
"Haha, kau ingat ya?"
Diluar dugaan, ternyata Naoki masih ingat dengan kekuatan indigo-ku dan mengejutkannya tahu jika aku yang memanggil hantu suster tanpa kepala itu. Ya, ini semua adalah rencanaku dan Enji untuk mengerjai Naoki.
Awalnya hatiku sangat sedih saat melihat kepribadian Naoki yang lain. Bahkan saat dia mengusirku, tanpa pikir panjang aku langsung berpamitan pergi. Tapi Enji tidak menyerah begitu saja padaku dan ikut menyusul.
Saat aku sudah berada dilorong rumah sakit, Enji memanggil namaku dan secara refleks aku menengok. "Tolong maafkan kak Naoki, dia tidak bermaksud demikian." Ucapnya membela orang yang sudah menyakitiku. Tentu saja aku sedikit tidak percaya kepadanya karena pikiranku masih sensitif. Tapi Enji berusaha menjelaskan perlahan alasan dibalik sikap kasar Naoki yang membuatku mengusap kepala karena semakin frustasi.
Yang benar saja! Hanya karena ingin mendapat perhatian dan dipatuhi, Naoki rela membuang empatinya. Aku tahu dia adalah wakil OSIS dari Akbar, tapi aku tidak menyangka Naoki benar-benar menghayati perannya. "Astaga, kak Enji. Ego kak Naoki besar!" Enji mengangguk karena setuju dengan ucapanku. Kemudian membalas, "Andai saja ada sesuatu yang bisa membuatnya berubah."
Kata-kata Enji berhasil membuatku menciptakan ide brilian yang berbahaya. "Kita harus memberikannya sebuah pelajaran." Ucapku bergebu-gebu.
Akhirnya kami membuat rencana dadakan untuk membuat situasi menegangkan dimana Naoki terpaksa harus mengembalikan empatinya dan menolong yang kesulitan.
Cukup beresiko karena aku akan menggunakan kekuatanku lagi. Dan jika berhasil aku dan Enji akan berteriak seolah-olah dikejar hantu yang sebenarnya memang ada. Aku tidak mengkhawatirkan Akbar yang tidak mengetahui rencana ini, karena kami akan memberikannya semacam kode jika ini hanya sebagian dari rencana balas dendam. Tidak diberitahukan pun dia juga akan mengerti niat kami untuk mengubah Naoki kembali.
Akhirnya aku mengucapkan mantra ajaib-kalimat motivasi Albert Einstein- dan kekuatanku pun aktif. Tapi tidak disangka yang mendatangi kami adalah suster tanpa kepala yang membuat aku dan Enji spontan berteriak keras walaupun sudah tahu resikonya.
Sesuai rencana, kita akan masuk ke kamar kembali seperti orang yang ketakutan diburu. Dan berpura-pura disiksa oleh hantu suster tanpa kepala itu. Tapi yang ada diluar rencana adalah suster itu ternyata memiliki kekuatan mengerikan yang membuatku tidak bisa bernafas. Bisa saja aku menyingkirkannya secepat mungkin, tapi aku berusaha memfokuskan kekuatanku saat Naoki datang dan membela kami yang 'kesakitan'.
Menyebalkannya dia membutuh beberapa menit untuk memberanikan diri. Tapi, setidaknya Naoki berhasil menolong kami.
"Promise or not to?" Naoki menagih janjinya seperti yang aku lakukan sebelumnya. Saat mendengarnya aku tertawa kikuk, tapi akhirnya aku memberikan sebuah jawaban untuknya. "Hah, kau membalikannya. Mungkin nanti saja." Senyum diwajahnya hilang digantikan cemberut. Matanya membulat seolah tidak percaya. Naoki sangat kecewa padaku.
Kemudian dia memarahiku lagi, atau lebih tepatnya di nasihati. "Yamada Alice! Jika aku tidak ada, kau hampir terbunuh sebelumnya." Sebenarnya ada atau tidaknya dirimu sekarang tidak ada pengaruhnya lagi. Hehe.
"Akbar yang tubuhnya besar saja tidak berguna. Coba kau pikirkan lagi."
"Hey! Setidaknya aku bukan pengecut yang berpikir dahulu baru menolong."
Pertikaian diantara Akbar dan Naoki pun pecah. Menyisakan aku dan Enji sebagai penonton karena kami tidak ingin mengganggu 'keakraban' mereka yang tidak harmonis.
