
Keesokan harinya, Chris memaksakan dirinya untuk masuk ke kantor. Tanggungjawabnya terhadap pekerjaan tampak membuatnya harus menyisihkan permasalahan pribadinya. Setidaknya, ia butuh pengalihan dari pikiran-pikirannya yang kusut tentang rumah tangganya.
Penampilan Chris yang sedikit acak-acakan, entah mengapa membuat auranya semakin menguat. Para karyawan wanita justru semakin mengagumi dirinya tanpa ia sadari.
Salah satu dari mereka bahkan dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke pelukan Chris, dengan seolah-olah tersandung oleh kakinya sendiri.
Tapi Chris dengan sigap berkelit yang menyebabkan karyawan tersebut justru jatuh tersungkur di sampingnya. "Aduh!"
Chris hanya memandang karyawan yang kesakitan memegang hidungnya yang terantuk lantai dan dengan santai menutup pintu lift. Tidak sedikit pun ia merasa kasihan pada wanita itu. Semua wanita sama saja!
Rich yang tertinggal di belakang hanya berdiri diam memandang karyawan wanita yang dengan perlahan bangkit dari jatuhnya. Dengan pelan tapi tajam, pria itu berbisik, "Jangan pernah melakukannya lagi, kalau tidak mau dipecat."
Setelah itu, ia pun menyusul atasannya masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Chris memandang bayangan di pintu yang menampilkan dirinya. Rambutnya terlihat acak-acakan, bawah matanya masih terlihat menghitam meski ia sudah tidak terlalu pucat lagi, dan dagunya sedikit gelap karena ia terlalu malas untuk mencukurnya pagi ini. Satu-satunya yang terlihat rapih hanya jas dan dasinya.
Menyenderkan kepalanya ke dinding lift, Chris menghela nafasnya pelan. Entah berapa lama ia bisa berpura-pura baik seperti ini, pikirnya sambil mengurut alisnya dengan kuat.
Keluar dari lift dan memasuki pintu kantornya, Chris sudah bisa memusatkan konsentrasinya kembali dan bersiap menghadapi permasalahan di hari itu.
Sepanjang hari itu, Chris menjalani beberapa meeting baik secara online dan offline. Setumpuk dokumen pun tampak tersusun di meja kerjanya, menunggu untuk di review dan mendapatkan approval dari dirinya. Menghela nafas, Chris sama sekali tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang lain kecuali untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 ketika Rich masuk ke ruangannya.
"Bos, makan siang sekarang?"
Menyadari perutnya yang mulai keroncongan. Chris melihat jam di tangannya. Ia pun mengingat nasihat dr. Herman kemarin untuk menjaga pola makannya.
"Mau makan dimana?" Tanyanya malas pada asistennya.
"Saya sudah booking tempat di salah satu restoran di sekitar sini, karena Anda nanti punya jadwal meeting di jam 15.00 dan 17.00. Kemudian, Pak Sutoyo kemarin menelepon, meminta waktu Anda sekitar 30 menit untuk bertemu di jam 18.30, tapi saya belum memberikan jawaban."
Rich melihat-lihat tab di tangannya, memeriksa jadwal atasannya hari itu.
Kepala Chris mulai terasa berat mendengar jadwalnya yang padat itu. Kemungkinan ia harus lembur hari ini. Ketika ia bangkit dari duduknya, tubuhnya sedikit sempoyongan.
"Bos!"
Rich yang khawatir segera menghampiri Chris untuk menopang tubuhnya.
Setelah memastikan atasannya dapat berdiri mantap, Rich pun melepaskan pegangannya.
"Baik-baik saja, bos?"
Chris sedikit merasa malu karena memperlihatkan kelemahannya pada asistennya. Ia tidak pernah terlihat sakit di hadapan orang lain, seberapa sakit pun dirinya.
"Ya, saya baik-baik saja. Ayo, kita segera pergi."
Tanpa banyak bicara, kedua pria tersebut segera keluar dari kantor dan menuju restoran yang disebutkan oleh Rich tadi.
Memasuki restoran yang dituju 15 menit kemudian, Chris menyadari bahwa ini adalah kali pertamanya ia menginjakkan kaki di sana.
Sambil memandang sekelilingnya, entah mengapa badannya terasa rileks. Ia cukup menyukai suasana yang nyaman dan tenang di dalam restoran ini. Jam makan siang yang hampir lewat pun, menyebabkan pengunjung restoran tidak terlalu banyak.
