Unsaying Words

Unsaying Words
BAB XIV - Penutup



6 bulan kemudian.


Usia kehamilan Rina sudah memasuki 6 bulan, dan mereka baru kembali menjalani pemeriksaan rutin di dokter kandungan.


Keduanya tengah mengagumi foto USG bayi mereka, ketika bel pintu berbunyi.


Memandang suaminya, Rina bertanya, "Kamu sedang menunggu tamu?"


"Tidak."


Dengan perlahan, suaminya membuka pintu depan dan terkejut.


"Mamah! Carl, Carol!"


Sebelum Chris dapat melakukan apapun, ketiganya langsung menerobos masuk ke apartemen.


"Hai Rina!" Sapa ketiganya berbarengan.


"Hai." Sapa Rina sambil tersenyum.


Sejak Rina kembali ke apartemen, Chris meminta agar mereka yang memiliki akses masuk selalu membunyikan bel lebih dulu. Ia tidak mau kegiatannya bersama isterinya tiba-tiba terganggu.


Carl dan Carol langsung mengapit Rina dan keduanya mengelus-elus perut kakak ipar mereka.


Sama dengan Chris, keduanya berambut hitam dan bermata abu-abu tua. Namun, struktur wajah dan kulit mereka sedikit lebih terang dibanding Chris, mengikuti ayah mereka.


"Apa kabar keponakan Oom?"


Pemuda itu mulai menciumi perut kakaknya, tidak menyadari sepasang mata yang bersinar menyeramkan.


Tiba-tiba kerah bajunya ditarik dan ia dipaksa untuk menyingkir dari kegiatannya.


"Kak! Kau kasar sekali!"


Carl mengomel dalam bahasa ayahnya. Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit oleng karena tarikan Chris tadi.


"Kamu duduk di sana. Jangan terlalu dekat."


Chris menginstruksikan adiknya untuk duduk di sofa seberangnya. Entah mengapa, beberapa bulan ini ia merasa sangat cemburu jika melihat isterinya disentuh oleh pria lain.


Carol yang di samping Rina tertawa terbahak-bahak, melihat kakak kembarnya hanya bisa cemberut dan tidak berani melawan Chris.


"Kamu juga sama Carol. Duduk di sana, di samping kakakmu."


Gadis itu memandang tidak percaya pada kakak tertuanya. "Kak!"


Ibu Chris tiba-tiba muncul di sampingnya dan dengan lembut menepuk bahu anak tirinya.


"Lebih baik kamu mengikuti kata-katanya. Mamah tidak mau sampai terjadi pertengkaran di sini. Kasihan kakak iparmu."


Menghentakkan kakinya marah, Carol pun akhirnya pindah ke samping kakak laki-lakinya yang sedang menyeringai, mengejeknya.


Rina yang memandang drama di depannya hanya bisa tersenyum. Ia bersyukur, saat ini memiliki banyak waktu luang yang membuatnya berkesempatan untuk lebih mendalami bahasa suaminya.


Chris pun duduk di samping Rina, memeluk perut isterinya dengan posesif.


"Buh!"


Kedua saudara kembar di depannya mengatakan hal yang sama, dan bersamaan membuang muka mereka melihat kelakukan kakaknya. Mereka benar-benar terlihat seperti pantulan cermin, dalam versi yang berbeda.


Ibu Chris yang duduk di samping isterinya berkata, "Chris, kami tidak akan lama di sini."


Wanita tua itu memberikan piring yang berisi potongan mangga muda di dalamnya.


"Kemarin, katanya Rina ingin makan mangga muda. Kebetulan pohon mangga Mba Sum sedang berbuah dan ia mengambilkannya pagi tadi."


Rina sumringah melihat pemandangan di depannya. Ia pun segera melahapnya.


"Terima kasih mah."


Tersenyum, suaminya mengusap-usap perut isterinya. "Pelan-pelan makannya beb."


Saat itu, Carol tiba-tiba teringat sesuatu. Ia penasaran.


"Oya kak Rina. Kamu kayanya baru kali ini ngidam ya?"


"Sebetulnya bukan ngidam. Kemarin aku baru makan makanan yang diberikan temanku, dan rasanya sangat manis. Masih terasa bekasnya di lidah. Jadi aku ingin makan yang asam-asam."


