Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 26. SOS



Aku dan Naoki turun dari tangga dan mendapati yang lain sedang menunggu dilantai 5.


Eliz dan Fumika memelukku erat karena sekarang mereka sudah tahu apa yang selama ini aku rasakan, ketakutan. "A.. Alice, Demi Tuhan baru kali ini aku menggigil setengah mati." Ucap Eliz gemetaran. Lalu dilanjutkan oleh Fumika, "Ini 'kah yang selama ini k-kau lihat?"


Untuk beberapa menit mereka tidak bisa melepaskan pelukan sampai aku merasa sesak. Terpaksa aku melepaskannya sendiri karena ada urusan yang lebih serius dari acara saling mengasihi ini.


"Hey, hentikan!" Aku mendorong mereka mundur sehingga ada cela besar diantara kami. Setelah mendapatkan perhatian semua orang, aku mulai berkata, "Saat aku dan Naoki diatas tadi, seekor siluman mengatakan ada pembunuhan lagi. Kali ini dirumah kaca. Kita harus cepat!"


Tentu perkataanku membuat semua orang tersentak kaget. Kemudian mereka bertanya padaku secara membabi buta sehingga aku tidak bisa menjawabnya satu-satu.


"Jangan bercanda Alice! Dimana si Zya-ku itu?!" Hanya teriakan panik kak Akbar yang bisa aku ingat. Fix, aku tersudutkan oleh rasa penasaran mereka. Namun, "Hentikan! Bisa sabar sedikit?" Naoki menolongku untuk menghentikan mereka.


Fumika yang sudah kembali ke akal sehatnya langsung berkepala dingin. Dia berpikir sejenak. Lalu akhirnya berkata, "Benar. Tidak ada gunanya bertanya-tanya saja. Kita butuh rencana untuk menangkapnya."


"Apa kita harus berpencar?" Ucapan Eliz membuat kita terpelatuk. Tapi bener apa yang dia katakan. Kita tidak mungkin berombongan untuk mengejar Pureya. Itu akan menghabiskan waktu. "Begini saja." Lanjut kak Akbar.


"Aku dan Eliz akan memanggil guru, Enji dan Fumika menunggu dipos satpam sambil menelpon polisi, Alice dan Naoki akan menangkap orang itu." Beberapa orang keberatan dengan tugas yang kak Akbar berikan. Tak terkecuali Fumika dan Eliz yang protes karena aku yang akan berhadapan dengan Pureya. Iya, AKU!!


"Kak Akbar! Apa ini tidak keterlaluan? Alice akan menghadapi si pembunuh itu sendirian." Ucapan Fumika yang membuat Akbar tertawa renyah. "Kau anggap orang yang ada disampingnya apa?" Balas kak Akbar sambil menunjuk Naoki yang berekspresi datar dengan menyilangkan tangannya. Dia pasti kesal diabaikan.


"Tenanglah Fumika. Alice selalu aman dalam pengawasanku, w**herever she is. Lagipula dia sudah kuat sekarang." Ucapan Naoki membuat pipiku merona merah. Ditambah lirikan matanya saat melihatku membuat aku kesal. Kesal karena ternyata dia sangat, manis?


"O-Oke! Let's Split, sekarang!" Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin agar tidak ada yang menertawakan salah tingkahku. Tapi sepertinya ada 1 makhluk yang tertawa dibelakangku. Kalian tahu siapa.


"Pffft. Haha."


"Gak usah ketawa Mellow Prince!"


Setelah semua setuju, kami pun berpencar ketempat yang dituju masing-masing. Kita sempat turun bersama sampai kak Akbar dan Eliz berhenti dilantai 2 untuk ke ruang guru. Kemudian kak Enji dan Fumika berpisah dengan aku dan Naoki saat kita sudah berada dilantai 1. "Hati-hati Alice." Kata terakhir Fumika padaku sebelum dia pergi.


"Yosh! Sekarang tunjukan jalan ke rumah kaca Peta-ku." Ucapku bercanda kepada Naoki untuk menghilangkan rasa tegangku. Walaupun aku sempat ke rumah kaca, aku lupa jalurnya. "Haiss, terserah kau saja. Aku tahu jalan pintas dari sini."


