Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 25. Unreval



SMA Hokkaido memiliki 6 lantai dengan lantai ke 7 sebagai lantai paling atas alias Rooftop.


Maka perjalanan yang mereka tempuh lumayan panjang untuk sampai ke puncak. Dan juga alasan kenapa semakin keatas, semakin sepi.


Sebuah pintu besi yang terkunci menanti diatas anak tangga. Akbar yang sudah sampai didepan pintu langsung membuka gagang besi tersebut.


'Cklek'. Pemandangan yang sepi dan jarang didatangi adalah hal pertama kali mereka lihat. Lantai dari beton dan pagar besi yang melingkar dipinggiran.


Dari atas mereka dapat melihat dengan jelas denah sekolah yang luas. Udara berhembus sangat kuat karena ketinggian. Dan suhu terasa sangat dingin sampai Akbar bersin dan Alice menggigil. "Let's get this over." Ucap Alice sambil mengusap kedua tangannya.


Setelah mereka keluar dan berdiri berhadapan dilantai beton Rooftop, Alice memulai berbicara, "Oke, semua sudah siap?" Semua membalas dengan anggukan. Namun tidak dengan Akbar.


Dia malah bertanya, "Sebelum itu, kau dapat gelang itu darimana?" Alice gagap untuk menjawab. Dia bingung cara mengatakan asal gelang ini yang sebenarnya sangat aneh. "Aku, diberi oleh seseorang." Jawab Alice sekadarnya.


"Yang lebih penting apa yang sebenarnya tertulis digelang ini. Apa yang kau tulis Akbar-san." Timpal Enji yang sudah tidak sabar. Akbar menghembuskan nafas kasar. Dia memijat keningnya lelah.


Lalu setelah sekian detik akhirnya dia menjawab, "Artinya Watashi no tomodati no tame ni. Dibaca,"


"Untuk temanku."


***


"Kamu masih memikirkannya?" Pertanyaan singkat Ayumi membuat Naoki tersentak dari lamunannya. Dia mendongakan pandangan sehingga terlihat wajah-wajah yang akrab menemaninnya.


Naoki mengangguk untuk menjawab Ayumi. "Aku takut dia membenciku." Lanjutnya yang dibalas tamparan oleh Kaouri. Meski tidak terasa, namun tamparan tersebut membuatnya terkejut.


"Jadi ini orang yang dulu berani menampar perempuan?"


.... Plak, *Sebuah tamparan keras mendarat dipipi salah seorang penggosip tadi. Naoki tidak peduli ia perempuan atau tidak...


"A... Aku adukan*!"


Plak, Tamparan kedua ditempat yang sama membuat pipi gadis tersebut memerah panas. "Coba saja." Ancam Naoki...


Kaouri berdiri tegak sambil menatap tajam Naoki. Aura kelamnya keluar dan mengintimidasi. "Dulu pura-pura galak, sekarang akhirnya menjadi Mellow Prince sungguhan. Aku rasa kau memang aneh." Sindir Kaouri sambil menyilangkan tangannya.


Naoki yang masih syok menatap nanar Kaouri. Tidak ada suaranya yang keluar. Sehingga Kenji melanjutkan omongan Kaouri, "Si Bodoh yang menangisi kematian seekor kucing, bertingkah sok dewasa, padahal sebenarnya muak 'kan?"


Setiap kata yang Kenji keluarkan selalu menusuk hati. Namun kali ini Naoki diam karena Kenji benar.


Dia muak bertingkah tegas dan kasar karena posisinya. "Kau ingin dituruti, makanya selalu memasang 'topeng'." Lanjut Kenji. Naoki tidak dapat membalas, sehingga dia hanya mengangguk lemah.


Ayumi tiba-tiba memegang tangan Naoki dan membuatnya bangkit dari duduknya. "Naoki tidak usah berbohong lagi. Jujurlah sekarang agar kamu tidak terbebani." Setelah mengucapkan kata-katanya, Ayumi melepaskan tangannya dari Naoki.


