Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 11. Second Experiment



Karena ruang UKS berada dilantai bawah sebelah ruang Resepsionis, kita bertiga harus melewati banyak lorong. Dan karena kurangnya penerangan, kita hampir salah jalan kalo bukan Eliz yang mengingatkan.


Dari keluar ruang UKS, lalu memutari ruang tamu didepan asrama, kami masih diam senyap selama dijalan. Untuk menghilangkan keheningan Eliz berbasa basi, "Eh, Alice. Name tag-nya sudah kamu buat belum?"


Tentu saja aku bilang, "Belum." dan itu membuat Eliz kesal. "Kamu gimana sih?! Kok belum?"


Seperti biasa, saat Eliz marah padaku dia akan mencubit pipiku sebagai pelampiasan. "A.. Ampun!!" Karena sudah biasa, rasanya tidak terlalu sakit.


Jika seandainya Eliz menggantikan Okaa-san, pipiku bakal melar karena aku ini anak bandel. Membayangkan saja sudah buat wajahku ngilu. Iihhhh..


"Tapi Eliz tanganku lagi sakit nih, boleh tidak kau yang lanjutkan?" Aku mencoba memelas pada Eliz agar tidak menyuruhku membuat name tag karena aku sedang malas.


Hari pertama di Jepang ini sangat berat. Kasus, hantu, luka, dan yang lain-lain itu melebihi kata wajar. Bisa bisa aku jadi 'gila' beneran.


"Kau gak kidal 'kan? Lukamu juga luka gigitan dilengan atas." Balas Fumika yang menyadarkan kalo permintaanku mustahil terkabul. "Hah... Baiklah, biar aku saja yang lanjutkan." Tapi untungnya Eliz adalah my Bestie jadi rela mengorbankan dirinya untukku. I love you Elizabeth!


Fumika hanya menatap kita miris. "Haissh, terserah kalian saja." Lalu membuang pandangan.


Setelah berjalan cukup lama, sampailah kita ditangga. Fumika naik duluan, kemudian aku dan Eliz. "Brrr..." Mungkin karena Hokkaido pulau paling ujung di Jepang, bahkan hampir dekat kutub Utara, udara saat malam hari sangat dingin. Aku menyesal pake kemeja lengan pendek dan Jins ¾. Saat itu, aku menggigil dan membekap tangan untuk menghangatkan diri.


"Hey, malam ini dingin ya?" Aku mencoba mengutarakan pendapatku pada yang lain dan mendapat respon setuju dari mereka.


"Benar, dingin banget!" Balas Fumika. "Padahal kalian dari Eropa yang ada musim dingin. Bagaimana aku yang dari Osaka?"


"Hehe iya, tapi beneran, ini dingin banget!" Eliz menimpal.


Tangga diasrama terasa sangat panjang. Jadi kita berusaha mengobrol lagi. Tapi kali ini, Fumika yang memulai dan dia menanyakan apa yang aku lakukan sebelum di serang Rokurokubi. Tentu saja aku menjawab dengan jujur jika aku sebelumnya membaca sebuah buku Diary rahasia yang belum aku beri tahu ke mereka. Sontak itu membuat Eliz dan Fumika kaget.


Fumika menebak aku menemukan buku Diary dikamar terkutuk dan itu benar. Fumika diam sesaat, lalu tiba tiba menanyakan pertanyaan aneh.


"Alice? Apa kau masih ingat kata kata dibuku Diary itu?"


"Hah?"


"Beberapa kalimat yang kau ingat saja."


Aku mencoba mengingat kembali memori sebelumnya. Dan terpikir olehku sebuah kalimat,


" 'Namanya Black Forest tapi warnanya Chocolate. Random things yang muncul saat makan siang dengan puding coklat.' dengan emoji."


"Seperti itu 'kan? Emangnya ada apa?" Aku bingung dengan maksud Fumika.


"Iya, dan kau gampang ingat pasti karena campur bahasa Inggris"


"Hehe~" Apa yang Fumika katakan tepat sasaran. Lagi pula aku paling ingat kata kata itu dan ikut kebingung.


Namanya Black Forest, tapi kenapa warnanya Chocolate? Seharusnya Black juga dong. Tapi, kalo hitam aneh karena kita jadi berpikir yang aneh-aneh! ... Argh!! Serba salah banget!


Bagaimana bisa pemilik buku ini punya pemikiran serumit ini?


Deg, deg. Jantungku kembali berdetak kencang. Karena terlalu tiba tiba, aku hampir jatuh. Untungnya, Fumika dan Eliz dapat menangkapku. Ditambah kita sudah berada diujung tangga.


