
Pria itu membenamkan kepala Rina dalam lengan besarnya. Ia mencium kepala isterinya dengan lembut.
"Maafkan aku Rin. Maafkan aku atas kelakuanku selama ini. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu seperti itu."
Chris menutup erat matanya yang berkaca-kaca. Berusaha untuk tidak menangis.
Rina yang berada dalam pelukannya memejamkan matanya. Hatinya merasa tenang saat ini, ketika mengetahui betapa menyesal suaminya atas perlakuannya selama ini.
Wanita itu mempererat pelukannya. Semakin membenamkan kepalanya di dada suaminya. Ia sama sekali tidak pernah bermimpi kalau Chris akan meminta maaf padanya.
Setelah merasa puas mengeluarkan emosinya, Rina pun perlahan melepaskan pelukannya.
Saat itu, ia baru menyadari bahwa kemeja suaminya sudah basah dengan air mata dan penuh ingusnya.
"Oh!"
"Chris maafkan aku. Kemejamu jadi rusak."
Meski tidak tahu berapa harganya, tapi Rina tahu bahwa kemeja itu tidak murah. Ia berusaha membersihkannya dengan tangannya, dan menemukan bahwa kemeja itu sudah lengket.
"Tidak apa-apa Rin-"
"Lepas sekarang. Biar aku cuci."
Otomatis, ia berusaha melepas paksa kemeja itu dari tubuh suaminya. Jika ada yang melihat pemandangan ini, wanita itu seperti akan memperkosa pria didepannya saja.
"Rin- Rin-"
Tergagap Chris berusaha menahan tangan isterinya yang tengah sibuk membuka kancing kemejanya dan membukanya dengan paksa.
Posisi tangan Chris yang di punggungnya karena tertahan pakaiannya yang dibuka paksa, membuatnya secara otomatis jatuh ke sofa di belakangnya. Menyeret isterinya bersamanya.
Mulut Rina tanpa sengaja mendarat di salah satu ujung dada suaminya. Sedikit malu, ia menjilatinya dan segera bangkit melepaskan kemeja Chris, sebelum pria itu dapat bereaksi.
Setelah sadar dari pengalaman erotis yang sangat singkat itu, Chris bangkit dari posisi tidurnya dan memandang isterinya. Yang saat itu sedang sibuk mengeluarkan pakaian-pakaian yang telah selesai dicuci sebelumnya.
Muka Chris memerah ketika mengingat peristiwa tadi. Ia memegang dadanya yang tadi sempat disentuh isterinya dengan intim. Ya Tuhan. Aku benar-benar lemah padanya.
Pria itu masih duduk di sofa sambil melamun, saat Rina menyodorkan sesuatu untuknya.
"Coba pakai ini. Sepertinya cukup untukmu."
"Apa ini?" Tanya Chris sambil menerimanya.
"Pakaian ayahku. Mungkin muat."
Pemandangan tubuh telanjang Chris berseliweran di rumahnya membuat Rina tidak konsen. Tapi tentu saja, ia tidak akan pernah mengakuinya.
"Dari pada kamu masuk angin nanti. Atau kamu mau sekalian mandi?"
Mendengar tawaran isterinya, pria itu menjadi teringat niatannya tadi sore.
"Mandi? Berarti aku boleh menginap?" Tanyanya penuh harap.
"Hah?"
Rina tidak pernah menduga bahwa Chris akan berniat untuk menginap.
"Siapa yang menyuruhmu menginap?"
"Kamu." Tanpa rasa bersalah pria itu menunjuk isterinya.
"Aku cuma menyuruhmu mandi Chris. Bukan menginap."
"Terus aku harus pakai apa? Bajuku kan sedang kamu cuci."
"Pakai yang ada di tanganmu Chris." Sedikit jengkel, Rina mengingatkan suaminya.
Dengan perlahan, Chris mematut pakaian yang diberikan Rina dan terlihat dengan jelas kalau pakaian itu kekecilan untuknya.
"Maaf Rin, tapi kamu berharap aku akan memakai ini?"
Muka Rina memerah malu, menyadari bahwa baju ayahnya sama sekali tidak berguna untuk suaminya. Ia mengambil kembali baju yang masih ada di tangan Chris.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak punya pakaian dengan ukuranmu."
Pria itu menyeringai dalam hatinya. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
"Aku tidak mungkin pulang tanpa memakai baju Rin."
Pria itu seolah-olah merasa jengkel dengan isterinya yang telah membuat kotor bajunya. Membuat Rina benar-benar merasa tidak enak dengan keadaan ini.
"Aku akan segera mencuci dan mengeringkannya. Seharusnya dengan disetrika bisa langsung kamu pakai nantinya."
"Kamu berharap aku sakit Rin? Baju itu akan tetap lembab."
Rina terdiam. Menyadari kalau yang dikatakan suaminya memang benar.
"Jadi bagaimana?" Ia juga cukup bingung dengan keadaan ini.
"Atau telepon Rich? Untuk membawakan bajumu?"
"Rumah Rich cukup jauh. Aku tidak mungkin merepotkannya datang jauh-jauh hanya untuk membawakan bajuku. Dan ini sudah bukan jam kerjanya."
Ayolah Rin, menyerah saja.
"Tapi-"
Ia melirik jam di dinding, dan menyadari bahwa waktu memang sudah larut. Cukup berisiko juga jika Chris pulang menggunakan taksi dengan kondisi seperti ini. Suaminya cukup terkenal di dunia bisnis. Hal ini dapat menjatuhkan image-nya kalau ada kompetitor yang melihat.
Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Sebentar. Kalau begitu, bagaimana rencanamu pulang tadinya?"
"Tadinya aku tidak berniat lama di rumahmu." Aku memang mau menginap disini.
"Ayolah Rin. Kamarmu kan ada banyak. Apa kamu sepelit itu?" Ia akan menyelinap nanti.
"Bukan begitu. Tapi-"
Dengan ragu, Rina menunjukkan kamar tidur bekas ayahnya. Kamar itu kosong melompong.
"Aku sudah mulai menjual barang-barang bekas ayahku. Tidak ada yang tersisa di sini."
"Kamar atas?"
"Kamar atas aku jadikan gudang. Belum sempat aku bereskan sejak ayahku sakit dan dirawat."
Dewi Fortuna berpihak padanya.
"Kalau begitu, kamarmu?"
Rina memandang suaminya. Dan setelah berfikir akhirnya menyetujuinya.
"Baiklah. Tapi jangan macam-macam nanti."
Chris sebenarnya ingin bersorak, tapi ia tersenyum penuh kontrol sambil mengangkat salah satu tangannya dalam posisi bersumpah.
"Aku janji."
"Kamu mandilah duluan. Aku akan membereskan cucian ini dulu."
Pria itu tersenyum ketika melihat isterinya kembali sibuk dengan cuciannya. Ia berniat tidak akan pernah menyia-nyikan kesempatan emas ini.
Sambil menuju kamar mandi, otaknya mulai dipenuhi akal bulus untuk merayu isterinya nanti.