
Kembali ke masa sekarang.
Ingatan-ingatan masa lalu Chris tentang isterinya, membuatnya tidak punya keinginan untuk tidur kembali. Ia memindahkan posisi badannya dan bersiap untuk bangun dari tempat tidur. Kenangan-kenangannya bersama Rina mulai membuatnya merasa sulit bernafas tanpa alasan. Ia butuh udara segar.
Tiba-tiba Chris merasa badannya berkeringat dan perutnya terasa mual. Dengan terbirit-birit, pria itu berlari ke kamar mandi saat cairan dalam tubuhnya memaksa untuk keluar. Sambil jongkok, ia memuntahkan sebagian makan siangnya ke dalam closet. Sepertinya maag-nya kembali kambuh, karena pola makannya yang mulai berantakan beberapa minggu ini. Biasanya Chris tidak mengkhawatirkan penyakitnya saat isterinya masih rajin memasak, tapi nampaknya mulai sekarang ia harus kembali ke rutinitas sebelumnya.
Setelah dirasa perutnya membaik, dengan pelan Chris bangkit dari lantai dan membasuh mukanya. Ia melihat lingkaran hitam yang jelas di bawah matanya. Bibirnya pun tampak pucat. Ia terlihat seperti mayat hidup. Kapan terakhir kalinya ia terlihat seperti ini? Ia tidak bisa mengingatnya. Sepertinya puluhan tahun yang lalu, ketika ayahnya ketahuan berselingkuh dari ibunya dan meninggalkan mereka berdua.
Saat itu, Chris merasa hidupnya hancur karena sosok sang ayah yang menjadi kebanggaannya ternyata melakukan kesalahan. Dan kesalahan itu fatal, karena ia bermain gila dengan teman isterinya sendiri. Betapa memuakkan. Sejak saat itu Chris bersumpah, tidak akan menjadi seperti ayahnya. Meski hubungan mereka akhirnya membaik, bahkan ia menyayangi adik-adik tirinya tapi luka tersebut masih membekas, dan tidak akan pernah hilang.
Chris akhirnya memutuskan untuk menyiapkan sedikit makanan bagi dirinya sendiri. Sepertinya tadi ia sempat melihat beberapa kotak cereal yang masih belum dibuka di lemari dapur, dan juga sekotak susu di dalam kulkas. Ia merasa berterima kasih isterinya masih meninggalkan makanan kering untuknya. Setidaknya ia tidak akan kelaparan malam ini. Sambil keluar menuju dapur, Chris membawa serta barang-barang dari tempat tidur. Ia ingin tahu, apa yang isterinya tulis dalam secarik kertas yang ditinggalkannya.
Ketika dirasa dirinya mulai membaik karena perut yang sudah terisi, pria itu membuka dokumen yang dibawanya. Ia tahu itu adalah dokumen perceraian, dan seperti yang sudah diduga Rina telah membubuhkan tanda tangannya. Terdapat beberapa pasal yang dicoret oleh isterinya, dan semuanya membahas tentang pembagian harta dari Chris untuk Rina. Semua coretan tersebut dibubuhi paraf, yang menyatakan bahwa coretan itu dilakukan oleh Rina dengan sadar. Entah apa alasannya, hati Chris merasa sakit dan matanya mulai berair. Ia segera menutup dokumen tersebut dan sedikit membantingnya di meja makan.
Selanjutnya, Chris menatap nanar kertas putih yang ada di depannya. Ia tidak tahu apa isinya, tapi ia berani bertaruh bahwa apapun yang tertulis di dalamnya akan membuat pria itu menyesali semua yang telah dilakukannya selama ini. Menutup matanya, belum pernah Chris merasa setakut ini dalam hidupnya. Ia pria yang rasional dan logis, percaya bahwa setiap masalah pasti ada solusinya seberapa sulit pun masalah tersebut. Namun kali ini, ia benar-benar merasa takut. Ia tidak mau membacanya, tapi tahu bahwa ia harus membacanya.
Chris mengepalkan kedua tangannya dengan erat sampai ia merasa sakit, ketika mengingat betapa bejat dan fatalnya kesalahan yang dilakukannya pada isterinya malam itu.
Flashback 4 minggu yang lalu.
