
Besoknya, Rina kembali mencoba menghubungi Chris beberapa kali dan belum berhasil juga. Ia mulai khawatir dengan suaminya, apalagi mengingat ia pergi dalam kondisi marah.
Ia baru berniat akan datang berkunjung ke apartemen, ketika ponselnya berbunyi.
"Halo mah."
"Hai Rin. Gimana hari sabtu kalian?" Sapa mertuanya ceria.
Mendengar pertanyaan mertuanya, wajah Rina menjadi hangat. Ia mengingat kegiatan panas yang dilalui bersama Chris di kamarnya.
"Baik mah." Rina menjawab malu-malu.
"Baik bagaimana? Kalian membuat cucu buat mamah kan?"
"Cucu?"
"Iya. Mamah menitip pada Chris agar kalian segera memberikan cucu untuk mamah. Jadi gimana? Lancar kan?"
Sang ibu terdengar terkekeh di seberang telepon.
Muka sang menantu semakin memanas. Jadi maksudnya kemarin bukan cumi, tapi cucu?
Sadar menantunya diam aja, sang ibu semakin tertawa keras.
"Sepertinya semua lancar-lancar saja disana."
Rina merasa mukanya semakin terbakar. Mertuanya ini memang agak...
"Sayang sekali Chris harus pergi. Padahal kalian sedang hot-hotnya."
Alis Rina berkerut. Ia baru mendengar informasi ini.
"Chris pergi?"
Mertuanya sedikit kaget, Rina ternyata tidak tahu mengenai kepergian suaminya.
"Dia tidak mengatakan kalau dia harus keluar negeri tadi malam?"
"Tidak."
Insting si ibu yang cukup tajam, mengatakan mereka ada masalah lagi. Namun, ia tidak mau memperpanjangnya.
"Ada salah satu investor yang mendadak ingin bertemu dengannya. Mungkin dia lupa memberitahumu."
Ia berusaha menenangkan menantunya. Ia akan memarahi anaknya nanti.
"Oh, begitu."
Rina kemudian terdiam sebentar.
"Kapan dia pulang mah?"
"Entahlah. Kalau dia langsung pulang setelah pertemuan, mungkin senin malam baru akan tiba. Kasihan sekali anak itu, pasti dia kecapean bolak-balik seperti itu."
Ibu mertuanya mengeluh. Ia mengkhawatirkan kesehatan anaknya, terutama karena sekarang anaknya masih dalam kondisi penyembuhan.
"Mamah titip dia ya Rin."
Mata Rina tiba-tiba berkaca-kaca. Entah kenapa, hatinya merasa tercubit.
"Anak itu susah untuk terbuka pada orang lain. Dia tidak pernah mengatakan kalau dia sakit atau kesulitan. Banyak yang baru menyadari kalau dia ada masalah, setelah anak itu ambruk."
"Kamu tahu Rin? Anak itu bahkan tidak pernah mengatakan kalau dia sayang ibunya. Dia hanya menunjukkan melalui perbuatannya."
Kata-kata mertuanya seperti menyadarkan Rina.
"Sepertinya kalau mamah lihat, dia sudah mau mulai terbuka padamu."
"Kenapa mamah fikir begitu?"
"Kamu ingat waktu kita di ruang makan bersama dr. Herman? Anak itu tidak pernah seagresif itu sebelumnya dengan orang lain, apalagi lawan jenisnya."
Rina teringat kejadian Chris yang memangku dirinya tanpa ragu-ragu, padahal di situ ada dr. Herman dan ibunya.
"Sepertinya anak itu memang sayang sekali padamu." Ibu Chris tersenyum saat mengucapkannya.
"Chris sayang padaku?" Suara Rina tercekat.
"Rin, suamimu itu sangat sayang padamu. Kalau tidak kenapa dia bisa jatuh sakit begitu kamu tinggalkan? Untuk apa pula dia sengaja datang ke rumahmu?"
Menutup matanya, Rina mencoba mencerna kata-kata ibu mertuanya.
"Dan yang paling penting, untuk apa dia mencoba membatalkan perceraian kalian, kalau memang dia tidak sayang padamu?"
