
Kak Enji meletakan kembali ponsel kedalam saku almamater-nya setelah komunikasi dengan Naoki selesai. "Ayo pergi." Ajaknya, lalu kami masuk kedalam gedung asrama.
Kita tiba diruang utama dan disana kami bertemu dengan banyak orang asing yang mengenal nama kami dan bertingkah seperti penggemar. "Senpai, boleh aku minta tanda tangan?" Salah satu siswi mendekati kami dan meminta kak Enji untuk tanda tangan. Maka dengan canggungnya kak Enji menulis tanda tangannya dikertas yang berikan menggunakan pulpen siswa itu.
"Hai, kamu Alice ya?" Tiba-tiba seseorang memanggil namaku sehingga refleks aku menengok dan tampak seorang laki-laki tersenyum padaku. "Iya, ada apa?" Tanyaku.
"Aku sangat mengagumimu loh!"
Aku mendapatnya pujian. Bukan hanya satu, tapi pujian yang lain terus berdatangan dan membanjiriku. Yang lainnya juga mendapat perlakuan yang sama. Sekarang kita memiliki penggemar dan menjadi pusat perhatian!
Tapi aku merasa risih. Mereka manghalangi jalan kami ke kamar dan selalu menghentikan langkah kami demi kepuasan pribadi.
"Boleh foto dulu Senpai?" Minta seseorang yang kebetulan berpapasan dengan kami dijalan menuju tangga. Terpaksa kami berhenti lagi karena permintaannya. "1, 2, 3, cheese!"
Kami berpose seadanya. Aku mengandalkan gaya jari peace karena kelelahan. Apa ini yang sering dirasakan para artis? Cih, kita tidak bisa begini terus. Sebelum malam kita masih ada ditangga. Dan kamar aku ada dilantai 3, pasti perjalanannya lebih panjang!
Think, Alice, think. Apa yang bisa mengusir kerumunan. Omong-omong dimana OB yang biasanya membersihkan tempat ini? Masa Kepala Asrama ingin mempertahankan konsep istana abad ke-18 dengan tidak dibersihkan sampai berdebu?
Tiba-tiba mataku terpaku pada salah satu poster yang terpampang di dinding asrama. Ada gambar Albert Einstein dengan salah satu kata-kata motivasinya. Sejenak aku berpikir sebuah ide yang luar biasa gila dan jalan satu-satunya untuk kabur. "Hehe." Tawa jahatku.
"Senpai! Bagaimana caranya kalian bisa seberani itu untuk melawan si pembunuh?" Tanya orang asing lagi. Aku memutuskan untuk menjawabnya karena melihat teman-temanku yang sudah kelelahan meladeni banyak orang. "So begini, ada kalimat motivasi yang selalu aku pegang teguh. Mungkin ada beberapa dari kalian yang tahu kalimat motivasi ini."
"Life is like riding a bicycle. To keep you balance, you must keep moving."
Aku melihat kebingungan dimata mereka. Sepertinya kata-kata ini jarang diketahui dan aku pun juga nyontek dari poster. Tapi mereka malah bertepuk tangan dan bersorak sorai. "Hebat! Keren sekali kata-katanya."
Oke, sekarang tinggal tunggu beberapa detik lagi. Satu, dua, tiga. "Kyaa apa-apaan ini?!" Jerit seseorang didepanku karena ada banyak hewan kecil semacam tikus berkeliaran dilantai, lalu ada bola-bola yang bersinar disekeliling ruangan. Langit-langit menjadi gelap seketika karena mati lampu sehingga menambah kengerian asrama yang terkenal angker.
"GROOAR!" Ada suara raungan harimau yang mengagetkan. Aku sedikit gemetar, tapi ternyata harimau yang sudah aku temukan kelihatannya hanya ingin tertidur disofa. Seharusnya aman sekarang, walaupun ada invasi tikus.
Kegaduhan terjadi. Kini lantai satu telah porak-poranda oleh siswa-siswi yang bisa melihat alam lain. Sedangkan sisanya yang tidak bisa melihat ikut terbawa suasana atau berusaha pergi dari Asrama.
"Our change! Run!" Ucapku kepada yang lain lalu seketika kami berlarian. Dijalan, tiba-tiba aku berpapasan dengan sosok hantu yang mirip dengan Albert Einstein. Sepertinya dia kebingungan karena berpindah ketempat yang baru.
Tapi aku abaikan saja sambil berlalu. Kini kami telah aman dilantai 2 yang masih sepi.