Rina memandang buku nikahnya dengan Chris dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa bahagia sudah bisa menikah dan berhasil menjalaninya selama 1 tahun ini. Namun di sisi lain, ia merasa pernikahannya di ujung tanduk. Ia mengingat perkataan Chris beberapa bulan lalu dan mengeluarkan dokumen terkutuk itu dari laci meja riasnya. Rina belum menandatanganinya, dan tidak akan pernah. Selama masih bisa, ia akan mencoba sekuat tenaga mempertahankan pernikahannya dengan Chris. Rina tahu dan yakin, suaminya adalah orang baik dan akan menyadari perasaannya. Ia tidak percaya bahwa selama 1 tahun menjalani pernikahan dengannya, suaminya tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Mengembalikan semuanya dengan hati-hati ke dalam laci, Rina bersiap untuk mengadakan pesta kejutan untuk Chris. Ia akan membuat suaminya menjalani kewajibannya malam ini. Rina ingin agar mereka dapat menjalani pernikahan ini dengan normal, seperti pasangan lainnya. Bagaimana pun, ia wanita yang normal dan menginginkan pasangan yang dapat memberikan kepuasan baginya. Muka Rina memerah mengingat hal yang akan dilakukannya malam ini. Entah dari mana keberaniannya, namun melihat contoh kehidupan suami-isteri yang bahagia dari orang tuanya, membuat Rina bertekad menjalankan rencananya.
Rina mematut dirinya di hadapan kaca lemari bajunya. Baru kali ini ia menggunakan kembali gaun pemberian dari Chris. Selama ini, sebisa mungkin ia tidak mengenakannya karena merasa tidak nyaman. Ia merasa gaun-gaun tersebut bukanlah dirinya dan kebanyakan terlalu terbuka. Seperti gaun hitam yang sedang dipakainya, memiliki garis leher yang rendah serta memperlihatkan belahan dadanya. Dan meski panjang sampai ke mata kaki, tapi memiliki belahan yang tinggi sampai ke tengah pahanya. Jika bukan karena rencananya, sepertinya seumur hidup pun Rina tidak akan mau memakainya meski dibayar.
Ia juga menyadari bahwa wajahnya biasa-biasa saja. Hal yang membuatnya berbeda mungkin kedua matanya yang besar dan bibirnya yang cukup tebal. Karena tidak pernah memakai riasan berlebih ketika bekerja, membuat Rina cukup kaget saat menyadari bahwa ia bisa terlihat seksi jika mau berdandan sedikit tebal. Anugerah lainnya adalah bentuk badannya yang porposional, dengan tinggi badan yang sedang dan kedua aset yang tadinya tidak disadari dimiliki olehnya. Gaun ini benar-benar menonjolkan semuanya. Setelah puas dengan penampilannya, ia pun keluar dari kamar tidurnya.
Di ruang makan, Rina sudah mempersiapkan kue ulang tahun pernikahan yang dibuatnya sendiri dan beraneka masakan lainnya. Ia sengaja mengambil cuti dari kantornya untuk mempersiapkan hari spesial ini. Rina memandang sekelilingnya dengan perasaan bahagia dan merasa bahwa malam ini akan berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Ia akan berusaha mengajak Chris menikmati hidangan, berbicara dari hati ke hati dan akhirnya menjalani kehidupan pernikahan yang seutuhnya. Ia bahkan sudah pergi ke spa pagi tadi untuk membuat kulitnya berbau harum dan terlihat lebih cerah. Dengan tidak sabar, Rina pun duduk di sofa ruang tengah untuk menunggu suaminya pulang.
***
Detik demi detik berlalu menjadi menit, dari menit menjadi jam, dari 1 jam menjadi 2 jam, dan selanjutnya sampai jam dinding pun menunjukkan pukul 11 malam. Dan Chris belum pulang ke rumah. Rina mulai merasa cemas, karena selama ini Chris belum pernah pulang selarut ini. Bisanya suaminya akan pulang jam 7 malam, dan paling larut jam 10. Tidak pernah semalam ini. Dengan ragu Rina mencoba menghubungi Rich. Ia tidak pernah berani menghubungi suaminya, karena hatinya masih belum siap bila menghadapi penolakan.
"Halo." Rich menjawab, dan suaranya terdengar tegang.
