Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 23. Brother!



Semilir udara terhembus didekat balcon. Membuat rambut kita melayang-layang terbawa angin.


Aku merapihkan kembali rambutku yang diacak-acaki oleh angin dan menyelipkannya dibelakang daun telinga karena malas menata kunciran rambutku. Sedangkan kak Enji membiarkan rambutnya berantakan karena angin.


Kak Enji terdiam sebagai jeda. Nafasnya terdengar berat dan tangannya gemetaran. Dia hampir melewati batas dirinya, namun tetap berusaha kuat. "Aku, antara percaya tidak percaya jika kak Anzu pelakunya." Ucap kak Enji senormal mungkin.


Aku menepuk pundaknya pelan lalu menatap matanya. Dia menyadari tatapanku lalu memasang raut wajah kebingungan. "Setelah ini, boleh pergi ke Bazar?" Tanyaku tiba-tiba untuk mengalihkan kekhawatiran kak Enji.


Dia tidak tersenyum. Sorot matanya menjadi tajam seketika. "Kau memotong ceritanya."


Kyaaa! Teriakku dalam hati karena orang yang ada dihadapanku berubah menyeramkan. Ampun kak, aku cuma khawatir sama kakak... Hiks...


"Canda~ Setelah sekolah kalian bebas kok. Aku akan menemani kalian tur keliling Bazar jika sempat." Ucap kak Enji lembut sambil mengusap pucuk kepalaku. Dalam waktu singkat tatapan kak Enji berubah menjadi ramah seperti sebelumnya. Seakan tidak terjadi apa-apa.


Sialan! Aku ketakutan tahu.


"It's okay, Eliz. Aku jauh lebih baik dari sebelumnya." Kata-kata kak Enji membuatku tersipu. Aku tidak bisa menahan rona merah di pipiku sehingga aku berpaling dari kak Enji. "Y-Yes..." Balasku.


"Omong-omong, apa yang terjadi kepada kak Naoki?" Setelah kak Enji bercerita tentang kak Kenji sebelumnya pasti berhubungan dengan cerita kak Naoki dan juga bagaimana kak Enji mendapat traumanya.


Kak Enji memandang kembali pemandangan sekolah didepan. Beberapa menit ia habiskan untuk mempersiapkan diri dan mentalnya bercerita.


Akhirnya dia menghela nafas pelan, lalu menjawab, "Kak Naoki harus menghadapi si pembunuh itu karena melindungiku." Aku terkejut, namun aku harus bersikap biasa agar tidak membuat trauma kak Enji terpelatuk.


"Awalnya saat aku dan kak Naoki mengambil makan siang, kak Naoki tiba-tiba mengeluh lupa mengambil Buku Diary-nya. Aku berinisiatif untuk mengambilnya kembali tapi kata kak Naoki tidak usah karena masih ada polisi yang memeriksa kamar."


"Karena aku keras kepala, aku memaksa kak Naoki untuk meminta izin saja kepada para polisi yang ada. Tapi anehnya saat kami pergi ke kamar nomor 21 tidak ada polisi yang berjaga. Hanya ada garis polisi yang menutupi pintu."


"-'Mungkin mereka sudah pulang'-, pikir kak Naoki. Maka kami langsung membuka pintu kamar perlahan agar garis polisinya tidak robek lalu mencari-cari kesana kemari sampai kak Naoki menemukan buku Diary-nya dibawah kasurnya."


***


"Sudah ketemu Enji. Ayo pergi." Ucap kak Naoki sambil memegang buku Diary-nya. Aku yang sedang mengecek kolong kasur yang lain berdiri menghampiri kak Naoki.


Buku Diary-nya kelihatan lusuh karena sering kak Naoki gunakan. Masih ada sisa debu yang menempel disudut bukunya karena sudah lama tidak diambil. Apalagi kak Naoki meletakannya dibawah kasur.


Aku yang penasaran dengan isi buku kak Naoki mendekatinya dan menemukan tulisan tangan yang terlampau rapih. "Senpai nulis atau ketik? Rapih banget." Ucapku memujinya.


Kak Naoki tersenyum simpul lalu mendorongku mundur. "Iya, iya. Jangan dibaca juga isinya." Karena tubuhku saat itu lebih pendek dari kak Naoki, dengan mudahnya dia mengusirku pergi.


"Omong-omong, sekarang tanggal berapa?"


"Uhm, 6 Desember 2012"


Aku melihat tanggalan di ponselku lalu memberi tahukan-nya kepada kak Naoki. "Senpai kenapa nanya tanggal?" Tanyaku karena kak Naoki dengan anehnya menanyakan tanggal. Padahal tidak ada orang di dunia yang terlalu peduli dengan tanggal, kecuali tanggal merah dan tanggal ulang tahun.


Tiba-tiba kak Naoki membuka buku Diary lalu secara ajaib ada pensil didalamnya. Kemudian dia menulis dihalaman lain bukunya yang kosong. Aku berpikir, "Pantas tulisan Senpai rapih." Itu karena dia rajin menulis.


