Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 30. Good Morning



"Bodoh!" Sentak Hideyoshi ditelepon yang membuat Tanaka terkejut.


Sebenarnya ini bukan masalah besar. Apalagi Youki sudah dicap gila oleh semua orang. Mungkin dia akan menyuap psikiaternya untuk membuat diagnosis Youki lebih parah agar kesaksiannya tidak bisa digunakan.


"Mousiwake ari mase n(Maafkan saya)! Ini tidak akan terulang lagi." Mohon Tanaka agar Hideyoshi tidak menjadikannya sasaran kemarahan. Atau minimal menghancurkan kehidupan Tanaka karena kuasa yang Hideyoshi miliki.


Seakan tersentuh oleh permohonan Tanaka, akhirnya Hideyoshi mengalah. "Cih! Baiklah." Dia juga berpikir ini hanya akan membuang waktu jika emosian saja.


Mereka butuh solusi karena masalah mereka belum sepenuhnya selesai. Karena,


"Tanaka, kau tahu siapa gadis yang menghentikan Sakamoto?" Tanya Hideyoshi penasaran. Lalu dijawab, "Alice Yamada, pak."


Hideyoshi mengangkat salah satu alisnya. Tangannya berhenti menulis laporan dengan pulpen yang dia pegang lalu terjun dalam pemikirannya sendiri untuk beberapa detik. Setelah selesai melamun akhirnya Hideyoshi berbicara, "Alice Yamada? Dia kelihatannya berbahaya. Awasi dia dan teman-temannya itu."


"Kita tidak tahu kapan mereka akan mengetahui 'rahasia kecil' kita."


Tanaka refleks mengangguk walaupun tahu Hideyoshi tidak melihatnya. "Baiklah." Balasnya.


'Tuuut'.


Suara ponsel yang berarti komunikasi mereka akhirnya terputus. Hideyoshi kembali merasakan kesendirian diruangan yang sudah familiar bersamanya selama bertahun-tahun dengan ditemani bunyi rintikan hujan yang seperti tidak ada habisnya bermunculan.


Sambil menggenggam kedua tangannya erat-erat, dia berpikir sejenak lagi. Lalu melepaskannya untuk mengusap kedua mata yang telah letih dibalik kacamata perseginya. "Hah, besok aku harus apalagi?" Gumamnya lemah.


🌹🐞🌹


Hujan akhirnya telah berhenti setelah semalaman turun dari langit. Kemudian digantikan cahaya matahari yang terbit dari ufuk Timur.


Embun pagi bermunculan dari setiap dahan tumbuhan yang ada. Serangga yang tinggal disekitarnya keluar untuk mencari kebutuhan hidup mereka. Kicauan burung dan hembusan angin pagi adalah simfoni lembut yang serasi dengan suhu dingin Hokkaido.


Namun tiba-tiba ada tambahan bunyi keras dari alarm yang disetel untuk berbunyi dijam 5 pagi. "Bibbb... Bibbb.. Bibbb." Suara gaduh itu berhasil membangunkan Alice dari tidurnya untuk mematikan alarm tersebut.


Setelah mematikan alarm yang memang kuadratnya berisik itu, Alice melamun sebentar untuk mengumpulkan tenaganya. Sekolah masuk pukul 07.00, tapi Alice sengaja bangun 2 jam lebih awal untuk persiapan yang lebih baik.


Setelah tenaganya terkumpul, Alice merenggangkan tubuhnya lalu pergi menuju lemari mungil disebelah tempat tidurnya untuk mengambil pakaian.


Setelah selesai mengambil pakaian, Alice mengambil tas berisi perlengkapan mandi 'tambahan'-nya disebelah pakaian bersih yang berisi sabun cuci muka, pasta dan sikat gigi, deodoran, bando biru dongker, dan yang paling utama adalah parfume bermerek Prancis.


Sambil bergumam ria, Alice masuk ke kamar mandi dan menutupnya rapat-rapat.