Di saat itu kami berusaha santai sampai ke lantai 3, lantai kamar aku, Eliz, dan Fumika. Kak Enji kamarnya ada dilantai 4, sedangkan kak Akbar dilantai 5.
"Kak Akbar kenal kak Jeffrey? Mantan pacarnya kak Kaouri?" Fumika membuka percakapan dengan topik acak. Lalu dijawab, "Siapa yang gak kenal? Dia orang paling nyentrik di angkatannya. Sekarang sudah lulus."
"Ohh sudah lulus." Timpal Eliz mengomentari. "Kalau Naoki bagaimana?"
Elizabeth Van Hose!! "Shut your mouth." Tapi tentu saja ucapanku diabaikan olehnya. Parahnya lagi kak Enji malah balik membalas, "Kak Naoki itu panutan terbaikku! Dia teladan, baik, tegas, berani ambil resiko, dan masih banyak lagi. Makanya aku bisa menjadi Ketua OSIS seperti sekarang."
Sesungguhnya aku sedang tidak ingin mendengar namanya sekarang. Aku masih kesal karena dia sudah menipu kami sebelumnya dan menyamakanku dengan tokoh kartun.
Eliz mengangguk paham lalu menyenggol sikutku bersama Fumika sambil tersenyum. "Ehe he, panutan loh." Ucap mereka kompak. Sudahlah, jangan begitu. Aku jadi muak tahu!
Tak terasa kami sudah dilantai 3. Aku, Eliz, dan Fumika pamit dengan kak Enji dan kak Akbar lalu berpisah di aula pemisah asrama laki-laki dan perempuan.
Kami pergi ke lorong sebelah kiri dimana Asrama Putri berada. Lalu melihat nomor kamar kami. "Ini nomor 13." Ucap Fumika sambil menunjuk sebuah pintu yang ada didepan kami. Tanpa basa basi, kita langsung masuk saja.
Kami beristirahat sejenak sebelum akhirnya mandi dan berganti pakaian. Untuk kill the time, kami memainkan kartu Uno milik Eliz yang dia bawa dari rumah sampai malam menjelang lalu kami pergi ketempat tidur dan bermimpi indah.
🦌🐦🦌
Langit telah gelap karena tiada bintang ataupun bulan. Awan ribut oleh petir dan kilat. Hujan pun dengan derasnya menimpa bumi. Tiada satupun yang berani keluar dari tempatnya untuk menantang sang hujan.
Kilat muncul kembali menerangi sebuah ruangan. Didalamnya terdapat piala kebanggaan sekolah dalam lemari kaca. Ada juga lemari berisi folder dan data-data sekolah disamping meja panjang yang menjadi pusat ruangan.
Didalam ruang bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' itu masih dihuni oleh seorang pria paruh baya yang sedang menulis laporannya.
"Sakamoto sudah ditangkap. Masih ingin melanjutkan tuntutanmu kepada pamannya?"
Dia berpikir sejenak terhadap keputusan lawan bicaranya. "Hah, tidak perlu. Dia sudah melakukan yang terbaik selama ini."
"Ngomong-omong dia akan dihukum mati. Polisi berkata partisipasi sekolah sebagai lembaga pendidikannya juga diikut sertakan. Mungkin kau akan datang ke sidangnya."
"Tsk!" Kekesalan tiba-tiba merasukinya saat mengingat kebodohan Sakamoto Anzu. Sekarang dia harus repot-repot membela anak itu atau tidak, adalah pertanyaannya. "Anak itu. Aku sudah bilang jangan tinggalkan bukti, lalu tubuhnya ditaruh yang benar apa susahnya? Sekarang kita ikut terseret." Bentaknya.
Untuk beberapa menit tidak ada balasan lagi disebrang. Kemudian, "Bapak, saya sudah berpikir untuk berhenti bekerja. Saya sudah tidak tahan."
"Berani sekali kau seenaknya berhenti? Ingat siapa yang dulu membuat pilihan ini. Jika kau macam-macam lagi, lihat saja."
Lawan bicaranya menelan ludah kasar dengan ancaman atasannya. Secara kasta, posisinya ada dibawah orang tersebut sehingga tidak memiliki kekuasaan lebih. Dan dengan terpaksa dia menuruti dan mengurung keinginannya untuk berhenti. "B-Baiklah, Hideyoshi-San." Balasnya.
