
Pagi itu Chris bangun dengan perasaan yang segar bugar. Ia merasa tubuhnya lebih fit dibanding sebelumnya. Kilasan ingatan malam sebelumnya, membuat Chris langsung melihat posisi di sebelahnya dan mendapatinya kosong. Sedikit bingung, ia juga melihat ke sekeliling kamarnya dan melihat tidak ada yang aneh. Terburu-buru Chris mengenakan celana panjangnya dan bergegas keluar dari kamar. Ia segera menuju kamar Rina dan mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban. Cemas dengan keadaan isterinya, ia membukanya dan mendapati kamar tersebut kosong. Tempat tidurnya pun terlihat rapih.
Semakin bingung, Chris menuju dapur dan mendapati keadaan yang sama. Semuanya baik-baik saja dan tampak normal. Bahkan ia juga melihat tempat sampah telah kosong dan bersih. Tidak ada tanda-tanda bahwa sebelumnya ada perayaan atau sisa makanan yang berantakan. Hal ini membuat Chris memegang kepalanya, dan mulai bertanya-tanya apakah kejadian tadi malam itu mimpi? Meskipun situasi di dapur terlihat tidak ada masalah, namun ketika melihat ke sekelilingnya ia menyadari ada sesuatu yang kurang tapi tidak tahu apa.
Sambil duduk di pinggir tempat tidurnya, Chris menghela nafasnya. Ia yakin bahwa kejadian tadi malam nyata, tapi situasi di sekelilingnya justru menunjukkan sebaliknya. Sebenarnya apa yang terjadi? Sadar jika harus ke kantor, Chris pun bergegas untuk mandi. Ketika menggosok badannya, ia merasakan perih di bagian lengan dan punggungnya. Terlihat ada bekas merah yang memanjang, dan meski tidak dalam namun tetap terasa pedih saat terkena air sabun. Apa ini? Penasaran, ia pun mengeceknya di kaca kamar mandi dan terkejut ketika mendapati ada beberapa luka yang masih memerah, yang terlihat seperti cakaran.
Tanda di tubuhnya membuat Chris semakin yakin dengan kejadian tadi malam. Setelah menyelesaikan mandinya, Chris segera berpakaian dan mencari ponselnya. Ia mencari nomor isterinya dan menyadari bahwa tidak pernah menyimpannya. Dengan perasaan bersalah, ia menghubungi Rich. Setelah mendapatkan keinginannya, Chris pun menunggu jawaban dari isterinya dengan tidak sabar. Rina baru menjawabnya pada panggilan ke-2.
"Halo."
Terdengar sahutan pelan dan suara yang sedikit teredam.
"Ri-, Rina. Ini Chris." Suara Chris tercekat. Ia belum tahu mau mengatakan apa pada isterinya.
Setelah hening beberapa saat, suara di teleponnya kembali terdengar.
"Ada apa, Chris?"
"Aku-"
Chris bingung harus mulai dari mana, tapi ia harus mengucapkan sesuatu.
"Kamu ada dimana? Kenapa tidak menyiapkan sarapan tadi pagi?"
Baru sadar dengan yang diucapkannya, Chris merutuki kebodohannya.
Pertanyaannya barusan seolah-olah menyalahkan isterinya yang tidak menyiapkan sarapan. Padahal maksudnya tidak seperti itu, tapi karena tidak terbiasa berkomunikasi dengan isterinya secara wajar, maka ia juga bingung ketika harus mengatakan maksud sebenarnya. Dalam hatinya, ia benar-benar merasa khawatir dengan kondisi isterinya namun masih terlalu malu untuk bertanya.
Belum ada jawaban apapun, Chris hanya mendengar suara nafas yang pelan di ujung telepon.
Di bagian kota lain, Rina sedang berjuang menahan tangisnya. Setelah kejadian tadi malam, bisa-bisanya si suami masih meminta jatah sarapannya?
Fokus Rina teralih ketika mendengar namanya telah dipanggil. Saat ini, ia berada di salah satu rumah sakit yang ada di kotanya. Ia berniat untuk memeriksakan dirinya karena peristiwa malam sebelumnya. Rina memutuskan untuk sedapat mungkin mencegah kemungkinan dirinya hamil karena kejadian itu. Seberapa besar pun cinta Rina pada Chris, ia sadar tidak ingin calon anaknya tumbuh dari hasil kejadian yang traumatis bagi orang tuanya.
"Rina?"
Sedikit tidak sabar Chris bertanya, dan ia penasaran dengan lokasi tempat Rina berada ketika mendengar silih berganti panggilan yang tampaknya seperti di rumah sakit.