Membiarkannya melihat sekitar. Teman-teman seperjuangan yang saling bahu-membahu menolong sesama. "Terima kasih." Ucapnya lemah namun dengan senyuman yang mengembang disudut bibirnya.


"*Untuk Temanku,


Bagaimana harimu? Masih sibuk?


Haha, mungkin sedang tidur dikelas seperti biasa. Aku membuat gelang ini sebagai tanda persahabatan kita."


"Terima kasih untuk selama ini Sudirman Akbar-Kun."


"Tertanda, Fu-Fu Furugawa Naoki*...."


Sebuah suara entah darimana datang dan terdengar ditelinga mereka. Namun dari vokalnya, Naoki dapat mengetahui siapa pemilik suara ini. "ALICE!"


"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Kaouri khawatir karena roh Naoki yang tiba-tiba kabur setelah suara itu selesai. Namun pertanyaan itu belum sempat dijawab.


Wushh....


🥀🕷️🥀


[Alice POV]


"Gelang itu dibuat sendiri oleh Na. Bahkan ada suratnya." Ucap Akbar menambahkan.


Buru-buru Fumika mengeluarkan buku note dan memberikannya kepada Akbar. Dia meminta Akbar untuk menulis kembali isi surat yang dimaksud.


Walaupun sedikit terkejut karena permintaan aneh Fumika, Akbar tetap menulis kembali beberapa isi surat yang bisa dia ingat. Setelah selesai, Akbar memberikannya kepada Fumika untuk dibaca olehku.


Setelah menerima buku tersebut, aku melihat sekitar. Masih ada rasa ketakutan dihati, namun sekarang ada Eliz dan Fumika disampingku. Bahkan ada Enji dan Akbar yang sudah berjanji akan membantu jika kesulitan.


"Ready in your command!" Ucap Fumika sok berbahasa Inggris sambil tersenyum lebar. Eliz juga menyemangatiku, "Ada kita yang akan melindungimu Alice."


Setelah keberanian telah datang, aku menarik nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya. Semua orang disekitar terdiam. Dan mulailah aku membaca isi surat yang Akbar tulis.


"Untuk Temanku,


Bagaimana harimu? Masih sibuk?


Haha, mungkin sedang tidur dikelas seperti biasa. Aku membeli gelang ini sebagai tanda persahabatan kita."


"Terima kasih untuk selama ini Sudirman Akbar-Kun."


"Tertanda, Fu-Fu Furugawa Naoki....?"


Tidak mungkin! Aku tidak percaya dengan apa yang aku baca sendiri. Kalimat terakhir membuat kepalaku pusing dan hatiku sesak. Apalagi teman-teman disekitarku yang menunjukan ekspresi terkejut berlebihan.


"Kak Akbar! Apa-apaan kau!" Sentak Fumika marah. Namun pelakunya hanya melihatnya dengan tatapan datar. Lalu membalas, "Sampai kapan kalian ingin merahasiakannya?"


Merahasiakan?


"Jadi kalian semua sudah tahu?!" Teriakku keras.


Pantas saja selama ini ada yang aneh. 'Na' yang dimaksud adalah 'Naoki' yang ternyata adalah korban keempat Pureya sekaligus hantu disekolah. Tapi, tidak mungkin 'kan? Masa selama ini aku bersama...


Wushh....


Suara angin berderu dibelakangku. Hawa yang semakin dingin mencekam punggungku. Saat aku berbalik untuk melihat siapa yang terpanggil, betapa sedihnya aku. Itu, benar Naoki.


Aku masih syok, tidak mampu berbicara lagi. Tatapanku kosong seperti ini bukan tubuhku lagi. "Senpai!" Teriakan kak Enji juga tidak menggentarkanku. "Enji! Loh? Ada Akbar juga."


Get me out.


"Demi Tuhan, Naoki. Cepat kembali ke tubuhmu!"


Keluarkan aku.


