Unsaying Words

Unsaying Words
BAB XIII - Aku akan mempertahankanmu



Setelah memastikan Chris sudah makan dan meminum obatnya, Ibu Chris pun membawa piring bekas makan anaknya dan menaruhnya di wastafel.


Sambil mencuci, pikiran wanita tua itu mengingat paras anaknya yang tampak menyedihkan dan ia masih harus menunggu sampai anak itu dapat tertidur dengan tenang.


Mengeringkan tangannya dengan lap dapur, Ibu Chris melihat berkas-berkas yang masih ditinggalkan anaknya semalam di meja makan. Ia pun duduk di sana.


Saat datang tadi, ia sudah sempat melihat berkas-berkas tersebut dan melihat kalau ternyata menantunya telah menandatangani dokumen perceraian itu.


Ia sebenarnya tahu kalau anaknya tidak nyaman dengan pernikahannya, namun tidak pernah berani mengatakan pada ibunya. Mereka berdua bahkan memutuskan bersandiwara di depannya, membuat wanita tua itu akhirnya semakin mendesak keduanya untuk punya anak.


Sama sekali tidak pernah menyangka kalau anaknya serius dan ingin berpisah dari isterinya. Wanita tua itu mengusap matanya yang mengeluarkan air mata. Ia merasa bersalah pada anak dan mantunya. Semua ini terjadi karena dirinya. Maafkan mamah, Chris..., Rina...


Keesokan harinya, bel rumah berbunyi nyaring. Ketika dibuka, Ibu Chris melihat ternyata yang datang adalah Lukas, pengacara perusahaan.


"Selamat pagi, Nyonya Dieter." Sapa pria itu halus.


Pria yang bernama Lukas berperawakan sedang. Kulitnya putih bersih dan wajahnya sedikit feminim. Ia memiliki bibir berwarna merah dan hidung yang mancung.


Tidak akan ada yang menyangka kalau pria seperti itu akan bisa bersikap sadis saat berada di pengadilan. Tidak akan ada pula yang menyangka, bahwa pria itu gemar bermain perempuan dan berselingkuh berkali-kali di belakang isterinya. Pria yang benar-benar brengsek.


Chris dan ibunya sebenarnya tidak menyukai gaya hidup pria itu, tapi mengingat Lukas sangat kompeten di pekerjaannya dan ia pun tidak pernah mencampuradukkan kehidupan pribadi dan profesionalnya, membuat mereka akhirnya tutup mata mengenai hal itu.


"Lukas. Silahkan masuk. Kamu ingin bertemu Chris?"


"Benar Nyonya. Seharusnya kami bertemu di kantor, tapi karena Pak Dieter sakit, maka beliau meminta saya datang ke sini." Ia menjelaskan dengan simpatik.


"Tunggulah di sini. Saya akan memanggil Chris."


Setelah menyuruh Mba Sum menyiapkan air minum bagi pria itu, ibu Chris pun masuk ke kamar anaknya.


Tidak lama, wanita tua itu keluar kamar dan meminta Lukas untuk masuk. Anaknya ingin mereka berbicara di dalam kamar.


Sampai di kamar, pria perlente itu menutup pintu dan berbalik menghadap atasannya. Hilanglah sudah sikap sopan santunnya.


"Dieter, ada apa denganmu? Kenapa sampai tidak masuk kantor?"


Mereka berdua sebenarnya adalah teman kuliah dulu. Sebelumnya Lukas bekerja sebagai partner di salah satu kantor hukum yang terbesar di kota itu, tapi karena kecerobohannya ia akhirnya di pecat karena ketahuan berselingkuh dengan isteri salah satu teman kliennya.


Meski tidak berhubungan langsung dengan profesinya, tapi akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa partner seniornya ternyata sedang melindungi dirinya sendiri. Kalau ia tidak dipecat, maka klien itu akan membantu temannya membawa masalah ini ke ranah hukum.


Kejadian itu bukannya membuat Lukas jera, tapi ia justru menjadi lebih berhati-hati dalam memilih pasangan mainnya. Ia sedapat mungkin menghindari memilih mereka yang ternyata punya lingkaran pergaulan yang sama dengan dirinya.


Hal yang mungkin membuatnya cukup sengsara adalah ternyata kliennya ini menyebarkan berita kurang mengenakkan ke firma hukum lain, membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan pengganti.


Pada saat ia luntang-lantung itulah, Chris mengulurkan tangan untuknya. Membuat Lukas sangat berterima kasih pada temannya dan berjanji akan selalu membantunya. Meski ia tidak dapat berjanji untuk dapat mengubah gaya hidupnya.


"Aku sedang sakit."


"Ya, aku tahu kamu sedang sakit. Tapi kenapa?"


Lukas menghampiri temannya yang sedang duduk bersender di kepala tempat tidur. Mukanya masih terlihat pucat.


"Bagaimana kelanjutan kasus itu?" Chris mengalihkan pembicaraan.


Menyadari temannya belum mau bercerita, Lukas pun akhirnya mengikuti alur tersebut.


"Tenang saja. Sudah ditangani oleh bagian CorCom. Dia tidak akan bisa menuntut, justru saat inilah kita yang sedang mempersiapkan tuntutan untuknya. Ia bisa dipidana cukup lama."


Chris mengepalkan tangannya, mengingat ketika ia menghajar habis-habisan muka pria itu.


