Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 35. Determination



"Steve...?" Ucap sepasang lansia yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak percaya dan sangat sayu.


Orang yang mereka panggil terpelatuk dan mematung untuk beberapa menit. Saat hatinya telah siap, Steve menengok kebelakang dan melihat wajah orang tuanya yang sangat dia rindukan. "Mom, Dad..." Ucapnya lirih sambil berjalan pelan kearah mereka.


"Is this true? Ini benar kalian!" Steve tersenyum lebar melepas rindu sambil memeluk ayah dan ibunya hangat tanpa mengetahui 2 wanita yang ada diruang tamu tersebut tidak memiliki perasaan yang sama.


Violet kebingungan setengah mati karena situasi ini. Namun saat ingin bertanya kepada 'orang-orang hidup' disekitarnya, tingkah mereka sama anehnya dengan para hantu yang ada didalam ruangan sehingga niatnya diurungkan.


Akiko tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berkata, "Puas sekarang? Kau benar." Kepada Steve sebagai jawaban dari tantangannya. Akiko putus asa dan kepalanya pusing karena stres.


Akhirnya dia melihat kembali hal yang seharusnya tidak bisa dilihat manusia normal. Rahasia yang selama ini dia sembunyikan terbongkar oleh sebuah kertas ucapan ulang tahun. Menyedihkan.


Lagipula menurut Akiko cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya. Tapi ini bukan saat yang tepat dan timing-nya buruk.


Kenapa rahasianya baru terungkap setelah semua kejadian tragis sudah terlewatkan? Sangat percuma. Seharusnya dia mengungkapnya dengan mulutnya sendiri sebelum semuanya terjadi. Tapi nasi sudah jadi bubur, dan dia juga tidak punya kuasa untuk membalikan waktu.


"Aku dan Alice bisa melihat hantu. Kalian tidak akan percaya jika aku beri tahu, jadi lebih baik diam." Pada akhirnya, Akiko berani mengungkapkan hal yang dia sembunyikan selama ini dengan perasaan murka, namun disaat bersamaan ada rasa sedih juga.


"Alice tidak sadar dengan siapa dia berteman. A... Aku berusaha agar mereka tidak bisa bertemu lagi. Tapi, dia lebih kuat dariku sehingga Mandora menginginkan jiwanya!"


Akiko larut dalam tangisan sambil meremas kembali kertas ditangannya. Steve menatapnya intens sambil menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Violet yang telah berdiri mencoba untuk menghibur Akiko. "Dear... Semua orang pernah salah." Ucap Violet yang berusaha mendekati Akiko.


Namun Akiko tidak menyukainya karena dia merasa sangat bersalah sehingga berpikir tidak pantas menerimanya. "Hentikan Violet!" Sentaknya sampai membuat Violet mundur perlahan karena kaget.


Aku tidak bermaksud...


Ledakan emosi membuat Akiko tidak bisa fokus dalam bertindak. Merasa frustasi, Akiko tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai sambil menangis sesegukan dibalik telapak tangannya. Sekarang dia tampak seperti pendosa.


"Nak, kalau punya masalah selesaikan baik-baik. Ayo, bangunlah Akiko."


Suara serak terdengar ditelinga Akiko sehingga dia berusaha menahan tangisannya sejenak untuk melihat ke depan. Walaupun air mata tetap menetes dikedua sudut matanya. Saat dia menengadakan kepalanya, ada tangan yang terulurkan sehingga membuat Akiko bingung.


"Mom!" Teriak Steve merengek, padahal dia sedang bersenang hati saat melihat Akiko menangis sebagai balas dendamnya. Tentu saja ayahnya yang ada disamping Steve benci sikap kekanakan-nya sehingga memukul kepala Steve keras sampai dia tertunduk. "Jaga etikamu!" Ucap Mr. Henkis.


Steve tidak mampu menatap balas ayahnya karena dia teringat kembali kegalakan Mr. Henkis saat masih hidup dulu. Sehingga dia hanya bisa berkata, "I-Iya." Pelan sambil mengusap kepalanya yang masih nyeri.


"Akiko, sayang. Saya tahu kamu masih menyayangi anakmu, jadi selesaikanlah masalah yang ada diantara kalian." Akiko menelan ludahnya tanpa sanggup melihat wajah Mrs. Henkis. Namun dia mengerti apa yang dia maksudkan.


