
Sore itu di dalam mobil, Chris pun akhirnya berhasil menghubungi isterinya setelah beberapa kali mencoba.
"Halo." Suara Rina terdengar terengah-engah ketika menjawab telponnya.
"Rina?"
"Chris? Ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Dimana? Ya di rumahlah."
Isterinya menjawab santai. Saat itu, ia baru membersihkan rumahnya untuk menyalurkan emosinya yang tinggi pagi itu.
"Rumah siapa?"
Rina melihat ponsel di tangannya. Suaminya apa sudah gila ya?
"Rumahku Chris."
"Bukan di apartemen?"
Rina mulai jengkel dengan pertanyaan Chris yang bertubi-tubi.
"Ya bukanlah! Itu kan rumahmu Chris!"
Chris terdiam mendengar jawaban Rina.
"Berikan alamatnya."
"Kenapa?"
"Aku akan kesana."
"Hah? Untuk apa?"
Di seberang telepon, Chris mulai menjambak rambutnya frustasi. Susah sekali mengorek informasi dari isterinya ini.
"Berikan saja alamatnya Rina!"
"Tidak mau!"
"Rina!"
"Memangnya kamu mau apa di rumahku Chris?"
Chris mencoba mengatur nafasnya. Ia harus bersabar menghadapi isterinya. Baru kali ini ia menghadapi tabiat asli isterinya selama pernikahan mereka. Sejujurnya ia menyukainya.
"Katanya kamu dipecat?"
"Apa! Kata siapa aku dipecat! Justru aku yang memecat si brengsek itu!"
Chris tersenyum, ia berhasil memancing isterinya. Selanjutnya tinggal menarik kailnya.
"Banyak rumor beredar di restoran."
"Rumor apa?"
"Berikan alamatmu, maka aku akan menceritakannya dengan detail."
Sadar telah masuk jebakan, Rina terdiam.
"Ayolah, apa kamu tidak mau mendengarnya?"
"Kamu berbohong kan Chris?"
Rina memicingkan matanya, ia tahu suaminya pebisnis yang lihai sekaligus cukup licik bagi lawan-lawannya.
"Kamu tahu kalau aku tidak pernah berbohong, Rin. Tadi siang, aku memang datang kesana. Kamu boleh tanyakan pada Cindy di restoran. "
Mendengar suaminya menyebut nama Cindy, mau tidak mau membuat Rina mulai mempercayainya.
"Rina?"
Pria itu memanggil, ketika belum ada jawaban dari isterinya.
"Rina? Kalau kamu tidak menjawab, aku akan tutup teleponnya."
Rina masih diam di ujung telepon.
"Aku akan tutup teleponnya dan kamu bisa mati penasaran karena-"
Secepat kilat, Rina menyebutkan alamat rumahnya. Setelah itu, sambungan pun terputus.
Saat itu di mobil, Chris terkekeh sambil mengatakan tujuannya pada Rich.
"Lagi senang, bos?"
Chris memandang keluar sambil tersenyum. "Ya. Saya sedang senang."
Pria itu menoleh dan menatap Rich lewat spion.
"Hari ini ada agenda lain?"
Rich tersenyum pada bosnya lewat kaca yang sama.
"Jangan khawatir bos, semuanya bisa diatur. Sisa hari ini, bisa Anda pakai untuk bersenang-senang. Apalagi besok weekend."
Tersenyum sumringah, pria itu pun menepuk bahu asisten andalannya.
"Terima kasih Rich."
"Sama-sama bos."
***
Di rumahnya, Rina memandang situasi di rumahnya. Untungnya ia baru membereskan rumahnya yang tadinya berantakan. Setidaknya, ia tidak akan mempermalukan dirinya di hadapan Chris nanti dengan rumahnya yang kotor.
Ia kemudian meneruskan pekerjaannya memasukkan pakaian kotor ke mesin cucinya, ketika bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Rina mengerutkan dahinya, tidak mungkin Chris secepat ini sampai kan? Mereka baru saling berkomunikasi sekitar 15 menit yang lalu.
Wanita itu pun segera ke ruang depan karena bel pintu yang berbunyi berkali-kali. Siapa sih, tidak sabar sekali.
"Ya, siapa?"
Melihat suaminya sudah berdiri di depan, membuat Rina melongo.
"Kamu boleh pulang Rich."
Pria itu menyuruh asistennya pergi, kemudian langsung saja masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan lebih dulu.
Chris melihat ke sekeliling rumah. Rumah itu tidak besar, hanya terdiri 3 kamar. Dua kamar di lantai bawah dan sisanya di lantai berikutnya. Ruangan terlihat cukup rapih dan samar-samar terdengar suara mesin cuci yang berasal dari belakang ruangan dapur.
"Kamu sedang mencuci?"
Sambil berbalik, Chris bertanya pada isterinya dan terdiam.