"Lalu aku tiba-tiba ingin membicarakan soal bu Youki. Kau tahukan dia selalu menyalahimu, kenapa bisa terjadi?" Nada bicara Hideyoshi berubah menjadi lebih rileks. Sambil meneruskan laporan, dia mendengar dengan seksama lawan bicaranya.
"Anu." Lanjutnya disebrang sana. "Tidak jelas juga. Tapi sepertinya saya bertindak ceroboh sehingga dia menemukan kita sedang berbicara ditelepon tentang kematian Ayumi."
***
*15 Juni 2012. Sehari sebelum kematian Samaki Ayumi.
Di Gudang Taman Tenggara*.
"Jadi kita buat berpola. Yang benar pak?" Ucap Tanaka terhadap permintaan aneh atasannya. "Iya. Dan pastikan Sakamoto melakukan tugasnya dengan benar, jangan seperti sebelumnya."
"Baik." Ucapnya berusaha senormal mungkin karena sekarang dia sedang bergidik. Harga dirinya sebagai seorang guru tiba-tiba jatuh karena memilih jalan kotor ini dan sekarang dia mengajari anak didiknya untuk membunuh demi kepentingan pribadi mereka. Guru macam apa dia?
Semua berawal dari keinginan serakah untuk meraup untung hasil 'uang tambahan'. Tanaka juga merasa beruntung Hideyoshi sepemikiran. Sebelum dia tahu rencana gila Hideyoshi untuk menggunakan cara cepat karena tidak sabaran.
Padahal dia awalnya memiliki rencana untuk membuat reputasi atau nilai anak beasiswa menjadi jelek agar bisa dikeluarkan secara baik-baik. Namun pak Hideyoshi memaksakan idenya untuk menghapus secara total anak beasiswa dengan memaksakan keberuntungannya sebagai pewaris terkaya se-Jepang dengan koneksi tanpa batas dan dari keluarga terpandang.
Dengan setengah hati, akhirnya Tanaka meng-iya-kan karena ingin cepat-cepat merasakan jutaan, bahkan miliaran Yen ditangannya.
Mulailah pencarian kandidat yang tepat untuk kepentingan mereka. Sampai datanglah nama Sakamoto Anzu. Sebenarnya dia tidak memiliki masalah dengan sekolah dan temannya.
Tapi setelah melihat profilnya, mereka tertarik untuk membuatnya menjadi 'Alat' karena masa lalu traumatis kehilangan orang tua yang membuatnya menderita gangguan psikologis secara tidak langsung.
'Psikopat' adalah gangguan kepribadian anti-sosial yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, serta tidak memiliki perasaan takut ataupun bersalah. Uniknya dia bisa bersikap seperti manusia normal dengan berpura-pura terlihat ekspresif. Padahal dia sendiri kebingungan dengan apa yang sedang temannya maksud dan rasakan.
Kandidat yang tepat untuk melakukan pekerjaan kotor. Tapi dengan mengejutkannya ditolak dengan alasan "Merepotkan." Olehnya. Maka Hideyoshi mengeluarkan kartu As dengan memeras Anzu menggunakan beragam ancaman.
Beasiswanya dicabut paksa dan pamannya dipenjara dengan tuntutan palsu. Tapi Hideyoshi juga menawarkan untuk membayar semua hutang keluarga Anzu yang dia ketahui dari salah satu koneksinya.
Walaupun mentalnya terganggu, dia masih cukup waras untuk mempertimbangkan kembali. Akhinya dia menyetujuinya.
"Tapi syukurlah kasusnya dilapangan basket bisa aku bungkam." Balas Hideyoshi ditelepon. "Sekarang lakukan tugasmu dan perintah anak itu dengan benar!"
Kata terakhirnya sebelum menutup telepon dan meninggalkan Tanaka di kesunyian taman. Sendirian, pikirnya yang tidak menyadari seorang wanita mendengarkan pembicaraan mereka secara tidak langsung.
Maksud awal wanita ini untuk mengambil bunga untuk diberikan kepada Ayumi yang ada ditaman Tenggara saat mengunjunginya, karena di pagi hari dia pasti sibuk mengajar.
Tapi sekarang dia terpaksa bersembunyi untuk menguping pembicaraan mereka dan sangat terkejut ternyata rekan kerjanya yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap Kaouri. Apalagi fakta mereka memanfaatkan Anzu sebagai alat.
Setelah Tanaka pergi, perlahan wanita bernama Youki Takumi tersebut berdiri dari persembunyiannya. Lalu bergumam, "Tidak bisa dimaafkan."
[To Be Continue!]🌷