
Tidak berapa lama kemudian, Rina dan Chris pun sudah berada dalam mobil.
Saat itu, Chris merasa kesulitan ketika duduk. Ia merasa sempit dan celingak-celinguk mencari pedal yang dapat memperbaiki posisi duduknya.
Melihat itu, secara spontan pun Rina menundukkan kepalanya dan meraih pedal yang ada di sebelah kiri pria tersebut. Posisinya seolah-olah memeluk pria itu dan Chris pun menarik nafasnya tajam.
"Ada di sebelah sini Chris."
Menyadari pria itu diam saja, Rina pun mendongakkan kepalanya.
Posisi wajah mereka sangat dekat. Rina bahkan bisa melihat bintik-bintik di kulit Chris yang menghiasi hidung mancungnya. Tatapan mereka terkunci beberapa saat.
Pandangan mata Chris perlahan mulai menurun, ke arah mulutnya. Menyadari wajah pria itu yang mulai condong ke arahnya, membuat Rina mengerjap dan segera kembali ke posisi duduknya.
"Kamu bisa memaju-mundurkan kursimu dengan pedal itu."
Chris yang baru tersadar, segera memundurkan kursinya.
Diam-diam, pria itu mengeluarkan nafas yang tanpa disadari ditahannya sejak tadi. Jantungnya masih berdebar-debar. Apa yang terjadi padanya?
Sepanjang perjalanan, ia bolak-balik melirik pada isterinya yang tampak fokus mengendarai mobilnya. Ia ingin mengajaknya mengobrol, tapi bingung harus mulai dari mana.
"Chris, kenapa kamu bisa sampai sakit?"
Suara Rina tiba-tiba memecahkan keheningan.
Karena kamu pergi. "Aku tidak tahu."
Sedikit menoleh padanya, kening Rina berkerut. "Kamu tidak lupa makan, kan?"
Karena kamu tidak memasak lagi. "Sedikit."
Mobil mereka berhenti sejenak di lampu merah. Isterinya terlihat ingin mengomel padanya, tapi tampak menahan diri.
"Chris, kamu tahu kalau kamu punya maag akut, kan?"
Kembalilah padaku. "Ya."
"Terus, kenapa kamu sampai tidak makan?"
Karena aku rindu padamu. "Aku tidak tahu."
Rina menarik nafas panjang, ia merasa jengkel dengan mantan suaminya yang senang sekali menjawab pertanyaannya dengan pendek-pendek.
"Chris..."
"Lampu sudah hijau."
Kata-kata Chris membuat Rina segera melajukan mobilnya kembali.
Tidak lama kemudian, Rina pun memarkirkan mobilnya di basement. Ia menoleh pada mantan suaminya.
"Kamu bisa ke atas sendiri, kan?"
Tidak. Chris dengan lambat membuka seat belt-nya. Otak cerdasnya berfikir keras.
Pria itu membuka pintu mobil dengan perlahan, dan dengan sengaja terlihat mau jatuh. Yah, ia memang masih pusing tapi tidak sepusing itu sampai mau jatuh.
"Chris!"
Rina memekik, dan tampak tergesa keluar dari mobil untuk membantunya.
"Aku akan mengantarmu ke atas."
Yes.
Wanita itu melingkarkan lengannya di pinggang Chris, tidak menyadari bahwa pria itu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Chris menyorongkan wajahnya ke kepala Rina, menghirup aroma rambutnya dengan rakus.
"Kamu tidak apa-apa, kan?"
Rina tampak khawatir, menyangka kalau pria itu akan pingsan lagi.
"Hemm..."
Setelah mereka sampai di depan pintu apartemen, Rina meminta kuncinya pada pria itu. Chris masih mengusel-usel wajahnya dalam rambut isterinya, tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai.
"Chris. Kunci?"
Saat itu, Rina benar-benar khawatir kalau Chris akan jatuh pingsan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana caranya dapat menyeret tubuh besar Chris nantinya kalau sampai hal itu terjadi.
"Chris?"
"Kantong."
"Jas."
Ia pun meraba-raba dada mantan suaminya tanpa bermaksud apapun. Akhirnya, Rina menemukan kunci itu di saku dalam jas pria itu.
Sentuhan Rina tampak membangkitkan sesuatu dalam diri Chris. Mukanya terasa hangat.
Setelah masuk, Rina langsung mengarah ke dalam kamar Chris dan membaringkan pria itu ke tempat tidurnya. Wanita itu terkejut ketika melihat wajah Chris yang terlihat memerah.
"Chris, kamu merasa sakit lagi?"
Dengan khawatir, Rina mengusap pipi pria itu dengan lembut.
Chris memalingkan wajahnya, ia hampir tidak tahan lagi.
"Tolong obat dari dr. Herman. Ada di meja dapur."
Mendengar informasi itu, Rina pun segera keluar dari kamar mencarinya. Melihat sang isteri sudah keluar, Chris segera ngibrit ke kamar mandi.