"Nanti kuminta Ibu Megan untuk menyiapkan sarapan. Saya harus pergi sekarang."
Setelah itu telepon terputus dan Chris tidak bisa menghubungi Rina kembali sepanjang hari.
Konsentrasi Chris terlihat kacau hari itu. Beberapa kali ia tidak fokus ketika memeriksa dokumen, yang membuatnya harus mengulangi pekerjaannya hingga berkali-kali. Untungnya tidak ada pertemuan penting yang harus dilakukannya. Kondisi ini pun membuatnya terpaksa harus bekerja lembur dan pulang ke rumah agak larut.
Ketika sampai di apartemen, Chris pun langsung menuju kamar isterinya dan mengetuk pintunya. Hasilnya tetap tidak ada jawaban, dan kondisi kamarnya pun sama seperti tadi pagi. Seolah-olah Rina tidak pulang ke rumah, padahal jam sudah menunjukkan pukul 21.00 lebih. Otomatis Chris langsung menghubungi isterinya kembali, dan tetap tidak bisa tersambung. Chris curiga bahwa Rina telah memblokir nomornya. Apa mungkin?
Pertanyaan demi pertanyaan masih berputar di benaknya, ketika tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Berbalik, Chris melihat isterinya memasuki ruang tengah dan tampak terkejut ketika melihat suaminya berada di depan kamarnya. Sekilas, Chris dapat melihat sorot ketakutan dari mata isterinya dan rasa bersalah pun kembali menyerangnya. Ia berusaha melangkah mendekati Rina, namun melihat isterinya mundur maka Chris pun memutuskan untuk tidak memaksakan dirinya dan berhenti pada jarak yang dirasa aman.
Chris menunjukkan ponsel ditangannya dan berkata, "Nomormu tidak bisa dihubungi."
"Maaf. Tadi kumatikan."
Setelah menyalakan ponselnya kembali, Rina menatap Chris dan menanyakan alasan kenapa mencarinya. Sepanjang hari, ia melakukan pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter kandungan. Ia juga menyempatkan datang ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya dan mendapatkan kabar tidak terduga. Pikirannya yang kalut dan ditambah dengan masalah-masalah lain, membuatnya memutuskan untuk tidak menghidupkan ponselnya dulu hari itu.
Merasa lega karena isterinya tidak menghindari dirinya, Chris pun meminta penjelasan dari Rina mengenai hal yang dilakukannya sepanjang hari di rumah sakit. Sejenak Rina tampak ragu untuk memberikan penjelasan sebenarnya, dan akhirnya memutuskan untuk mengatakan bahwa ia hanya mengunjungi ayahnya di sana. Ia tidak punya kekuatan untuk bertengkar dengan Chris mengenai masalah yang baru, karena ia juga tidak tahu pendapat suaminya mengenai masalah anak mengingat mereka pernah bertengkar cukup hebat beberapa waktu lalu. Rina berfikir, lebih baik ia menghindari terjadinya masalah baru bila masalah yang ada di depan mata sendiri belum terselesaikan.
Untuk memberi kekuatan pada dirinya, Rina pun menyenderkan tangannya di sofa. Posisinya terlihat santai, tapi Chris tahu isterinya tetap waspada menghadapi dirinya. Melihat suaminya diam saja dan tidak berkomentar mengenai penjelasannya, Rina memutuskan bahwa pembicaraan mereka sudah berakhir.
"Ada lagi, Chris? Kalau tidak, saya mau ke kamar."
Ini kali kedua di hari yang sama, Chris mendengar nada suara isterinya yang dingin dan formal.
Selama ini, selalu dirinya-lah yang berusaha menjaga jarak dengan isterinya tapi sekarang, Chris merasa Rina-lah yang mulai menjauhi dirinya. Dulu meski mereka bertengkar, isterinya tidak pernah bersikap dingin padanya dan tetap berusaha melayaninya. Tapi sekarang, Chris merasa Rina mulai tidak peduli padanya. Isterinya bahkan tidak menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Hatinya merasa gelisah. Ia tidak menyukai perubahan perilaku isterinya.
"Chris?"
Rina mulai tidak sabar menghadapi sikap suaminya yang tidak jelas. Ia sudah menghadapi hari yang buruk, dan perilaku suaminya ini mulai membuat emosinya terpancing.
"Hmmm, mengenai tadi malam-" Chris memulai tapi langsung dipotong oleh isterinya.
"Mengenai tadi malam, tidak usah difikirkan. Hal itu sudah terjadi dan tidak untuk disesali."
