
Selasa, 14 Juli 2013, Pukul 14.05
Pelaku dengan inisial Pureya yang telah menerror SMA Hokkaido 45 dengan aksi pembunuhan 4 murid selama setahun akhir, berhasil tertangkap.
Berita membahagiakan ini disambut haru dan kelegaan oleh semua orang bahkan keluarga dari korban.
Semua orang akhirnya diperbolehkan mengetahui kasus pembunuhan yang 'katanya' telah diselidiki secara rahasia ini. Atau setidaknya, telah diungkap oleh 5 pelajar disekolah itu sendiri.
Kasus ini menjadi tren Global dalam 2 jam. "Pembunuhan Oleh Siswa Dan Diselesaikan Oleh Siswa." Judul yang akan diberikan pada Headline News besok dipagi hari.
Setelah aku diselamatkan oleh petugas di rumah kaca yang terkunci, Anzu langsung dibawa ke kantor polisi dengan mobil. Sedangkan kak Haruka masih tidak sadarkan diri sehingga dibawa ke rumah sakit dengan mobil salah satu guru.
Aku masih ingat saat menengok dari balik pohon apel, tangan Anzu diborgol kebelakang lalu dituntut berdiri. Padahal dia kelihatannya masih belum sadar dari pingsan.
Seorang petugas polisi menemukanku yang sedang memeluk buku Diary Naoki dibalik pohon. Lalu aku dibawa keluar untuk diamankan. Disana aku tertemu dengan yang lain. Ada kak Akbar, kak Enji, Elizabeth, dan Fumika yang telah menungguku di luar rumah kaca.
Mereka menghampiri dan mengucapkan puji dan syukur kepadaku yang telah berani berhadapan dengan Anzu dan masih selamat.
"Terima kasih Tuhan. Kau selamat Alice." Ucap Eliz sambil menggandeng tanganku bersamaan dengan Fumika. "Kerja bagus Alice. Kita berhasil!" Timpal Fumika yang membuatku berpikir, ini pasti akhir bahagia kami.
Setelah itu, kami diajak oleh salah seorang guru kami-Pak Tanaka- ke halaman utama sekolah untuk upacara dadakan. Disana ada banyak orang lain yang menantikan kehadiran kami.
Semuanya terdiri dari para siswa, guru, staff, dan ada beberapa orang tua siswa yang menyempatkan diri mendatangi sekolah. Mereka menyuarakan rasa terima kasih kepada kami.
"Liat! Itu ada Fu-Chan! Dia temanku!" Teriakan keras Yugi membuat Fumika membalikan pandangan karena malu. "Astaga banyak sekali orang." Bisik Eliz kepadaku. Aku mengangguk karena setuju.
Mungkin karena ini, seperti kebebasan dari belenggu ketakutan yang selama setahun ini menghantui sekolah. Kini kita tidak perlu mengkhawatirkan tentang pembunuh berantai yang mengintai lagi. Semua kembali damai.
Aku, Eliz, Fumika, kak Enji, dan kak Akbar berdiri diatas panggung untuk tanyai kronologis cara kita menangkap Anzu didepan umum dengan ditonton banyak orang. Fumika sebagai perwakilan juru bicara kami menjawab.
"Ah bagaimana ya? Seperti yang kita tahu, perlu penyelidikan untuk mengungkap misteri satu persatu. Dimulai dari investigasi kamar nomor 21, menanyakan beberapa narasumber, sampai kebetulan si Pembunuh itu sendiri menjadi ceroboh sehingga menampakan batang hidungnya."
Fumika berusaha untuk tidak menambahkan bumbu-bumbu supralnatural diucapannya agar bisa dipercaya.
Dan itu berarti usaha Naoki, Kaouri, Ayumi, dan Kenji yang telah membantu kami tidak diceritakan. Memang menyedihkan dan tidak adil. Namun apakah ada yang akan percaya? Okaa-san saja tidak percaya ucapanku soal Mandora.
