Unsaying Words

Unsaying Words
BAB XXI - Aku mencintaimu



Ketika Rina selesai mandi dan masuk kamarnya, ia menemukan Chris sudah berselimut di atas tempat tidur dan telihat sudah terlelap.


Merasa lega, ia pun menyimpan bra-nya di tempat yang tidak terlihat. Tanpa menyadari bahwa suaminya sedang mengintip dirinya.


Rina duduk membelakangi suaminya, dan dengan perlahan membuka ikatan rambutnya. Membiarkan rambutnya tergerai bebas di area punggungnya.


Tangan Chris gatal ingin menyentuh isterinya, tapi pria itu berusaha menahan dirinya.


Wanita itu pun masuk dalam selimut dan bersiap untuk tidur, ketika ia tiba-tiba merasakan kulit telanjang yang menyentuh pahanya.


Kaget, ia menoleh ke belakang dan melihat suaminya sedang tertidur. Tapi entah sejak kapan, posisinya lebih mendekat dan mulai menempel padanya.


Curiga kalau suaminya pura-pura tidur, Rina dengan pelan menepuk pipi suaminya. "Chris?"


"Hemmm..." Nafasnya terdengar teratur.


Melihat suaminya yang tidak memberikan banyak reaksi, wanita itu pun kembali berbalik dan menyangka pria itu benar-benar sudah terlelap.


Membuka matanya, pria itu tersenyum jahil dan berniat memulai aksinya.


Tangan pria itu tiba-tiba menyusup ke dalam selimut dan menangkup dada isterinya. Membuat wanita itu terkejut. "Chris!"


Chris kemudian menarik isterinya mendekat, dan menciumi area lehernya.


"Ch-Chris... Jangan begini."


Rina mulai terengah dengan perbuatan suaminya. Jari jemari pria itu mulai bermain-main di area sensitifnya.


Ia memegang pergelangan tangan suaminya erat, berusaha menghentikannya dengan sia-sia.


"Kamu menggodaku?"


Bisikan suaminya terdengar erotis di telinga Rina. Ia sudah mulai tidak fokus.


"Ti-tidak..."


Dengan gemas, Chris mencubit pelan benda kecil menegang yang sedang dipegangnya. Membuat isterinya merintih.


"Chris..." Wanita itu semakin kencang mencengkeram pergelangan pria itu.


Melihat isterinya yang mulai menyerah, salah satu tangan Chris mulai bergerak menyelinap masuk ke dalam celana pendek wanita itu.


Jari-jarinya dengan pelan memasuki area pakaian dalam isterinya dan-


Kriiingggg!


Bunyi dering ponsel Chris yang tidak berhenti menghentikan kegiatan mereka dengan paksa.


Oh, Tuhan.


***** keduanya langsung menghilang. Ini ketiga kalinya dalam hari ini, mereka mendapatkan gangguan yang menyebalkan.


Chris memeluk isterinya dengan erat, untuk menumpahkan rasa frustasinya. Rina yang juga merasakan hal yang sama, hanya menepuk-nepuk lengan suaminya, berusaha menenangkannya.


Sadar deringannya tidak berhenti, Chris pun bangkit, berniat untuk membentak siapa pun yang meneleponnya di saat yang tidak tepat ini.


"Halo!" Jawabnya kasar tanpa melihat ID si penelepon.


"Chris! Kamu berani membentak mamah?"


"Eh?"


Pria itu segera melihat layarnya dan baru sadar kalau ibunyalah yang menelepon.


"Eh, iya mah. Maaf, Chris tidak lihat tadi."


"Kamu dimana?" Cecar ibunya.


"Kenapa mah?" Chris belum mau mengatakan lokasinya saat ini. Ia masih terlalu malu.


"Kamu tidak lembur lagi kan?"


Ibunya bertanya sambil sedikit membentak.


"Kamu itu masih sakit. Harus banyak istirahat!"


"Mamah dimana?"


"Di rumahmu Chris. Kamu ini sedang dimana?"


Chris melihat jam tangannya dan terkejut melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 22.30. Ia khawatir dengan ibunya.


"Mah, ini sudah malam. Mamah sendirian?"


"Tidak, mamah bersama Carl dan Carol." Mereka berdua adalah anak kembar, saudara tiri Chris dari ayahnya.


"Oh..." Chris menghela nafas lega.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Chris. Kamu dimana?"


Pria itu melihat isterinya, yang justru balik memandangnya dengan bertanya-tanya.


Sambil tetap memandang isterinya, pria itu menjawab. "Chris di rumah Rina."


Ibu Chris terdiam di seberang telepon. Ia sadar telah melakukan kesalahan.


"Maaf Chris, sudah mengganggu kalian. Selamat bersenang-senang."


Sebelum menutup teleponnya, sang ibu sengaja berteriak.


"Dan jangan lupa buatkan cucu untuk mamah!"


Sambungan pun langsung terputus, meninggalkan Chris yang masih memegang ponselnya dengan sedikit menjauh.


Setelah itu, Chris meletakkan kembali ponselnya di meja samping tempat tidur. Ia tersenyum dalam hatinya. Cucumu sudah jadi mah.


Berbalik, ia memandang isterinya yang sepertinya sedikit mendengar teriakan ibunya tadi.


"Mamah bilang apa tadi? Cumi? Mamah mau aku bikinkan masakan cumi?"


Tersenyum, pria itu malah menyurukkan wajah ke perut isterinya. Menciuminya dengan penuh kelembutan.


"Terima kasih."


Terkejut dengan perilaku suaminya yang tidak disangka, pipi Rina merona. Refleks, ia pun mengusap-usap kepala suaminya yang masih ada di perutnya.


