
Ada banyak suster dan pasien yang berlalu lalang dilorong yang lumayan lebar ini dengan kepentingan masing-masing. Ada yang sedang membawakan trolli berisi kebutuhan pasien, mengantar keluarga yang sudah sembuh, datang menjenguk, atau hanya sekedar berjalan-jalan.
Aku melihat sepintas nomor pintu yang ada dikanan-kiriku sambil mengingat kembali nomor kamarku. Terakhir kali aku ingat sepertinya antara nomor 167 atau 168.
"Hah!" Dari kejauhan aku melihat sosok 2 orang laki-laki yang menunggu didepan pintu suatu kamar. Karena terasa familiar, aku mencoba menyapa mereka dari kejauhan. Saat mendengar sapaanku, mereka menengok kearahku. Kemudian melambaikan tangan mereka masing-masing dan membalas sapaanku.
"Cepat sekali datangnya, kak." Aku mendekati mereka sehingga jarak kami hanya ada sekitar 60 senti. Kak Akbar dan kak Enji tersenyum ramah walaupun wajah mereka terlihat lelah dari lingkar hitam dibawah mata dan kulit mereka yang kusam berminyak. Sepertinya mereka terburu-buru datang kemari. Apakah karena berita penyerangan aku, Eliz dan Fumika sudah tersebar dengan sangat cepat?
"Yoi, festival-nya jadi kacau sekali saat polisi datang tiba-tiba." Dari perkataan kak Akbar saja aku bisa bayangkan bagaimana kacaunya suasana disana. Apalagi saat kak Enji menimpal, "Terjadi banyak kepanikan, dan kita yang OSIS malah harus bertanggung jawab." Kak Enji menghela nafas berat dan tiba-tiba membungkukan punggungnya.
"Makanya jangan jadi OSIS! Untung aku tidak pernah mengalami hal ini selama masih aktif." Kak Akbar kelihatannya senang karena sekarang dia tidak kesusahan seperti kak Enji. Meski dia sudah menepuk pelan punggung kak Enji berkali-kali untuk menghibur, tapi rasa penat yang kak Enji miliki lebih besar sehingga malas merespon.
Kami berbincang sejenak sampai aku akhirnya mengerti maksud kedatangan mereka kesini. Kak Enji sebagai Ketua OSIS disuruh oleh bu Ochari untuk mengirim kabar tentang aku, Eliz dan Fumika di rumah sakit. Sedangkan Kak Akbar ikut karena keinginannya sendiri untuk menemani Kak Enji dan karena dirasa paling bisa diandalkan.
"Bagaimana kondisi Eliz dan Fumika?" Tanya kak Enji khawatir. Lalu akupun menjawab, "Mereka masih belum bangun, tapi baik-baik saja. Kata dokter paling lambat akan siuman besok pagi." Kak Enji dan kak Akbar kemudian mengangguk paham kemudian mendoakan yang terbaik bagi kami bertiga. "Semoga cepat sembuh ya." Ucap kak Akbar. Kalimat klasik untuk disampaikan kepada orang yang sedang sakit. Tapi tidak apa-apa, aku merasa senang karena artinya mereka peduli.
"Oh iya, aku baru ingat ini rumah sakitnya kak Naoki juga." Kalimat singkat yang kak Enji katakan membuatku terpelatuk. Aku berusaha tetap tenang agar rasa grogi tidak menyerang. Tapi pikiranku malah menjadi berantakan sehingga aku tidak mampu berpikir jernih. "Benar juga. Kalian mau menjenguknya sekalian?" Timpal kak Akbar yang malah menambah kekacauan batinku. Tapi dilain sisi aku jadi teringat sesuatu.
"Tolong jenguk aku di rumah sakit."
Kalimat terakhir Naoki sebelum dia pergi. Dan sebuah kebetulan yang keterlaluan aku bisa berada dirumah sakit yang sama dengannya. Aku berpikir, mungkin ini saatnya.
"Padahal kita sudah janjian untuk menjenguknya akhir pekan." Aku tertawa kecil sambil menaikkan bahuku terhadap keironisan ini. Kak Enji dan kak Akbar juga setuju dengan ucapanku dan ikut tertawa. "Haha, iya. Anggap saja absen lebih awal." Kak Akbar membuat lawakan yang membuat aku dan kak Enji berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba tersenyum sendiri karena baru sadar bagian lucu yang kak Akbar maksud.
"Ya sudah. Ayo semua masuk." Tangan kak Akbar membuka gagang pintu yang ada didepan kami. Setelah dia, lalu kak Enji masuk, aku mengucapkan salam kemudian mataku melihat ruang pasien yang hampir sama dengan yang sebelumnya aku, Eliz dan Fumika tempati.
