Unsaying Words

Unsaying Words
BAB XXII - Keraguan Rina



Seharian itu, mereka menghabiskan waktu di kamar tidur. Keduanya telah mandi lagi untuk ketiga kalinya hari itu, sebelum akhirnya Rina menyuruh Chris untuk memakai kemejanya, mencegah keduanya lepas kontrol lagi.


Ketika Chris berdiri untuk memakai kemejanya, Rina merogoh bawah bantal suaminya untuk mencari sesuatu tapi tidak menemukannya.


Sedikit panik, ia mengangkat bantal itu dan merogoh-rogoh isinya. Kemana benda itu?


Matanya menyapu ke sekeliling kamar dengan cemas, mencoba mengingat tempat terakhir ia meletakkannya.


Tiba-tiba ia dihadapkan pada baju usang yang disodorkan di depan mukanya.


"Mencari ini?"


Wanita itu melotot pada suaminya dan tidak berhasil menyambar benda itu dari tangan Chris.


"Kembalikan Chris!"


"Kenapa?"


"Itu punyaku!"


"Punyamu?" Alis suaminya terangkat, tampak mengejek.


Rina terdiam. Ia akan cukup malu jika ketahuan mengambil barang suaminya tanpa izin.


"Iya. Punyaku. Memangnya kenapa?" Tidak mungkin Chris mengingat kaos jelek itu kan?


"Kamu yakin ini punyamu Rina?" Suaminya mendekat.


Rina merasa mukanya mulai memanas. Ia sadar kalau suaminya sudah tahu. Sialan!


"Kaos ini sudah bau Rina. Dan jelek."


Suaminya melemparkan baju itu ke ujung ruangan. Rina menatap gumpalan kain itu dengan perasaan sedih. Setidaknya kaos itulah yang mengobati rindunya pada suaminya.


Chris mengambil kedua tangan Rina dan melingkarkannya ke pinggangnya sendiri. Pria itu memegang kedua bahu isterinya.


"Itu cuman benda Rin. Tapi aku ada di sini. Kamu hanya tinggal memelukku, tanpa harus memintanya." Suaminya tersenyum padanya.


Mendengar itu, Rina pun tertawa kecil. Ia meletakkan kepala di dada suaminya sambil menghela nafas panjang.


"Kamu benar."


Setelah hening beberapa saat, Chris tiba-tiba menyeletuk dari balik rambut isterinya.


"Tapi kamu harus tetap mencucinya. Karena itu baju tidur favoritku."


Wanita itu menarik rambut suaminya agar menghadapnya. Dengan cepat, ia pun mencium bibir suaminya sebelum memeluknya erat kembali.


"Iya-iya, aku akan mencucinya. Tapi sekarang, peluk aku dulu."


Terkekeh, Chris pun memenuhi permintaan isterinya dengan senang hati.


Teringat sesuatu, Chris pun melepaskan diri dari isterinya. "Sebentar."


Rina terduduk di tempat tidur, memperhatikan suaminya merogoh sesuatu dalam kantong jasnya.


Suaminya ikut duduk di tepat tidur dan mengulurkan tangannya, memperlihatkan 2 cincin yang sebelumnya milik isterinya.


"Aku ingin mengembalikan ini padamu."


Dengan mantap, ia mengambil tangan isterinya dan bersiap memasukkan kembali cincin-cincin itu ke jari wanitanya.


"Tunggu Chris."


Pernyataan Rina yang tiba-tiba membuat Chris mematung di tempatnya. Pria itu memandang isterinya, bertanya-tanya.


"Kenapa?"


Jantung Chris mulai berdetak kencang. Ia merasakan firasat yang tidak enak.


Wanita itu mengambil cincin-cincin dari tangan Chris dan menggenggamnya erat. Ia menunduk.


"Aku akan menyimpannya. Tapi, tolong berikan aku waktu Chris."


Medengarnya, Chris langsung bangun dari tempat tidur. Ia mundur sampai menabrak lemari di belakangnya.


Rina tidak menyangka suaminya akan memberikan reaksi seperti itu.


