Unsaying Words

Unsaying Words
BAB XII - Aku SANGAT membutuhkanmu



"Jadi, bagaimana Dok?"


Saat itu, ibu Chris dan dr. Herman berada di ruang tengah. Wanita tua itu mulai mengkhawatirkan anaknya, apalagi sekarang Chris telah tinggal sendiri lagi.


"Seperti dulu, maag-nya kambuh. Tapi sepertinya, faktor psikologisnya lebih parah dibanding fisiknya."


Si dokter menyesap teh yang tersaji dan bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ia tidak pernah terlihat seperti itu lagi semenjak kepergian ayahnya dulu."


Si ibu mengurut keningnya yang sebenarnya tidak sakit. Permasalahan anaknya mulai membuatnya psikosomatis juga.


"Masalah dengan isterinya."


"Chris sudah menikah?" Si dokter tampak terkejut.


Ibu Chris menatap dr. Herman, tampak meminta maaf.


"Setahun yang lalu anak itu menikah. Maaf tidak memberitahumu."


Dr. Herman terlihat tidak senang. Ia cukup tersinggung, merasa telah menjadi bagian dari keluarga Dieter sejak puluhan tahun lalu, tapi hal penting seperti ini, ia malah tidak tahu.


"Jangan marah Dok. Masalahnya cukup rumit untuk diceritakan. Dan saya tidak yakin memiliki kapasitas untuk memberitahumu. Hal ini cukup sensitif untuk dibicarakan."


Melihat temannya merasa frustasi, membuat amarah pria tua itu sedikit menyurut.


"Sudahlah."


Ia kemudian celingak-celinguk, berharap dapat melihat isteri Chris yang tadi diceritakan.


"Dia tidak ada disini."


Kening pria tua itu berkerut. "Terus, dimana dia? Suaminya kan sedang sakit begini."


Wanita itu membuang nafasnya kasar. "Dia sudah pergi."


Dr. Herman menyenderkan tubuhnya kembali di sofa, tampak berfikir. Ia mulai menyusun asumsi-asumsi di otaknya dengan cepat.


Ia kemudian bertanya hati-hati, "Mereka sudah bercerai?"


"Ya dan tidak." Ibu Chris memutar-mutar cangkir di pangkuannya.


Tahu bahwa temannya menunggu penjelasannya, ia pun melanjutkan kembali.


"Anak bodoh itu mengajukan perceraian pada isterinya dan sekarang dia malah menyesal."


Ketika meletakkan cangkirnya di meja, ia memandang dr. Herman di depannya dengan intens.


"Saya yakin, anak itu tidak akan pernah membawa berkas itu ke pengadilan."


Mendengar penjelasan tersebut, membuat kening pria tua itu berkerut semakin dalam.


"Tunggu. Maksudmu Chris meminta cerai pada isterinya, dan setelah isterinya menyetujui, sekarang malah Chris yang tidak mau bercerai? Begitu maksudmu?"


Wanita tua itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh, my God!"


"Anakmu tolol sekali! Maaf saja Tita, anakmu mungkin punya IQ yang sangat tinggi, tapi untuk yang satu ini, dia memang sangat tolol!"


Mata ibu Chris terlihat melotot. Tidak ada yang boleh mengata-ngatai anaknya selain dirinya.


Melihat tanda bahaya dari pandangan wanita tua di depannya, membuat dr. Herman cepat-cepat mengibaskan tangan dan melanjutkan, "Anak muda! Biasa, anak muda."


Mendengar komentar itu malah membuat ibu Chris semakin cemberut.


"Anak itu sudah cukup tua untuk bisa dikatakan sebagai anak muda!" Sungutnya.


Mereka masih melanjutkan perbincangan itu beberapa waktu kemudian, dan setelah memastikan bahwa Chris tidak perlu di opname akhirnya sang dokter pun berpamitan pulang.


"Pastikan saja kalau dia meminum obatnya." Pesan sang dokter.


Setelah berfikir beberapa saat, ia meneruskan kembali. "Akan lebih baik kalau isterinya kembali. Sepertinya obat yang paling mujarab adalah isterinya."


Ibu Chris tersenyum mendengar kata-kata itu. "Saya tahu dok. Anak itu cuman belum menyadarinya saja."


Setelah mengantarkan dr. Herman pergi, ibu Chris pun kembali lagi ke kamar anaknya berada.


Raut muka Chris tampak lebih tenang dari sebelumnya dan ia terlihat tidur. Namun, ketika wanita tua meletakkan tangannya di dahi Chris, pria itu mulai membuka matanya.


"Mah? Masih disini? Dr. Herman?"


Ibu Chris duduk di samping anaknya. Dengan telaten, ia mengusap-usap rambut anaknya yang hitam dan lebat.


Tahu bahwa ia memang membutuhkan orang lain, Chris hanya menganggukkan kepalanya.


"Chris? Bisa kita bicara?"