🐱🦊🐱


Hampir 15 menit Alice berada dikamar mandi.


Dan selama itu teman-temannya yang sudah bangun dari tidur lelap menunggu diluar sambil memegang peralatan mandi masing-masing.


"Iso de kudasai(Tolong cepatlah), Alice." Ucap Fumika yang sudah tidak sabar menunggu Alice sambil tiduran dikasur. "In a minutes." Balas Alice didalam kamar mandi sambil memakai kemejanya.


Sekarang Alice telah selesai mandi dan hanya tinggal memakai kaos kaki dan name tag-nya saja yang ada didalam lemari. Parfume sudah dia semprot keseluruh tubuhnya sehingga berbau seperti Chamomile. Rambut panjangnya telah rapih tersisir. Terakhir, dia mengambil bando berwarna biru dongker ditas kecilnya dan memakainya dikepala dengan ragu.


Dia melihat pantulan dirinya dikaca yang sedang dipandangi. Dan terbukti keraguannya. "Hah, kekanakan." Maka dengan ringan hati, Alice melepas bando yang dulu dia sering pakai saat masih kecil dan meletakkannya kembali ke tas.


Kemudian membuka pintu kamar mandi yang menampakan Fumika yang dengan setia menunggu dibalik pintu. "Aku sudah sarapan. Punyamu bersama Eliz." Ucap Fumika sambil menunjuk semangkuk bento disebelah Eliz yang dengan hikmat memakan sarapannya sendiri sambil menonton televisi.


"Arigato." Balas Alice singkat lalu memperbolehkan Fumika masuk. Setelah itu Alice memasukkan kembali barang-barang ke lemari mungilnya lalu mengeluarkan dan memakai kaos kaki serta name tag-nya, dia mengambil almamater yang tergantung dilemari utama yang mereka gunakan. Dari name tag 'Alice Yamada' yang terjahit di almamater, sudah bisa membedakan satu sama lain.


Alice mengambilnya dari hanger yang menggantungkan almamater tersebut. Tapi sebelum dia memakainya, Alice meletakkannya dahulu dikasurnya dan ikut makan dengan Eliz dikarpet sambil menonton televisi.


Sepertinya gordeng sudah diikat kembali sehingga banyak cahaya matahari yang masuk dari jendela sehingga mereka tidak perlu menyalakan lampu.


Sambil membuka bento-nya, Alice berkata kepada Eliz, "Ganti channel X dong yang ada kartunnya." Lalu dibalas, "Kamu sudah besar, jangan nonton kartun terus."


Alice mendengus kasar sambil menggenggam sumpitnya untuk makan. Dia mulai mengambil nasi kepal yang terlilit nori. Saat nasi itu telah masuk ke mulutnya, ada sensasi gurih dan lembut di lidahnya sehingga dia berkata, "Delicious!" Dalam hati.


Beberapa belas menit kemudian, Fumika selesai mandi dan bergantian dengan Eliz. Untuk mengisi kebosanannya menunggu, Alice merapihkan tas dan mengisinya dengan barang yang diperlukan untuk sekolah.


Tok, tok, tok.


Tiba-tiba ada suara ketukan pelan yang dia dengar. Namun ketukan ini bukan berasal dari pintu kayu, tapi kaca jendela.


Karena penasaran, Alice menengok dan ada seekor rubah dibalik jendela. "Loh kamu?" Ucap Alice riang yang tidak rubah itu ketahui sehingga membuatnya ketakutan.


Alice sejenak berpikir, "Sepertinya kekuatanku semakin meningkat setiap hari." Karena sekarang dia bisa melihat rubah itu tanpa embel-embel lagi padahal dia adalah siluman.


"Ada apa rubah kecil?" Tanya Alice penasaran karena tidak biasanya ada hantu yang mendatanginya sampai ke kamar. Kemudian rubah itu menjawab, "Aku penasaran. Akhirnya para manusia mengeluarkan aura positif karena bahagia setelah sekian lama aura ditempat ini menjadi negatif. Apakah karena kimi?"