Walaupun kak Naoki serius menulis, dia sempat membalasku, "Kehidupan itu membosankan jika diingat. Tapi jika dituliskan saat dibaca seperti melihat kisah fantasi. I don't want to rot cuz bored."


Tangan kiri kak Naoki dengan cepat menggores halaman buku Diary-nya. Aku berusaha mengintip beberapa kalimat dibuku Diary dan berhasil membaca kata,


"*Malam tanggal 6 Desember 2012


Aku datang kembali ke kamar bersama Enji untuk mengambil buku ini. Sudah lumayan berdebu, tapi tidak apa-apa.


Ps: kamar kita sekarang kata Akbar jadi angker karena ada kepala yang ditemukan dikamar ini. (Pembunuhan kedua?!) Aku juga ketakutan kalau berlama-lama. Aku dan Enji akan segera pergi!


(Akbar jerawat hari ini, LOL)"


Subarasii desu(Hebat)! Kak Naoki dapat menulis kata-katanya tanpa tergores. Padahal hanya beralaskan tangannya saja. Note kecil disekitar tulisan utama terlihat seperti coretan karena ukurannya yang kecil. Tapi tidak menghalangi tulisan utamanya.


"Tulisan Senpai kayak perempuan." Candaku sambil tertawa kecil. Kak Naoki mendengus kesal lalu meletakan kembali pensil dibukunya lalu menutupnya.


Tap, tap...


Ada suara yang aneh. Tapi aku tidak menghiraukannya dan berjalan mendekati pintu keluar.


Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundakku. Kak Naoki menahan jalanku sambil berkata, "Enji, tolong cek dilemari, mungkin ada pakaianku yang tertinggal."


"Eh?" Saat itu aku tidak memikirkan apa-apa sehingga meng-iya-kan permintaan kak Naoki. Lalu aku berjalan kembali kearah lemari. Aku membuka pintu lemari dan tidak menemukan apa-apa. "Tidak ada apa-apa Senpai." Ucapku.


"Enji cepat masuk kedalam!" Peringat kak Naoki membuatku cukup terkejut, namun dengan naifnya aku masuk kedalam lemari tanpa mengetahui kak Naoki dengan cepat menutup pintu lemari dan menguncinya.


"Senpai! Senpai! Jangan bercanda!" Seberapa keras aku menggedor pintu, tidak bisa membuka lemarinya. Dari cela kecil lemari yang seharusnya sebagai lubang kunci, aku melihat wajah kak Naoki dari tempat lain. Sambil mengacuhkan jari telunjuknya dibibir, kak Naoki berkata, "Diam Enji. Apapun yang terjadi jangan buka pintunya atau bersuara."


"Kak Naoki!"


"Shht! Dia mendekat."


Aku menuruti kembali permintaan kak Naoki. Dari cela kecil tersebut, aku melihat kak Naoki sedang berhadapan dengan seseorang. Namun wajahnya tidak jelas karena tertutupi masker.


"Apa yang kau lakukan disini? Kau si pembunuh itu 'kan?" Tanya kak Naoki selidik. Namun lawan bicaranya tidak menjawab, malah dengan cepat memukul perut kak Naoki sampai dia memuntahkan makan malamnya. "Hoeek."


Aku syok seketika saat melihatnya. Bukan hanya muntahan yang keluar, ada secercak darah dari perutnya. "Knuckle¹?" Batinku.


Walaupun kak Naoki mendapat serangan tadi, dia berusaha bangun untuk melawan. Namun berakhir terkapar dilantai karena kepalanya dipukul keras dengan sikut.


... Apapun yang terjadi jangan buka pintunya atau bersuara...


Sial! Lagi-lagi aku ingat permintaan kak Naoki dan diam tidak berdaya.


Siluet yang menyerang kak Naoki tadi memutari tubuhnya. Lalu maju untuk menginjak punggung kak Naoki. "A.. Apa yang kau mau?" Ringis kak Naoki.


Tiba-tiba siluet itu memegang tangan kanan kak Naoki, lalu menginjak tangan yang masih lurus segaris dengan tubuhnya itu. 'KRAAAK' Dengan kuat tangannya dibengkokan paksa melawan arah sendi.


"GRAAAAAAHK!!" Teriakan kak Naoki merasuki otakku. Penuh penderitaan, rasa sakit. Cukup! Aku harus berbuat sesuatu.


... Apapun yang terjadi jangan buka pintunya atau bersuara...


Enji! Sekarang yang lebih penting nyawa kak Naoki. Ayo pikirkan apa yang bisa kau lakukan. Tiba-tiba ide terlintas dipikiranku. "Ponselku!" Dengan cepat aku mengambil ponsel disaku bajuku lalu menyalakannya.


Aku meng-klik icon telepon dan mengetik nomor 110² dengan cepat. "Tut.. Tut..." Aku tersiksa dengan menunggu. Selama aku menelpon polisi, suara kesakitan kak Naoki masih terdengar.


"Halo ini kantor polisi, apa masalahmu."


Akhirnya ada suara yang mengangkat teleponku. Dengan tergesah-gesah aku menjawab, "Ada orang yang menyerang temanku. Tolong cepat!"