"Maunya aku juga bodoh."


"Memangnya kau gak bisa Senpai?"


"Begitulah."


KELUARKAN AKU DARI SINI!


Puk, sentuhan Eliz dipundakku membuatku tersadar dari lamunan. "Alice, maaf kita merahasiakan ini darimu. Kami tidak ingin kau sedih." Ucapan Eliz yang seharusnya aku terima dengan baik.


Namun hati ini tidak bisa menerimanya sehingga aku menepis tangannya kasar. Saat berbalik untuk melihat wajah mereka, mataku terasa kabur. Air mata?


"Alice, tenangkan dirimu. Kita bisa jelaskan." Fumika, kau yang paling cerdas bukan? Ternyata kau juga licik.


Tidak, tidak, hatiku terluka lagi. Aku tidak seharusnya berpikiran seperti ini. Bisa-bisanya aku membiarkan emosi menguasai.


"Alice dengarkan aku. Aku memang bukan manusia, tapi aku tidak akan melukaimu." Naoki memegang kedua telapak tanganku. Rasanya dingin, tapi wajah yang telah akrab menemani di keseharianku masih terlihat jelas.


Tatapan yang hangat, senyuman tipis, dan rambut panjangnya yang terurai. Tubuh yang lebih pendek dariku. Dia masih seseorang yang aku kenal.


"Pembohong!"


Suara lantang menusuk telingaku. Saking kerasnya refleks aku berbalik dan sepertinya bukan hanya aku yang mendengar. "Oni." Gumamku.


Sekumpulan Oni merayap sampai ke Rooftop dan sebagian lain terbang disekelilinya menggunakan semacam sayap. "Mereka memanfaatkanmu! A-Li-ce." Ucap salah satu dari para Oni.


Kak Enji dan Kak Akbar yang tadi ada didekat sana mundur menjauhi mereka. "Apa-apaan mereka?!" Teriak kak Akbar ketakutan. Kami pun mulai mundur dengan teratur sampai Eliz berhasil menggapai gagang pintu untuk membuka tangga.


Namun saat dia akan memutar gagang, ada cairan lengket jatuh ke tangannya bersamaan dengan sebuah lidah panjang. "Senang menusuk temanmu dari belakang?" Ucapnya sampai membuat Eliz meringis ketakutan.


"Menjauh darinya!" Setelah Naoki berkata demikian, dia dengan mudahnya menendang Oni itu sampai menghilang bersama asap beserta suara kesakitan. "Thanks, kak Naoki." Dia mengangguk lalu membiarkan Eliz membuka pintu.


Akhirnya pintu terbuka dan kita bisa turun. Dimulai dari Eliz, Fumika, lalu kak Enji turun dari tangga. Kak Akbar dan Naoki berjaga didepan pintu agar para Oni tidak masuk. "Cepat Alice!" Peringat Naoki agar aku segera turun dari tangga. Namun, aku hampir terjebak lamunan.


Brak. Kak Akbar membanting pintu dan dengan cepat menguncinya. "Jangan melamun Alice! Ayo cepat turun." Ucap kak Akbar berlalu dan turun lebih cepat dari aku.


"Dia akan datang lagi! Akan ada yang mati hari ini."


Ucapan Oni dibalik pintu membuatku berhenti melangkah. Aku terpelatuk dan malah berbalik untuk membuka gagang besi tersebut walau Naoki sudah memperingatiku. "Alice! Disana ada Oni! Jangan bodoh... Ups."


"Ternyata Naoki bisa berkata kasar juga ya?" Ledekku tanpa memperhatikan Naoki. "Bukan. Gomae." Tampang sedihnya saat aku menengok sekilas sangat blue¹. Dia merasa sangat bersalah. Lucunya.


Aku berhenti sesaat untuk membuka gagang pintu yang sudah tidak terkunci. Kemudian aku berkata kepada Naoki, "Jika kau merasa bersalah, tanyai mereka siapa yang menjadi korban Pureya selanjutnya."


