
[Eliz POV]
Kriiet. Decitan pintu ruang guru saat Aku membukanya. Aku keluar tanpa hasil sehingga membuat raut wajahku menjadi kecewa.
Saat aku bertanya kepada salah satu guru secara acak, "Apakah bapak liat Bu Ochari?" Bapak guru yang bernama Pak Tanaka menjawab. "Oh maaf, Bu Ochari sedang cuti. Katakan saja apa yang mau kamu omongin, nanti bapak sampaikan ke Bu Ochari di SMS."
Aku juga sadar jika Pak Tanaka masuk list tersangka kita. Namun aku tidak punya keberanian bertanya. Rasanya terlalu berat.
Akhirnya aku berjalan-jalan dikoridor untuk mencari Alice yang hilang cukup lama. Jika Fumika tanya apa yang aku dapatkan, aku akan jawab, "Bu Ochari-nya cuti." Saja.
Dia pasti akan cemberut seharian, tapi aku lebih khawatir kepada Alice. Kenapa anak itu suka sekali kabur? Dia masih ingat tidak kalau sekolah ini ada pembunuh yang berkeliaran? Alice Yamada Henkis! Liat saja jika aku menemukanmu.
Dari dulu Alice selalu membuatku khawatir karena setiap kali ia melangkah, masalah selalu mengikutinya. Si Mandora-lah, Si Rokurokubi-lah, KamarTerkutuk-lah, besok dia akan bertemu Unicorn mungkin. Ugh!
Memang merepotkan tapi aku tetap menyayanginya. She once called me his adoptive mother, by the way.
"She is Weirdo. Get away from her!"
Kadang semua orang disekitarku menyuruhku untuk menjauh dari Alice, bahkan Ex-bestfriends kita.
Egois. Katanya sahabat, dikemanakan sumpah kita untuk selalu bersama? Sekarang kalian mengingkarinya karena takut kepada Alice.
Aku juga sama, karena kalian.
***
Seseorang berubah karena lingkungannya - Anonymous
***
Tetapi sekarang aku tidak akan munafik lagi. Buta sebagai alasan berpaling, tuli saat ada teriakan tolong. Akan kuulurkan tanganku untuk menggapai mereka yang akan terjatuh.
Dunia, sepertinya aku telah berubah. Hatiku merasa lega.
Sekarang ayo fokus cari Alice!
🌸🌻🌸
Hah, melelahkan.
Yang benar saja! Aku tahu ini sekolah elite tapi tidak kusangka untuk keluar dari gedung sekolah rasanya seperti berjalan beberapa kilometer. Saat ini aku ada dihalaman depan sekolah sambil bersandar disalah satu pilarnya.
Aku mengatur kembali nafasku yang sesak karena lama berjalan. Sinar mentari yang tiba-tiba datang ke mataku terasa perih sehingga aku menguceknya. Ah, semakin perih. Terpaksa aku pindah tempat ke area yang kelihatannya teduh oleh pohon.
Melewati jalan sepetak, aku memasuki area yang banyak pepohonnya ini. Dari papan didepan area, nama tempat ini adalah Taman Bagian Timur. Area pepohonan dan jalan pintas ke bazar setempat.
Suara angin sepoi-sepoi dan kicauan burung adalah instrumen khas hutan yang hampir sunyi. Ketenangan yang menyejukan hati ditambah pemandangan tenang. Cocok untuk menyendiri.
Setahuku jika melewati beberapa jalan disini bisa tembus ke laboratorium gedung kedua sekolah berdasarkan denah tempat di MaDing. Oke, let's try my luck.
Beberapa menit kemudian,
Bukannya ini pohon yang aku temui sebelumnya? Ahk aku tidak tahu lagi!
Setiap aku berjalan rasanya seperti berputar-putar karena penampilan pohon yang sama secara terus menerus. Bahkan ada semak yang warnanya hampir sama. Aku tidak tahu dimana aku sekarang. Aku tersesat, sendirian.
"Hihi."
Bulu kudukku berdiri dan tanganku menggigil. Leherku rasanya tidak nyaman, siapa saja tolong aku. "Hihi."
Suara tawa mengerikan ini menakutkan. Tapi aku berusaha untuk berani. "Elizabeth! Tenangkan dirimu." Ucapku pada diri sendiri.
"Hihi, hehe."
Pertama, cari sumber suaranya. Aku terpaksa berbelok dari jalur utama untuk memuaskan rasa penasaran dan menghilangkan ketakutanku. Suara tawa itu semakin dekat setiap kali aku melewati pepohonan.
Akhirnya, aku menemukan sebuah pohon Pinus besar. Asal suaranya disini karena terdengar sangat jelas. "Hahaha, hihi. Haha.." Aku ingin mengecek jika bukan hantu yang tertawa.