Naoki mengajakku ke jalan utama. Setelah beberapa bertigaan kita hanya lurus, akhirnya berbelok ke kanan. Dari sini aku ingat jalan ke rumah kaca. Setelah ini akan ada cahaya diujung terowongan.


Tepat saja, akhirnya kita sampai ke rumah kaca. Aku berlari ke gubuk tempat aku dan kak Haruka pernah mengobrol bersama dan mendapati kak Haruka yang sedang tertidur dimeja. "Dia masih hidup, hanya tidak sadarkan diri." Ucap Naoki untuk menenangkanku. Syukurlah.


Saat aku melihat kaca gubuk, tanpa sengaja aku melihat pantulan siluet dibelakangku lewat kaca jendela.


Praang! Untungnya pukulan itu tidak mengenaiku saat berusaha menghindar dan malah menjatuhkan pot-pot disekitarnya.


Aku berbalik untuk lari menghindarinya. Kemudian menengok sekilas untuk melihat wajahnya. Tapi tidak sempat karena dia terus mengejarku.


Kami pun berputar-putar di rumah kaca. Jika ingin kabur semua pintu telah dia kunci. Bahkan jalan pertamaku untuk kesini telah dia blokir dengan memasang kembali pagarnya secara cepat. Sepertinya dia telah menantikanku untuk datang untuk membunuhku.


"Alice, sembunyi dibalik pohon Apel itu. Aku akan menahannya." Walaupun Naoki berkata demikian, apakah hantu bisa melawan manusia?


"Percaya padaku!" Cih, terpaksa aku mempercayainya karena terburu-buru. Akhirnya aku bersembunyi dibalik pohon apel. Padahal Pureya sudah tinggal beberapa langkah lagi mendekatiku.


Deg, deg.


Adrenalin mengalir didalam darahku. Jantung berdebar kencang bukan karena hanya lama berlarian, tapi juga ketakutan. Keringat bercucuran dipelipis dan telapak tanganku. Dalam sedetik telah banyak pikiran dikepalaku. Apa aku harus pergi saja? Aku tidak berpikir ini berhasil.


"Percaya padaku!"


Astaga Naoki! Aku harap kau benar dan aku tidak harus mati sia-sia disini.


Clang, "Dare(Siapa)?!"


Suara benda yang tertahankan. Setelah cukup berani, aku menengok dari balik pohon dan melihat Naoki menahan sekop besar yang dipegang Pureya.


Samar-samar aku melihat wajah asli si Pureya. Betapa terkejutnya aku. Aku sendiri bahkan tidak percaya dia yang telah menjadi Pureya selama ini.


Kak... tidak. Sekarang aku tidak sudi memanggilnya dengan 'Kak'. Anzu sambil memegang sekop-nya berhadapan dengan Naoki.


"Konniti ha(Halo), Anzu~"


Ucapan salam Naoki membuatku merinding. Bahkan Anzu sekalipun menarik kembali sekop-nya. "Ti-tidak mungkin." Suara Anzu menjadi lirih lalu dia gemetaran saat berhadapan dengan Naoki yang berdiri tegak didepannya. "Kau seharusnya mati! Orewa(Aku) yang telah membunuhmu!"


"Wah, kau mengakuinya."


Apa aku sedang menonton film horror? Aura disekitar sini mencekam dan terasa berat. Karena ketakutan, aku kembali bersembunyi dibalik pohon dan malah menemukan seseorang didepanku.


Aku tersentak kaget sampai hampir menjerit. Tapi pita suaraku seperti ditahan. Suaraku tidak bisa keluar. "Jangan teriak. Cepat ambil buku ini." Sosok ini memberikan sebuah buku note kepadaku. Loh, I-ini buku Diary itu?!


Saat aku mendongak untuk melihat sosok yang memberikan buku ini. Samar-samar aku melihat wajahnya sebagai salah satu teman laki-laki Naoki yang pernah kelihatan bersama. Si Bermulut Pedas yang mengusirku.