"Kenapa kita tidak pernah makan disini, Rich?" Tanya Chris asal.
"Maaf bos, saya juga baru sadar ternyata ada restoran baru di dekat sini yang baru buka. Sepertinya baru sekitar 1 tahun yang lalu."
Sambil tersenyum pun ia meneruskan, "Suasananya menyenangkan ya, bos?"
Chris hanya menganggukkan kepalanya sekali, "Hemm."
Setelah itu, mereka pun memesan makanan pembuka dan utama. Dalam diam, kedua pria tersebut menghabiskan makan siang mereka dengan khidmat.
Entah mengapa, rasa masakan di restoran tersebut membuat Chris tiba-tiba merasa rindu dengan isterinya. Ia mambayangkan Rina-lah yang memasak makanan itu untuk dirinya.
Aku sudah gila, pikir Chris geram.
Secepat mungkin, ia pun menyelesaikan makannya. Sambil mengelap mulutnya, ia pun mengalihkan pandangannya ke sekeliling restoran yang mulai sepi.
Pandangannya berhenti pada punggung seorang wanita yang terlihat membelakanginya. Wanita tersebut sedang berbicara dengan seorang tamu pria yang beberapa meja berada di seberangnya.
Kening Chris berkerut. Ia mengenali wanita itu. Ia menajamkan pendengarannya, berusaha untuk menangkap sayup-sayup pembicaraan kedua orang tersebut.
Tampaknya tamu pria tersebut merasa puas dengan makanan yang disajikan, dan ingin berterima kasih pada Chef yang membuat masakannya. Tapi sayangnya, sang Chef sedang ada kesibukan lain yang pada akhirnya membuat wanita tersebut yang menemuinya.
Ketika akhirnya pembicaraan mereka selesai, wanita itu pun membalikkan tubuhnya dan bersiap kembali ke dapur. Saat itulah Chris terkejut dengan pandangannya.
"Rin- Rina... " Bisiknya.
Melihat atasannya menjatuhkan lapnya di meja dan tampak tertegun, Rich pun membalikkan badannya dan melihat isteri bosnya tampak melangkah ke arah dapur tanpa menyadari kehadiran mereka berdua.
Tergesa, Chris segera berdiri untuk mengejar isterinya. Ia pun segera meraih lengan isterinya dan membalikkan tubuh wanita itu.
Kaget, Rina berbalik dan bersitatap dengan mantan suaminya.
"Chris!" Pekiknya pelan. Ia benar-benar terkejut dengan pertemuan ini.
Meneliti wajah isterinya, Chris terlihat masih tertegun dan belum mengucapkan apapun. Emosi tampak berseliweran di wajahnya. Ia benar-benar bingung harus mengatakan apa, yang jelas, ia tidak mau melepaskan isterinya.
"Rina."
"Chris."
"Rina..."
Setelah itu, tubuh Chris pun ambruk di pelukan isterinya. Ia pingsan.
***
"Apa yang terjadi Rich?"
Saat itu, mereka bertiga sedang berada dalam salah satu kamar istirahat karyawan yang ada dalam restoran. Untungnya, kejadian Chris pingsan tidak terlalu menghebohkan mengingat pengunjung yang sudah minim sehingga mereka dapat segera membopongnya menuju ke salah satu kamar di sana.
Mendengar pertanyaan isteri bosnya, Rich hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu. Semenjak pulang dari perjalanan dinas, bos sudah terlihat tidak sehat."
Ia kemudian baru mengingat bahwa atasannya sempat menelepon isterinya di pesawat namun tidak mendapatkan respon.
"Anda sebenarnya pergi kemana?" Tanyanya polos.
Ketika itulah Rina menyadari, bahwa Chris sama sekali tidak menceritakan apapun pada asistennya. Hal ini membuat Rina berfikir ekstra hati-hati, ia tidak mau salah satu perkataannya sampai menimbulkan image buruk tentang mantan suaminya.
"Tidak kemana-mana." Jawabnya singkat.
Rina pun segera mengalihkan pandangannya pada Chris yang sedang berada di pangkuannya.
Ia sebenarnya ingin meletakkan kepala Chris di bantal, tapi entah mengapa tangan mantan suaminya justru mencengkram erat bajunya dan sulit untuk dilepaskan. Hal ini membuat Rina harus merelakan pahanya sebagai bantal untuk kepala Chris.
Tidak lama, salah satu pelayan restoran datang membawakan minyak kayu putih yang dimintanya.