Penampilan isterinya jauh dari kata rapih. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas. Mukanya memerah sedikit berkeringat, dan ia memakai kaos oblong tanpa lengan. Celana pendeknya memperlihatkan pemandangan paha mulus di depan mata pria itu. Chris menelan ludahnya.
"Cepat sekali kamu datang?"
Sambil bertanya, Rina pun berbalik untuk mengunci pintu rumahnya.
Ia tidak menyadari bahwa Chris sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Ya, aku ada meeting dekat sini."
Suara Chris yang sangat dekat, membuat Rina berbalik dan kaget.
"Chris!"
Suaminya menatapnya intens dan tiba-tiba saja menciumnya dengan penuh *****.
Rina tergelagap dengan kelakuan suaminya dan hanya bisa pasrah ketika Chris mendorongnya ke arah kamar tidur.
Di dalam, Chris membaringkan isterinya dengan hati-hati sambil tetap menciuminya. Ia pun mulai mengelus dan meremas bagian-bagian tubuh isterinya dengan intens.
"Ch-Chris..."
Rina berusaha untuk sedikit melepaskan diri dari suaminya, mencoba melawan nafsunya.
Tapi suaminya malah membuka jas dan kemejanya dengan asal. Memperlihatkan tubuhnya yang berotot. Bahkan suaminya menarik tangan isterinya untuk mengelus dadanya.
Mendapatkan stimulus yang kuat itu, Rina pun tidak tahan untuk tidak mengelus dan meremas otot-otot suaminya. Ia sangat menyukai bentuk tubuh suaminya.
Ia bahkan dengan berani mencium dada suaminya dan mengulum ujungnya.
"Be-beb-"
Terbata-bata Chris memanggil isterinya. Ia sudah tidak tahan lagi.
Dengan tergesa, Chris pun segera membuka sisa pakaian isterinya dan bersiap dengan posisinya untuk memasuki isterinya. Ia pun memegang pinggul isterinya dan-
Triiiiingg!
Saat itu, mulut Chris berada di salah satu dada isterinya, sedang menghisap keras. Gangguan yang tiba-tiba membuat mereka terdiam beberapa saat dengan posisi yang sangat intim.
Rina menarik rambut Chris, mendongakkannya dan menyebabkan apa yang tadinya ada dimulut pria itu terlepas. Mereka saling memandang.
"Tamu."
Setelah itu, Rina pun melepaskan dirinya dan memakai pakaiannya kembali dengan terburu-buru. Ia melirik kaca di lemarinya dan setelah memastikan tampilannya cukup rapih, ia pun segera keluar kamar.
"Tunggu di sini." Perintahnya pada suaminya yang saat itu tampak masih terbengong dan belum sadar mengenai apa yang terjadi.
Setelah isterinya menutup pintu, Chris pun baru tersadar dan melemparkan tubuhnya di kasur dengan frustasi. Ia pun menutup mata dengan tangannya. Oh Tuhan. Kenapa susah sekali!
Dengan lesu, ia mulai memakai pakaiannya. Setelah itu, ia pun terduduk kembali di pinggir tempat tidur.
Matanya berkeliling di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Semua barang-barang yang ada di sini tampak rapih dan tidak terlalu banyak. Sepertinya Rina memang menjaga agar ia tidak menumpuk barang terlalu banyak.
Ketika matanya menyapu area tempat tidur, ia melihat ada benda yang terselip di balik bantalnya. Penasaran, ia pun menariknya dan terkejut ketika mengenalinya.
Ini adalah salah satu baju tidur favoritnya yang sedang dicarinya. Baju yang diberikan oleh mendiang ayahnya ketika ia lulus SMA dulu.
Baju itu sudah usang, tapi Chris sangat menyukainya. Ia bahkan selalu mencucinya sendiri karena takut merusak kainnya yang sudah tua. Kenapa baju ini ada disini?
Saat Chris akan bangkit dari duduknya, tidak sengaja ia menyenggol kotak penyimpanan yang tersimpan di bawah meja samping tempat tidur. Membuat semua isinya berantakan.
Berjongkok, ia mulai memunguti barang-barang tersebut satu persatu yang ternyata sebagian besar adalah dokumen dan ijasah milik isterinya.
Pria itu tersenyum ketika mengetahui kalau isterinya cukup berprestasi ketika sekolah dan kuliah dulu. Nilai-nilainya sangat bagus, terutama untuk hal yang yang berhubungan dengan hitungan. Pantas saja dia menjadi Manager Keuangan, pikirnya.
Chris pun memungut 2 dokumen terakhir dan akan memasukkannya ke kotak ketika ia menyadari isi yang tertera di sana. Akta Kematian. Dan satu lagi, foto USG.
Muka Chris berubah pucat.
Dengan perlahan, ia duduk kembali di samping tempat tidur dan mulai membaca isinya dengan hati-hati.