
Ketika Rich selesai mem-packing pakaian atasannya dan keluar kamar, Rina masuk ke dalam apartemen. Melihat ada seseorang yang keluar dari kamar Chris, Rina merasa lega karena mengira itu suaminya tapi harus kecewa setelah tahu bahwa itu Rich.
Melihat koper pakaian yang dibawa Rich, Rina merasa suaminya akan berpergian cukup lama.
"Perjalanan dinas lagi?"
Sambil menggeret koper atasannya menuju pintu depan, Rich hanya menjawab. "Ya."
"Berapa lama?"
Rich menoleh melihat isteri bosnya. Perempuan ini entah mengapa terlihat lebih bercahaya dan sehat dibanding terakhir kali ia melihatnya. Apakah ada yang salah di matanya?
"Sejujurnya saya juga kurang tahu. Pak Dieter harus mengunjungi salah satu cabangnya di luar kota dan setelah itu, ia juga harus keluar negeri untuk bertemu dengan salah satu investor."
Rina tampak mengangguk-angguk tanda mengerti. Benar seperti perkiraannya, ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Chris kembali.
Setelah itu, Rich berpamitan dan Rina mengantarkannya sampai ke pintu depan. Saat Rich menggeret koper Chris menuju lift, pria itu berhenti ketika mendengar namanya dipanggil.
"Rich!"
Rich menoleh dan melihat isteri bosnya tersenyum sambil berpesan. "Tolong jaga Chris ya."
Kembali ke dalam apartemennya, Rina pun duduk di sofa tengah dan membuka dokumen yang dari tadi digenggamnya. Meski sudah mengetahui isinya, tapi hatinya tetap tergetar ketika membacanya lagi. Setelah menarik nafas panjang, ia pun meletakkannya di meja sambil berfikir. Entah ini anugerah atau justru bencana. Manusia benar-benar hanya bisa berencana, namun hasil akhirnya tetap tergantung dengan yang di atas.
Rina pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ironis. Ini adalah kali keduanya ia merencanakan sesuatu, dan untuk kedua kalinya juga ia gagal. Untuk pengobatan ayahnya, ia rela menukar harga dirinya dengan uang. Ia menerima tawaran ibu Chris untuk menjadi isteri anaknya dengan imbalan sejumlah uang untuk pengobatan ayahnya. Entah apa yang ada di otaknya saat itu, tapi Rina langsung menerimanya tanpa berfikir panjang.
Ia akhirnya membereskan dokumen itu dan masuk ke dalam kamarnya. Ia pun mengeluarkan koper kecil yang dulu dibawanya saat pindah ke rumah Chris, dan mulai memasukkan barang-barang pribadinya. Setelah selesai, ia pun mengeluarkan dokumen-dokumen yang masih tersimpan di meja riasnya. Setelah memisahkan yang diputuskan akan dibawanya, Rina pun duduk di pinggir tempat tidurnya sambil melihat ke sekelilingnya.
Melihat deretan barang yang terpajang di atas meja rias dan lemarinya, mau tidak mau membuat Rina tersenyum sedih. Ia hampir tidak pernah mempergunakan barang-barang itu, bukan karena ia tidak mau tapi karena ia tidak berani. Segala macam benda yang Chris berikan, adalah ia berikan untuk isterinya. Akan tetapi, Rina sendiri ragu dengan statusnya selama ini yang membuatnya mengurungkan niat untuk mempergunakan semua benda pemberian Chris. Ia hanya pernah mempergunakan beberapa gaun dan tas yang dibelikan oleh suaminya, karena Chris pernah komplain mengenai penampilannya di awal pernikahan mereka. Namun selebihnya, ia sama sekali tidak berani menyentuhnya apalagi memakainya.