Ketika mendengar suara Rich, Rina langsung menghela nafas lega.
"Rich! Syukurlah. Apa Chris bersamamu?"
"Ya. Kami sedang menuju apartemen." Rich menjawab singkat.
Sayup-sayup, Rina bisa mendengar suara Chris bertanya pada Rich tapi tidak terdengar apa pertanyaannya. Tanpa berkata apapun lagi, telepon diputuskan oleh pihak Rich.
Merasa ada yang tidak beres, Rina memutuskan untuk tidak menghubungi Rich kembali dan hanya akan menunggu sampai Chris sampai ke rumah. Rina mulai merasa gugup, namun ia tetap bertekad akan melakukan rencananya apapun yang terjadi. Sambil *******-***** tangannya dengan gelisah, ia berulang kali menatap pintu depan dan sedikit melonjak dari duduknya ketika akhirnya pintu itu terbuka.
Saat Chris masuk, Rina merasakan aura yang berbeda dari suaminya. Suaminya terlihat sedikit... menakutkan? Wajahnya terlihat kusut, jas dan kemeja yang biasanya masih rapih terpakai sudah kusut, dengan dasi yang juga telah dilonggarkan. Rambut Chris yang biasanya masih rapih ter-gel, terlihat acak-acakan. Yang lebih menyeramkan, Rina melihat kedua buku jari jemari Chris memerah dan sedikit mengeluarkan darah. Sebenarnya apa yang terjadi?
Bukan maksud Chris untuk melampiaskan kemarahannya pada isterinya, bukan maksud Chris untuk menyakiti isterinya, bukan maksud Chris untuk tidak menghargai jerih payah Rina mempersiapkan semuanya. Tapi entah mengapa, pemandangan di depannya membuatnya muak dan secara tidak sadar membuatnya melemparkan kue pernikahan yang telah disiapkan oleh isterinya dengan susah payah ke atas lantai.
"Chris!"
Tanpa sadar Rina menjerit. Ia menatap marah pada suaminya, dan melihat kerja kerasnya sepanjang siang menjadi bongkahan sampah di lantai. Sia-sia semuanya.
Mendengar suara isterinya membuat Chris berbalik. Dan ketika melihat penampilan Rina, emosinya menjadi semakin memuncak. Tanpa bisa terkontrol, ia pun mengeluarkan perkataan yang sangat kasar pada isterinya yang tidak bersalah.
"Apakah kau mau menjadi pelacur?"
Rina tampak shock mendengar ucapan Chris. Perlahan, rona wajahnya mulai memucat.
Melihat Rina yang diam, tidak membuat emosi Chris mereda. Ia justru mulai berjalan mendekat ke isterinya dengan posisi mengancam.
"Katakan! Apa kau mau menjadi pelacur?"
Sadar adanya bahaya, sudah terlambat bagi Rina untuk lari menyelamatkan diri.
Dengan mudah Chris membopong tubuh isterinya dan membawanya ke kamar tidurnya. Dan dengan seenaknya pun Chris menendang pintu kamarnya sampai tertutup dan melemparkan tubuh Rina ke atas tempat tidur. Rina yang ketakutan berusaha untuk turun dari tempat tidur, tapi Chris menarik gaunnya sampai sobek tidak karuan. Sekuat tenaga Rina berusaha untuk melarikan diri, namun apa daya tubuh suaminya yang besar dan kuat dengan mudah berhasil membuatnya terkungkung di bawahnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Rina melotot pada suaminya.
"Sadarlah Chris!"
Chris terkekeh di atasnya. Ia mulai membuka seluruh pakaiannya dengan serampangan, memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang sebelumnya belum pernah dilihat oleh Rina.
"Sadar? Aku sadar sesadar-sadarnya."
Rina berusaha menggeliat-geliat untuk keluar dari kungkungan suaminya, tapi tanpa hasil sama sekali. Upayanya malah membuat gaunnya semakin terbuka dan berantakan. Pemandangan ini membuat Chris malah semakin marah dan libidonya mulai naik. Ia tadinya hanya sekedar ingin mengajari isterinya saja, tapi tubuh isterinya yang baru pertama kali dilihatnya membuat naluri kelelakiannya tampak tersulut. Selama 38 tahun dalam hidupnya, ia belum pernah berhasil membobol satu pun gawang. Apakah sekarang saatnya?