... "Kau tidak usah mengurusi masalah orang lain. Sana pergi dasar aneh!"...


Ada perasaan kesal yang tiba-tiba datang kembali setelah sekian lama aku melupakannya. "Apa maumu?" Ucapku ketus.


"Tolong bacakan halaman terakhir." Tiba-tiba kak Yumi datang dari kiriku. Cukup mengagetkan karena ternyata dia hantu juga. Lalu datang lagi seseorang dari kananku membukakan halaman buku Diary yang dimaksud. "Halaman ini, tanggal 6 Desember. Iya 'kan Kenji?"


Kenji? Be-Berarti mereka adalah korban-korbannya Anzu? Si Pureya?


"Kalian Ayumi, Kenji, dan Kaouri?" Tanyaku penasaran. Lalu dibalas anggukan. "Cepat baca! MP tidak mungkin bisa bertahan lama." Perintah Kenji membuatku tersentak. Namun terpaksa aku membaca buku Diary ini karena melihat Naoki yang susah payah mengalihkan perhatian Anzu.


Saat aku mulai fokus pada kata-katanya, ada secercak darah dan bau amis dari buku ini. Aku menutup hidung saking menyengatmya. Kenapa baunya malah tercium sekarang?


"Baca intinya saja, PS-PS¹ nya tinggalin." Ucap Kaouri memberitahukan aku. Maka, aku mulai membaca.


"*Malam tanggal 6 Desember 2012


Aku datang kembali ke kamar bersama Enji untuk mengambil buku ini. Sudah lumayan berdebu, tapi tidak apa-apa*."


"*Dia datang dan hampir membunuhku. Untunglah Enji dilemari, tapi aku tidak tahu apa aku bisa meneruskan tulisan ini.


Perutku sakit dan tangan kananku patah. Sepertinya mataku buta sebelah. Sekarang pun aku sedang kesulitan untuk menulis*."


Tulisan tangannya secara bertahap berubah kacau sepanjang aku membaca. Aku berusaha melihat kembali tulisannya sampai akhirnya aku berhasil membaca,


"***SAKAMOTO ANZU**!!


Iblis berkulit manusia!


Teman yang menusuk dari belakang!


Pengkhianat!


Semoga kau mendapat karma setelah aku mati*."


Halamannya telah habis. Selesai sudah catatan yang tertulis dibuku ini. Karena penasaran, aku membalik sampai halaman terakhir buku dan mendapati nama si pemilik buku. "Furugawa Naoki." Ternyata, ini buku miliknya.


"He?" Kemana yang lain?


Aku baru sadar telah ditinggalkan sendirian. Angin tiba-tiba berhembus kencang. Suasana semakin dingin dan berat tiba-tiba. Ada teriakan pengampunan dibelakangku. Refleks aku melihat dibalik pohon dan mendapati Anzu sujud ketakutan sambil meneriakan permintaan maafnya.


"GOMAE! GOMAE! Aku salah! Ampuni aku!!" Tentunya percuma, karena dari kejauhan aku melihat 4 korbannya melingkari Anzu sambil menatapnya nanar. Aku menangkap senyuman horror dan ruh mereka yang berubah seperti saat mereka dibunuh.


Kaouri mulut dan matanya dijahit dan daun telinganya dihilang. Penampilannya kacau seperti diobrak-abrik.


Ayumi kepalanya putus sehingga tangannya yang memegang. Banyak bekas tanah dibajunya.


Kenji memiliki banyak luka tusukan dipunggung dan ususnya terbuai keluar. Dia berjalan pincang karena kakinya terpelintir.


Dan terakhir Naoki. Disekitar matanya ada bekas terbakar dan tangan kanannya patah. Dia membungkuk karena perutnya masih sakit. Mungkin?


"Iblis berkulit manusia!


Teman yang menusuk dari belakang!


Pengkhianat!"


Mereka mengulang-ulangi kalimat terakhir yang aku bacakan sehingga Anzu tidak sanggup memandang keatas. Dia terpaku ditanah dan tidak mampu berdiri.