"Terima kasih Rin, sudah mau mengandung anakku."


Rina memegang lengan suaminya yang sedang menangkup pipinya dengan erat. Tanpa disadarinya, air matanya mengalir. Ia hanya menatap suaminya tanpa mampu berkata-kata. Ia merasa sangat bahagia saat ini.


Pria itu mencium pipi isterinya dan berusaha menghapus air matanya.


"Jangan menangis Rin..."


Suaminya masih menghujani isterinya dengan ciuman-ciuman kecil.


"Jangan menangis lagi..."


Mereka pun kembali berciuman, tanpa adanya *****. Masing-masing berusaha untuk menyalurkan kasih sayangnya pada pasangannya.


Malam itu, Chris akhirnya menyadari perasaannya. Ia mencintai isterinya.


***


Pagi itu, Chris terbangun sendirian. Melihat sekelilingnya, terlihat kemejanya yang telah disetrika tergantung rapi di depan lemari.


Ia pun segera mengenakan celana panjangnya, tanpa memakai kemejanya. Setelah itu, ia langsung keluar kamar.


Di ruang makan, pria itu melihat isterinya sedang memasak sesuatu dan mempersiapkan sarapan di meja. Melihat Chris telah bangun, ia tersenyum pada suaminya.


"Chris, kemarilah. Sarapan sudah siap."


Jantung Chris berdebar-debar bahagia. Baru kali ini mereka terlihat seperti pasangan suami isteri yang sebenarnya.


Mencium pipi isterinya, ia pun lalu duduk di salah satu kursi makan.


Saat itu, Rina baru sadar kalau suaminya tidak berpakaian.


"Tunggu Chris. Kenapa kamu tidak memakai baju?"


Suaminya saat itu sedang sibuk melahap makanan yang baru dimasak isterinya. Ia merasa lapar, teringat bahwa ia terakhir makan kemarin sore ketika bertemu kliennya.


"Hmmmh. Hmmmh."


Suaminya hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas. Mulutnya penuh dengan makanan.


Melihatnya, Rina hanya menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah. Kamu makan saja dulu. Jangan sampai tersedak." Ia sedikit melap mulut suaminya.


Selesai makan, Rina membereskan sisa makanan untuk disimpan di kulkas. Dan suaminya mencuci piring bekas makan mereka.


Meletakkan piring terakhir di rak, Chris menoleh pada isterinya yang sedang menutup kulkas.


"Apa acaramu hari ini?"


Rina hanya mengangkat bahunya.


"Tidak ada. Kemarin aku sudah membereskan rumah. Mungkin aku akan malas-malasan saja, apalagi sekarang aku sudah jadi pengangguran."


Wanita itu terlihat murung. Ia terbiasa untuk memiliki pekerjaan tetap. Sepertinya, ia harus mulai melakukan job hunting mulai hari ini.


Chris sebenarnya ingin menawarkan pekerjaan pada Rina di kantornya, tapi tahu bahwa wanita itu akan menolaknya. Ia tidak mau menyinggung harga diri isterinya.


"Kamu punya pekerjaan baru."


Tiba-tiba Chris menggendong isterinya ala koala, membawanya ke kamar tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak pernah digendong siapapun, tangan Rina mencengkram erat bahu telanjang Chris.


"Eh Chris?"


Meletakkan isterinya di atas kloset. Chris membuka celana di depan isterinya dan menampilkan tubuhnya yang polos.


"Ch-Chris!" Jerit isterinya. Mukanya memerah dan ia mulai bangkit dari duduknya.


Tapi Chris lebih cepat, dan menahan bahu isterinya untuk tetap di tempatnya.


"Saat ini kamu punya pekerjaan baru, beb."


Dengan segera, ia melepaskan atasan isterinya yang menampilkan pemandangan indah.


Pria itu pun dengan mudah mengangkat isterinya ke pelukannya dan melepaskan sisa pakaiannya.


Sambil menikmati dada isterinya yang ranum, pria itu mengarahkan mereka munuju shower. Rina mencengkram rambut suaminya dan melingkarkan pahanya di pinggang pria itu.


"Chris..."


Pikiran wanita itu benar-benar kosong. Suaminya benar-benar tahu caranya mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat isterinya lengah.


"Pekerjaanmu yang baru adalah..."


Pria itu mulai menggeram dan memposisikan isterinya di tempat yang tepat.


Ketika milik Chris berhasil memasuki sarangnya, keduanya melenguh puas. Akhirnya.


Chris memompa miliknya dengan teratur dan memandang isterinya. Ia menciumnya dalam.


"Pekerjaan barumu adalah sebagai isteriku."


Ia mulai bergerak dengan lebih cepat, tapi hati-hati agar tidak menyakiti isterinya.


"Dan tugas pertamamu adalah melayaniku."


Chris memandang isterinya intens. Rina menatap suaminya dan mengerjapkan matanya.


"Melayaniku sampai aku puas."


Setelah itu, mereka berdua mencapai kepuasan masing-masing dan Chris menyebarkan benihnya di dalam isterinya.


Mereka pun masih melanjutkannya di tempat tidur beberapa kali setelah mandi bersama. Chris dan Rina benar-benar memuaskan kebutuhan mereka yang telah tertunda selama ini.


Kelelahan, Rina pun tertidur di pelukan suaminya. Chris menyelimuti mereka berdua dan mencium kening isterinya berkali-kali dengan lembut.


Pria itu merapihkan rambut isterinya yang berantakan di keningnya. Tubuh isterinya terlihat berkeringat, membuat pria itu tersenyum dan mengelus-elusnya pelan.


"Terima kasih Rina."


Chris mencium bahu telanjang isterinya, dan menyusulnya ke dalam dunia mimpi.