Kita telah berjalan melewati 2 tempat tidur pasien disebelah kiriku. Saat aku menengok sekilas, salah satu tempat pasien ada yang tertutupi tirai. Kemudian ada seorang pasien pria paruh baya yang sedang tertidur dengan beberapa peralatan medis disekitarnya. Dan tempat tidur yang terakhir, ada seorang lelaki mengenakan gips dilengan kanannya dan sebagian wajahnya tertutup rapat oleh kain kasa. Dia sedang melamun sambil melihat jendela yang ada disisi kirinya.
Aku langsung mengenali lelaki itu sebagai Naoki. Banyak perasaan yang bercampur aduk saat melihat wajahnya yang sedikit berubah. Apakah dia masih mengingatku? Harapan picisan yang selalu aku rapalkan.
Dan karena itu, aku tidak bisa menyapanya langsung dengan akrab karena mungkin dia akan kebingungan. Jadi aku membiarkan kak Enji dan kak Akbar yang ada didepanku untuk menyapa duluan dan aku yang tiba-tiba menjadi pemalu ini bersembunyi dibalik punggung mereka.
"Hai Senpai!" Sapa kak Enji riang, lalu dilanjutkan kak Akbar. "Bagaimana kabarmu? Sorry, tidak sempat beli buah karena kunjungan dadakan." Kedua telapak tangannya yang kosong ditunjukan dengan lemah kepada Naoki sebagai isyarat bahwa mereka tidak mampu membeli oleh-oleh untuknya. Buah ya? Aku tiba-tiba ingin memakan Watermelon.
Sekilas aku melihat Naoki terkekeh pelan sebelum akhirnya membalas, "Ya, tidak apa-apa. Omong-omong ini belum akhir pekan, sebegitu rindunya kalian denganku~?"
Aura kepercayaan diri luar biasa ini tidak biasanya aku lihat dari diri Naoki sebelumnya sehingga aku berbalik untuk mendengus kasar. Aneh, sangat aneh! Dia tidak seperti anak laki-laki insecure dan sangat canggung yang aku kenal.
..."Secret," Wajah jahil Naoki keluar. Dia nunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya seperti sebuah kode...
....???
... "Hah, aku tidak pernah bolos sekolah sayangnya." Nampak nada bicaranya berubah menjadi angkuh tiba-tiba...
Uhm.. Mungkin aku kurang memperhatikan. Atau lebih tepatnya, 'tidak' memperhatikan.
... "Alice, tolong rahasiakan." Naoki memperingati Alice dengan wajah serius...
Baiklah, harus aku akui saat melihat wajah seriusnya aku menjadi sedikit gugup jika diingatkan kembali.
.. "*Tolong, jangan mengejek Bu Youki." Ucap Naoki dengan nada penuh penekanan...
... "Alice! Disana ada Oni! Jangan bodoh..."...
... "Wah, kau mengakuinya*."...
Aku tiba-tiba mengingat kembali semua momen bersama Naoki sebelumnya. Dan iya, sepertinya ini bukan sifat yang jarang diketahui orang-orang. Apalagi dengar-dengar dia wakil OSIS. Pasti dituntut tegas dan harus percaya diri bukan?
"Tidak usah percaya diri. Kita sedang menjenguk adik kelas yang dirawat." Akhirnya kak Akbar membalas ucapan Naiko dengan celaan yang mewakili perasaanku. Haha.
Tapi saat memikirkan kembali perkataan kak Akbar, itu mengingatkan statusku yang sebagai adik kelas dan mereka bertiga adalah kakak kelasku. Mungkin aku harus memanggil Naoki dengan panggilan 'kak' atau 'senpai' juga. Karena secara teknis, dia seumuran dengan kak Akbar. Bahkan kak Enji adalah adik sepupunya.
Well, berarti perkenalan awal kami-lagi- akan seperti ini, aku akan memanggilnya singkat,
'Hello, kak Naoki-san!' lalu dia akan membalasnya juga. Pretty simple.
"Dirawat? Kenapa?" Naoki bertanya alasan kenapa adik kelas alias Aku, Eliz, dan Fumika dirawat. Tentu saja karena, "Sama sepertimu." Ucapan kak Akbar.
"Tapi lebih baik, cuma diracun."
Lanjutan perkataannya malah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba aku menjadi terpelatuk seketika.
'Cuma diracun'?
Bukan hanya Eliz dan Fumika yang diracuni, aku berjuang antara hidup dan mati agar tidak tertangkap monster bernama pak Hideyoshi sambil melindungi Fumika. Lalu saat keadaan menjadi semakin genting, aku dengan terpaksa memanggil Mandora disaat-saat paling klimaks dan akhirnya menyelamatkan Daddy dari mantra penyihir sebelum polisi datang.