Sekarang Alice sudah jauh dari mereka. Apa yang sedang dia lakukan tidak bisa ditebak. Apalagi setelah mengetahui kekuatan tersembunyinya yang berbahaya pasti memiliki potensi mengancam nyawa Alice sendiri bagai pedang bermata dua.


Akiko baru sadar keinginan egois untuk menjauhkan Alice dari kehidupannya adalah sementara sehingga sekarang dia menyesal.


"Temui Alice." Kata terakhir Mrs. Henkis sebelum wujudnya berubah menjadi asap dan akhirnya perlahan menghilang. Artinya batas waktu kekuatan Akiko telah habis dan menyisakan Steve dan Violet yang masih terpaku ditempat.


"Selesai?" Ucap Steve yang mirip pertanyaan. "Oh, AKHIRNYA!" Jerit Violet senang. Akhirnya, monster seram yang menghantui apartemen mereka menghilang. Walaupun hanya wujud, bukan keberadaannya.


"Akiko, kau harus jelaskan apa yang terjadi sekarang." Violet memberanikan diri untuk menghampiri Akiko yang masih terdiam sambil menepuk pundaknya pelan. Namun Akiko malah memberikan reaksi terkejut berlebihan sehingga keduanya pun ikut kaget. "Ah, maaf." Ucap Akiko pelan.


Kemudian melanjutkan, "Tapi bukannya Steve yang seharusnya menjelaskan semua ini?" Matanya menatap tajam Steve yang tiba-tiba gugup sendiri. Kakinya bergerak tidak beraturan sambil menghentakan lantai pelan. Tangan kiri Steve masih mengusap bagian kepalanya yang perih dipukul Mr. Henkis sambil menghindari kontak mata


Steve tidak berani menatap balas Akiko yang sekarang bersekutu dengan Violet dan ada kemungkinan Mr. Henkis akan kembali untuk memukul kepalanya lagi jika dia bertingkah bodoh. "Sigh." Dengus Steve kasar karena telah terpojokan.


"Baiklah, jadi-"


"Bau apa ini?! Oh tidak, Chicken Wings-nya!!"


Sebelum Steve sempat menjelaskan, bau gosong yang mengarah dari dapur membuat Violet terpelatuk dan berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan makan malam mereka. Kemudian dilanjutkan Akiko yang mengikuti dari belakang.


Kini Steve sendirian diruang tamu sambil berdiri layaknya orang-orangan sawah tanpa ladang untuk dijaga. "Dasar, Women." Umpatnya pelan.


🍗🥛🍗


Saat mereka sedang menikmati makan malam diruang makan, Steve mengisi bahan obrolan dengan penjelasan yang sebelumnya Violet sela.


Steve berkata semuanya berawal dari penampakan aneh yang dia alami di RSJ saat mengantar Alice. "Aku pikir anak kecil dilorong itu sedang mencari orang tuanya. Tapi saat aku dekati dia menghilang seperti tidak pernah ada sebelumnya."


Steve menceritakan pengalaman supralnatural pertamanya sambil memakan Chicken Wings dengan tangan kanannya. Setelah dibersihkan tentunya.


Violet mendengarkan penjelasan Steve dengan seksama. Dia berusaha mencerna setiap kalimat Steve yang mungkin terbilang tidak masuk akal. Tapi saat melihat reaksi Steve saat menceritakan kisahnya dengan ekspresi bersungguh-sungguh, mungkin dia akan mencoba mempercayainya. Apalagi setelah kejadian penampakan hantu di ruang tamu beberapa menit yang lalu.


"Setelah itu, aku mencoba mencari di internet maksud dari penampakan itu sampai aku punya kesimpulan bahwa anak kecil itu adalah hantu. Lalu setiap hari aku selalu penasaran dengan hal supralnatural sehingga aku rela membeli buku itu. Mungkin saja ada hubungannya dengan kejadian di Jembatan." Steve menunjuk buku Paranormal Activity-nya yang kini berada dimeja ruang tamu dengan posisi tertutup dengan tangan kanan yang berlumuran minyak dan bumbu Chicken Wings.


Itu sebabnya kenapa Violet dan Steve membeli rak besar untuk menampung buku-buku yang telah dibeli. Bahkan tak jarang Akiko atau Jack meminjam buku-buku tersebut sebagai referensi tugas mereka masing-masing.