Mereka menawarkan bantuan untuk menggendongku sampai kamar. Tapi aku tolak dengan alasan 'aku masih kuat' sambil memberikan senyuman kecil. Aku tidak ingin merepotkan.


"Tapi Alice.. "


"Aku tidak apa-apa kok!" Sembarangku potong ucapan Fumika agar cepat ke kamar dan tidur. Lagi.


Aku jalan lebih dulu dari Eliz dan Fumika untuk menghindari pembicaraan lagi. Atau bisa dibilang 'lari'. Aku sedang tidak ingin berbicara sekarang.


Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba berlari. Alasan yang terlintas dikepalaku hanya 'Butuh waktu sendiri'.


Alasan lainnya mungkin karena hal - hal gila yang terjadi selama di Jepang. Penampakan dan serangan dari makhluk yang mereka sebut 'hantu' ini menggores luka lama yang baru disembuhkan. Tidak, aku tidak ingin masa laluku terulang lagi. Tidak!


Ah sialan! Kenapa aku harus mengalami semua ini? Aku hanya gadis biasa yang ingin hidup tenang!


"Argh!!" Aku kesal. Sebagai pelampiasan aku memukul dinding asrama yang berwarna krim. "Dan gelang ini, apa maksudnya diberikan padaku?" Aku melihat pergelangan tangan kananku dan mendapati gelang dengan bentuk aneh.


Bentuknya seperti terbuat dari tali berwarna coklat-krim dan ada sepotong kayu persegi panjang yang menyatukan kedua ujung tali tersebut. Warnanya hitam dengan sebuah tulisan yang tidak aku mengerti. "Antak Temenku?" Gumamku.


Sebelumnya dikamar aku tidak bisa melihat bentuknya dengan jelas karena gelap dan pikiranku sedang tidak menentu saat itu.


"*Ambil."


Saat ini pikiranku sedang kacau. Aku tidak ingin ditarik keluar jendela lagi sehingga aku memasang gelangnya di tangan kananku*.


Hah, dan entahlah orang yang menolongku hantu atau manusia. Tapi aku menganggapnya manusia walau tindakan-nya tidak wajar untuk seorang 'manusia'. Ya semoga manusia karena aku sangat berterima kasih.


Aku masih berjalan sendirian dan tidak merasakan kehadiran Eliz dan Fumika. Hah... Sendirian.


"Hey,"


Aku sedetik, aku berpikir bahwa Eliz dan Fumika menyusul aku. Aku senang karena tidak lagi sendirian. Tapi saat aku menengok kebelakang, bukan mereka yang aku dapati.


"Apa benar itu gadis yang mereka bicarakan?"


"Hihihi! Benar!"


Yang aku dapati malah 'Hantu-hantu' lain-nya. Mereka sangat mengerikan dan banyak sampai memenuhi ruangan. Aku tidak sanggup menengok kebelakang lagi.


"Masa? Ayo kita buktikan, khe khe khe."


"Tidak. Jangan.. jangan mendekat!" Ucapku dalam hati kemudian berlari secepat mungkin memutari ruang utama, berbelok ke lorong asrama putri hingga ke pintu kamar. Kucoba buka gagang pintunya tapi ternyata terkunci dan aku baru ingat kuncinya ada pada Fumika.


"Sial.. Hiks... Sial!.. Aku tidak ingin dibunuh. Kumohon pergilah!" Ucapku lirih. Sebenarnya usahaku hanya sia-sia belaka. Memangnya ada hantu yang bisa diajak negosiasi? Tidak ada!


Dimalam gelap gulita, aku duduk sambil menutup wajah dengan tangan dan lututku didepan pintu kamar. Mata kupejamkan, telinga kusumbat. Aku tidak ingin mengetahui kelanjutan dari nasibku. Mati!


Debaran jantungku bergejolak, darah cepat terpompa ke otakku menambah rasa panik. Belum lagi keringat dingin yang bercucuran. Tidak henti - hentinya aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan keajaiban-Nya.


Tuhan tolong, aku telah terpojok oleh sesuatu yang tidak bisa aku lawan. Aku mohon...


Selamatkan aku..


Sunyi senyap kurasakan dalam kesendiriran. Aku tidak merasakan hawa berat membunuh itu lagi. Perlahanku coba membuka mata dan telingaku. Tapi, aku tidak punya keberanian.


"Alice." Samar samar terdengar suara lembut dari orang yang aku kenal.


"Na.. Naoki-Kun?"


"Daijobudesu(Tidak apa apa). Kau aman."


"Hah? Apa maksudmu?"


"Kau hampir diserang Oni tadi. Untung aku sedang berjalan-jalan sebelumnya."


"Eh?!! Naoki bisa melihat 'hantu' juga?!!"