"Dimana lokasimu? Prefektur³ mana?" Pertanyaan lagi. Aku berusaha tenang untuk menjawabnya, "Kamar nomor 22 Asrama laki-laki, SMA Hokkaido 45...."


"Prefektur Sapporo..."


Aku melihat kembali dicela kecil lemari. Pemandangan yang sama seperti sebelumnya, kak Naoki yang kesakitan terbaring dilantai dengan siluet didepannya.


Tapi anehnya, sekarang siluet itu merogoh sesuatu dibalik jaketnya. Kemudian mengeluarkan sebuah botol seukuran tangannya. Dia membuka tutupnya, lalu menjambak rambut Naoki kasar.


"O..Omae....?" Ucap kak Naoki lemah.


GYAAAAA...


Bersamaan dengan teriakan itu, cairan mirip air mengalir turun dari botol tersebut. Cairan itu membakar wajah kak Naoki. Kulitnya mengelupas menampilkan dagingnya yang terbakar bersama darah. Kejadian ini berputar sangat cepat. Aku tidak sempat berkedip.


"HENTIKAN!! HENTIKAN ZYA-KU!!" Aku tidak tahan sehingga menggedor pintu lemari. Aku memukulnya berkali-kali hingga tercipta bunyi yang sangat gaduh. "LEPASKAN SENPAI!!! KAK NAOKI!!" Aku menjerit karena putus asa.


Sebenarnya itu pilihan paling bodoh. Tapi untungnya gertakanku malah membuat siluet itu melarikan diri dan meninggalkan kami sendirian. "Baiklah, kami akan segera kesana."


"Bisa lebih cepat?" Bisikku lemah.


Selama menunggu bantuan datang, aku harus berdiam diri didalam lemari sambil melihat kak Naoki. Kak Naoki yang tersiksa tidak mampu bangun kembali. "Ini mimpi buruk. Aku akan segera bangun." Harapan paling picisan yang pernah aku minta.


"Enji!! PERGILAH!!...Dia akan kesini!... Lagi CEPATLAH!!" Sekarang suara kak Naoki seperti teringang dikepalaku. Membuatku gila karena sekarang dia ada didepanku tidak bergerak sedikitpun. "Enji..."


"Senpai yang mengunciku disini!"


Bodoh, apa yang sedang aku lakukan? Dengan siapa aku berbicara? Semua hanya mimpi buruk.


🥀🍂🥀


"Besoknya polisi berhasil menemukan kami lalu melarikan kami ke rumah sakit lewat Ambulan. Aku tidak terluka sehingga cepat dipulangkan, sedangkan kak Naoki menerima luka fatal seperti memar, robekan diperut, tangan kanan yang patah, dan... wa-wajahnya terbakar."


"Dia tidak sadarkan diri selama setahun karena Zya-ku itu."


Kak Enji mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras karena marah mengingat kembali masa lalunya. Saat dimana dia tidak bisa berbuat apa-apa padahal ada kawan yang membutuhkan.


Aku tahu ini, karena aku juga pernah merasakannya.


"Tapi masa lalu tidak bisa diperbaiki. Jadi yang sekarang kita bisa lakukan adalah menjaga masa depan." Aku tidak menyangka ucapan itu bisa keluar dari mulutku. Aku merasa sok puitis. Argh! Memalukan.


"Lupakan kak." Aku harus menelan ludahku kembali karena ego. "Loh? Perkataanmu tadi ada benarnya kok." Balasan dari kak Enji malah membuatku tersipu malu. Senyuman manis dan lesung pipi kak Enji menambah ke-Handsome-annya. Tak terkecuali terpaan langit berawan yang menjadi filter-nya.


Tapi, kenapa terkesan sedih?


Kriiiing, Kriiing.


Bel masuk telah berbunyi, tapi aku belum melihat tanda-tanda Alice dan Fumika. "Sayang sekali, Alice sepertinya tidak ada." Ucap kak Enji kecewa. "Yosh, nanti sepulang sekolah ketemu lagi ya. Aku dikelas 11 - IPA 9. Ditunggu, 'Elizabeth'? Itu nama lengkapmu 'kan?"


Astaga! Kak Enji tahu nama lengkapku!!!


"I.. Iya kak Enji." Dengan gagapnya aku menjawab.


Kita pun berpisah. Aku memperhatikan punggung kak Enji yang menjauh sampai akhirnya pudar oleh jarak. "Ah... THE HAPPIEST DAY EVER!!" Secara tidak langsung, aku seperti berkencan dengan kak Enji. Dan lagi dia tahu nama asliku! Wuhu!


"Hey, hey! What's up? I'm back." Aku mendengar suara Alice. Aku menengok dan mendapati dirinya dan Fumika berjalan bersama. "Kita udah baikan kok." Ucap Alice sambil tersenyum lebar.


[To Be Continue!]👻


__________________


¹Knuckle adalah sebuah senjata yang terbuat dari logam yang dapat dipasang melingkari keempat buku jari terdepan dari tangan.


²Nomor kantor Polisi Jepang.


³Prefektur ialah sebuah istilah untuk menyatakan suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tersendiri. Mirip seperti negara bagian atau provinsi yang dipimpin oleh pemimpin tunggal.