Setelah berterima kasih, ia pun dengan lembut menggosokkannya di sekitar hidung Chris.
Memperhatikan bosnya yang dengan lembut memperlakukan pria ganteng di depannya, membuat pelayan yang masih muda itu menjadi kepo.
"Siapa sih, bu? Ganteng banget!" Bisiknya ceria.
Tidak mau menimbulkan kehebohan apapun yang tidak perlu, Rina hanya menjawab santai. "Tamu."
Jawaban Rina menimbulkan kerutan di dahi Rich, tapi pria itu tidak mengatakan apapun.
Bau minyak kayu putih yang cukup menyengat, membuat Chris akhirnya mulai tersadar dari pingsannya. "Hmmm..."
"Tolong ambilkan air putih hangat Cin."
Pelayan itu pun segera keluar mengambilkan permintaan atasannya.
Chris mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha untuk menyesuaikan pandangannya dengan situasi di sekitarnya. Melihat wajah isterinya di atasnya, membuat Chris sadar posisinya saat ini. Ia pun berusaha segera bangun, tapi harus berbaring kembali ketika kepalanya malah berdenyut sakit.
"Pelan-pelan bangunnya."
Dengan lembut, Rina memijat kepala Chris. Perlakukan isterinya yang baru pertama kali ini mengusap kepalanya, membuat Chris memejamkan matanya. Ia menyukainya.
Pelayan yang bernama Cindy pun kembali lagi ke kamar, membawa segelas air putih hangat.
Dengan perlahan, Rina mengatur kepala Chris sehingga pria itu dapat meminum airnya tanpa harus tersedak.
Entah mengapa, Chris menurut pada isterinya. Ia bahkan menghabiskan segelas air putih itu tanpa banyak protes.
Berbaring kembali pada paha isterinya, Chris sengaja menutup matanya. Ia masih belum mau beranjak dari posisinya saat ini. Ia malah mengalihkan kepalanya menghadap perut isterinya dan membenamkan kepalanya di sana.
"Masih pusing Chris?"
Pria itu menganggukkan kepalanya sedikit tanpa berbicara.
Rich tiba-tiba melihat jam tangannya dan sedikit berseru, "Oh!"
Dengan tidak enak, ia mengalihkan pandangannya pada bosnya yang terlihat masih sakit itu.
"Bos, meeting jam 15.00. Apakah perlu saya re-schedule?"
Chris menutup sedikit wajahnya. Pipinya sedang merona merah saat ini, dan ia berusaha untuk menutupinya.
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya agak serak.
"Jam 14.30."
Berfikir sejenak, ia akhirnya memutuskan.
"Kamu saja yang mewakili saya. Rekam semuanya. Saya akan pulang ke rumah."
Rich mengkonfirmasi ulang. "Berarti Anda tidak akan kembali ke kantor hari ini?"
"Tidak. Re-schedule untuk yang jam 17.00. Untuk pak Sutoyo, pastikan apa maunya dulu. Saya tidak mau bertemu dengannya sebelum ada kejelasan."
"Baik bos."
Rich pun bangkit berdiri dan sedang bersiap untuk keluar kamar ketika ia teringat sesuatu.
"Bos..."
Sedikit kesal, Chris menjawab, "Apalagi Rich?"
"Bagaimana bos pulang? Sedangkan saya harus ke kantor saat ini."
"Rich!"
Chris sedikit membentak asistennya. Ia tidak mau modusnya ketahuan.
"Balik ke kantor. Sekarang!"
Tidak mau sang bos mengeluarkan taringnya semakin panjang, Rich pun segera pamit pergi.
Cindy sang pelayan pun akhirnya pamit keluar, karena ia harus mempersiapkan untuk shift berikutnya. Sebelumnya, Rina juga berterima kasih pada anak yang ceria itu.
Dalam kamar yang cukup sempit itu, hanya tinggal mereka berdua. Sambil melamun, Rina mengusap-usap kepala mantan suaminya. Baru kali ini ia dapat merasakan betapa tebal dan lembutnya rambut Chris. Tanpa sadar, ia pun memainkannya di jari-jemarinya.
Tiba-tiba Rina tersadar dari aktivitasnya. Ia pun segera bersiap untuk bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?"
Cengkraman tangan Chris pada pinggangnya, membuat Rina akhirnya terduduk kembali.
"Chris, kamu harus segera pergi."
Pria itu mendongakkan kepala menghadap isterinya. "Kenapa?"
Raut muka Chris yang seperti anak kecil hampir membuat Rina goyah.