"Dia mungkin mengira kita hanya 'Anak biasa' yang tidak bisa berbuat nekat seperti ini. Pfft, salah langkah." Lanjutan dari penjelasan panjang lebar Fumika kepada semua orang dihalaman.
Para wartawan dan polisi pun dengan rajinnya mencatat kata-katanya, bahkan tidak jarang ada reporter yang nekat menggunakan perekam suara diponselnya jika tidak sempat menulis.
"Tapi semua ini tidak akan terjadi tanpa bantuan kedua sahabat saya yang dengan sabar menghadapiku." Kali ini Fumika menunjukku dan Eliz sehingga kamera ditujukan khusus kepada kami. Tangannya diulurkan sebagai kode agar mendekat. Jadi aku dan Eliz mendekatinya dan menghadap ke kamera.
"Eliz, i'm very nervous."
"Me too."
Ini adalah pertama kalinya kami dekat dengan kamera reporter untuk diwawancarai sehingga kami hanya tersenyum grogi. Bagaimana dengan Fumika? Dia terlihat baik-baik saja.
"Oh iya, ada kak Enji dan kak Akbar yang membantu kami." Ucapku menambahkan. Kemudian orang yang aku sebut, ikut terseret ke depan kamera secara sukarela.
"Setelah mengetahui rencana busuk Pureya-Anzu, kami langsung berpisah untuk menghentikannya." Lanjut kak Akbar didepan kamera sampai diberikan 1 mikrofon agar suaranya terdengar cukup jelas.
"Fumika dan Enji memanggil polisi di pos satpam sampai ditanyai pak Tamura. Ya 'kan?" Mereka mengangguk bersamaan sambil tersenyum tipis.
"Senpai, apa perlu berkata begitu?"
"Enji, ini namanya Give Attention. Jurus agar pembicaraan kita jadi menarik."
Entah apa yang kak Akbar dan kak Enji sedang bisikan sampai merangkul bersama. Aku pikir sepertinya private.
"Terus, aku dan Eliz memanggil guru untuk jaga-jaga. Dan terima kasih bu Ochari sudah mendengarkan kami." kak Akbar berhenti berbicara sebentar untuk membungkuk hormat bersama Eliz kepada bu Ochari yang ada didepan mereka. "Dan terakhir Alice, perempuan paling berani yang menghadapi si pembunuh sendirian. Pasti menegangkan banget."
Tidak, aku tidak sendirian. "Iya tentu saja kak."
Cklik, Ckrek. Banyak cahaya blitz hampir membutakan mataku. Kamera telah siap sedia kapan saja untuk memfoto. Ditambah sorak-sorai para penonton yang mengagung-agungkan nama kami.
Warna ini, perasaan ini. Kapan terakhir aku merasakannya? Sangat hangat dan menyenangkan. Mendapat pengakuan dan pujian. Tapi ada beberapa orang lain yang seharusnya mendapatkan perhatian juga.
"Tolong jenguk aku di rumah sakit."
Aku teringat kata-kata terakhir Naoki. Mungkin aku akan mengadakan kunjungan suatu hari dengan bantuan kak Akbar.
"Arigatou, Arigatougozaimasi ta atas kerja keras kalian. Sekolah akan selalu mengenang jasa-jasa kalian." Pak kepala sekolah yang aku ingat namanya adalah pak Hideyoshi maju menyambut kami. "Nah, ayo bapak-ibu guru, staf, dan Wali Murid naik ke panggung. Kita akan foto bersama."
Semua orang yang dimaksud pak Hideyoshi pun maju keatas panggung dengan tertib. Dari sana mereka menyambut kami dengan ucapan suka cita. Ada beberapa wajah yang aku ingat, seperti pak Atsushi, pak Osamu, pak Tanaka, bu Inawari, bu Usagi, dan bu Youki!
Duh, bagaimana cara menghadapinya. Terakhir kita berhadapan aku berlari setengah mati didepannya. Oke Alice, act normal!
Sampailah bu Youki didepanku. Tiba-tiba beliau mengusap kedua pundakku lembut, lalu membungkuk dihadapanku. Seketika pelukannya menghampiriku. Aku yang syok mundur perlahan tanpa disadari.