"Ini hanya pemikiranku, tapi mungkin saja teman khayalan Alice yang namanya Mandora adalah 'The Grey Lady' penunggu Clementine's Mansion saat aku mencari namanya di internet." Akiko dan Violet bergidik saat Steve melanjutkan ceritanya karena mereka telah mengetahui cerita Urban legend yang cukup terkenal dengan kengerian-nya ini. Walaupun hanya cerita, tapi tragedinya nyata dan memiliki bukti yang masih ada sampai saat ini, Mansion mereka yang menjadi saksi bisu.


Dahulu kala ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan kedua putri mereka yang cantik jelita mendiami Mansion ditepi sungai. Si Ayah adalah pedagang kaya raya dan Si Ibu adalah wanita terhormat dari keluarga terpandang. Semuanya tampak sempurna sampai suatu hari putri kedua mereka menghilang tanpa jejak di malam musim dingin.


Sejak saat itu keluarga kecil ini mulai berubah. Pasangan suami istri yang biasanya rukun tiba-tiba selalu bertengkar sehingga menyebabkan anak pertama menjadi paranoid. Lalu akhirnya Ibu dan anak pertama tiba-tiba dibunuh oleh si Ayah sebagai persembahan dalam ritual sesatnya.


Rumor mengatakan bahwa keluarga Clementine adalah keluarga penyihir dan semua yang ada didalam Mansion itu-termasuk para pembantu- meninggal dengan menyisakan sebuah kutukan. Karena keangkerannya, Mansion itu menjadi terbengkalai dan aura mistis terus menghantui disekitar.


Akiko mencoba mengalihkan topik agar rasa paranoid-nya menghilang. Maka dia bertanya, "Lalu kau bertanya kepada Otau-san karena penasaran juga?" Untuk sekaligus memastikan. Lalu Steve mengangguk mantap sambil melanjutkan makan malamnya.


Akiko juga memakan Chicken Wings-nya dengan ditambah selada dan irisan tomat sebagai pelengkap. Sedangkan Violet langsung mengambil Chicken Wings-nya dari mangkuk lalu menambahkan saus barbeque diatas lapisan renyah Chicken Wings tersebut.


Minuman mereka masing-masing adalah air dan jus jeruk yang baru Akiko ambil dari tempat dia membaca buku sebelumnya.


Setelah selesai meneguk air digelasnya, Steve menjawab, "Iya. Beberapa minggu yang lalu aku menelpon ayahmu dari nomor telepon kak Hana untuk bertanya 'Apakah Akiko bisa melihat hantu' dan beruntungnya aku, itu benar."


Saat mendengarnya Akiko memutar bola matanya malas dengan ekspresi jenuh. Ternyata dibantu Oni-chan, batinnya sebal karena jika ayahnya sekarang sudah ahli menggunakan ponsel seharusnya dia bisa menanyakan kabarnya juga. Dan lagi, sekarang kakaknya sudah jarang dihubungi karena alasan sibuk. Benar-benar keluarga yang 'sempurna'.


Setelah Akiko selesai makan, dia mengambil piring dan gelasnya lalu meletakan keduanya di wastafel. Saat menyalakan keran, Akiko berkata, "Aku akan ambil cuti." Sambil menggosok piring dengan spons berbusa yang ada didekat wastafel.


Ucapan tiba-tiba Akiko mengejutkan Steve dan Violet. Jarang sekali sosok pekerja keras ini mengambil cuti bahkan saat sakit sekalipun. "Ada apa Akiko? Tiba-tiba sekali." Tanya Steve penasaran.


Tangan Akiko dengan telaten membersihkan setiap noda dipiring. Setelah dirasa cukup bersih, dia lanjut memberikan busa sabun yang masih tersisa di spons ke gelasnya. Walaupun terlihat larut dalam mencuci, Akiko masih mendengarkan Steve. Kemudian dia menjawab, "Alice membutuhkanku. Malam ini aku akan mengemasi barang lalu paginya aku akan berangkat."


Steve dan Violet tiba-tiba merasa senang dengan perubahan sikap Akiko. Akhirnya dia peduli kepada anaknya lagi, sosok ibu yang telah hilang telah kembali. Mereka tidak menghalangi niat Akiko, sebaliknya mereka mendukungnya.


"Good luck! Kabari kami jika kau sudah sampai di Jepang." Ucap Violet menyemangati, lalu Akiko membalasnya dengan senyuman tulus dan berkata, "Arigato."