Penjelasan mertuanya semakin membuka mata Rina.
"Terima kasih mah."
"Untuk apa?"
"Karena sudah mengatakan ini. Rina sangat sayang mamah."
Ibu Chris terkekeh di seberang telepon.
"Sama-sama Rin. Ingat, kamu itu putriku juga."
Setelah itu, mereka melanjutkan mengobrol beberapa menit sebelum akhirnya sang mertua harus memutuskan pembicaraan mereka.
Terduduk di sofa, Rina mencoba memutar kembali ingatannya bersama suaminya. Ketika suaminya tidak ragu memangku dirinya di hadapan orang lain. Ketika suaminya meng-claim dirinya di hadapan Thomas, dan menciumnya secara agresif di muka umum.
Wanita itu juga masih mengingat perlakuan-perlakuan lembutnya selama mereka bersama. Tidak pernah sekali pun Chris bersikap kasar padanya. Dan yang terpenting, pria itu bahkan berani untuk meminta maaf secara tulus padanya.
Air mata terlihat mengalir di pipi wanita itu. Ia mencoba untuk menekan perasaannya, tapi ia tidak bisa mengingkari hal yang tadi dikatakan oleh mertuanya.
Ia memeluk dirinya dengan erat. Bolehkah ia berharap? Beranikah ia kembali berharap?
***
Esoknya jam 22.00, tiba-tiba bel pintu di rumah Rina berbunyi. Saat itu, ia baru akan bersiap untuk tidur dan segera ke ruang depan untuk melihat siapa tamu yang datang malam-malam begini.
"Chris!"
Rina melihat suaminya berdiri di teras dengan koper di sebelahnya. Rich ternyata berdiri di belakang suaminya.
"Malam Ibu Rina." Sapa Rich sopan.
Pria itu menoleh ke bosnya yang saat itu sedang mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Saya tinggal bos?"
Suara Chris terdengar sedikit serak. Rambutnya agak berantakan dan kantong matanya terlihat jelas. Menandakan kalau ia belum beristirahat dengan baik.
Setelah Rich pergi, Chris langsung masuk menyeret kopernya ke dalam rumah.
Tanpa menoleh pada isterinya, pria itu bertanya, "Apakah aku masih boleh menginap?"
Rina merasa iba dengan keadaan suaminya.
"Kamu mandilah Chris, biar aku yang membereskan baju kotormu. Boleh kan?"
Mengangguk pelan, Chris pun masuk ke kamar, meninggalkan Rina bersama kopernya.
Membuka koper milik suaminya, Rina pun dengan gesit memilih baju kotor dan bersih milik Chris. Ia juga mengambil pakaian tidur yang masih bersih untuk suaminya.
Memastikan bahwa semua pakaian kotor sudah masuk ke dalam mesin cuci, ia pun masuk ke dalam kamar tidur.
Ia mengetuk pintu kamar mandi pelan. "Chris?"
Tidak lama suaminya membuka pintu, dan terlihat masih ada sabun di rambut dan tubuhnya.
"Pakaian kotormu?"
Chris menyerahkan beberapa potong pakaian yang telah dipakainya tadi. Dan sebaliknya, Rina pun memberikan suaminya pakaian bersih untuk dipakainya nanti.
Rina kemudian kembali ke ruang cuci untuk memasukkan potongan itu bersama dengan yang lain. Sebelumnya, ia memeriksa kantong-kantong celana dan jas suaminya.
Ia menemukan kotak kartu nama, ponsel, dompet dan sebuah kotak hitam kecil.
Ia pun memisahkan beberapa pasang jas suaminya, untuk ia bawa ke laundry besok. Ia tidak mau sampai merusak pakaian kerja suaminya.
Memastikan bahwa semua pakaian kotor sudah dipisahkan dan sedang tercuci bersih, dengan penasaran Rina pun membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan. Bentuknya sederhana tapi terlihat mahal.
Cincin si wanita memiliki ukiran yang cukup rumit di salah satu sisinya, dan dihiasi oleh satu berlian bersinar terang yang tertanam kencang. Terdapat grafir di bagian dalamnya yang bertuliskan Christoph Dieter.