Alice kebingungan dengan maksud rubah kecil itu. Tapi dia berusaha berpikir apa maksudnya. "Aura positif dan negatif?" Gumamnya.


Dan tanpa disangka terbalaskan oleh rubah itu. Dia berkata, "Iya Aura. Bukannya kau bisa melihatnya?" Alice menggeleng karena otaknya sudah buntu dalam berpikir. Rubah itu menghela nafas pelan karena tidak percaya.


"Inari¹!" Tiba-tiba Fumika berteriak membuat rubah kecil itu ketakutan. Terpaksa Alice menggendongnya dalam genggaman tangan secara spontan saat rubah tersebut melompat. "Hey, tenanglah. Dia temanku." Ucap Alice untuk menenangkannya sambil mengusap kepala rubah lembut.


Squishy, it head very soft. Batin Alice yang puas mengusap kepala rubah itu. "Namaku Aoi!" Teriak rubah bernama Aoi itu dengan tatapan ketakutan, padahal dia berusaha berani. "Oh maaf." Balas Fumika lemah.


Kemudian Fumika bertanya kepada Alice kenapa Aoi ada dikamar mereka. Lalu dijawab, "Aoi adalah siluman-or whatever- yang memberi tahu kita dimana Anzu berada." Fumika mengangguk paham sambil melihat wajah Aoi dengan seksama. "Terima kasih banyak, Aoi." Ucap Fumika.


Setelah sedikit rileks, Aoi membalas, "Jangan berterima kasih dulu. Masih ada seseorang yang harus kalian hentikan." Perkataan Aoi tentu membuat mereka menegang. Karena kenyataan kasus mereka belum selesai. Ada misi baru dengan pelaku baru. "Siapa orangnya?" Tanya Alice penasaran.


"Good morning!" Perkataan Eliz yang mengejutkan membuat Aoi tiba-tiba menjadi waspada dan bergerak secara liar sampai cakarnya melukai wajah Alice. "Akh!" Karena kesakitan, Alice menjatuhkan Aoi dan membiarkannya berlari secara tidak terkendali dikamar.


Akhirnya Alice, Fumika, dan Eliz yang baru keluar dari kamar mandi harus berhati-hati dengan Aoi yang berlarian. Setelah beberapa menit, akhirnya Aoi berhenti berlari karena lelah dan kembali dalam gendongan Alice.


"Gomae, aku sering ketakutan." Aoi meminta maaf atas tindakan pengecutnya. Untunglah Trio cukup sabar menghadapinya. "Tidak apa-apa kok, kita sering menghadapi ini." Ucap Eliz berusaha ramah sambil mengikat rambutnya membentuk gaya pony tail.


"Alice rambutnya diikat tidak?" Tawar Eliz sambil memegang gelang rambut tambahan dijari kanannya. Alice mengangguk sebagai tanda setuju. Maka sambil menggendong Aoi, rambut Alice diikat oleh Eliz. "Kau cantik." Puji Aoi setelah melihat kunciran rambut Alice lalu disambut senyuman olehnya. "Terima kasih." Ucap Alice senang.


"Aoi, sebelumnya kau bilang kita harus menghentikan seseorang. Siapa yang kau maksud dan kenapa kau membantu kami?" Pertanyaan Fumika berturut-turut membuat Aoi terpelatuk.


"Anu, jadi begini." Lanjut Aoi canggung. "Aku membantu kalian karena senang melihat beberapa Oni pergi dari sini. Aku benci mereka!" Aoi tiba-tiba teringat memori kelamnya saat para Oni mengganggunya sampai terluka parah dan energinya terkuras.


