Unsaying Words

Unsaying Words
BAB IX - Keputusan Rina (3)



Pulang dari rumah mertuanya, Rina tidak langsung menuju ke rumah. Ia malah memilih untuk berhenti di taman kota dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sana. Ia memilih tempat duduk yang mengarah pada taman permainan, yang saat itu ternyata cukup banyak ibu-ibu muda yang mengantar anak-anaknya untuk bermain.


Pengalaman yang tadi diceritakan oleh ibu mertuanya sedikit membuat Rina kaget. Ia tidak menyangka bahwa wanita tua yang selalu tampak tersenyum dan gembira itu, ternyata pernah mendapatkan luka yang dalam. Rasa penyesalan pun tampaknya akan selalu menjadi bagian dari hidupnya sampai ia meninggalkan dunia, karena apa yang telah rusak ternyata tidak dapat kembali utuh seperti semula.


Rina memandang jari manisnya yang dilingkari oleh kedua cincin dari suaminya. Ia mengusap kedua cincin itu dengan rasa sayang. Hampir tidak pernah ia melepaskannya, kecuali memang terpaksa atau ketika dibersihkan. Meski bentuknya sederhana dan tidak istimewa, tapi 2 benda itu adalah tanda bahwa ia telah terikat dengan suaminya. Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi kedua cincinnya yang tampak berkilat diterpa cahaya matahari.


Menutup matanya, Rina akhirnya menyadari bahwa memang benar selama ini hanya dirinya-lah yang merasa terikat pada suaminya. Chris dari awal tidak pernah menganggapnya sebagai pasangan hidupnya. Sejak awal, suaminya tidak pernah mempergunakan cincin yang sama seperti Rina. Bahkan sebelum menikah pun, Chris tidak pernah berniat membeli cincin untuk dirinya sendiri sebagai tanda pengikatnya dengan Rina.


Mencoba tegar, Rina mengusap kedua pipinya yang basah dan tersenyum kecil. Memang benar kata mertuanya, luka yang dibuat oleh Chris sebenarnya masih bisa disembuhkan dan akan menghilang seiring waktu. Tapi masalahnya, saat ini yang berjuang sendirian dalam kapal yang terombang-ambing hanya 1 orang. Bila yang lainnya memutuskan menerjunkan diri ke laut dan meninggalkan kapal, pada akhirnya kapal itu akan karam juga bahkan tenggelam dan membawa kehancuran bagi orang yang ada di atasnya.


Saat ini, Rina sudah memutuskan. Ia rasa perjuangannya selama ini sudah cukup, dan ia tidak mau lagi menghabiskan waktunya untuk melakukan hal yang selamanya akan sia-sia belaka. Ia masih hidup, dan ternyata masih tetap dapat bertahan hidup meski telah ditinggalkan oleh orang-orang terkasihnya. Sekarang keputusan ada di tangan suaminya, apakah ia mau mencoba memperjuangkan hubungannya dengan isterinya atau justru melepaskannya. Tapi Rina sudah tidak mau menunggu, ia tidak mau terbelenggu dengan masa lalu dan menyakiti dirinya sendiri. Ia akan mencoba melangkah ke depan dan melupakan masa lalunya.


Ketika ia bangun dari duduknya, tiba-tiba terlihat bola menggelinding menyentuh sepatu kets-nya. Meraih bola tersebut, Rina berhadap-hadapan dengan seorang lelaki kecil bermata bulat. Anak itu menatap takut-takut padanya, dan secara bergantian menatap ke arah Rina dan ke bolanya. Kaki-kaki kecilnya terlihat maju mundur, ragu-ragu apakah ia akan kembali ke taman dengan tangan kosong atau tetap mencoba mengambil bolanya dari si orang asing.


Sambil tertawa kecil, Rina pun mengulurkan bolanya pada anak itu. "Halo."


"Andri!"


Tiba-tiba terlihat seorang wanita muda tergopoh-gopoh mendekati mereka dan langsung meraih anak itu untuk mendekat padanya. Tampak di salah satu tangannya kotak bekal yang mungkin tertinggal, dan baru ia ambil dari mobilnya. Raut mukanya terlihat khawatir.


Dengan ramah, Rina menerangkan. "Halo, sepertinya ini bolanya. Tadi jatuh dekat kaki saya."


Mendengar penjelasan yang melegakan tersebut, si ibu pun akhirnya tersenyum ramah dan langsung menegur anaknya.


"An, kan mamah sudah bilang. Tunggu di dekat ayunan, kenapa kamu keluyuran?"


Si anak yang memang sepertinya sedikit bandel, mencebikkan bibirnya bawahnya dan menjawab. "Soalnya mamah lama. Andri kan mau main sama temen."


Rina yang terkekeh membuat si ibu muda pun akhirnya tidak jadi marah. Ia pun hanya mengusap kepala anaknya dengan sayang.


"Ya sudah, sana ucapkan terima kasih pada tante."