Rina mencoba mengingat, "Hmmm, sepertinya tidak. Aku juga tidak pernah merasa yang aneh-aneh. Paling sedikit mual di pagi hari, tapi tidak sampai mengganggu."


"Anak kami sangat baik kan?" Chris tiba-tiba menyeletuk bangga.


"Ya, baik. Untungnya sifatnya seperti ibunya, bukan ayahnya."


Dengan datar Carl berkata dan memandang sinis kakaknya.


Terkekeh, Rina menepuk tangan suaminya yang masih berada di perutnya.


"Kalau mamah rasa, malah sifatnya justru seperti Chris. Kakakmu kan cenderung datar, Carl."


Ke-4 orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa bersama.


"Aku baru ingat. Kapan kalian memutuskan untuk memiliki anak? Bukannya waktu itu, kalian berencana tidak memilikinya ya?"


Carol tiba-tiba bertanya, sambil menguyah mangga muda di hadapannya dan mengernyit.


Pipi Chris sedikit merona mendengar pertanyaan itu. Ia mengingat pertengkarannya dengan Rina saat itu, dan kejadian yang menyebabkan isterinya hamil dengan tidak direncanakan.


Sambil mengelus-elus salah satu jari Chris yang mengenakan cincin, isterinya coba membantu suaminya.


"Kami juga tidak merencanakannya. Terjadi begitu saja."


"Wow. Bisa begitu ya."


Carl mencoba mengunyah mangga seperti saudaranya dan langsung melepehkannya.


"Kalian juga akan tahu kalau sudah menikah nanti." Ibu Chris menimpali.


Kedua saudara itu menyengir kuda di hadapan ibunya dan serempak berkata, "Sepertinya akan masih lama mah."


Saudara kembar itu masih berusia 22 tahun. Sementara Carol memutuskan untuk melanjutkan studinya, Carl memilih menjadi part-timer di perusahaan kakaknya dan memulainya dari posisi yang paling bawah. Ia juga memilih menggunakan nama ibunya yang sudah meninggal.


Sepertinya perjalanan mereka masih akan sangat panjang, sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk berumah tangga nantinya.


Setelah beberapa lama mengobrol, ketiganya pun akhirnya berpamitan pulang.


Kembali ke ruang tengah, Rina meluruskan kakinya yang sedikit terasa pegal.


"Pegal beb?"


"Sedikit."


Suaminya pun duduk bersila di depannya, dan mulai memijit kaki isterinya dengan lembut.


Memandang Chris yang berada di depannya, Rina tiba-tiba mengambil kedua lengan suaminya yang sedang memijit dan meletakkan di pangkuannya.


Wanita itu meneliti kedua tangan Chris dan mengusap jarinya yang mengenakan cincin. Menandakan bahwa suaminya adalah miliknya.


Tersenyum, Rina meremas tangan suaminya dan menatap Chris tepat di matanya.


"Chris, terima kasih telah bersedia menjadi suamiku."


Ia pun mencium kening suaminya dengan lembut dan berkata, "I love you, Chris."


Saat itu, Chris tertegun. Hatinya merasa meledak, penuh dengan rasa bahagia yang membuncah.


Ia meraih leher isterinya dan menciumnya lembut. Memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh wajah isterinya.


Masih tetap memegang leher isterinya, mata Chris berkaca-kaca ketika memandang Rina.


"Kamu harus tahu isteriku. Pada kenyataannya, I love you more. I really love you more Rin."


Mata Rina bergerak-gerak menatap suaminya, tidak sanggup mengatakan apapun. Sebelumnya, ia sama sekali tidak berani berharap bahwa impiannya dapat terkabulkan, mengingat situasi pernikahannya yang cukup kacau. Tapi kini?


Wanita itu mencium suaminya dengan penuh perasaan. Ia sangat ingin menumpahkan perasaannya pada suaminya saat ini.


Setelah itu, keduanya saling menyatukan kening dan memandang mata pasangan masing-masing.


Tersenyum, keduanya pun saling memeluk erat. Bersyukur pada akhirnya mereka dapat memiliki pasangan yang mereka butuhkan dalam hidup mereka.


-FIN-