Aku ingin menjelaskan panjang lebar tentang penderitaanku dari awal sampai akhir dan jika ada yang bertanya siapa yang memiliki hari paling buruk, itu adalah aku!
Saat memikirkan semua hal ini kembali malah membuatku pusing. Seharusnya aku masih dikamar dan tidur jika bukan karena petugas bernama paman Marshell memanggilku untuk menelpon waliku. Dan hanya ada nama bibi Hana yang aku bisa pikirkan ditempat yang masih asing ini.
Kak Akbar memohon kepadaku untuk berhenti memukul punggungnya. Terpaksa aku menuruti karena sebagian hati nuraniku juga memaksa. "Aduh... Sakit tahu Alice." Saat kak Akbar merengek kepadaku, Naiko malah tertawa lepas diatas kasurnya sampai memukul bantal yang ia peluk berkali-kali. "Bwahahaha, jelek sekali rengekannya." Ucap Naoki disela-sela tawanya.
Kak Akbar yang tidak terima ucapan Naoki tiba-tiba menggertak, "Sialan! Ayo berantem kalau berani." Ucapannya membuat aku dan kak Enji menjadi panik dan berusaha memisahkan mereka. Tangan kak Akbar sudah dikepalkan dan tinjunya sudah siap untuk memukul Naoki. Karena terkejut, Naoki mundur beberapa senti sampai punggungnya sudah menyentuh dinding. Tapi tidak menghentikan posisi kak Akbar yang masih ingin memukulnya.
"Senpai, tolong sabar. Kak Naoki masih dalam pemulihan." Kak Enji dengan rasa khawatir, buru-buru berbalik menghadap kak Akbar sambil mendorongnya menjauh. Tangan kanan kak Akbar yang terkepalkan sudah dipegang oleh kak Enji agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan. Sedangkan aku yang juga ikut terseret masalah ini terpaksa berpindah ke dekat Naoki karena posisiku sebelumnya tergusur dengan kehadiran kak Akbar.
Aku tidak bisa banyak membantu karena pertarungan antara laki-laki pasti mengerikan. Maka aku hanya melihat kak Enji yang masih mendorong kak Akbar mundur dengan sekali-kali melawan balik sambil berada disamping Naoki untuk membelanya.
"Hey." Tiba-tiba aku berasa terpanggil dengan satu kata itu. Lalu karena penasaran aku menengok kearah sumber suaranya, Naoki.
"Bercanda saja kok."
"Bercanda saja kok."
Loh? Hah? B-Bagaimana mereka bisa kompak mengatakan hal yang sama?
Aku dan kak Enji langsung terdiam ditempat karena ucapan mereka. Dalam hati aku mengutuki sambil menahan rasa frustrasi karena tingkah laku mereka. Kak Enji yang sudah sadar melepaskan cengkeramannya dari tangan kak Akbar. Lalu mereka berjalan mendekat ke tempat aku dan Naoki berada.
"Tidak mungkin aku tega memukul orang yang sedang sakit. Itu bisa menurunkan harga diriku tahu." Ucapan kak Akbar tidak membuat aku dan kak Enji senang sama sekali. Malah kak Enji memukul kak Akbar sama kerasnya seperti aku sebelumnya. Dan sialnya sekarang posisiku menjadi lebih dekat dengan Naoki. Grogi berhasil menyerang diriku. Aku merasakan kecanggung disekitar dan tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.
"Hai, kau teman Enji dan si gorila hitam itu ya?" Suara Naoki terdengar ditelingaku sehingga aku terpelatuk. Refleks aku menengok kesebelah kiriku dan mendapati orang yang sekarang sudah berbeda dengan baju rumah sakit, kain kasa, dan gips-nya. Tapi aku tahu, dia adalah Naoki Furugawa walaupun mungkin dia sudah melupakanku. Dan namaku juga.
"... Ehem! Uhuk."
Tiba-tiba Naoki batuk sehingga aku menjadi sedikit khawatir, tapi dilain sisi aku menjadi kurang bersimpati karena beranggapan ini adalah salah satu leluconnya lagi. "Kakak tidak apa-apa?" Terpaksa aku menanyakan keadaannya demi formalitas.
Spontan Naoki membalas, "A-Aku baik-baik saja kok!" Dengan pipi yang memerah dan senyuman aneh, Naoki mengelengkan kepalanya bersama kedua telapak tangannya. "Oke..?" Jawabku heran.
Baiklah Alice. Atur nafas dan tenangkan pikiranmu, ingat sapaan yang sebelumnya kita buat. Setelah aku merasa sedikit berani, akhirnya aku menghadap Naoki dan mulai berkenalan. Lagi. "Halo juga. Namaku Alice Yamada Henkis. Nice too meet you, kak Naoki-kun." Aku refleks mengulurkan tangan kananku untuk berjabat tangan. Dalam hati aku mengutuki perkenalan yang buruk ini.