"Terima kasih nak atas kerja kerasmu."
"I-iya bu." Ucapku canggung.
"Tapi ini belum berakhir."
"Apa?" Ucapan bu Youki membingungkanku. Bukannya Anzu sebagai pelakunya sudah berakhir ditangan polisi? Bukannya sudah The End?
"Dengar." bu Youki mendekat dan berbisik ditelingaku. "Pak Tanaka juga terlibat. Kalian harus cabut sampai keakar-akarnya agar sekolah ini kembali pulih."
"Permisi bu Youki, saya ingin menyelamati Alice juga." Tiba-tiba seorang guru wanita dengan prawakan gendut memotong pembicaraan kami. Maka bu Youki berdiri kembali dan pergi dari hadapanku.
"Terima kasih nak, kamu yang paling berjasa disini." Ucapan ibu ini salah. "Aku tidak bekerja sendiri kok bu." Balasku untuk mematahkan pemikirannya.
"Tapi kamu berhadapan dengan iblis itu sendiri. Pasti serem, ya. Ibu sampai gak bisa bayangin."
Lagi. Aku tidak menghadapinya sendirian!
🚔🔥🚔
Sebuah mobil dengan sirene merah-biru akhirnya menepih disebuah gedung kantor polisi setelah 2 jam perjalanan.
Pintu kiri depan bagian tempat driver yang menyetir mobil terbuka menampilkan sesosok tinggi tegap. Kulitnya coklat mendekati putih. Seragam polisi lengkapnya dihiasi oleh lencana-lencana yang membuktikan posisinya sebagai Inspektur.
Akhira Hattori, Inspektur yang mengurus kasus ini sangat terkejut mengetahui putri semata wayangnya-Fumika Hattori- berhasil mengungkap kasus pelik yang telah berbulan-bulan mereka teliti tanpa sepengetahuannya.
Antara bangga dan ngeri membayangkan putri manisnya ternyata bisa selevel diatasnya. "Ahh, aku tidak sempat bertemu dengannya disekolah. Aduh, aku kangen." Keluhnya.
Kemudian Akhira membukakan pintu belakang mobilnya. "Keluar." Ucapnya singkat kepada seorang pemuda yang ada didepannya.
Anzu menurut dan keluar dengan perlahan. Namun polisi lain yang ada disampingnya selama perjalanan mendorong paksa sampai dia hampir terjatuh. "Teme, cepatlah!" Ucapnya kasar.
Anzu tidak bisa apa-apa selain membungkuk dan menjawab, "Ya." Pelan karena kehilangan sebagian besar tenaganya. Akhira menuntun Anzu sampai kedalam kantor untuk di introgasi lebih lanjut.
Didalam mereka melihat lorong dengan beberapa ruangan untuk dijadikan kantor. Di salah satu tempat, Anzu disuruh masuk dan duduk dikursi yang disediakan.
Ruangan itu hanya diisi oleh 2 bangku dan 1 meja kecil untuk introgasi. Rekan yang menemani Akhira menunggu disudut ruangan sedangkan dia sendiri duduk berhadapan dengan Anzu.
"Sumi mase n(Permisi), ini berkas yang anda inginkan pak Hattori-san." Seorang pegawai wanita masuk kedalam ruangan dan memberikan berkas yang dimaksud ke Akhira langsung. "Terima kasih." Ucap Akhira lalu pegawai itu pergi dari ruangan menyisakan mereka bertiga.
"Jadi kita mulai ya, Sakamoto Anzu, alias Pureya." Anzu masih tertunduk saat Akhira berbicara padanya. "Hoi! Jawab!" Teriak temannya untuk menyudutkan Anzu. Akhira yang merasa caranya tidak perlu membalas, "Tenanglah pak Suzuki." Maka pria jangkung yang sedikit bungkuk itu terdiam sejenak.