Tapi ditengah-tengah perkelahian kecil ini, aku mencoba menyela. "Ada urusan yang mau aku selesaikan dahulu." Naoki yang tadinya sedang menjambak rambut Akbar dengan tangan kirinya dan bersusah payah menendang tubuh Akbar yang besar berhenti sejenak. Bersamaan dengan Akbar yang mencubit kedua pipinya sampai berwarna kemerahan kemudian melepaskannya.
"Ada apa memangnya Alice?" Tanya Enji yang ada sebelahku. Tapi aku tidak menggubrisnya dan malah berjalan melewatinya keluar dari tempat kita berempat berkumpul menuju pintu keluar dari kamar. "Alice?" Aku sempat membuat mereka khawatir karena pergi tanpa menjawab sepatah katapun. Namun akhirnya aku menjawab, "Aku ingin bertemu teman lama."
Saat aku melihat jalan keluarku, di pintu yang masih terbuka lebar aku mendapati sosok yang aku cari dengan setianya menunggu kedatanganku. "I think we have a lot of things to say. Right?"
"Mandora Clementine."
Aku bisa melihat mata hitamnya dibalik rambut yang berwarna senada. Sebuah senyuman tersinggung diwajahnya, dia mengangguk kecil dan memperhatikanku dengan tatapan yang sama seperti dulu. Yang seharusnya hangat dan penuh kasih, tulus dari hatinya tanpa kebohongan lagi.
"It's good to see you again dear. Ayo nyanyikan kembali lagu kita." Sekarang aku tidak akan takut lagi menyanyikan lagu itu. Tidak akan ada lagi kemalangan dan kesedihan karena tragedi yang terulang. Aku yang sekarang sudah lebih kuat.
"London Bridge Is Falling Down,
Falling Down, Falling Down.
London Bridge Is Falling Down,
My Fair Lady~."
π΅ππ΅
Pukul 14.07
Akiko dan Hana akhirnya tiba di Sapporo setelah berjam-jam menaiki bus. Dan beruntungnya mereka, Rumah Sakit Minami A hanya berjarak 1 setengah kilometer dari terminal sehingga mereka menghabiskan kurang lebih 10 menit mereka untuk berjalan kaki.
"Kita sudah sampai." Hana sedikit merapihkan kembali jaket yang ia kenakan saat mereka sudah berada didepan pintu rumah sakit. Sesaat, Hana melihat wajah Akiko yang terlihat tidak nyaman. "Apakah kau gugup?" Akiko yang mendengar ucapan Hana tiba-tiba tersentak dan berpura-pura merapihkan topinya kembali.
"Bicara apa kau? Ayo kita langsung masuk." Meskipun ucapan Hana ternyata benar, Akiko tidak ingin terlihat seperti pengecut. Semua yang dia lakukan sampai saat ini adalah mutlak keinginannya sendiri. Jadi tidak ada alasan untuk mundur. Melihat saudarinya yang sudah bertekad, Hana tidak tega membiarkan bara apinya padam. Maka dia berkata, "Baiklah ayo!"
Setelah beberapa langkah memasuki rumah sakit, Akiko dan Hana merasa aura yang aneh. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres, tapi disaat yang bersamaan terasa biasa saja. Hana mencoba menanyakan perasaan anehnya, dan Akiko pun memberi jawaban yang sama sepertinya. "Ada yang aneh didalam rumah sakit ini."
Akiko yang sebelumnya pernah mengalami hal ini merasa familiar. Tidak butuh beberapa menit, akhirnya dia menyadarinya bersamaan dengan Hana. "Hey, Akiko-Chan, bukannya ini perasaan saat melihat 'mereka'."
Akiko mengangguk. Dia merasa ada yang bisa 'membuka' penglihatannya seperti dirinya. Tapi yang membuat bulu kuduknya berdiri adalah aura yang dia rasakan samar-samar mengingatkannya akan sesuatu. "Mandora!" Ucap Akiko dalam hatinya. Tapi dia menggelengkan kepalanya dan menepis pemikiran tersebut karena berpikir tidak mungkin hantu dari Inggris bisa bepergian lintas benua.
Namun sekali lagi, dia menepis pemikirannya sendiri karena ingat sebuah nasihat dari ayahnya. "Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini."