Memutuskan tidak ada lagi benda yang mau di bawanya, ia pun keluar kamar dengan menyeret kopernya. Setelah meletakkan tas dan kopernya, ia pun membawa beberapa hal dan duduk di meja makan. Sambil meletakkan berbagai benda yang ada di tangannya, Rina memandang kursi di seberang mejanya. Bayangan suaminya tampak menari-nari di matanya ketika ia memandang kursi yang biasa diduduki oleh Chris. Rina membayangkan melihat suaminya yang duduk sambil tersenyum, meski hal itu tidak pernah terjadi. Menarik nafas panjang, Rina pun mulai menuliskan sesuatu pada kertas di depannya. Ketika selesai, ia membacanya kembali dan setelah puas, wanita itu pun melipatnya menjadi 3 bagian.
Pandangannya kemudian beralih pada dokumen yang dibawanya dari kamar. Rina pun membaca dokumen itu dengan hati-hati. Beberapa kali, alisnya tampak berkerut dan kemudian ia terlihat melakukan beberapa coretan di dalamnya. Setelah itu, ia meletakkan penanya kembali di meja makan. Pandangannya terlihat nanar menatap berkas di mejanya dan ia pun menutup kedua matanya. Menguatkan hatinya, akhirnya ia membubuhkan tanda tangan di kolom yang telah disediakan dan langsung menutup berkas tersebut.
Rina menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya dan bertumpu di meja makan. Bahunya tampak bergetar. Saat ini, Rina benar-benar merasa kalah dan harus keluar sebagai pecundang. Ia telah gagal menyelamatkan ayahnya dan juga rumah tangganya. Mengusapkan kedua tangannya di rambut, mukanya tampak memerah dan matanya basah. Setelah merasa lebih tenang, ia pun akhirnya melepaskan kedua cincin yang dipakainya dan mengeluarkan kartu-kartu yang ada dalam dompetnya. Kesemua barang itu ia masukkan dalam sebuah amplop coklat yang sudah dipersiapkannya.
Dengan perlahan, Rina melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya. Ketika membuka kamar tersebut, ia mencium aroma suaminya yang khas. Melihat ke sekelilingnya, pandangannya terpatri pada tempat tidur besar di depannya. Menutup matanya, Rina mencoba mengusir bayang-bayang mengerikan malam itu. Bagaimana pun Chris adalah suaminya, dan kejadian itu telah terjadi. Ia akan mencoba untuk melupakannya, dan sepertinya ia tidak akan pernah bisa untuk melakukannya dengan orang lain. Ia kemudian membuka laci meja di samping tempat tidur dan sedikit tidak menutupnya, agar suaminya segera sadar dengan keberadaan dokumen yang di simpannya di sana, sekaligus mencoba mencegah orang yang tidak berkepentingan untuk membacanya.
Rina kemudian mempergunakan waktunya untuk melihat-lihat kamar itu, kamar yang pertama kali dimasukinya. Semua barang Chris tampak tertata rapih dan semua kemeja serta jasnya, diatur sesuai dengan gradasi warnanya. Ia juga masuk ke kamar mandi suaminya dan memperhatikan bahwa bentuknya sama dengan kamar mandi miliknya. Ketika berbalik dan akan keluar, Rina melihat ada sebuah kaos tidur yang masih tergantung di balik pintu. Meraihnya, Rina dapat mencium bau tubuh suaminya. Sepertinya tadi pagi, ibu Megan lupa membawa pakaian kotor dari kamar mandi suaminya.
Puas dengan yang sudah dikerjakannya, Rina pun kembali ke ruang depan dan tampak menyelipkan baju bekas pakai Chris ke dalam kopernya. Ia berfikir, suaminya tidak akan pernah merasa kehilangan 1 baju kotor yang diam-diam telah diambilnya. Memastikan bahwa semua telah pada tempatnya, Rina akhirnya membuka pintu apartemen dan mulai melangkahkan kakinya keluar. Dengan kedua kakinya yang sudah berada di luar, ia menyempatkan melihat pemandangan di dalam apartemennya selama beberapa saat, baru kemudian berbisik pelan sebelum akhirnya menutup pintunya.
"I love you Christoph Dieter."
Setelah itu, Rina pun melangkahkan kakinya menuju lift tanpa pernah menoleh lagi.
Ia mungkin pecundang, tapi setidaknya ialah yang pergi meninggalkan suaminya lebih dulu.