"Chris..."


"Kenapa Rin?"


Mata suaminya memerah. Pria itu mulai merasa perjuangannya sia-sia.


"Apa kamu masih belum memaafkan aku?"


Terkejut, Rina menggelengkan kepalanya kuat. "Bukan begitu Chris. Aku hanya-"


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?"


Pria itu memalingkan kepalanya ke samping. Mukanya memerah.


"Apa aku harus mati dulu baru kamu mau memaafkan aku?"


Mendengarnya, Rina berteriak marah, "Chris!"


"Aku tidak suka kamu membicarakan kematian semudah itu. Jangan pernah mengucapkannya sembarangan lagi!"


Sadar bahwa ia mulai lepas kontrol, Chris menunduk menutup matanya.


"Maaf."


"Aku hanya minta sedikit waktu darimu Chris. Biarkan aku memikirkan hal ini matang-matang. Kamu mau menunggu kan?"


Pria itu terdiam. Sejujurnya, ia tidak akan pernah bisa menunggu. Ia sangat membutuhkan isterinya di sisinya. Saat ini. Sekarang. Nanti dan seterusnya.


Merasa bahwa ia tidak akan bisa mengontrol emosi dirinya lagi, pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar setelah mengambil jasnya dengan kasar.


"Chris, kamu mau kemana?"


"Lebih baik aku pulang."


Tanpa menoleh, pria itu pun keluar dari kamar dan menutup pintunya.


Rina benar-benar shock dengan reaksi suaminya. Ia tidak pernah menyangka jika Chris akan memberikan reaksi yang sangat keras seperti itu. Apakah ia telah melakukan kesalahan?


Setelah sadar dari rasa terkejutnya, Rina pun segera keluar dari kamar untuk mencari suaminya. Ia harus meminta maaf pada pria itu.


Sampai di ruang depan, wanita itu mencegat Chris yang sedang melangkahkan kaki menuju taksi yang dipesannya. Ia memegang lengan suaminya yang akan membuka pintu taksi.


"Tunggu Chris."


Pria itu menggenggam tangan isterinya erat dan dengan lembut melepaskan dari lengannya.


Masih memegang tangan isterinya, pria itu berkata, "Kamu pikirkanlah baik-baik. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menerima apapun keputusanmu."


Setelah itu, pria itu masuk ke dalam taksi dan meninggalkan dirinya yang masih mematung.


Sementara itu di dalam taksi, Chris menutup mata dengan tangannya. Mencegah air yang mulai keluar dari sudut matanya.


Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ia benar-benar tidak tahu lagi bagaimana membuat isterinya agar kembali padanya.


Saat ini, untuk pertama kalinya Chris benar-benar merasakan putus asa dalam hidupnya.


***


Sepanjang sisa hari itu, Rina berusaha menghubungi suaminya tapi selalu masuk ke voice mail. Chris seperti menghindari dirinya.


Menghembuskan nafas keras, wanita itu pun duduk di sofa. Padahal ia dan suaminya baru saja berbaikan dan mulai menikmati keberadaan masing-masing. Kenapa jadi begini?


Rina menengadahkan kepalanya ke atas, menyender ke kepala sofa. Jika mau mengikuti hatinya, tentu ia akan kembali pada suaminya. Ia masih mencintai pria itu. Dan tidak akan pernah berubah.


Tapi, Rina benar-benar tidak tahu mengenai perasaan suaminya pada dirinya. Yang ia tahu, suaminya tertarik padanya secara fisik. Dan ia juga menikmati hal itu. Namun, apakah itu cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan?


Kegagalannya yang pertama kali, membuat Rina tidak percaya diri untuk kembali pada Chris. Terutama karena ia juga sudah mulai menerima kenyataan, bahwa suaminya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Ia bahkan mungkin benci pada dirinya.


Bagaimana jika Chris bosan padanya, dan mulai melirik wanita-wanita lain yang lebih cantik darinya. Apalagi ia tahu, lingkaran pergaulan Chris yang kelas atas dan jet set, memungkinkan pria itu untuk bertemu dengan seorang wanita yang fenomenal dari kalangannya sendiri.