Maka dia meminta Hana mempercepat langkahnya untuk mencari Alice. Mereka menyusuri lorong rumah sakit lantai satu tanpa petunjuk dan hanya mengandalkan naluri. Jika auranya semakin terasa lebih kuat, berarti sudah semakin dekat, Pikir Akiko. Sampai akhirnya mereka menemui ujung dari lorong dan menemukan dua gadis sedang berbincang.
Akiko meminta Hana untuk berhenti berjalan dan bersembunyi dibalik tikungan terdekat untuk memperhatikan mereka lebih intens lagi. Meski Hana tidak tahu rupa kedua orang itu, dia menuruti permintaan Akiko dan menepih di balik tikungan.
Karena rasa penasaran, mereka mengintip sedikit dibalik tembok dengan Hana diatas dan Akiko dibawahnya.
"Aku tidak tahu jika kau punya saudari sejahat itu."
"Ya, aku juga tidak ingin kau tahu."
Mereka mendengar sedikit percakapan dari kedua orang ini. Hati Akiko seketika terasa semakin patah saat mendengar kenyataan tragedi yang telah berlalu adalah kesengajaan sesosok arwah jahat.
Tapi sekarang tidak ada gunanya menyalahkan kembali hal yang sudah berlalu. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah memperbaiki masa kini.
"Akiko, semangat!" Dukungan dari Hana membuat Akiko memiliki keberanian untuk keluar dari tempatnya. Dalam hati, dia berusaha menenangkan dirinya bahkan sampai sosok kedua gadis tersebut menengok kearahnya.
Dia tidak memikirkan semua kata, hatinya gundah. Tenanglah, adalah sebuah mantra yang dia rapalkan beberapa kali. Sampai akhirnya dia dapat mengangkat kepalanya kembali dan menatap gadis yang sekarang hanya tersisa satu. Dia memikirkan reaksi apa yang akan Alice ungkapkan. Bingung, marah, atau tidak peduli?
Setelah sekian lama terdiam, tiba-tiba Alice membalikan tubuhnya memunggungi Akiko seolah-olah tidak melihatnya. Meskipun kecewa, Akiko berusaha memahaminya. Tidak mungkin Alice dapat menerima kenyataan yang mengejutkan ini. Lebih baik mereka menganggap satu sama lainnya seperti orang asing.
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak saling menyapa?"
Ucapan Mandora tiba-tiba membuat Akiko merasa terpelatuk. Tentu saja dia harus menyapa Alice. Tapi mulutnya seperti dibungkam. Kata-kata sulit keluar dari bibirnya, bahkan menatapnya saja membuatnya gemetaran karena reaksinya.
Apa yang dia akan lakukan? Batin Akiko.
Tidak disangka setelah ucapan Mandora terlontarkan, Alice berlari kearahnya dan secara mengejutkan memeluknya erat. "O-Okaa-san, j-jangan marah padaku lagi."
"Aku merindukanmu."
Tiba-tiba tangisan pecah diantara keduanya. Penyesalan atas kesalahan yang pernah mereka perbuat sebelumnya terungkap. Semua lara dan derita berkumpul menjadi satu. Permintaan maaf dan memaafkan tersampaikan. Air mata berjatuhan dengan banyak emosi yang mengisinya.
Disaat itulah, Hana dan Mandora menjadi saksi atas pertemuan pilu ini. Saat melihat, mereka terjun pada pemikiran masing-masing. Namun intinya tetap sama, mereka turut bahagia karena semua berakhir dengan luka lama yang terobati.
πππ
Semua berjalan lancar. Hubunganku dengan Mandora dan Okaa-san kembali pulih seperti biasa. Ditambah Rasa syukur yang menyertaiku karena ternyata efek dari obat tidur yang meracuni Eliz dan Fumika sudah menghilang sehingga mereka cepat siuman.
Kita pun bisa keluar dari rumah sakit. Tapi karena demi alasan keamanan, kami tidak diperbolehkan pulang ke asrama sehingga aku dan Eliz harus menginap dirumah bibi Hana yang terletak di Ishikari, sedangkan Fumika dipulangkan kembali ke ayahnya yang kebetulan berjaga di Sapporo.