Menyadari nada suara ibunya yang lembut tapi serius, Chris pun akhirnya kembali duduk menyender di tempat tidurnya. Ia sudah menduga hal yang ingin dibicarakan oleh ibunya.


Pria itu menatap tangan di pangkuannya. Ia seperti anak nakal yang ketahuan melakukan kesalahan.


"Iya mah."


Si ibu menggenggam tangan anaknya erat. Hal ini cepat atau lambat memang harus dibicarakan. Semakin cepat selesai, akan semakin baik.


"Chris, mamah sudah tahu kalau kalian berpisah."


Chris memandang mata ibunya dengan bertanya-tanya, menunggu.


Menghela nafasnya, wanita itu melanjutkan, "Rina datang ke rumah sekitar seminggu yang lalu. Ia mengatakan kalau kalian akan bercerai."


Bola mata Chris bergerak-gerak. Ia sama sekali tidak menyangka kalau isterinya sampai sejauh itu memastikan bahwa mereka akan berpisah.


Menyadari bahwa anaknya mengalami pergulatan batin, wanita itu melanjutkan ceritanya.


"Rina terlihat bingung saat itu. Mamah tahu bahwa dalam hatinya, ia sebenarnya tidak ingin berpisah darimu. Kamu yang mengajukan cerai, kan?"


Mendengar hal itu, membuat Chris otomatis ingin menarik tangannya yang sedang digenggam tapi ibunya yang sudah mengantisipasi, justru mencengkramnya lebih erat.


"Chris, isterimu mencintai dirimu."


Chris menutup matanya erat-erat, mukanya terlihat berkerut dan kesakitan.


"Mamah salah. Rina tidak mencintaiku. Rina-"


Tapi ibunya memotong, "Chris. Lihat mamah."


Mendengar suara ibunya yang lembut, Chris pun memandang mata ibunya.


"Katakan pada mamah sekarang. Apakah menurutmu mamah tidak mencintai papahmu lagi?"


Pandangan Chris tampak bertanya-tanya. Sejujurnya, ia memang tidak pernah mengetahui perasaan ibunya pada ayahnya setelah mereka berpisah.


"Chris, mamah masih mencintai papahmu. Sangat. Sampai sekarang. Dan sampai nanti."


Ibu Chris menutup kedua matanya erat ketika menekankan perkataannya. Ia membuka matanya kembali dan memegang pipi anaknya dengan lembut.


"Berpisah, bukan berarti sudah tidak mencintai lagi."


"Kalau begitu, kenapa kalian berpisah kalau masih mencintai?" Tuntut Chris. Jiwa anak kecilnya puluhan tahun lalu kembali lagi. Selama ini, ia tidak pernah bertanya pada ibunya.


"Chris, kamu tahu alasan mamah meminta cerai dari papah, kan?"


Chris menganggukkan kepalanya pelan.


"Ada beberapa hal dalam rumah tangga, yang jika rusak maka hal itu tidak akan pernah sama lagi. Dan sayangnya, papahmu melakukan hal yang fatal itu."


"Meski mamah masih mencintai papahmu, tapi kesalahan itu tidak akan pernah bisa mamah lupakan."


Ibunya menunjuk dada Chris dan menekannya lembut. "Bahkan kamu pun merasakan dampaknya bukan?"


"Katakan pada mamah, apakah kamu bisa melupakan apa yang sudah dilakukan oleh papahmu?" Tantangnya.


Mengingat bagaimana hancurnya ibunya dan dirinya saat itu, membuat Chris menggelengkan kepalanya perlahan.


"Lebih baik berpisah dari pada saling menyakiti. Toh pada akhirnya, keluarga kita tetap bisa harmonis meski tidak bersatu, kan?"


Kata-kata ibunya menyadarkan Chris betapa ia memang sangat menyayangi adik-adik tirinya.


"Maksud mamah menceritakan ini adalah, adakalanya perpisahan adalah jalan yang terbaik. Tapi, akan jauh lebih baik bila perpisahan bukan jawabannya."


Sang ibu meremas tangan anaknya yang ada dalam genggamannya.


"Sekarang, katakan pada mamah, apakah kamu benar-benar menginginkan perpisahan dengan isterimu?"


Ia memandang anaknya dengan lembut dan tersenyum.


"Tanyakan pada dirimu sendiri, seberapa besar kamu membutuhkan isterimu untuk ada di sampingmu? Tanyakan pada dirimu, apakah hanya perpisahan solusinya? Tanyakan pada dirimu sendiri Chris, dan renungkanlah."


Ibu Chris menepuk paha anaknya pelan.


"Jangan sampai penyesalan adalah satu-satunya yang tertinggal dalam hatimu nanti. Jangan sampai kamu merasakan apa yang mamah rasakan pada papahmu, sampai sekarang."


Pernyataan terakhir ibunya, membuat Chris tertegun.