Di dapur, Rina pun menemukan kantong obat yang dicarinya. Ia memeriksanya dan menemukan bahwa itu adalah obat maag dan vitamin. Bisa-bisanya obat ini tertinggal di rumah. Ia akan memarahi Chris nanti.
Rina pun segera mempersiapkan air putih hangat untuk mantan suaminya. Dan iseng, ia membuka pintu kulkas.
Rina cukup terkejut melihat bahwa kulkas sudah terisi penuh dengan beragam bahan makanan. Apakah ibu Megan yang berbelanja?
Merasa lega meski dengan hati bertanya-tanya, ia pun segera kembali ke kamar Chris.
Sampai di kamar, ia tidak melihat mantan suaminya di tempat tidur. Mendengar suara dari arah kamar mandi, Rina pun mengetuk pintu itu pelan.
"Chris? Kamu tidak apa-apa?"
Tidak ada jawaban dari dalam. Rina pun menempelkan telinganya, berusaha mendengar apapun yang sedang terjadi di dalam.
Tiba-tiba, ia mendengar seperti suara rintihan pelan. Panik, Rina pun berusaha membuka pintu kamar mandi tapi ternyata dikunci dari dalam.
"Chris! Chris! Kamu tidak apa-apa?"
Rina menggedor-gedor pintu itu dan berusaha membukanya paksa.
Pintu tiba-tiba terbuka dari dalam, membuat Rina hampir terjatuh jika bukan karena tertahan pintu itu. Chris sedikit menongolkan kepalanya dari dalam dan dari penampilannya, Rina yakin bahwa pria itu tidak berpakaian sehelai pun.
"Aku baik-baik saja. Kamu tunggulah di situ."
"Tapi-"
Entah mengapa, melihat muka isterinya membuat Chris ingin menggodanya sedikit. Pria itu memperlihatkan sedikit pahanya yang jelas-jelas polos dan seolah-olah akan keluar dari pintu.
"Atau kamu mau masuk dan melihat aku mandi?"
"Hah?"
Tersadar bahwa pria itu hanya menggodanya, membuat Rina dengan marah membanting pintu kamar mandi.
Samar-samar, terdengar tawa dari dalam kamar mandi yang tertutup.
Bisa-bisanya pria itu bercanda di saat ia benar-benar mengkhawatirkannya.
Rina pun membanting pantatnya di kasur dan menghela nafasnya lelah. Akhir-akhir ini, ia mulai sering merasa capek. Dengan lembut, ia mengusap-usap perutnya yang rata.
Tiba-tiba matanya terasa berat dan tanpa sadar, ia pun membaringkan badannya di kasur. Sebentar saja, sampai Chris selesai mandi, pikirnya. Tidak lama, ia pun sudah terlelap.
Setengah jam kemudian, Chris pun keluar dari kamar mandi. Ia telah mencukur bersih bakal jenggotnya dan meski bawah matanya masih menghitam, tapi sinar matanya jauh berbeda dibanding pagi tadi. Ia merasa jauh lebih baik.
Melihat isterinya tertidur di tempat tidurnya membuat pria itu tersenyum.
Setelah meminum obatnya, ia pun menyusul isterinya. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Rina dan dengan hati-hati membalikkan tubuhnya.
Perlahan-lahan, Chris membuka satu demi satu kancing baju isterinya dan menyibaknya. Melihat pemandangan di depannya, dengan lembut ia menyurukkan kepalanya ke leher Rina, turun dengan sentuhan seringan bulu menyusuri dadanya.
Betapa inginnya ia menyentuh isterinya dengan bebas. Takut Rina akan terbangun, Chris pun hanya sedikit memberikan kecupan ringan di daerah-daerah yang diinginkannya. Setelah itu, ia pun segera mengancingkan baju isterinya kembali.
Wajah isterinya yang terlhat damai dalam tidurnya, membuat Chris tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Awalnya sentuhannya lembut, tapi lama-lama ia menjadi sedikit menuntut dan membuat Rina sedikit terganggu dalam tidurnya.
"Hmmmh..."
Sadar dengan kelakuannya, Chris pun menghentikan kegiatannya. Merasa terganggu, Rina pun membalikkan tubuhnya kembali untuk membelakangi Chris.
Pria itu pun kembali memeluk isterinya dari belakang. Salah satu tangannya mengusap-usap lembut punggung isterinya dan menyibakkan rambutnya ke samping. Sambil menyurukkan kembali wajahnya ke leher isterinya, ia pun mencium belakang leher Rina dengan lembut dan cukup lama. Betapa ia merindukan aroma ini.
Sejujurnya, Chris masih belum tahu bagaimana perasaannya pada isterinya. Namun yang jelas sudah ia sadari adalah, ternyata, ia sangat membutuhkan kehadirannya.
Dan ia akan melakukan apapun, untuk memastikan bahwa isterinya kembali padanya.