Akhira mengeluarkan beberapa foto dari berkas yang diberikan dan menjejerkannya dihadapkan Anzu. "Kau masih ingat mereka? Maori Kaouri, Samaki Ayumi, Okinawa Kenji, dan Furugawa Naoki. Korban yang kau bunuh."
Anzu tiba-tiba menggigil ketakutan. Bulu kuduknya berdiri dan tatapannya tidak menentu. "Singkirkan! Singkirkan! Aku telah menyesal!"
Tentu saja jawabannya diberi sentakan oleh Suzuki. "Bocah ini! Jika menyesal kenapa dilakukan?" Akhira tidak menghentikannya. Bahkan dia ikut penasaran.
"Kare(Dia\=Laki-laki) yang menyuruhku. Jika tidak beasiswa-ku diputus, hutang-hutang keluargaku tidak dibayar, dan paman akan dipenjara." Baik Akhira maupun Suzuki, mereka sama-sama terkejut. Reaksi Anzu seperti orang yang kerasukan, menggeliat-geliat tanpa henti.
Jadi ada pihak kedua, Batin Akhira.
Tok tok. Sebuah ketukan mengganggu introgasi mereka. Terpaksa Suzuki membukakan pintu dan mendapati rekan kerjanya yang memberikannya 2 amplop yang tebal. "Ini hadiah dari seseorang untuk kalian." Ucapnya sambil mengantongi amplop-nya sendiri.
"Kalian cukup diam saja. Anak itu pembunuh berencana dan sudah cukup umur. Besok buat catatan dia akan dihukum mati secepatnya. Lalu tutup kasus ini." Lanjutnya lalu pergi berlalu meninggalkan Suzuki yang masih memegang 2 amplop ditangannya.
"Hoi tua bangka!" Suzuki melempar kedua amplop itu tepat diwajah rekannya yang baru menengok. Dia meringis sambil menyumpahi-nya. "Brengsek! Sok suci! Munafik!"
"Ambil saja uang kotormu dan makan sendiri!" Bentak Suzuki lalu membanting pintu kesal.
Haha, haha. "Hah, aku akan mati ya? Terserahlah, itu pun yang pasti dia mau." Anzu kelihatan kacau dan telah pasrah pada takdirnya sambil tertawa sedih. Dia tahu 'orang itu' pasti akan membungkam semua polisi agar hanya nama Anzu yang kotor dan membuat media hanya perpusat kepadanya. Dia telah di-kambing hitam-kan dan akan memiliki ending yang tragis.
Aku sudah bilang 'kan jika ini merepotkan? Sekarang aku baru menyesal. Batin Anzu putus asa. Haruka, bagaimana keadaanmu? Semoga kau tidak bodoh lagi berteman dengan orang sepertiku.
Anzu menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Kemudian berkata, "Kalian sudah terima uangnya? Yah, seperti katanya. Langsung bunuh saja aku."
Dengan mendongakan pandangan, Anzu memperlihatkan lehernya dengan maksud agar mereka cepat memotong nadinya. Namun malah disambut pukulan keras dari belakang kepalanya oleh Suzuki, "Oi! Kita tidak serendah **** yang memakan kotoran-nya sendiri."
Lalu Suzuki menarik rambut Anzu agar wajahnya dapat memperhatikan Akhira dengan baik. "Dengar bocah, jika kau tidak ingin mati lebih baik kita bekerja sama." Ucapan Suzuki membuat Anzu membelalak kaget.
Belum cukup hanya itu, tiba-tiba Akhira mengeluarkan berkas kedua yang sebenarnya ditaruh dalam koper yang sering dia bawa-bawa dan menunjukannya kepada Anzu. "Sejak kematian Maori Kaouri, semua kantor polisi disekitar Sapporo dan luar daerah mendapat amplop berisi uang untuk bungkam tentang kasus ini."
"Keluarga korban yang termasuk golongan kurang mampu tidak bisa melawan ketidakadilan ini. Maka kami sebagai 'polisi baik' yang tersisa melakukan Investigasi secara rahasia bersama daerah lain."