Benar seperti kata teman-temannya, bagian ************ memang brengsek. Chris merasa akal sehatnya mulai meninggalkan otaknya ketika ia akhirnya menyentuh tubuh Rina dengan kasar. Rina mulai menjerit ketakutan ketika tangan-tangan Chris mulai menggerayangi dirinya. Tubuhnya memang akhirnya mulai memberikan respon terhadap sentuhan suaminya, karena ia mencintainya. Tapi hati Rina terasa sakit luar biasa ketika akhirnya Chris mengambil haknya sebagai seorang suami dengan cara paksa.
Sepanjang malam Chris menggagahinya berkali-kali tanpa ampun. Ia seperti tidak pernah merasa puas. Ketika akhirnya suaminya kelelahan, ia pun ambruk di atas tubuh isterinya. Dalam kesadarannya yang tipis, ia sempat memandang wajah isterinya yang terlihat kesakitan dengan mata yang tertutup dan berurai air mata. Rasa penyesalan mulai merayap dalam hatinya, dan ia pun berusaha memeluk tubuh mungil isterinya untuk menghiburnya. Namun apa daya, rasa lelah mulai menggerogotinya untuk masuk dalam dunia mimpi.
Ketika melihat Chris sudah lelap dalam tidurnya, perlahan Rina pun bangkit dan dengan menahan sakit, mulai memunguti sisa-sisa dari gaunnya yang sudah tidak berbentuk. Setelah memastikan tidak ada bekas yang tersisa, Rina pun meninggalkan kamar tidur suaminya menuju kamarnya sendiri dengan tertatih-tatih. Bagian kewanitaannya terasa sakit, dan ia melihat beberapa bekas ciuman dan remasan yang mulai membiru di dada serta perutnya. Menahan rasa mual, ia merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
Rina menyetel keran shower dengan siraman yang kuat dan suhu yang cukup panas. Ia menggosok badannya dengan kuat dan sambil menangis merintih dalam hati. Bukan ini yang diinginkannya. Bukan ini yang diinginkannya. Bukan ini yang diinginkannya. Rina akhirnya berhenti menggosok badannya dan terduduk di lantai kamar mandi sambil meremas rambutnya dengan kencang. Ia akhirnya memeluk tubuhnya sendiri dan bergelung seperti bola sambil terus berucap pelan, "Bukan ini yang kuinginkan. Bukan ini yang kuinginkan..."
Setelah puas membersihkan tubuhnya, Rina pun kembali ke dapur dan memaksa dirinya untuk membereskan kekacauan yang telah dibuat suaminya. Ia tidak mau permasalahan rumah tangganya sampai diketahui oleh ibu Megan besok pagi. Semua masakan yang telah dibuatnya tadi siang pun langsung dibuangnya ke tempat sampah. Ketika selesai, dapur tersebut sangat bersih dan terlihat seperti tidak pernah ada kejadian apapun sebelumnya.
Berusaha menenangkan diri, Rina membuat teh panas untuk dirinya dan duduk termenung di meja makan. Dengan sisa akal sehatnya, ia berusaha menelaah kehidupan perkawinannya selama ini. Yang awalnya ia merasa yakin untuk mempertahankan pernikahannya, mulai terselip keraguan-keraguan terutama dengan kejadian malam ini. Rina merasa hanya ialah yang merasa bahwa kehidupan pernikahan mereka nyata, sedangkan dari pihak Chris ia tidak merasa yakin. Rina pun mulai membuka matanya yang selama ini tertutupi rasa cinta, bahwa Chris tidak pernah menunjukkan keinginan yang sama seperti dirinya.
Rina menengadahkan kepalanya ketika bulir air mata mulai turun di pipinya. Semakin ia berusaha menahan tangis, air matanya malah keluar semakin deras. Ia akhirnya menyadari bahwa Chris membenci dirinya. Suaminya tidak pernah suka padanya, dan tidak akan pernah terjadi. Selain latar belakang dan status sosial yang berbeda jauh, ia juga sadar bahwa pernikahannya didasari dengan sesuatu yang salah. Saat ini, Rina merasa kalah. Ia merasa sudah saatnya ia menyerah. Sudah saatnya ia berhenti untuk berharap...