Rina berusaha menjawab tegas. Ia tidak ingin mengungkitnya kembali dan secepatnya harus melupakan peristiwa buruk tersebut.
Sambil mencengkram sofa yang sedang dipegangnya, ia melanjutkan, "Anggap saja itu-"
Chris menunggu Rina melanjutkan, tapi isterinya malah terdiam. Matanya terlihat menerawang ke arah ruang makan. Dalam hatinya, Rina benar-benar menyesali kebodohannya. Untuk apa dia susah-susah mempersiapkan semua itu kalau ternyata Chris membencinya. Apapun yang ia lakukan akan tetap tidak ada harganya di mata suaminya. Mengingat peristiwa yang menimpanya tadi malam, membuat mata Rina mulai berair.
"Rina?" Chris bertanya hati-hati.
Mendengar suara Chris, Rina mengerjapkan mata dan berusaha mengusir bayang-bayang tadi malam yang masih menghantuinya. Ia memandang sosok suami yang ada di depannya. Suaminya yang tampan dan tampak sempurna. Bagi perempuan lain, mungkin bisa menikahi pria seperti Chris adalah impian mereka. Tapi bagi Rina, impiannya adalah agar bisa menikahi pria yang mencintai dirinya, melebihi ia mencintai pria tersebut. Seegois itulah dirinya, karena ia sangat takut untuk ditinggalkan. Tapi kenyataannya, sekarang ia malah mencintai seorang pria yang jelas-jelas membenci dirinya. Mungkin ini karma karena dirinya yang terlalu serakah.
Dulu, Rina sempat memiliki seorang adik tapi meninggal karena kecelakaan. Saat itu, Rina merasa sebagai seorang kakak yang gagal melindungi adiknya. Butuh waktu bertahun-tahun bagi dirinya dan orang tuanya untuk pulih dari kesedihan itu, dan tidak lama kemudian ibunya pun menyusul sang adik. Mengalami kehilangan dari 2 orang yang sangat disayanginya membuat Rina menjadi pribadi yang mungkin terlihat tegar di luar, tapi sebenarnya ia rapuh di dalam. Saat ini, ia hanya tinggal memiliki ayahnya dan informasi yang dikatakan dokter tadi siang berpotensi memupus harapan kesembuhannya. Jika ayahnya pun meninggalkan dirinya, Rina tidak tahu bagaimana dan untuk apa ia harus bertahan untuk tetap hidup.
Tapi tentu saja, Rina bukanlah wanita yang lemah dan ia pun tidak mau hidup sebagai pecundang, setidaknya di mata orang lain. Sambil menegakkan kepalanya, akhirnya Rina sudah memutuskan langkah apa yang akan diambilnya nanti. Ia kemudian melewati tubuh suaminya dengan percaya diri dan menuju kamar tidurnya. Sebelum menutup pintu kamarnya di depan muka Chris, ia pun berkata dengan dingin.
"Anggap saja itu pembayaran bunga dari hutangku, yang selama ini masih tertunda."
Kembali ke masa sekarang.
Mengingat perkataan Rina malam itu membuat hati Chris kembali berdenyut sakit. Ia tahu bahwa ia telah melukai isterinya secara fisik, tapi hal yang dikatakan oleh isterinya saat itu menorehkan luka yang lebih besar di hati Chris tanpa mau diakuinya. Ia mengingat bahwa setelah kembali ke kamarnya sendiri, ia tidak bisa tidur hingga pagi hanya memikirkan kata-kata yang dilontarkan isterinya. Ia merasa telah menjadi seorang suami yang brengsek. Beberapa kali dirinya mencoba untuk berbicara dari hati ke hati dengan Rina, tapi isterinya selalu menghindar dengan berbagai alasan.
Sambil memandang kertas putih di depannya, Chris mulai bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia mencoba untuk berfikir lebih objektif ketika menelaah mengenai kata-kata dan perilaku isterinya selama ini. Jika memang Rina mengincar uang Chris, kenapa isterinya tidak membawa serta berbagai barang yang sudah diberikan Chris padanya? Rina bahkan jelas-jelas menolak pembagian harta dari Chris. Dan jika memang isterinya berniat menghilang pura-pura untuk memancingnya, ia tidak akan seberani itu untuk langsung menandatangani surat cerai mereka. Apakah ia memang telah salah menilai isterinya?
Pikirannya yang sedikit demi sedikit terbuka, membuat Chris menyadari 1 hal bahwa ia mulai menyesali keputusannya pernah mengajukan permintaan cerai pada isterinya.