🗝️🎭🗝️


Bohong. Sebenarnya aku masih dikamar sampai tiba-tiba ada suara milik Alice samar-samar terdengar 'lagi' dan aku berteleportasi kedekat Alice. Tepat dibelakangnya untuk ke 3 kalinya.


Pertama, saat Alice menabrakku dikoridor sambil menangis.


... *Buk, suara tabrakan menghentikan lari Alice. Apa yang dia tabrak?


"Alice? Alice! Kenapa kau menangis?" Naoki*?...


Kedua, saat penyerang Nona Asumi-San, si Rokurokubi.


... sebuah kilat putih datang dari belakang kepala wanita kimono...


Ketiga, adalah sekarang.


Sebenarnya dari awal aku sudah berada disekitarnya. Tapi dia bakal kaget melihat kehadiranku yang tiba - tiba didepannya, bahkan didepan teman-temannya yang tidak bisa melihat. Ini akan merusak rencana dan seharusnya ini bagian Ayumi!


"... *Pada bagian ini Ayumi mendapat peran sebagai pembawa pesan kita."


"Aku mau saja, tapi Alice akan menunjukanku kepada teman-nya yang 'tidak bisa melihat' dan saat Alice sadar dia akan mengusirku. Otomatis rencana kita gagal*!"


Aku teringat kembali perkataanku saat membahas rencana kita dan itu membuatku merasa seperti orang munafik.


Karena itu, aku bersembunyi dibelakang mereka sambil memperhatikan bahaya apa yang akan menimpa Alice. Karena sebelumnya, aku terpanggil oleh suara Alice dan dia hampir terbunuh oleh Nona Asumi-San. Dan terpaksa ku tebas lehernya agar dia berhenti mengigit lengan Alice dengan tanganku. Gomen'nasai(Maafkan aku) Asumi-San.


Dan untuk berjaga jaga, aku memberinya gelang dari temanku yang berasal dari Indonesia, Akbar. Karena sepertinya aku tahu cara untuk mengaktifkan kekuatan indigo Alice yang langka ini.


Agar bisa aktif, seperti Alice harus bergumam sesuatu yang pernah diucapkan orang yang meninggal. Tertulis maupun tidak. Seperti buku diary malangku yang sepertinya dia sudah baca. Dan sebagai pelengkap, Alice harus menggunakan atau memegang barang yang sangat berharga bagi yang telah meninggal.


Gelang yang aku berikan dan buku diary itu ternyata memicu kekuatannya. Namun tidak akan bereaksi apapun jika tidak dilengkapi oleh 'kata-kata terakhir'. Artinya keduanya saling melengkapi, komplomenter!


Alice memiliki kekuatan sangat yang menarik, akupun sampai terpukau. Ternyata didunia nyata ada hal hebat ini!


"Eh?!! Naoki bisa melihat 'hantu' juga?!!"


"Hah?! Bi.. Bisalah." Aku si hantu juga By the way.


Alice sempat panik saat melihat tangan kiriku yang berdarah. Dia berpikir tanganku dimakan tapi aku menepisnya dengan mengatakan darah ini bukan milikku.


"Jadi kau melawan hantunya?!" Tanya Alice masih tercengang. "Iya." Jawabku canggung.


Kebingungan Alice membuatnya memberiku pertanyaan bertubi - tubi seperti 'Bagaimana caranya?', 'Memangnya bisa?', 'Haaah?!! Jawab Naoki!!!'


Pada dasarnya, dia hanya bertanya caranya aku bisa membunuh para Oni itu. Setelah dia selesai dengan 'sesi' tercengangnya dan melepaskan pundakku dari tangannya (Karena dia mengguncang tubuh/Roh-ku) aku mulai menjelaskan.


"Alice, kalau kau punya keberanian, para hantu tidak akan menyakitimu. Jadi beranilah!" Setelah merasa puas dengan jawabanku, Alice kembali diam.


Itu yang aku ketahui selama setahun menghantui sekolah. Para hantu yang mencoba mendekati dan me'makan'ku dapat dibunuh dengan serangan manusia biasa seperti tendangan, pukulan, tebasan dan lain-lain.


Perasaan yang aku rasakan saat melawan mereka sama. Aku berani dan tidak takut pada mereka. Walau awalnya aku sering kabur saat bertemu.


Tapi sekarang kita membuat perjanjian antara Hantu 'Jiwa Manusia' dengan Hantu 'Siluman' tidak akan mengusik satu sama lain. Tapi, ternyata itu omong kosong. Hantu Siluman sering ingkar janji.


Sebagai ganti tidak bisa memakan kami, mereka mengganggu manusia hidup untuk dimakan jiwanya. Pada akhirnya sama saja.


[To Be Continue!] 🏖️