Maka aku memutari pohon Pinus tersebut dan menemukan seorang laki-laki sedang tertawa lepas saat membaca buku. Ada setumpuk buku berserakan dimatras yang dia gelar. Makan siangnya adalah sebuah roti yang baru digigit setengah dan jus Jambu.
Lelaki ini sepertinya tidak menyadari keberadaanku karena terlalu fokus pada bukunya. Dan FYI¹, buku yang dia pegang ternyata adalah Komik Shin-chan. Setumpuk lainnya komik Shoujo² yang aku tidak tahu judulnya. "Otaku³." Gumamku pelan. "Eh?"
Kita berdua terbawa suasana kaget. Apalagi aku yang mengejeknya Otaku tanpa mengetahui identitasnya sebagai kak Enji! "AAAAAHH!!!!" Teriak kami bersamaan
Huhu. Antara marah, sedih, dan malu aku tampil bodoh didepan Crush-ku. Just burn me out.
Masih dalam keadaan syok, kak Enji tanpa sengaja melempar Komiknya didekat aku. Sudahlah, aku sedang diusir. Lebih baik lari saja.
Baru beberapa detik aku berbalik tiba-tiba suara kak Enji memanggilku. "Oi, oi. Tunggu." Refleks aku langsung diam ditempat. "Maaf yang tadi. Aku tidak sengaja melemparnya."
"Aduh kak, aku yang harusnya minta maaf." Aku tidak sanggup melihatnya lagi sehingga aku menutup wajah dengan telapak tanganku. "Aku ngatain kakak Otaku." Elizabeth Van Hose! Jangan dilanjutkan!
Lidahku sepertinya tidak bisa sinkronisasi dengan otakku sehingga membuatku menjadi se-menyedihkan ini. Oh My Lord, kenapa hal ini bisa terjadi kepadaku?
"T-tidak apa-apa. Semuanya sudah tahu kok." Walaupun kakak bilang begitu, hatiku masih perih karena kejadian ini. Wajahku memerah panas. Sementara aku terdiam, kak Enji masih meneruskan kalimatnya. "Jadi mau duduk?" Tawarnya.
Hah, "Baiklah." Terpaksa aku duduk dimatras bersama kak Enji. Seharusnya ini adalah hal yang paling membahagiakan, tapi suasananya sangat canggung. Kak Enji merapihkan kembali Komiknya kedalam tas. Sedangkan aku masih mematung didekatnya, tidak tahu apa yang harus kita bicarakan.
Elizabeth, chill up. Sekarang ayo kita buka topik dulu, "Kak Enji inget aku tidak?" Bodoh! Dari sekian banyak orang yang dia temui, bagaimana caranya dia bisa mengingatku? Apalagi statusnya sebagai Ketua OSIS.
"Ehm, Eliz-Chan? Yang bareng Alice-Chan dan Fumika-Chan?" Sebuah keajaiban dia mengenaliku, luka dihatiku tiba-tiba sembuh sendiri. "Benar kak." Oke, ayo lanjutkan obrolannya.
"Kakak hobi baca Komik ya?"
"Iya, aku juga punya lemari khusus untuk Komik-komik ini. Bosan jika disekolah tidak melakukan apa-apa ."
Kak Enji lucu. Sekolah seluas ini kakak bisa cepat bosan. Padahal tadi aku hampir tersesat. "Btw, kak ngapain disini? Itu Komik Shin-Chan benar bukan?" Aku melihat sekilas komik yang sebelumnya kak Enji pegang. Di covernya ada seorang anak lelaki cilik bersama anak anjingnya. "Sorry, ini namanya Manga. Komik dan Manga itu 2 hal yang berbeda."
"Oh, begitu." Ucapku ragu-ragu. Terserah kakak, yang penting kakak happy. "Ini tempat favoritku disekolah. Cuma disini aku bisa tenang menjadi diriku sendiri."
Sambil berbicara, kak Enji menawarkan roti baru kepadaku. Aku menerimanya dengan senang hati dan merasakan selai stroberi dimulutku. "Pasti berat ya?" Ucapku setelah menelan potongan roti tadi. "Sangat." Ucapnya sambil menata Komik-ehem-Manga-nya ditas.
Setelah selesai memasukan Manga-nya, Kak Enji kembali menghabiskan rotinya, sedangkan aku sudah selesai memakannya. "Rotinya enak. Pasti pakai cinta~" Ucapku spontan kepada kak Enji. Eh, s-stupid! Walau aku berkata dengan nada rendah dia pasti mendengarnya. "Arigato." Balas kak Enji sambil tersenyum padaku. Yah setidaknya tidak terlalu parah.