Tak terasa hari ini pun datang, hari dimana aku akan menjadi saksi dari kejahatan kepala sekolahku. Awalnya aku juga keheranan kenapa sidangnya dilakukan secara besar-besaran. Ternyata karena sebagian besar keluarga pak Hideyoshi dituduh sebagai penjahat dan mendapat pengadilannya masing-masing sehingga setiap hari dibagi menjadi 3 sesi yang berlangsung seminggu lebih khusus untuk keluarga.
I guess, this is a family tradition. Haha! Tapi jika benar sungguh ironis.
Kamis 16 Juli. Pukul 13.55
Saat ini aku sedang menunggu didepan pintu sidang sambil menahan rasa gugupku dibangku yang disediakan.
"Pertama kali ke Pengadilan, ya?" Tebakan Fumika tepat sasaran. Aku menghela nafas kasar didepannya sambil membiarkan tubuhku melemas.
"Aku penasaran isinya secara langsung!" Berbeda denganku yang merasa risih, Eliz malah menunjukan ketertarikannya. Aku hanya memutar mataku malas sambil memikirkan sesuatu yang dapat menenangkanku.
"Hey, Mellow Queen. Jangan membungkuk terus~" Kehadiran Naoki yang tiba-tiba datang entah dari mana mengejutkanku. Dia jongkok didepanku sambil menumpu salah satu lengannya untuk menahan wajah yang sekarang masih ditutupi perban.
Tapi tidak menutupi senyumnya yang manis. Aku membalas senyumannya. Tapi aku lupa jika teman-teman yang ada dikedua sisiku dapat melihatnya dan akhirnya mempermainkanku, lagi. Dan tidak perlu disembunyikan pun aku dapat mendengar suara tawa mereka.
Aku berusaha mengalihkan perhatian dengan berkata, "Shut up! You're the one and only Mellow Prince." Harapannya mereka mengganti subjek. Tapi menjadi jebakan untukku. "The one and only for Alice~" Ucapan Eliz membuat darahku mendidih langsung menuju otak. Walaupun aku sudah bilang untuk diam, mereka masih saja tertawa.
Namun akhirnya berhenti saat Naoki secara mengejutkan berteriak, "Diam." Singkat, padat, dan penuh penekanan. Atmosfir pun tiba-tiba berubah menjadi terasa berat dan mencekam. Aku, Eliz, dan Fumika menjadi keheranan karena Naoki bukan hantu lagi, tapi dia seolah memiliki kekuatan untuk membalikan suasana. "Hehe, maaf. Kebiasaan lama."
Sungguh, kau membuat kami ketakutan Naoki Furugawa. Dan jangan mudahnya kau tertawa seolah-olah kami tidak akan trauma dengan sisi lainmu. "Dasar aneh." Gumamku pelan, tapi Naoki dapat mendengarnya dan memberikanku tatapan killer.
"Ingat! Kau janji tidak akan memarahiku lagi." Saat mendengar ucapanku, Naoki menghela nafas kasar. Lalu membalas, "Hai hai, Wakarimasu."
Tiba-tiba datang ayah Fumika bersama rekannya mendekat kearah kami. Beliau berkata sudah waktunya kami masuk. Walaupun terasa berat karena Enji dan Akbar kelihatannya telat dalam perjalanan kemari, sidang masih harus berjalan. Dengan atau tanpa mereka, kami tetap memasuki ruang sidang dan menentukan tempat duduk masing-masing.
Secara singkat, semuanya diawali oleh salam dari beberapa orang yang sepertinya dianggap penting dipersidangan. Kemudian sang hakim menyebutkan semua kejahatan yang pak Hideyoshi, pak Tanaka, dan Anzu lakukan.
Ada saat dimana ruangan tiba-tiba menjadi ribut sehingga hakim terpaksa turun tangan menenangkan suasana. Para terdakwa diberi kesempatan untuk membela dengan bantuan pengacara masing-masing.
Namun Anzu yang malang harus menerima semua tuduhan tersebut mentah-mentah karena tidak ada yang membelanya. Sesaat aku menjadi sedikit simpati padanya walaupun aku pernah ingin dibunuh olehnya.
"Apakah kalian memiliki bukti pak Sato yang melakukannya?" Bicara apa pengacara itu? Tentu saja ada. Aku adalah bukti hidup yang melihatnya meracuni temanku dan ingin membunuhku. Aku ingin meneriaki ucapan angkuhnya itu semua kesaksianku. Tapi Fumika dan Eliz menahanku agar tetap bersabar.