Ia cuma wanita biasa, dari kalangan biasa-biasa. Ia mungkin bisa bersaing dengan wanita lain dari sisi kecerdasan dan wawasan, namun untuk masalah fisik dan latar belakang?


Apalagi mengingat suaminya yang memiliki karakteristik di atas rata-rata, tidak hanya dari sisi fisiknya yang rupawan, namun ia juga seorang yang sukses dan berasal dari kalangan kelas atas. Bukan orang sembarangan. Sedangkan dia? Dia siapa?


Rina benar-benar tidak mau merasakan ditinggalkan lagi. Apalagi suaminya pernah berniat untuk meninggalkannya dulu. Ia mungkin tidak sanggup hidup lagi, bila sampai itu terjadi.


Berarti dia akan jauh ke dalam lubang yang sama 2x. Saat ini, ia masih dapat merangkak naik dan bangkit. Tapi kalau dia sampai terjatuh lagi? Rina tidak yakin dia akan bisa berdiri lagi.


Wanita itu benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Malam itu, ia mencoba untuk kembali merenungi hal-hal yang menjadi dasar pernikahannya dengan Chris. Mencoba mencari jawaban dari kekhawatirannya, agar ia dapat mengambil keputusan nantinya.


Rina berusaha menguatkan diri untuk berfikir secara logis dan tidak memakai emosinya. Terutama karena saat ini, ia juga bertanggungjawab terhadap nasib satu nyawa.


Sedangkan saat itu, Chris sedang berada di pesawat bersama dengan Rich. Ia tiba-tiba mendapatkan panggilan dari asistennya bahwa mereka harus menemui salah satu investor luar yang kembali meminta penjelasan dari kasus sebelumnya.


Sebagai pemilik perusahaan, Chris berkewajiban memberikan kepastian pada mereka bahwa modal yang mereka berikan tetap aman, tidak terpengaruh sama sekali dengan kasus itu.


Saat ini, Chris harus mengumpulkan kewarasannya agar ia dapat berfikir jernih ketika menghadapi mereka. Ia benar-benar harus berjuang menyisihkan perasaan pribadinya untuk sementara. Mukanya terlihat kusut sekarang.


"Maafkan saya bos."


Rich merasa bersalah pada atasannya karena pemberitahuan yang mendadak ini.


"Tidak apa, Rich."


"Tapi Rina-"


"Ibu Rina, Rich."


Rich mengangkat alisnya. Cukup terkejut dengan perubahan ini. Tapi ia tersenyum.


"Iya, maksud saya, apakah ibu Rina tidak apa-apa?"


"Rina akan mengerti."


Sejujurnya, ia masih belum mau berkomunikasi dengan isterinya lebih dulu. Ia ingin agar mereka berdua dapat berfikir lebih jernih nanti saat bertemu.


"Rina pasti akan mengerti."


Ulangnya pelan, pada dirinya sendiri. Rina pasti akan mengerti kalau aku mencintainya.


Alis Rich berkerut, namun pria itu memutuskan tidak mengatakan apa-apa.


Chris pun mengalihkan pembicaraan mengenai hal-hal yang akan mereka diskusikan dengan para investor. Rich pun mengeluarkan beraneka macam dokumen, yang dapat memperkuat argumentasi mereka nanti.


Perjalanan mereka yang hampir 10 jam, dihabiskan kedua pria itu dengan mempersiapkan berbagai data, untuk memastikan bahwa pertemuan mereka akan berjalan lancar.


Pasangan yang sedang terpisah antar benua itu, sekarang dihadapkan pada pilihan. Apakah mereka akan tetap bersama atau memutuskan untuk berpisah.


Pilihan yang sebenarnya mudah, tapi dibuat sulit oleh keduanya.


Karena yang pasti, tanpa disadari, keduanya sebenarnya sudah memiliki perasaan yang sama namun sampai saat ini, belum ada yang berani untuk mengungkapkannya.