
"Namaku Alicia Yamada Henkis. Biasa dipanggil Alice. Aku adalah anak dari adik bibi. Saat ini aku butuh bantuan."
Hana terkejut karena orang yang sedang dikhawatirkan malah menelepon mereka dengan sendirinya. Tapi dilain sisi dia juga sangat bersyukur walaupun kebingungan dengan maksud permintaan yang akan Alice berikan. "Oh, halo Alice. Kau butuh apa nak?" Hana menyapanya balik dan berusaha bersikap normal agar suaranya tidak terdengar sedang terkejut.
Tak berapa lama kemudian Alice membalas dengan nada ragu, "Ini agak rumit. Sebaiknya bibi nonton televisi, saluran apa saja yang ada berita." Perkataan Alice malah menambah kebingungan Hana. Tapi terpaksa Hana meng-iya-kan permintaan tersebut dan meminta Alice untuk menunggu sementara waktu.
Tiba-tiba Ayako datang dari dapur dengan membawa piring berisi 7 kue Taiyaki berisi kacang merah dan meletakannya di meja ruang tamu, temapt Akiko dan Gin berada. "Selamat makan." Ucap Ayako sambil mengambil salah satu kue Taiyaki.
Bersamaan dengan kedatangan Ayako, Hana memanggil Akiko yang sedang memakan salah satu Taiyaki untuk menyalakan televisi. Setelah menjawab panggilan Hana dengan mengucapkan, "Iya!" Akiko mengambil remote yang ada diatas meja televisi dan menekan tombol On berwarna merah di remote tersebut.
Televisi tersebut membutuhkan beberapa detik untuk loading sampai akhirnya menyala dan menampilkan channel terakhir yang ditonton. Sekarang program acara channel tersebut adalah berita dadakan yang tidak biasanya tayang pada jam itu. Apalagi siaran ini berlangsung secara live¹. Hana memperhatikan berita yang sedang tayang dengan intens, kemudian menyampaikan apa yang dia lihat kepada Alice.
"Pembunuhan SMA Hokkaido 45?" Ucap Hana ragu. "Benar." Lanjut Alice. "Singkat cerita, saya menjadi saksi kasus pembunuhan tersebut dan besok akan ke Pengadilan untuk sidang. Karena belum cukup umur, saya butuh pendamping. Jadi bolehkah bibi mendampingi saya?"
Gin dan Ayako langsung tertarik dengan berita tersebut dan menontonnya dengan hikmat. Sedangkan Akiko yang menyalakan televisi sangat terkejut. Karena dorongan dari hati, dia menaikkan volume suaranya menjadi 70 persen lebih.
"Astaga, bukannya Akiko dulu sekolah disana, ya?" Ayako tiba-tiba ingat dengan bentuk model sekolah yang terpampang ditelevisi karena merasa Akiko adalah alumni disana. Lalu kemudian dilanjutkan Gin yang berkata, "Untung saja udah lulus. Ya tidak nak?"
Tapi Akiko tidak memperhatikan perkataan mereka. Malah dengan gemetaran, Akiko menjerit. "Alice sekolah disana!" Awalnya Gin dan Ayako terdiam untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba tertular kepanikan dan menjadi lepas kendali.
Bayangan buruk Alice yang menjadi salah satu korban bermunculan dibenak Gin dan Akiko yang saling menguatkan arguman mereka masing-masing sehingga merasa bayangan tersebut adalah kenyataan. Tapi Ayako menyadarkan mereka yang hiperbola agar tidak berburuk sangka dulu, walaupun Ayako sendiri juga khawatir dengan keselamatan cucunya.
Hana yang melihat tindakan berlebihan keluarganya terpaksa menjadi pihak rasional untuk menenangkan mereka. Dia berkata, "Tenanglah! Aku sedang telponan dengan Alice." Kalimat yang Hana keluarkan membuat Akiko terpelatuk.
Seperti mengerti jalan pikirannya, Hana berkata, "Jangan Akiko." Sehingga Akiko yang tadinya dalam posisi ingin berdiri kembali duduk. Meski kecewa, Akiko berusaha memakluminya.
Hana melihat raut kecewa diwajah Akiko, tapi dia terpaksa berkata demikian agar tidak terjadi kesalahpahaman saat berkomunikasi dengan Alice dan kabarnya harus ditanyai dengan lebih detail. Setelah sekian lama Hana mendiamkan Alice, akhirnya dia membalas. "Baiklah, kapan dan dimana?"
"Karena sidangnya dijalankan secara besar-besaran, mungkin di sesi ke 2 besok, jam 2 siang. Lokasinya di Pengadilan Shiryokan."
Hana mendengarkan penjelasan Alice dengan baik dan matanya masih fokus menonton berita di televisi untuk mengetahui lebih jauh sebab kenapa kasus tersebut membuat Alice sampai ikut terseret.