"Sulit mencari yang benar-benar 'asli' sampai membutuhkan waktu 3 bulan untuk berhasil mengumpulkan mereka walaupun dengan jumlah sedikit. Peralatan yang kita punya juga terbatas. Sampai salah satu dari kita rela masuk ke sekolah itu untuk mengumpulkan bukti. Bukan sekedar menangkapmu. Tapi ini juga."
Setelah menjelaskan panjang lebar, Akhira menyoborkan beberapa foto dan kertas berisi data-data ke Anzu. Lalu dia membacanya sambil bergumam, "Penggelapan pajak, transaksi ilegal, pemalsuan dana perusahaan elektronik, penyelundupan satwa terancam punah, penipuan alat kesehatan, praktik KKN¹ dalam politik. Sudah, ini saja?"
Akhira tertawa, lalu membalas, "Itu kejahatan yang baru dilakukan semua keluarganya. Disamping masalah sekolah kita mendapat bukti kejahatan lain."
"Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui ya?" Timpal Suzuki yang masih dibelakang Anzu.
"Wah, jadi kasusku itu bukan satu-satunya?" Tanya Anzu yang dijawab, "Iya." Oleh Akhira. "Tapi tidak usah bangga diri, bocah. Perbuatan masih lebih parah." Sindir Suzuki.
"Baiklah, jadi bisa ceritakan siapa yang menyuruhmu?" Akhira mengeluarkan ponsel-nya dan mulai meng-klik 'rekam'. Beberapa detik setelah dia nyalakan, Anzu mulai berbicara. "Awalanya aku pikir 'dia' orang yang baik karena telah melunasi hutang-hutang keluargaku. Tapi ternyata 'dia' memanfaatkanku untuk jadi pesuruhnya."
"Bahkan sampai membuat ancaman memejarakan pamanku dengan tuduhan penyalahgunaan narkoba milik keponakannya. Dan asal kalian tahu, 'DIA' sendiri yang minta agar pembunuhannya terlihat seperti perbuatan psikopat. Padahal aku sudah bilang itu sangat menyusahkan."
"Haiss, kalian bayangkan saja betapa repotnya aku yang harus merapihkan jasad mereka lalu menghancurkannya. Kemudian merapihkan TKP-nya lagi."
Bocah, sebenarnya kau anggap nyawa orang sebagai apa? Batin Suzuki yang ingin memukul Anzu lagi namun ditahan. Sedangakan Akhira hanya berdeham pelan karena menggigil karena perkataan Anzu. "O-oke, tujuannya demi apa?" Ucap Akhira berusaha memberanikan dirinya.
Oh ayolah, dia hanya anak 17 tahun, yang baru membunuh 4 orang saja. Bisa apa sih dia? Akhira mencoba menenangkan diri. Namun membuat bulu kuduknya berdiri.
Anzu menghela nafas pelan, lalu menjawab, "Anak beasiswa. Dia ingin mereka segera musnah agar 'kursi'-nya bisa dijual." Sambil merekam, Akhira juga menulis dikertas note yang selalu dia bawa.
Pembunuh berencana untuk praktik suap 'jual-beli kursi' SMA Hokkaido 45
Itulah tulisan yang Akhira buat. "Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kalian melawan-'nya'? 'Dia' sudah menyuap sana-sini." Pertanyaan yang Anzu terlontarkan mengerutkan dahi Akhira dan Suzuki.
"Bocah, percayalah pada Dewa. Kebenaran selalu menang." Ucap Suzuki menjawab pertanyaan Anzu dengan gaya sok keren dan badass. Tapi dibalas, "Aku Atheis² pak."
Bodoh amat. Batin Suzuki kesal mendengar balasannya. Sedangkan Anzu sepertinya bisa menikmati sikap kasar Suzuki sekarang karena mengingatkannya pada seseorang, Akbar. Yah, 11-12.
"Oke, sekarang siapa namanya?" Pertanyaan terakhir Akhira untuk Anzu. Lalu dijawab pelan, "....."
[To Be Continue!]🍵
___________________
¹Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
²Tidak punya agama