Unsaying Words

Unsaying Words
BAB XI - Aku membutuhkanmu



Kembali ke masa sekarang.


Chris akhirnya memberanikan diri untuk membuka lipatan kertas putih di depannya. Tulisan yang tertera di dalamnya ternyata tidak sepanjang yang diperkirakannya. Tulisan tersebut tampak rapih dan ia pun membacanya.


Dear Chris,


Saat kamu membaca surat ini, aku mungkin sudah pergi. Aku ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya selama ini tidak pernah bisa kuutarakan secara langsung, karena memang tidak ada kesempatan. Aku harap kamu mau membacanya.


Chris seperti katamu, aku memang menerima pernikahan ini karena uang, untuk pengobatan ayahku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku ingin mencoba menjadi isterimu yang sesungguhnya. Kenapa? Karena aku juga ingin memiliki rumah tangga bahagia, seperti kedua orangtuaku. Bagiku, pernikahan adalah sekali seumur hidup.


Tapi ternyata memang tidak semudah itu. Aku benar-benar meminta maaf sudah menyeretmu dan keluargamu dalam masalah pribadiku. Aku merasa telah menghancurkan kebahagian dan masa depanmu. Maafkan juga untuk keegoisanku yang berniat mempertahankan pernikahan ini. Aku harap keputusanku ini tidak terlalu terlambat.


Mengenai pembagian harta yang kamu sertakan, aku tidak mau menerimanya. Aku merasa bantuanmu dan keluargamu sudah cukup. Uang yang kalian berikan sangat banyak, dan bahkan aku pun tidak akan pernah bisa membayarnya jika bukan karena pernikahan ini. Aku tidak sanggup bila harus menanggung hutang lagi.


Inilah yang ingin kusampaikan saat kita sarapan pagi waktu itu. Sejujurnya, aku benar-benar merasa bahagia karena itu adalah pertama kalinya kita makan bersama. Terima kasih Chris.


Aku berharap kamu menemukan seseorang yang benar-benar kamu cintai dan ingin menghabiskan sisa hidupmu dengannya.


Sekali lagi maafkan aku Chris, dan terima kasih atas bantuannya selama ini.


-Rina


Chris meletakkan surat itu di meja makan dan menatapnya sendu. Ia benar-benar telah salah sangka pada isterinya. Tanpa diinginkannya, setetes air tampak mengalir di sudut matanya. Apa yang telah ia lakukan?


Malam itu, Chris tidak kembali ke kamarnya. Malam itu, ia hanya menatap kosong pada berkas-berkas yang ada di depannya. Merenungi dan menyesali semua hal yang telah dilakukannya. JIka waktu bisa diputar kembali, Chris berharap ia dapat bertemu dengan isterinya dalam keadaan dan situasi yang berbeda.


Jika waktu bisa diputar kembali, ia akan berusaha untuk pulang ke rumah di hari itu untuk bertemu dengan isterinya...


Jika waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan pernah mengajukan cerai pada isterinya...


Jika waktu bisa diputar kembali...


***


"Chris!"


"Chris!"


Dari ruangan depan terdengar teriakan seorang wanita tua yang memanggil anaknya. Ibu Chris sebelumnya telah datang ke kantor, tapi tidak menemukan anaknya di sana. Rich, asisten Chris pun tampak kewalahan menjawab pertanyaan ibu bosnya, mengingat saat itu dirinya juga lagi ruwet mengatur ulang jadwal bosnya yang tiba-tiba memutuskan tidak masuk kantor dan membereskan berbagai laporan yang harus diselesaikan ketika mereka kembali dari perjalanan dinas. Oh, harinya benar-benar buruk!


"Rich, dimana Chris?"


Ibu Chris tiba-tiba menerobos ruangan kerjanya tanpa mengetuk.


"Nyonya Dieter, Pak Dieter hari ini tidak masuk kantor." Jawab Rich lelah.


"Ha? Bukannya kalian baru pulang dinas ya? Kenapa dia bisa tidak datang ke kantor?"


"Pak Dieter sedang sakit."


Mendengar jawaban itu, ibu Chris malah tertawa terbahak-bahak.


"Rich, jangan bercanda kamu!"


Ia malah memukul lengan Rich dengan cukup keras, kemudian duduk di salah satu kursi di ruangan dan mengambil majalah bisnis yang tergeletak.


"Chris tidak pernah sakit. Bahkan jika sakit pun, ia akan memaksakan dirinya masuk kerja. Anak itu benar-benar gila kerja."


Ibu Chris dengan santai membolak-balik halaman majalah dan setelah beberapa saat tidak mendengar jawaban Rich, ia pun mendongakkan kepalanya.


"Rich?" Tanyanya, setelah melihat ekspresi Rich yang tampak aneh.


"Pak Dieter..."


Rich tampak merenung sebelum melanjutkan dengan ragu-ragu, "Pak Dieter mengatakan kalau dia sedang sakit."


Jawaban Rich tampak membunyikan alarm dalam benak ibu Chris. Ia tampak tegang dan tiba-tiba mengambil tasnya.


"Nyonya?"


"Saya akan ke tempat Chris. Kamu stand by di sini."


Setelah mengatakan itu, ia pun pergi meninggalkan ruangan dan dalam 30 menit sudah berada di dalam apartemen satu-satunya anaknya. Sang sopir yang ditinggalkannya di parkiran tampak menua 10 tahun, karena teriakan majikannya sepanjang jalan.