Jantung Rina berdegup kencang. Ia beralih meneliti cincin sang pria, yang tampak lebih sederhana tapi memiliki ukiran yang sama. Di bagian dalamnya pun terdapat grafir dengan nama Lerina.
Rina memandang pintu kamar yang masih tertutup. Kapan Chris menyiapkan cincin ini?
Ketika memasuki kamarnya, ia melihat kalau suaminya sudah tidur membelakangi dirinya.
Dengan pelan, Rina menyusul suaminya dan mengusap punggungnya perlahan.
"Chris?"
Tidak mendapatkan respon apapun, wanita itu melingkarkan tangannya di sekitar dada suaminya. Memeluknya erat.
"Chris... Maafkan aku."
Tahu suaminya sensitif di area itu, ia pun sengaja meremasnya untuk memancing reaksinya.
"Hmmmh..."
Suaminya memegang pergelangan tangan isterinya yang sedang nakal mengusap-usap area dadanya. Berhasil.
Dengan berani, wanita itu pun menyelipkan salah satu tangannya ke dalam baju Chris dan menangkup dada pria itu, persis seperti yang dilakukan suaminya saat itu.
Wanita itu mencoba meniru yang dilakukan oleh suaminya dan ternyata hasilnya mengejutkan.
Ia mendengar nafas Chris mulai berat dan terengah. Tubuh suaminya terasa bergetar dalam pelukannya.
Namun sebelum semuanya lebih jauh, Chris pun membalikkan badannya menghadap isterinya.
Mereka saling berhadapan dan menatap. Chris memegang tangan isterinya di antara mereka, mencegahnya untuk berbuat nakal lagi.
"Kamu rindu padaku?"
Chris tiba-tiba bertanya pada isterinya.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu rindu padaku?"
Isterinya malah balik bertanya.
Setelah terdiam sebentar, pria itu pun menjawab perlahan. "Aku rindu padamu. Sangat."
"Kalau begitu, aku pun sangat merindukanmu."
Rina mengusap pipi suaminya dengan penuh sayang.
"Aku tidak mau kehilanganmu Chris. Jangan tinggalkan aku lagi."
Chris menatap isterinya dalam. Ia menggenggam erat tangan yang ada di pipinya.
"Justru akulah yang seharusnya mengatakan itu Rin."
Pria itu menutup matanya erat. "Tolong jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon padamu."
Wanita itu mencium hidung suaminya dan kedua matanya. "Aku berjanji."
Ia memandang suaminya. "Selama kamu pun berjanji untuk melakukannya."
Pria itu pun mencium isterinya dengan putus asa. Akhirnya tanpa bisa ditahannya, setetes air matanya pun mengalir di pipinya.
"Apalagi yang harus kulakukan Rin? Agar kamu percaya padaku?"
Rina tersenyum di bibir suaminya.
"Kamu sudah melakukan semuanya."
Ia pun segera menarik lepas kaos suaminya dan balas menciuminya dengan agresif, membuat Chris terkejut. Isterinya belum pernah seperti ini sebelumnya.
Dengan sedikit kasar, ia mendorong sampai suaminya terlentang di tempat tidur.
Suaminya hanya bisa membelalakan mata dengan kelakuan isterinya.
"Ri-Rin?" Tanyanya sedikit gugup.
Wanita itu kemudian menduduki perut suaminya dan memegang kedua pergelangan pria itu, menahannya untuk bergerak bebas.
"Sekarang gantian aku yang akan melakukannya."
Dengan perlahan, Rina mulai menggigiti telinga Chris membuat pria itu menggeram pelan dan ingin menggerakkan tangannya. Tapi isterinya tidak membiarkannya.
Tangan wanita itu pun bergerak, mengelus dan meremas kedua lengan Chris yang berotot sambil tetap menciumi leher pria itu. Semakin lama ciumannya semakin ke bawah dan...
Dan apa yang dilakukan oleh isterinya malam itu, membuat Chris benar-benar bertekuk lutut pada isterinya. Ia bahkan bersedia melakukan apapun yang diminta oleh isterinya saat itu.