Naoki pasti bingung siapa Pureya yang aku maksud dari ekspresi wajahnya. Tapi dia menuruti lalu menembus pintu besi yang ada didepanku. Wow, ghost's power!


Dari balik pintu aku dapat mendengar suara Naoki yang sedang berhadapan dengan para Oni. "Siapa yang akan mati lagi?" Kemudian ada suara tawa dan cekikikan parau. "Kau kira kita akan menjawabnya?"


"Menjauh dariku!"


Bahaya! Naoki dalam bahaya!


Spontan aku membuka pintu cepat. "Hentikan!" Aku melihat sekumpulan Oni yang jumlahnya menciut bersamaan dengan asap dan teriakan derita. Naoki ada disampingku tersenyum simpul, "Alice, aku pernah bilang jika kau berani, kau bisa mengalahkan segalanya 'kan?"


Aku ingat Naoki pernah berkata seperti itu. Dan sepertinya aku berhasil mengalahkan sebagian Oni secara tidak langsung. "Astaga ini terlalu mudah." Ucapku meremehkan.


"Nah, kalau kalian tidak mau mati untuk kedua kalinya jawab aku. Siapa yang akan mati?" Ancamanku membuat mereka ketakutan. Sebagian lari terbirit-birit, namun ada satu yang berhasil aku tangkap secara kebetulan. Oni ini bentuknya seperti rubah dengan lonceng kecil dilehernya. "Baiklah O-N-I, jawab aku atau tidak?"


"A-aku bukan oni!" Ucapan gagap makhluk yang mengaku bukan Oni ini membuatku terkejut. "W-Watashi(Aku) siluman rubah." Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan siapa dia. Tapi aku akan menunjukan sedikit penghargaan, "Baiklah, Kitune(Rubah) bisa 'kah kau menjawab pertanyaanku?"


Siluman ini mengangguk pasrah lalu menjawab, "Seorang manusia perempuan. Dia tanpa sadar berteman dengan si pembunuh itu sendiri."


"Aku tidak tahu siapa namanya tapi sekarang dia dalam bahaya. Teh yang akan dia minum telah diracuni." Ucapan rubah kecil ini membuatku berpikir sebentar.


Jika persoalannya teh, hanya satu orang yang aku tahu akan mimum teh. Kak Haruka!


"Dimana dia sekarang?" Tanya Naoki. Lalu dijawab "Rumah kaca." Dirasa cukup, aku melepaskan rubah itu dan membiarkannya pergi sambil berlarian.


"Kita harus bergegas." Perintah Naoki. Aku mengangguk lalu berlari bersamanya turun dari tangga. Ada hal penting yang harus kita sampaikan!


***


"Kau tidak harus repot-repot Anzu. Sampai membuatkanku teh segala." Ucap Haruka yang sedang mempersiapkan cangkir untuk acara minum teh sore mereka.


Anzu yang sudah membuatkan teh menuangkannya dicangkir yang Haruka persiapankan. Lalu membalas, "Bukan masalah besar. Kapan lagi kita minum Teh bersama?"


"Jangan berkata seperti ini adalah yang akhir kali Sakamoto Anzu!" Haruka duduk dibangkunya sambil memasang wajah cemberut. Anzu tertawa kecil dan bergumam, "Aku pasti akan merindukanmu."


"Apa yang kau katakan?" Pertanyaan Haruka dijawab gelengan oleh Anzu. Haruka mencoba menghiraukan sambil menyeruput tehnya. "Rasanya enak Anzu!" Ucap Haruka mengagumi teh yang Anzu buat. "Syukurlah kau suka." Balasnya.


"Hoamm, omong-omong aku jadi ngantuk. Ayo ke ke...lasss." Sebelum Haruka sempat berdiri, tubuhnya tiba-tiba jatuh dalam tidur pulas diatas meja.


"Sepertinya dosisnya pas."


[To Be Continue!]


__________________


¹Muram