Ketika masuk, entah mengapa Ibu Chris merasakan hawa yang kosong. Tidak seperti biasanya. Setiap ia berkunjung, biasanya menantunya sudah mempersiapkan kue-kue dan masakan yang istimewa. Ruangan akan terasa hangat dan berbau harum. Ia tidak menyangka bila kepergian Rina akan memberikan pengaruh yang signifikan untuk apartemen anaknya.


Keluar dari kamar, pandangannya beralih pada kamar tamu yang sebelumnya tidak pernah dihuni. Tanpa mereka katakan pun, ibu Chris tahu bahwa pasangan tersebut tidak pernah menempati satu kamar. Ia tidak mau mengatakan apapun, karena tidak mau mencampuri urusan mereka. Harapannya hanya agar waktu dapat mempersatukan keduanya.


Melangkah ragu, dengan perlahan, ia pun membuka pintu kamar tersebut. Mungkinkah?


Pandangan yang ada di depan matanya, mau tidak mau membuat kedua mata wanita tua tersebut mulai berair. Chris tampak meringkuk di kasur dan seperti anak kecil, mendekap erat bantal yang ada di dadanya. Ia tampak rapuh dan menyedihkan.


"Oh, Chris..." Ibu Chris menutup mulutnya. Pemandangan ini sama persis ketika Chris mengetahui perselingkuhan ayahnya.


Saat itu, Chris hanya menghabiskan waktunya di kamar dan tidak mau bertemu dengan siapapun. Tampangnya sudah tidak karuan, dan meski ia telah memilih untuk membela ibunya namun hati Chris remaja tampak hancur. Dan hal itu terulang kembali saat ini.


Menghampiri anaknya, ibu Chris menyentuh kening anaknya dengan lembut. Terasa panas.


Menyadari sentuhan di dahinya, secara otomatis Chris memegang tangan itu dengan cepat.


"Rina?" Tanyanya dengan suara serak.


Ia pun mendongakkan kepalanya, sinar matanya terlihat penuh harap.


Melihat wajah ibunya, Chris pun berusaha untuk bangkit dari tidurnya, dan duduk dengan susah payah. Kepalanya terasa sakit.


"Mamah? Kenapa disini?"


Meletakkan kepalanya ke kepala tempat tidur, ia pun memejamkan matanya sambil mengurut keningnya.


Sang ibu hanya menatap iba pada anaknya, kemudian duduk di sisinya.


"Kapan terakhir kali kamu makan?"


"Entahlah, mah... Tadi malam sepertinya..."


Si ibu kemudian mengeluarkan ponselnya dari tas untuk menghubungi seseorang.


Menyadari sang ibu memanggil dokter keluarga, Chris tampak ingin protes.


"Mah, tidak usah panggil dr. Herman. Chris-"


"Diam kamu!" Bentakkan ibunya membungkam kata-kata Chris.


Sang ibu pun segera ke kamar mandi dan tidak lama kemudian membawa segumpal handuk kecil yang telah dibasahi.


Dengan lembut sang ibu meletakkan handuk basah itu ke kepala anaknya dan berkata ketus.


"Sudah tahu kamu punya maag, malah tidak jaga makan. Kalau kamu sakit, siapa yang mau merawat kamu?"


Chris terdiam mendengar omelan ibunya. Hatinya terasa nyeri kembali, menyadari bahwa ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ibunya.


Melihat anaknya hanya diam, sang ibu sengaja kembali mengucapkan kata-kata sindiran yang cukup kasar.


"Makanya, kalau punya isteri itu dijaga. Sekarang butuh kan?"


Chris hanya menurunkan handuk itu menutupi matanya. Ia tidak menjawab apapun.


"Mamah mau bikin bubur sambil tunggu dr. Herman. Kamu disini saja dulu."


Setelah itu, sang ibu pun keluar kamar. Menutup pintu, sejenak ia menarik nafas sedih.


Si ibu pun membuka pintu kulkas dan terkejut melihat tidak ada satu pun bahan masakan di sana. Oh, Rina betapa kejamnya dirimu pada suamimu...


Membuka-buka pintu lemari dapur, ia pun lega ketika menemukan tempat penyimpanan beras yang masih cukup penuh.


Sambil mempersiapkan makanan bubur untuk anaknya, ibu Chris pun memutuskan untuk meminta orang rumah berbelanja dan datang ke apartemen anaknya. Ia tidak mau sampai anaknya mati kelaparan di dalam rumahnya sendiri.


Sementara itu di dalam kamar, Chris hanya menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Ia pun mengambil bantal yang tadi dipeluknya dan mendekapnya erat-erat di wajahnya. Meski samar, setidaknya ia masih bisa mencium aroma isterinya di sana.


Ia tidak tahu mengenai perasaannya saat ini. Yang pasti, kepergian Rina membuatnya cukup terpuruk secara psikologis. Badannya saat ini terasa sakit, dan ia tidak bersemangat melakukan apapun. Satu-satunya yang dapat membuatnya tetap waras adalah berada di kamar isterinya dan memeluk bantalnya. Entah apa yang terjadi padanya.


"Rina..., dimana kamu?" Gumamnya tidak jelas, teredam bantal yang menutupi mukanya.


Samar-samar, Chris mendengar suara orang mengobrol di depan pintu kamarnya. Sepertinya dr. Herman sudah datang.


Pintu kamar terbuka, menampilkan seorang pria tua mengenakan jas putih. Raut mukanya terlihat prihatin ketika memperhatikan pria muda di depannya.


Ia mengenal Chris puluhan tahun lalu, sejak Chris masih remaja. Melihat kedua matanya yang dihiasi lingkaran hitam dan bibir pucatnya yang mulai terlihat pecah-pecah, dr. Herman hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Sepertinya penyakit anak muda ini kembali lagi.