"SAKAMOTO ANZU!!" Naoki dengan kasarnya menarik kerah Anzu sampai mereka saling bertatapan. Senyum lebar yang tidak manusiawi berukir diwajah Naoki. Dia sangat menikmati penyiksaan mereka.


Ini, ini tidak benar!


Aku tahu mereka telah disakiti. Anzu memang bersalah. Tapi, "Ini bukan kalian!" Teriakku ketakutan sambil meringkup dibalik pohon apel.


Deg. Deg. Deg.


Tolong hentikan.


Air mata tiba-tiba mengalir dipipiku. Membuat banyak lurik dan membanjiri almamater-ku. Kepalaku putar karena pusing. Aku sengaja menutup mata dan telingaku agar tidak mendengar suara jeritan kak Anzu.


Aku diselimuti rasa ketakutan dan terror tiada akhir. Rasanya sama seperti saat dijembatan. Bedanya sekarang aku menjadi penonton yang tidak bisa apa-apa. Pecundang yang bersembunyi.


Puk, "Kau ketakutan ya?" Kaouri tiba-tiba muncul didepanku lalu menyentuh hidungku pelan. Aku kebingungan karena kini mereka berjejer didepanku. Apa mereka telah puas menyiksa Anzu?


Saat aku berbalik, yang aku temukan adalah tubuh Anzu yang berbaring tidak berdaya ditanah. Dan suara keras dobrakan di kedua arah gerbang jalan keluar. "Oi! Bertahanlah!" Suara berat seorang pria paruh baya dibalik gerbang yang sedang dibuka. Bukan hanya seorang, ada rombongan lain dibelakangnya. Apa mungkin Enji dan Fumika berhasil memanggil polisi?


"Arigatougozaimasi ta (Terima kasih banyak), Alice. Semua ini berkat kau dan teman-temanmu." Ucapan tulus Ayumi membuat hatiku menghangat. Aku membalasnya dengan tersenyum. "Kau hebat Alice! Aku bangga padamu." Pujian aku dapat dari Kaouri. Sangat menyenangkan!


"Hey, Kenji, ada ucapan terakhir yang berkesan?"


"Berisik MP!"


Kenji dengan malunya memalingkan pandangan dariku. Lalu berkata, "Ucapan Ayumi sudah mewakili." Benarkah hanya sesingkat itu Kenji? Tidak ada kata-kata mutiara or else?


Kaouri menyikut perut Kenji sampai dia bergeser beberapa senti. "Bisa yang lebih manis tidak?" Ucapan Kaouri tidak Kenji hiraukan dan dia malah semakin menjauh.


"Haiss, lupakan dia." Lanjut Naoki. "Alice, terima kasih dan maaf untuk selama ini. Kau gadis paling luar biasa bagiku."


S-stupid! Stupid Naoki! Kau membuatku semakin tersipu dengan kata-katamu. "A-Apa sih?!" Aku tidak bisa mengendalikan diriku sehingga salah tingkah. Orang-orang disekitarku menertawaiku, termasuk Naoki.


Sebelum aku dirasuki emosi berlebih, Naoki menghampiriku dan memelukku tiba-tiba.


"MELLOW PRINCE CARI KESEMPATAN." Teriak Kaouri dan Kenji bersamaan. Sedangakan Ayumi menafan nafasnya karena tertarik. "Gasp!" Tunggu, sepertinya ada yang aneh.


Aku yang masih syok tidak mampu bergerak. Namun aku bisa mendengar suara bass Naoki ditelingaku. Suara yang sama saat menolongku, yang membuatku merasa aman dan nyaman. Ternyata kau yang memberikan gelang ini saat aku diserang Rokurokubi ya?


"Tolong jenguk aku di rumah sakit."


Bersamaan dengan ucapan itu, tiba-tiba wujudnya menjadi semakin transparan lalu menghilang bersama angin. Hal yang sama terjadi kepada Kenji, Ayumi, dan Kaouri. Mereka menghilang bagaikan debu dengan senyuman simpul. Sepertinya mereka telah tenang sekarang.


"Rest In Peace, my friends."


[To Be Continue!] 🕊️


__________________


¹Pesan Singkat