"Terus terang, aku juga tidak menyangka kalau dia pelakunya. Dia salah satu anak teman ayahmu, kan?"


"Ya. Aku juga tidak menyangka, orang yang pernah disekolahkan oleh ayahku ternyata berani menusuknya dari belakang."


"Dia sangat bodoh. Hanya untuk uang beberapa Milyar, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Kasihan isteri dan anaknya."


Chris mendengus sinis, "Kamu kasihan dengan keluarganya? Apa aku tidak salah dengar?"


Lukas mengangkat kedua tangannya, "Hei, bagaimana pun dia tulang punggung keluarganya. Setidaknya kalau kamu melakukan suatu kesalahan, pastikan keluargamu tidak kelaparan."


Saat ini, Chris sama sekali tidak mau berhubungan apapun dengan pria itu maupun keluarganya. Karena keluarganya sudah pasti ikut menikmati hasil uang haram suaminya.


"Oya, bagaimana dengan berkas yang dulu? Ini sudah 1 tahun kan? Apakah sudah ditandatangani?"


Lukas tiba-tiba bertanya, mengingat berkas perceraian yang dulu diurusnya untuk Chris. Ia bukan pengacara perceraian, namun mengingat Chris temannya maka ia mau membantunya.


Mendengarnya, Chris terdiam.


"Aku sudah bilang dari awal, sebaiknya kamu tidak menikahinya. Terlalu banyak yang dipertaruhkan."


"Ayolah Dieter, isterimu itu berasal dari kalangan biasa saja. Menikahinya tidak membawa keuntungan apapun untukmu. Tidak ada yang istimewa darinya, yah meski ia cukup manis. Tapi untung kamu akhirnya mau bercerai darinya."


Tidak menyadari temannya yang sedang mengepalkan tangannya, Lukas merangkul bahu Chris yang sedang duduk.


"Aku akan memperkenalkanmu dengan seorang wanita yang luar biasa. Saatnya kamu keluar dari tempurungmu, D. Kamu mau, kan?"


Dengan perlahan, Chris melepaskan tangan Lukas dari bahunya. Sedikit susah payah, ia berdiri dari duduknya. Kakinya yang sedikit gemetar, membuat Chris terpaksa bersender pada kepala tempat tidurnya.


"Isteriku memang sudah menandatanganinya, tapi dia tidak akan kemana-mana."


Lukas mengerutkan dahinya.


"Aku tidak mengerti maksudmu."


"Aku tidak akan menceraikannya."


"Kau gila, D!"


Pria itu sedikit marah pada temannya, susah payah ia berusaha mengurus surat perceraian untuk temannya hanya untuk dibatalkan?


Padahal saat itu, Chris-lah yang memaksa Lukas untuk membantunya. Dan setelah jadi, malah pria itu sendiri yang ingin membatalkannya.


Menahan diri melihat temannya yang sedang sakit, Lukas menarik nafas untuk menenangkan dirinya. Lukas orang yang cukup emosional, dan ia tidak suka pekerjaannya sia-sia.


"Boleh aku tahu alasannya?"


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, memperlihatkan ibu Chris yang tampak tidak suka.


"Ada apa ini? Kalian bertengkar?"


Kedua pria di depannya terdiam. Tidak ada yang bergerak atau pun mau berbicara.


"Chris, mamah mau menyerahkan ini padamu. Kamu sembarangan menaruhnya di meja makan. Jangan sampai ada yang melihat."


Melihat ibunya membawa berkas yang tadi ingin diambilnya, membuat Chris perlahan duduk kembali di tempat tidur. Ia menerima berkas itu dari ibunya.


"Terima kasih mah."


Setelah itu, ibunya langsung keluar. Tahu bahwa kedua pria itu akan melanjutkan pembicaraan mereka.


Chris menyerahkan dokumen perceraian itu pada Lukas.


"Jika kamu sudah mengurus apapun. Aku minta kamu membatalkannya."


Lukas membukanya dan alisnya berkerut dalam. "Isterimu..."


"Aku mohon padamu. Sebagai teman."


Kata-kata Chris membuat Lukas terdiam. Baru kali ini, ia mendengar nada putus asa dari temannya.


"Sekali lagi aku tanya padamu, D. Apa alasannya? Setidaknya aku berhak untuk tahu."


Pria itu terdiam, ia menunduk dalam.


"Aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin berpisah darinya."


"Kenapa?" Lukas tidak puas dengan jawaban Chris.


Menghela nafas, Chris mendongak memandang temannya.


"Aku membutuhkannya. Sangat membutuhkannya. Apakah itu cukup?"


Sorot mata Chris yang tajam dan menusuk, membuat Lukas memutuskan untuk mundur. Pria itu sudah mengambil keputusan, tidak ada yang akan bisa mengubahnya.


"Baiklah. Aku akan mengurusnya. Permisi." Lukas berbalik akan keluar kamar.


Tahu temannya marah. Chris memanggilnya.


"Lukas. Terima kasih."


Menoleh, Lukas melihat temannya sedang tersenyum padanya. Hal ini membuat pria itu membalas senyumnya kembali.


"Tidak masalah, D."


Setelah itu, ia pun keluar dari kamar. Meninggalkan Chris yang menunduk, menggenggam surat peninggalan dari Rina. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.