Kak Enji tertawa kecil lalu berdiri. Aku ikut berdiri dan membantunya melipat matras. "Taruh dilubang pohon ini." Ucapnya sambil menunjukan sebuah pohon yang berlubang besar didepanku. Kemudian kami menaruhnya disana sesuai arahan kak Enji.
"Hup, lumayan juga mengangkat ini kak." Ucapku sambil membersihkan tanganku dari debu. "Iya, daripada mengambilnya langsung dari kelas." Balas kak Enji sambil merapihkan posisi matrasnya dilubang pohon tersebut. "Mau aku temani ke kelasmu? Nanti tersesat lagi."
Tawaran kak Enji membuatku ingin fly to the sky. Dengan senang hati aku menerimanya. Kita berjalan kembali ke jalan setapak yang aku lewati, tapi kali ini aku tidak akan takut karena ada kak Enji yang tahu jalannya.
Dijalan aku menyanyikan lagu Taylor Swift - Blank Space untuk menghibur diriku.
"*Nice too meet you, where you been?
I can show you incredible things."
"Magic, Madness, Heaven, sin
Show you there and i thought*."
Tak disangka kak Enji balas bernanyi bersamaku. Senyuman lebarnya membuat jantungku berdetak kencang. Namun aku mencoba tenang sambil terus bernyanyi bersama.
"Oh My God, look at that face
You like my next mistake.
Love's a game, wanna play, hey?"
Aku menunggu hingga kak Enji membalas, namun si pelaku malah kelihatan gugup sambil terdiam karena tidak tahu kelanjutan lagu tersebut.
"Omong-omong yang kemarin, tolong maafkan aku." Ucap kak Enji tiba-tiba. Soal kemarin pasti pertanyaan Fumika tentang kamar terkutuk. Dan disaat itu kak Enji malah kabur meninggalkan kami.
Aku tidak tahu alasan kenapa ia melarikan diri, tapi pasti ada kejadian traumatis disana yang membuat kak Enji terpelatuk. "Iya kak." Balasku, lalu melanjutkan. "Memang disana ada apa kak?"
Tatapan mata kak Enji berubah menjadi ketakutan. Tubuhnya gemetaran, dan mulutnya dikantupkan karena hampir muntah. Refleks aku memegang pundaknya lalu menyuruhnya untuk duduk sementara dipohon pinus sampai keadaannya membaik. Kak Enji menurut lalu duduk tenang disana. Terpaksa perjalanan kami ditunda.
"Gomae. Tapi kumohon, aku tidak ingin membicarakannya." Ucap kak Enji sambil menopang kepalanya. Aku duduk disebelah kiri kak Enji sambil bersender dipohon bersamanya. "Iya kak. Aku cuma penasaran."
Hening, kak Enji masih melamun sedangkan aku menunggunya baikan. Hah, aku kenapa sih? Orang yang trauma tentu saja kejiwaan-nya tidak stabil. Seharusnya aku jelaskan pelan-pelan.
Lalu, aku berusaha menjelaskan maksudku perlahan. "Kakak, sebenarnya aku dan teman-temanku sedang menyelidiki kasus pembunuhan setahun yang lalu."
Walaupun kak Enji tidak melihatku dengan benar. Aku tetap melanjutkan, "Kami butuh bantuan kakak dalam kasus ini. Tapi jika kak Enji tidak mau, tidak apa."
"Kami bahkan sempat berkunjung ke kamar terkutuk itu." Aku berusaha tersenyum agar atmosfirnya tidak terlalu berat. Tapi setelah aku menyelesaikan kalimatku, kak Enji langsung menengokku cepat dengan ekspresi yang tidak bisa aku jelaskan. Tapi dari sorot mata, sepertinya dia kaget.
"T-tidak mungkin!" Ucapnya histeris. "Aku sudah memperingati kalian! Kenapa tidak didengarkan?"
Aku terkejut dengan nada bicaranya yang tiba-tiba meninggi. Aku mundur beberapa langkah karena refleks. "A...aku tidak ingin kalian kenapa-napa." Bulir air mata muncul dari sudut mata kak Enji. "Di..dia ingin membunuh kita jika masuk ke kamar itu."
Kak Enji menangis tanpa suara, namun air matanya keluar dengan derasnya. Baru pertama kalinya aku melihat lelaki selembut ini menangis sehingga aku merasa bersalah dan tidak tega. Spontan aku melingkarkan lenganku dilehernya lalu memeluk kak Enji. Aku membiarkannya menangis di almamaterku. "M-maaf, aku minta...maaf." Ucap Kak Enji ditengah isak tangisnya.
"Se..semua salahku...Hiks.. Kak Naoki... harus melindungiku.. Hiks.."
Apa? Nama Kak Naoki disebut. Tapi aku mengurungkan niatku untuk bertanya lebih lanjut. Instead, aku berkata, "Tidak apa kak. Semua bukan salah kak Enji. Kak Naoki tidak pernah menyalahkan kakak."