Memperlihatkan gigi bungsunya yang tanggal, si anak tersenyum lebar sambil mengambil bolanya dengan riang. "Terima kasih tante!"


Setelah ibu dan anak itu meninggalkan dirinya, Rina pun beranjak ke mobilnya. Sampai di dalam mobil, tiba-tiba ia mengingat sesuatu yang penting dan mukanya menjadi sedikit pucat. Dengan jantung yang berdebar-debar, ia pun mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit.


Chris menghela nafasnya dan menyenderkan tubuhnya ke kursi. Ia mulai menggosok matanya dengan perasaan lelah. Chris berada dalam situasi dilematis, otaknya yang rasional tetap menganggap Rina sebagai wanita yang materialistis, mengingat sejak awal isterinya sudah dengan jujur mengatakan tujuannya mau menikahi dirinya. Masalahnya, hatinya berkata lain. Perlakuan-perlakuan Rina terhadap dirinya selama ini, membuat Chris mulai merasa tertarik pada isterinya dan itu membuatnya takut.


Bayang-bayang perselingkuhan yang dilakukan oleh ayahnya benar-benar membekas di hatinya. Saat itu, ia melihat ibunya hancur dan hampir memutuskan untuk bunuh diri. Peristiwa yang melibatkan kedua orang yang sangat disayanginya membuat Chris harus memilih, dan ia memilih ibunya. Bertahun-tahun Chris membenci ayahnya dan ia baru bisa serta mau memahami dan menerima alasannya ketika beranjak dewasa.


Meski pada akhirnya memaafkan ayahnya, apalagi pada akhirnya ayahnya pun berpisah dari pasangan keduanya, tapi tidak membuat Chris melupakan kejadian itu. Bahkan saat ayahnya pun menghembuskan nafas terakhirnya, hal yang didengar Chris keluar dari mulut ayahnya adalah permohonan maaf pada anaknya. Ayahnya menggenggam erat tangannya saat itu dan meneteskan air matanya. Ia benar-benar memohon agar anaknya memaafkan dirinya. Namun sebelum Chris mengucapkan apapun, ayahnya telah pergi meninggalkannya selamanya.


Peristiwa masa lalu, ditambah lingkaran pergaulannya saat ini membuatnya menjadi pribadi yang pragmatis. Ia hanya melihat segalanya hitam-putih, apalagi wanita-wanita yang berada di sekelilingnya ternyata tidak jauh berbeda dengan tipikal selingkuhan ayahnya dulu. Meski di dalam hatinya ia tahu bahwa masih ada perempuan yang baik seperti ibunya, tapi dengan usianya yang sangat matang saat ini membuat Chris menjadi lebih skeptis melihat kehidupan.


Kehadiran Rina yang tiba-tiba dalam hidupnya membuat Chris tidak siap menghadapinya. Sosok isterinya yang jauh berbeda dari para wanita di sekitarnya, membuat Chris bingung ketika harus berinteraksi dengannya. Hal ini membuatnya seringkali mengucapkan hal-hal yang sebenarnya tidak dimaksudkannya. Baru ketika ia memiliki cukup keberanian untuk mau mencoba melangkah lebih jauh, isterinya ternyata melontarkan kata-kata sakti itu.


"Bos."


Rich yang masuk ke ruangannya memutus lamunan Chris. Beberapa hari ini Rich-lah yang datang ke apartemen Chris dan mengambilkan baju untuknya. Hari ini pun, ia berencana kembali lagi ke rumah Chris untuk mengambil pakaiannya untuk perjalanan dinas sore nanti.


"Bos, saya akan ke apartemen lagi siang ini. Anda mau menitip sesuatu?"


Melihat Rich, Chris menimang-nimang untuk ikut dengan asistennya. Ia sedikit menggigit bibirnya ketika bertanya, "Kemarin waktu kamu kesana, apakah Rina menanyakan sesuatu?"


Rich terlihat berfikir sebentar sebelum menjawab.


"Ia hanya bertanya kenapa Anda tidak pulang malam itu dan seingat saya, ia tidak menanyakan apapun lagi."


Sedikit kecewa, Chris pun akhirnya memutuskan untuk tidak jadi ikut dengan Rich. Dengan ketus ia melanjutkan. "Ya sudah. Kamu ke rumah dan lihat apakah-"


Menunggu kelanjutan kata-kata dari atasannya yang tidak kunjung datang, membuat Rich bertanya lagi. "Bos?"


Saat itu, hati Chris sebenarnya mulai merasa gelisah. Entah mengapa, ia merasakan firasat yang tidak enak, namun egonya sebagai lelaki membuatnya mengurungkan niatnya untuk melihat isterinya.


Ia malah berkata, "Tidak ada apa-apa. Pergilah Rich."


Chris memutuskan akan menemui isterinya setelah ia pulang dari luar kota nanti, dan setelah fikirannya lebih jernih. Ia tidak mau mengambil langkah terburu-buru, yang jika ia fikir kembali sekarang, adalah merupakan keputusan terbodoh yang pernah dibuatnya dalam hidupnya.