"Itu sebabnya diawal aku ikut memburu Alice untuk menguatkan energiku yang hilang. Tapi aku sekarang berubah pikiran. Melihat makhluk kotor itu pergi lebih menyenangkan." Alice akhirnya paham alasan Aoi ada Rooftop bersama Oni-Oni yang lain. Ternyata rubah kecil dengan modal nekat ini sedang bertaruh untuk mengambil energi Alice. Tapi tentu saja gagal.


"Jadi orang yang harus kalian hentikan adalah orang yang memerintah si manusia pendosa itu."


'Memerintah'? Berarti dugaan Fumika tentang keterlibatan pihak lain terbukti.


...Itu berarti dia dijadikan 'Pion' oleh seseorang...


Alice dan Eliz kembali teringat perkataan Fumika, termasuk pelakunya sendiri. Mereka pun berpikir siapa yang mungkin memerintah Anzu. Dan muncul suatu nama, "Pak Tanaka!" Saat mereka ucapkan bersama.


"Yah, aku tidak tahu siapa nama mereka, tapi ada 2 orang yang terlibat." Ucapan Aoi yang membuat mereka kembali berpikir. Jika pelaku pertama adalah pak Tanaka, siapa pelaku keduanya?


Trio mencoba berpikir keras bersama. Mereka memanggil kembali ingatan lama dan detail kecil yang mungkin diperlukan.


"Kalian merasa aneh tidak? Kasus pembunuhan ini baru booming setelah Anzu tertangkap. Sedangkan saat ada berita kematian Kaouri sampai kecelakaan Naoki saja dilewatkan padahal ada 4 kasus." Jelas Alice yang menyuarakan pendapatnya.


Eliz meragukan pendapat tersebut, "Bukannya mereka sedang menyelidikinya secara 'diam-diam'?"


Tiba-tiba dengan cepat, disela oleh Fumika. "Atau mungkin ada maksud lain. Walaupun 'diam-diam', kasus pembunuhan terkeji sekalipun masih diumbar oleh berita. Itu berarti ada pihak yang tidak mau beritanya tersebar dahulu!" Deduksi dektektif-nya membuat Alice dan Eliz setuju.


Maka mereka berpikir, siapa orang yang cukup berkuasa mengendalikan semua orang? Dia pasti kaya, berkoneksi luas, dan yang pastinya memiliki kepentingan disekolah. "Omong-omong, apa itu sekolah swasta?" Pertanyaan acak Aoi membuat Trio menengok kearahnya seketika.


"I-Itu, tempat kalian setiap hari pergi 'kan?" Lanjut Aoi canggung.


Itu dia!


"Terima kasih Aoi!" Ucap Fumika bersemangat. Dia baru sadar sekolahnya berbasis swasta dengan mengandalkan uang agar bisa diterima ataupun modal beasiswa yabg ditawarkan. Apalagi akreditasi A dan ke-elit-an sekolah yang membuktikan siapa yang patut mereka curigai.


"Pak Tamura!" Ucap Alice asal, lalu dibalas tatapan horror oleh Eliz dan Fumika. Bahkan sampai Aoi yang ikut menjadi korban meringkup ketakutan dalam pegangan Alice. "Bercanda. Kepala sekolah 'kan?"


Eliz dan Fumika mengangguk. Kemudian Fumika berkata, "Ayo ke sekolah, nanti kita telat." setelah melihat alarm Alice diatas lemarinya. Maka, Trio ditambah Aoi pergi dari asrama dengan membawa tas mereka masing-masing.


"K-Kita mau kemana?" Tanya Aoi gugup. Sekarang dia sedang melingkar dibahu Alice karena permintaan Alice sendiri. "Kita akan ke sekolah swasta, Aoi." Jawab Alice berbisik tanpa memandangi wajah Aoi.


[To Be Continue!]🌷


___________________


¹Inari adalah dewi dari segala sesuatu yang penting di Jepang termasuk beras, teh, kesuburan, sake, dan kesuksesan di dunia. Dia menggunakan wujud rubah untuk menyampaikan pesan ke dunia.