Didalam berita tersebut, seorang pembawa acara sedang menjelaskan kronologis pembunuhan di SMA Hokkaido yang sudah menjadi tren terkenal diseluruh dunia. Pembawa acara adalah seorang pria bernama Nakajima Teru berdasarkan board name dibawahnya.
Dengan tegas dan kaku Teru langsung mengatakan topik beritanya, "Negara telah dihebohkan dengan pembunuhan berantai sadis di SMA Hokkaido yang terjadi sekitar setahun yang lalu namun baru booming hari ini. Untungnya pelaku yang berinisial S-A telah tertangkap Selasa, Siang, kemarin."
"Namun ternyata pembunuhan ini bukan rencana satu orang saja. Kepala sekolah dengan inisial S-H dan kaki tangannya seorang guru Sosial M-T, diduga terlibat karena memperalat S-A yang ternyata salah satu murid SMA mereka untuk menjalankan aksi kotor tersebut. Alasannya adalah untuk menyingkirkan anak dengan bantuan beasiswa. Berikut adalah beberapa penuturan dari korban-korban selamat yang mirisnya, adalah murid mereka sendiri."
Tiba-tiba layar televisi berganti menjadi slide foto dan ada beberapa video live dari siswa-siswa dengan seragam yang sama namun penampilan dan latar mereka berbeda-beda saat menceritakan informasi-informasi yang mereka ketahui tentang kasus tersebut. Mulai dari yang bernama Mitsugawa Haruka yang berada dirumah sakit, Edogawa Enji dan Akbar Sudirman ditaman yang sedang merayakan festival, lalu beberapa siswa asing yang diwawancarai secara acak.
Akiko langsung mengenali gambar gadis dalam sebuah foto yang muncul di slide setelahnya. Foto tersebut memperlihatkan seorang anak perempuan sedang menemani kedua gadis yang pingsan di kedua sisinya.
"Ketiga gadis yang hampir menjadi korban terbaru S-H dan M-T ini sangat beruntung karena salah satu dari mereka tidak terpengaruh obat tidur pemberian S-H saat datang ke kantornya." Ucapan Teru mungkin terdengar tidak masuk akal bagi kebanyakan orang. Bahkan bagi keluarga Yamada yang sedang menonton televisi sekarang.
Gin hampir tidak percaya dan berkata ini adalah berita hoax. Tapi Ayako menepuk punggungnya keras sambil berkata dengan nada tinggi, "Mana mungkin bohong didepan televisi!" Karena ketegangan atmosfir dari televisi, Ayako menjadi ikut terbawa suasana.
Teru masih dengan penjelasannya, berkata. "Dari keterangan gadis yang bernama Henkis Yamada Alice, awalnya mereka dipanggil setelah kelas telah selesai oleh M-T lalu diberikan teh berisi Etklorvynol oleh S-H dengan memanfaatkan momen festival saat tidak ada orang digedung utama sekolah lalu mengunci semua gerbang sehingga korban terpojok di kantin sekolah mereka. Untungnya kepolisian daerah dengan bantuan FBI datang tepat waktu untuk melakukan penyelamatan."
Kali ini ada slide berisi video penangkapan dua orang pria yang diamankan oleh banyak anggota personel kepolisian dan wajah kedua pelaku tersebut sengaja di blur televisi.
Yang keluarga Yamada ketahui bahwa FBI juga berperan dalam penangkapan ini sehingga mereka dapat melihat wajah orang asing karena ada yang berasal dari luar negeri. "Uniknya, penangkapan ini diketuai oleh lebih dari satu orang. Yaitu Hattori Akhira dan Suzuki Miyamura dari kepolisian daerah, sedangkan dua orang lagi dari FBI belum diketahui identitasnya."
Tahu atau tidaknya identitas kedua orang anggota FBI yang masih rahasia tersebut bukan masalah. Yang sekarang ingin diketahui orang dikediaman Yamada adalah, bagaimana kabar dari gadis yang selamat tersebut. Kecuali Hana yang sedang berkomunikasi dengan Alice, si gadis yang sedang dibicarakan dalam televisi.
Sebelum Teru mengakhiri beritanya, dia menjelaskan lagi untuk yang terakhir kalinya. "Saat ini, ketiga gadis tersebut dilarikan ke Rumah Sakit Minami A untuk perawatan lebih lanjut."
Setelah itu, tiba-tiba Akiko meminta Hana untuk menanyakan lokasi Alice sebagai konfirmasi. Hana mengangguk, lalu langsung menyampaikannya. "Oh ya, Alice. Sekarang kamu ada dimana? Bibi ingin menjemputmu."
Kemudian Alice langsung membalas, "Saya ada di Minami A Hospital karena teman-teman saya sedang sakit." Tepat seperti yang pembawa acara-Nakajima Teru- katakan. Alice belum pergi dari rumah sakit. Dengan kesempatan itu, Hana dan Akiko akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
"Terima kasih. Aku akan menunggu kedatangan bibi, bye."
"Iya, Alice. Selamat tinggal." Tuuut...