"Bukannya kamu mau pulang, Chris?"
Teringat mengenai hal itu, dengan perlahan pun Chris mulai bangkit dari posisi yang disukainya. Otaknya mulai berfikir dengan cepat. Ia harus melakukan sesuatu.
Setelah mantan suaminya duduk dengan sempurna, Rina kembali bertanya, "Mau aku pesankan taksi?"
Chris memandang isterinya dan membeo, "Taksi?"
"Iya, taksi. Untuk mengantarmu pulang?"
Baru kali ini Rina melihat mantan suaminya terlihat kurang fokus dan tidak sehat. Sejujurnya ia mulai merasa khawatir.
Pria itu berfikir beberapa saat. "Bisakah kamu yang mengantarku saja?"
Pertanyaan Chris sama sekali tidak diduganya dan ia terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat kesempatan itu, Chris langsung menyambar kembali sebelum terlambat.
"Aku masih pusing. Takut pingsan lagi nanti." Alasan yang cukup masuk akal.
Setelah menimbang-nimbang, Rina pun akhirnya menyetujuinya.
"Baiklah, tapi aku harus meminta izin atasanku dulu. Kamu bisa berdiri?"
Hati Chris bersorak, dan ia pun dengan sengaja meletakkan tangannya di pundak isterinya, seolah-olah membutuhkan topangan.
Dengan perlahan mereka keluar kamar menuju ruang makan. Setelah mendudukkan Chris pada salah satu kursi, Rina pun segera menuju ke salah satu ruangan kantor di sana.
Para pelayan dan pegawai untuk shift selanjutnya tampak mulai berdatangan, dan secara sembunyi-sembunyi memperhatikan tamu yang tidak diundang tersebut.
Mereka sudah terbiasa dengan tamu restoran yang berasal dari berbagai kalangan, terutama kalangan berduit. Namun, baru kali ini mereka melihat seorang tamu yang datang ke restoran bukan untuk makan dan hanya duduk saja.
Pakaian tamu itu terihat berkelas dan mahal. Salah satu pelayan bahkan berani bertaruh bahwa harga dasinya saja mungkin mencapai gaji sebulannya di restoran itu.
Wajahnya, meski tampak kurang sehat tapi menunjukkan aura wibawa yang kuat. Pria itu juga memiliki struktur wajah yang kuat dan dapat dikatakan tampan. Siapa dia?
Salah satu pelayan wanita tampak penasaran dan memberanikan diri menghampiri Chris untuk bertanya.
"Hmmm... Selamat sore Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Pandangan Chris beralih ke pelayan tersebut. "Tidak. Saya sedang menunggu seseorang."
Tatapan Chris yang tajam dan menusuk, tampak membuat pelayan wanita tersebut cukup malu. Ia pun akhirnya mengundurkan diri dan kembali ke pekerjaannya.
Tidak berapa lama kemudian, Rina pun keluar dari ruangan dan ditemani oleh seorang pria.
Dahi Chris berkerut. Ia merasa tidak suka. Siapa pria itu?
"Selamat siang." Pria tersebut menyapa dengan ramah.
Tanpa bangun dari duduknya, Chris menyambut uluran tangan pria tersebut, berbasa basi.
"Selamat siang."
"Kata Ibu Lerina, Anda sedang sakit dan memerlukan bantuannya?"
Lerina. Chris tidak suka pria itu menyebut nama lengkap isterinya.
"Betul. Saya memintanya untuk mengantar saya pulang."
"Apakah perlu saya ikut? Saya pasti bisa membantu Anda nanti kalau terjadi apa-"
Sebelum pria tersebut menyelesaikan perkataannya, Chris langsung memotong.
"Tidak perlu. Saya hanya perlu isteri-"
"Chris!"
Rina memekik dan tanpa sadar membekap mulut mantan suaminya, sampai kepala Chris sedikit mendongak. Entah mengapa, hati Chris merasa gembira dengan keadaan ini.
"Istirahat! Maksudnya, dia hanya perlu istirahat."
Sebelum Chris mulai mengucapkan macam-macam, Rina pun langsung menyeretnya keluar dari restoran.
"Maaf Thomas. Saya izin setengah hari, hari ini. Besok saya akan menggantinya."
Pria yang bernama Thomas pun hanya bisa menatap kepergian mereka. Ia ditemani dengan sejumlah pelayan dan pegawai restoran yang juga beramai-ramai menatap kepergian kedua orang tersebut sambil bertanya-tanya. Siapa pria itu?