"Dengar, saksi yang melihatnya hanya satu orang. Berarti semua tuduhan kalian itu palsu." Lagi, nada penuh keangkuhannya membuatku muak. Ternyata bukan hanya aku aja, jaksa yang ada didekatnya ikut berdebat. Semua omongan mereka tidak dapat masuk keotakku. Yang terdengar malah seperti kaset rusak.
Tapi untungnya waktu yang diberikan sudah habis sehingga perdebatan ini berakhir. Kemudian aku dan teman-temanku dipanggil satu per satu untuk memberikan kesaksian masing-masing. Sampai tiba giliranku untuk bersaksi.
Aku maju kedepan, semua mata melihat kearahku. Tapi aku tetap berjalan kedepan sampai didepan atlar. "Yamada Alice, tolong jelaskan siapa yang menyerangmu sebenarnya." Aku mencoba menjawab pertanyaan dari hakim dengan sebaik mungkin. Kemudian aku masih diberi pertanyaan lagi, lagi, dan lagi sampai merasa bosan. Pada intinya ini hanya berputar-putar saja.
"Hakim! Saya meragukan kesaksian Yamada Alice." Pernyataan dari pengacara pak Sato menyela omonganku. Dalam hati aku berusaha menahan kekesalanku karena kesaksianku dianggap meragukan. Jika iya berarti sia-sia saja aku menjawab pertanyaan yang berputar-putar ini.
"Yamada Alice memiliki penyakit Skizofernia sehingga tidak layak mendapatkan kesaksian. Ini adalah bukti rekaman medis dari RSJ di Inggris." Darahku mendidih, alisku bertautan dan uratku seperti terlihat. Aku tidak dapat mengendalikan amarah yang menguasaiku.
Berani-beraninya orang itu menunjukan bukti penyakit palsuku ke semua orang. Aku tahu rekaman itu membawa petaka Okaa-san!
"Itu palsu!" Aku mencoba membela, sehingga terjadilah berdebat panjang dengan pengacara itu. Hakim yang sudah muak mendengar omong kosong kami memintaku kembali ke bangku tanpa bisa berkomentar lagi.
Tapi ucapan terakhirku membuatnya membiarkanku bertahan lebih lama. "Bagaimana kalau aku buktikan jika aku masih waras?" Aku mendengar sebuah tawa dari sebagian orang yang ada disekitarku. Namun anehnya saat aku melihat pak Hideyoshi dan Anzu, mereka terdiam bagaikan patung. Tentu saja karena mereka sendiri sudah melihat 'bukti'-nya.
"Jika kalian bisa melihat hal yang sama denganku, artinya semua kesaksianku benar." Tantangku yang membuat hakim menaikkan sebelah alis matanya penasaran. "Baiklah, coba kau buktikan."
Aku dapat mendengar Okaa-san meneriaki namaku. Namun aku tetap pada pendirianku. Aku akan membawakan kebenaran dan membuat kalian membayar semua dosa-dosa kalian!
"Misi SMA Hokkaido 45 adalah mencerdaskan serta menciptakan karakter terpuji dari anak bangsa yang ada dalam pengawasan kami, dengan semboyanYoi Kibou(Harapan Bagus) sebagai landasan pacu semangat mereka."
Aku menyampaikan sebagian Misi sekolah yang aku ingat dan membuat semua orang mengerutkan dahi. Mungkin sebagian dari mereka menertawakanku dibelakang. Tapi bagi yang tahu, mereka terdiam sambil menunggu apa yang akan terjadi.
"Sato Hideyoshi?" Sesosok pria tua mendatangi pak Hideyoshi didepan wajahnya sehingga dia tersentak kaget. Bersamaan dengan itu, banyak sosok lainnya yang menghadiri ruangan ini dan mengisi tiap cela sepi.
Tak butuh beberapa lama sebelum aku mendengar sebuah jeritan dan teriakan pilu dari orang-orang yang ada dibelakangku. Bahkan pengacara yang sebelumnya meremehkanku menjadi tertunduk dalam ketakutannya. "Jadi, apa kalian dapat melihat apa yang aku lihat?"
Sekarang giliranku untuk berdiri dan menyombongkan apa yang orang-orang sepelekan. Apa yang mereka biasanya ragukan dalam diriku.
"Kalian semua telah mempermalukan nama baik leluhur Sato!"
[The End] 2ndπ