Hana mematikan panggil tersebut dan mengembalikan gagang telepon ketempatnya semula kemudian berbalik kearah ruang tamu untuk menghampiri Akiko.
Saudarinya sudah siap sedia dengan berpamitan dengan orang tua mereka dan menunggu Hana selesai berpamitan. "Kalian baru datang loh, Hana, Akiko." Ucap Ayako yang mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya. Tapi Hana berkata, "Tidak apa-apa Okaa-san. Aku juga ingin jalan-jalan." Hana memberikan kedua orang tuanya sebuah senyuman manis sebelum Akiko menyeretnya keluar pintu dengan ekspresi jijik. "Cepatlah Oni-chan!" Keluhnya ditengah jalan.
🐾🍪🐾
Disaat yang sama, Minami A Hospital.
"Sudah teleponannya?" Tanya Marshell memastikan saat seorang gadis mengembalikan ponselnya setelah dia menggunakannya untuk menelpon walinya. Untungnya dia masih menyimpan nomor telepon walinya didalam kotak pensil yang terbawa bersama tasnya ke rumah sakit.
Saat mendengar pertanyaan Marshell, gadis yang bernama Alice tersebut tersenyum ramah lalu membalas, "Sudah paman. Thank you very much." Tiba-tiba Marshell mengerutkan dahinya heran.
I-iya sih, I'm actually old. Marshell mengalami pergulatan batin karena sudah lama tidak mendapat panggil yang sesuai dengan umurnya.
"Paman? Apakah aku boleh pergi?" Ucapan Alice membuyarkan lamunannya. "Iya silahkan." Jawab Marshell mempersilahkan. Akhirnya setelah Alice memberi hormat kepada Marshell-dan otomatis Marshell melakukan hal yang sama-, dia pun pergi melewati lorong rumah sakit ke kamarnya untuk melihat kondisi Fumika dan Elizabeth.
***
Lorong rumah sakit saat siang hari tidak terasa kehampaannya. Bahkan ini lebih baik daripada terakhir kali aku datang ke rumah sakit yang malah membuatku mendapatkan mimpi buruk karena bisa melihat 'hantu'. Saat itu aku masih kecil dan belum bisa mengendalikan kekuatanku sehingga lepas kendali.
Hari ini ada banyak hal menyebalkan yang terjadi sampai aku harus berhadapan dengan 'dia' lagi di moment paling menyedihkan dalam hidupku. Huh!
Untungnya jangka waktu pengaktifan kekuatanku sudah habis sehingga aku tidak perlu melihat Mandora lagi. Atau setidaknya saat ini, karena aku masih ingin bertemu dengannya tapi bukan sekarang. Padahal ada hal yang ingin aku katakan kepadanya tapi terurungkan karena kedatangan polisi.
... Sebelum aku sempat mengatakannya, aku mendengar bunyi langkah kaki cepat. Tiba-tiba ada teriakan keras dari sampingku sampai refleks aku menengok, "Ini Polisi angkat tangan!"...
Setelah kejadian itu, Mandora menghilang dari hadapanku dan yang bisa aku lihat adalah pak Hideyoshi yang meringkup ketakutan didepanku. "Angkat tangan!" Karena gertakan tersebut, aku terpaksa mengangkat kedua tanganku sambil menundukkan pandangan.
Tiba-tiba ada dua orang polisi mendekatiku lalu mengantar aku keluar dari kantin meninggalkan pak Hideyoshi yang masih ada didalam bersama polisi-polisi yang lain. "Ayo nak, hati-hati." Ucap salah satu dari mereka dengan lembut. Aku menurut sampai dibawa naik mobil ambulan.
Disana aku bertemu dengan Eliz dan Fumika yang masih tidak sadarkan diri dengan infus ditangan dan masker oksigen diwajah mereka. Dalam hati aku merasa sangat bersyukur karena kita bisa selamat dari petaka ini. Dan dilain sisi tiba-tiba aku menitihkan air mata ditangan Eliz saat memegangnya. "Hey, please wake up." Ucapku lirih, walaupun tahu mereka tidak akan membalas.
Tragedi-tragedi yang aku alami sebelumnya terkumpul kembali diingatanku, dan kejadian hari ini bagai ujung tombak yang telah diasah tajam khusus untuk menusuk diriku. Aku berusaha tetap kuat walaupun tubuhku gemetar hebat.
"Why this always happens to me?"....
Akhirnya Kita dibawa ke rumah sakit ini untuk dirawat dan untungnya aku dinyatakan sehat dan akan dipulangkan besok. Tapi jika Eliz dan Fumika masih belum siuman, mereka terpaksa tidak akan dipulangkan dahulu dan akan meninggalkan aku sendirian di sekolah.
Setelah semua kejadian buruk yang telah kami lewati, apakah aku akan baik-baik saja?
[To Be Continue!]🍵
____________________
S-A \= Sakamoto Anzu
M-T \= Matsuhiro Tanaka
S-H \= Sato Hideyoshi
¹Langsung