Merasa kak Enji tenang kembali, aku baru menyadari tingkah spontanku memeluk kak Enji. "U.. Uwah!! I-ini kebiasaan meluk sama Alice." Aku berusaha menyangkal agar harga diriku tidak runtuh sambil mundur teratur.
Tapi kelihatannya kak Enji tidak keberatan. Pluk, tangan besar kak Enji mengusap lembut pucuk kepalaku. "Te-terima kasih banyak." Ucapnya masih sesegukan.
Tapi ini bukan apa-apa kak, aku tidak melakukan sesuatu yang berarti sama sekali. Ingin aku mengatakannya tapi bibirku seperti terkunci rapat. "Aku membutuhkan dukungan. Tapi tidak ada yang tahu." Kak Enji mengusap sisa air matanya dengan lengan almamater-nya. Lalu merapihkan kembali dasinya yang kusut.
Aku tersenyum melihat kak Enji membaik. "Aku juga punya sahabat seperti kakak. Jadi, we can connect?" Balasku kikuk.
Kak Enji tersenyum kecil, matanya masih memerah seperti pipinya. Rasanya seperti deja vu⁴ saat melihatnya. Dimana ya? Apa mungkin saat aku melihat Alice, tapi saat itu dia bersedih bukan senang.
"Aku benar-benar benci si bedebah yang menyakiti kak Naoki!" Lagi, apa dia sedang membicarakan kak Naoki yang sama? Untuk itu aku harus memastikannya. "Siapa si kak Naoki?" Tanyaku.
Kak Enji mendongakan kepalanya memperhatikanku. Lalu dia menjawab, "Kak Naoki itu kakak kelas dan sepupuku. Dari pihak ibu sih."
"Apa namanya Naoki Furugawa?" Pertanyaanku dibalas anggukan kak Enji. Aku tersentak sehingga membuatnya kaget. Kak Enji menanyakan kondisiku, tapi aku jawab tidak apa-apa. Kemudian aku menjelaskan apa yang membuatku kaget. "Sebenarnya, aku sudah berjumpa dengan kak Naoki. Dan sahabatku sering bertemu dengannya, disekolah."
Kak Enji yang mendengarkan penjelasanku tidak percaya. "Tidak mungkin! Kak Naoki masih koma di Rumah Sakit! Aku sering mengunjunginya jadi itu tidak mungkin!"
"Kecuali hanya hantunya." Sela-ku yang membuat kak Enji merogoh saku almamater-nya lalu mengeluarkan ponselnya. Mereknya blackberry keluaran lama. Dia mengutak atik ponselnya lalu mengetik icon telphone.
Kemudian kak Enji mengetik nomor kontak yang ia kenali lalu klik icon telphone lagi.
"Tut, tut... Halo, ada apa Enji sayang?" Telphone dari sebrang sana terdengar diponsel kak Enji. Lalu tanpa basa basi kak Enji bertanya, "Bagaimana kondisi kak Naoki, Bibi Furugawa-san?"
"Aduh, Enji. Seperti biasa, dia masih tertidur." Kak Enji terus bertanya untuk menyakinkan perkataanku. "Bibi bersama kak Naoki 'kan?"
Lalu dibalas, "Bibi selalu berada disamping Naoki setiap hari, Enji. Sudahlah kau fokus sekolah saja."
"B-baik," Setelah selesai menelepon, kak Enji mematikan ponselnya lalu memasukannya kembali ke sakunya. Aku tahu apa yang dia rasakan, kebingungan. Aku juga sama, tapi setelah aku ingat kekuatan Alice semua menjadi masuk akal saja.
"Si-siapa nama temanmu?" Tanya kak Enji tiba-tiba. Aku pun menjawab "Alice Yamada." Kak Enji kemudian memintaku untuk bertemu dengan Alice, "Aku ingin berbicara dengannya." Jelas kak Enji.
Tapi aku saja sedang mencarinya. Jadi, aku mencari jalan lainnya. "Kalau kakak merasa bersalah, tolong bantu kami menyelesaikan penyelidikan ini. Kak Enji mau pelakunya dihukum setimpalkan? Kita juga akan mencari Alice bersama."
Aku melihat keraguan pada kak Enji, namun dia mengangguk mantap tanda setuju. "Aku ingin membantu kalian menangkap bedebah itu!" Ucapnya lalu kami berdiri kembali untuk meneruskan perjalanan.
[To Be Continue!]🦋
____________________
¹For Your Information
²Gendre komik yang ditujukan untuk pembaca perempuan.
³Istilah Jepang untuk orang yang betul-betul menekuni hobi
⁴Deja Vu adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.