🌷🐤🌷


Selesai makan malam dirumah Steve dan Violet, Akiko berpamitan dengan mereka sebelum mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah.


Jalan raya hari ini lumayan sepi sehingga Akiko dapat pulang ke rumah dengan cepat. Setelah membuka garasi dan memasukan mobilnya, Akiko menutup pintu garasi kembali lalu masuk ke rumah sambil mengucapkan salam dan menyalakan lampu. Walaupun tahu hanya dia yang ada dirumah.


Setiap langkah saat berjalan didalam rumah, kenangan indah Akiko seperti terputarkan kembali secara otomatis. Dari hari pertamanya berada dirumah.


"*Selamat datang dirumah!" Ucap Jack sambil melepas kain putih yang menutup mata Akiko. Saat dia membuka matanya dengan perasaan berdebar, Akiko melihat tampak luar rumah yang menjadi impiannya.


Kata-kata tidak sanggup menggambarkan rasa kebahagiaan dihati Akiko, sehingga dia mencium pipi Jack mesra. "Terima kasih, sayang." Seulas senyuman lebar tercipta dikedua sudut bibirnya*.


Lalu ruang tamu dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama, termasuk dengan Alice disaat luang.


"*Okaa-san! Daddy nonton film serem!" Teriak Alice saat Jack mengganti channel kartun kesukaannya dengan channel horror yang pastinya Jack tidak akan nonton karena dia hanya ingin bermain-main dengan Alice. Buru-buru Akiko merebut remote ditangan Jack dan mengganti filmnya dengan channel lain secara acak.


"Jack-kun, sayang~, aku sudah bilang jangan pernah mengganti film Alice." Ancaman terasa disetiap kata-katanya sehingga membuat Jack merinding. "A-Ampun Yang Mulia." Akiko tidak suka film horror karena akan ada 'penonton tambahan' yang tidak diinginkan*. Hampir saja, Batinnya lega.


Akiko melewati ruang tamu sampai menemui sebuah pintu ke kamarnya. Dia memutar gagang dipintu tersebut lalu mendorongnya masuk. Setelah menemukan saklar, Akiko menekannya sehingga lampu menyala. Akhirnya terlihat jelas kamar yang biasanya tinggali.


Hal pertama yang dia lihat adalah kondisi kamar yang masih sama seperti sebelumnya, rapih seperti tidak tersentuh. Lalu saat melihat ke jendela, ada beberapa pot tanaman mini yang menghiasinya.


"*Okaa-san katanya mau berkebun seperti Ibu Eliz, jadi aku beli ini! Ta raa~" Seperti biasa, energi anak berumur 6 tahun bagai tidak ada habis-habisnya sehingga Alice setelah mengantar Akiko ke rumah dari kantornya bersama Jack, dia langsung menunjukan pot bunga Anthurium, Tillandsia, dan beberapa Aloe Vera dijendela kamarnya.


"Cantik tidak Okaa-san?" Akiko menjawab pertanyaan Alice dengan anggukan kecil lalu berkata, "Iya sayang." Sambil mengusap kepalanya lembut. Setelah itu Alice dengan enerjik-nya berlari keluar dari kamar untuk bermain dengan teman-temannya setelah melihat kedatangan Eliz dihalaman depan rumah yang memanggilnya*.


Saat itu, Akiko ingat Alice hanya membayar satu per sepuluh dari harga tanaman yang sebenarnya berkat penjelasan Jack. Namun dia tetap bahagia lalu merawat tanaman-tanaman tersebut dengan senang hati.


"Anakku, Alice..." Aku akan menemuimu.


Akiko mengambil beberapa pakaian dari lemari yang cukup untuk 3 hari perjalanan. Lalu mengambil koper yang terletak diatas lemari tersebut menggunakan kursi yang dia seret ke bagian samping lemari.


Setelah berhasil mengambilnya, Akiko menjadi sibuk memasukan pakaian-pakaian. Dilanjutkan dengan perlengkapan mandi, paspor, dan hal lainnya yang mungkin diperlukan. Dompet dan kartu kredit telah dia persiapkan untuk membayar biaya penerbangan walaupun sangat mahal.


"Yosh! Besok adalah hari yang besar." Gumamnya saat menutup kembali koper yang telah dia isi.


[To Be Continue!] 🍵