Kenapa aku harus mengatakan semua nama lengkapku? Kenapa aku mengulurkan tangan? Padahal kita tidak sedang mengadakan acara istimewa. Dan bodohnya lagi, kenapa aku memanggil namanya dengan tambahan 'Kun' saat aku sudah memanggilnya 'Kak Naoki'?! Saat ini aku sedang berperan sebagai adik kelas yang sopan, bukannya sok sepantaran lagi!
".. Kak Naoki-San." Ucapku mengoreksi. Tapi tidak disangka Naoki malah menjabat tanganku lalu berkata, "Tidak apa-apa, sebut aku sesukamu. Lagipula aku akan mengulang kelas 2, jadi kita seangkatan dan Enji juga sama seperti kita." Setelah itu dia melepaskan tangannya dan kembali memeluk bantal yang dia pangku.
Tiba-tiba ada perasaan aneh yang menghinggapiku. Saat aku menjabat tangan Naoki, ada rasanya hangat dan lembut. Berbeda dengan dia menarikku untuk berlarian menjauhi Eliz dan Fumika di pertemuan kedua kita, tangannya sangat dingin dan kaku seperti mayat.
... "Hey!" Tapi sebelum aku membuka suara, dia menarik tanganku dengan kuat untuk ukuran lelaki kurus. Aku dibawa lari menjauh dari Fumika dan Eliz...
Tapi itu adalah hal yang harus di syukuri karena berarti sekarang sosok itu telah kembali hidup dan baik-baik saja.
Tunggu, apakah tadi Naoki bilang kita seangkatan dengan kak Enji? Tapi aku baru masuk sekolah, bahkan sehabis Masa Pengenalan Sekolah selama 3 hari.
Kak Akbar dan kak Enji yang juga merasa perkataan Naoki salah mengkoreksi kembali. "Maaf kak, Alice adalah adik kelasku." Ucapan kak Enji terdengar datar walaupun dia tersenyum simpul dengan tangan disilangkan. "Dan Enji adik kelasku." Lalu dilanjutkan kak Akbar melanjutkan sambil merangkul kak Enji dan menunjuk dirinya sendiri.
Butuh beberapa saat untuk Naoki mencerna perkataan mereka. Sampai akhirnya, "Matte! Jadi kamu adik kelasnya adikku?" Naoki tiba-tiba tersentak sehingga membuat sekitarnya ikut terkejut. Aku yang ditanyai mengangguk sebagai jawabannya.
Naoki menghela nafas berat, lalu menidurkan dirinya diatas kasur dengan bantal besar yang menutupi wajahnya. Kemudian berkata, "Aku sepertinya sudah tua." Sepertinya dia syok mengetahui aku masih kelas 1. Memangnya kenapa? Apa aku kelihatan tua, hah?! Keterlaluan!
"Seharusnya itu tidak terlalu mengejutkan." Ucapku menyindirnya. Yah, lagipula Naoki sebenarnya sudah tahu jika dia tidak lupa.
"Hey, Alice. Coba ucapkan kata kunci-nya."
Tiba-tiba kak Akbar memintaku mengucapkan 'kata kunci'. Aku tidak mengerti maksudnya sehingga menatapnya heran. Melihat raut wajah kebingungku, kak Akbar berusaha menjelaskan maksudnya secara singkat, "Prince! Prince itu."
Tidak disangka Naoki malah terbangun seketika dalam posisi duduk sambil mengancam kak Akbar, "Jangan berani-beraninya memberi doktrin tidak jelas." Tapi aku tidak mendengarnya karena masih memikirkan maksud kak Akbar. Sehingga dengan spontannya aku menjawab, "Mellow Prince?" Dengan nada ragu, padahal orang yang memiliki julukan tersebut ada disebelahku. Oh no.
"SUDIRMAN AKBAR!!!" Amukan Naoki tidak tertahankan seperti gunung berapi yang baru saja meletus. Rahangnya mengeras dan matanya membelalak. Alisnya yang tipis saat bertautan menjadi terlihat jelas, seperti urat wajahnya yang bisa aku lihat walaupun samar-samar.
Tangannya terlihat sedang meremas bantal yang dipegang. Bukan, malah terlihat ingin merobeknya. "Koroshimasu." Satu kata yang keluar dari bibir Naoki membuat semua yang ada disekitarnya bergidik. Termasuk aku yang tiba-tiba merasa De javu.
Karena merasa bersalah refleks aku berkata, "Gomae kak Naoki!!" Untuk meminta pengampunan.
[To Be Continue]🍵