Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 31. Dishonesty



Langkah kaki siswa-siswi yang berlalu lalang di aula sekolah mengisi ruangan besar tersebut dengan berbagai kepentingan. Ada yang sekedar menunggu, membaca buku, atau mengobrol bersama teman. Dipagi hari ini, kami sedang berjalan ke kelas sebagai rutinitas sehari-hari.


Sekarang hari ketiga alias hari terakhir Masa Pengenalan Sekolah. Kata Kakak OSIS yang mengawasi kelas kami, acara terakhir setelah sekolah adalah Festival Kebudayaan lalu Parade Ekstrakurikuler.


Cukup meriah untuk mengisi hari terakhir Masa Pengenalan Sekolah. Tapi wajar saja untuk sekolah elit ini.


"Oh ya, kalian nanti mau ikut ekskul apa?" Tanyaku acak saat Aku, Eliz, dan Fumika menaiki tangga lantai 1. "Apa itu ekskul?" Rubah kecil bernama Aoi ini penasaran dengan kegiatan manusia yang sebenarnya merepotkan tapi terpaksa dilaksanakan agar tidak mendapat pengurangan nilai.


Maka sambil berbisik aku menjawab Aoi tanpa mengundang banyak perhatian, "Ekskul itu kegiatan tambahan setelah sekolah. Biasanya orang-orang memilih berdasarkan kesukaan."


"Hmm~ aku berkebunan seperti kak Ayumi." Ucapan Eliz yang aku sudah ketahui sebelum memikirkannya karena berkebun adalah hobinya yang paling mencolok.


"Aku akan meneruskan sabuk biru-ku dalam Karate." Tambah Fumika sambil mempraktekan kuda-kudanya yang membuat Aoi ketakutan. "Sudah lama sejak terakhir kali latihan." Lanjutnya.


Karate ya? Walaupun ukuran tubuh Fumika kecil, sepertinya can fit in. Sedangkan aku akan memilih ekskul apa?


Tidak ada yang cocok dengan diriku. Jika ada pun hanya bertahan sebentar lalu keluar lagi. Menari, PMR, berkebun, klub baca buku, musik, berkebun, Taekwondo, teather, memasak, sebut saja semua. Aku sudah punya banyak pengalaman dalam waktu super singkat itu.


Kecuali satu ekskul yang tidak pernah aku datangi seumur hidup, melukis karena sebuah alasan simple.


Pertama, gambarku 'katanya' super jelek. Awfully horrible. Kedua, 'teman-teman'-ku di hometown benci saat aku menggambar karena karyaku beda dari yang lain.


***


"*Stop the fricking things you're doing!"


Sreeek. Sreet. Sreet


"You never be good enough. Just give up*!"


***


Mengingat kembali memori lama itu rasanya sangat menggelikan dan menyakitkan secara bersamaan. Teganya mereka merobek kertas berisi gambaranku karena dipikir sangat jelek. Padahal kalianlah yang keliru.


"You never be good enough...


Pfft, sekarang aku ingin mengambil tawa terakhir. Hahaha.


...Just give up!"


Karena kalian salah, salah besar. Mungkin gambarku tidak se-indah Vincent Van Gosh atau se-hebat Leonardo Da Vinci yang selalu kalian kagumi di museum.


Tapi Walter Disney dan Fujiko Fujio adalah my muse. Referensiku adalah kartun tahun 1930-an yang lucu dan hewan yang unik. Jadi tidak peduli 'menurut mereka' gambarku kurang realistis atau tidak beraturan, i don't c-a-r-e.


Lagipula keunikan bentuk karakter adalah daya tarik kartun. Apalagi desain-nya yang mudah dan simple. Itu sebabnya aku sering mencoret-coret buku untuk mengembangkan karakterku. Yah, sekarang masih kurang sih.


"Ding, dong. Alice are you here?" Karena kebanyakan melamun aku tidak sadar Eliz sedang memanggilku sedari tadi. Dan hebatnya lagi, Aoi juga ikut menyadarkanku dengan menunjuk pipiku. "Iya?" Jawabku singkat.


"Kau mau ikut ekskul apa Alice?" Tanya Fumika santai lalu keluar dari jalur tangga. Yang artinya kita sudah sampai dilantai 4 dimana kelas kita berada. Aku dan Eliz mengikuti Fumika dari belakang sampai menemukan ruang kelas dengan plat nama '10 - IPA 1' diatas pintunya.


"Aku?" Lanjutku saat kita memasuki pintu kelas. "Aku akan masuk ekskul lukis." Saat aku meletakkan kembali tas-ku dikursi, Eliz membalas, "Yakin? Gambarmu kan jelek." dengan nada bercanda.


Hah, aku lupa Eliz salah satu dari 'mereka'. "Worth to try." Jawabku datar.


"Memangnya kenapa kalau jelek? Bukan syarat masuk ekskul lukis juga." Sambil membuka tasnya Fumika memberikan argumen mendukung. Thank you!


"Lagipula gambarmu seperti apa Alice?" Tanya Fumika sambil meletakkan buku tulis dan tempat pensilnya secara teratur.


Kemudian aku ikut membuka tas dan mengeluarkan buku catatan yang seharusnya berisi tulisan, tapi sekarang sudah diisi coretan dihalaman paling belakang. Aku menunjukkannya kepada Fumika lalu dia mengangguk paham.


Aoi pun ikut melihat gambarku karena penasaran sampai berjalan memutari dilengan kananku dengan ringannya. "Kamu suka kartun Alice? Karena kelihatannya kamu tidak tertarik membuat yang seperti Anime¹ atau yang semi-realistic." Aku mengangguk terhadap pertanyaan Fumika. Gambar yang aku tunjukan kepadanya adalah seekor kucing yang sedang bermain dengan kelinci yang aku beri pita dilehernya.


Sekarang aku ber-tetangga-an dengan Fumika sehingga lebih mudah menunjukkan gambarku. Eliz dan Aku sudah sepakat untuk bertukar posisi tempat duduk karena Eliz suka didekat jendela.


"Alice kesukaannya gambar hewan."


"Ini namanya Furry², Granny."


"HEY!"


Sedih juga memiliki teman yang tidak sepemikiran.


"Bagaimana kalau kau ikut ekskul perkomikan?" Saran dari Fumika membuatku berpikir kembali. Jika aku masuk ekskul perkomikan-yang masuk cabang lainnya lukis- berarti aku harus bisa membuat cerita dengan panel-panel kotak yang aku tidak mengerti aturan pembuatan-nya.


Tapi jika aku masuk ekskul lukis, pasti membutuhkan banyak kuas dan cat untuk mewarnai gambar yang pasti modalnya besar. Apalagi soal pewarnaan aku paling tertinggal dan paling malas membersihkan kuas setelah mewarnai, sangat melelahkan! Jika tidak dibersihkan dengan benar kuasnya bisa rusak dan bulunya rontok.


"Boleh saja." Ucapku ringan. Setelah dipikirkan kembali, aku mungkin bisa membuat satu cerita dan aturan soal per-panel-an pasti akan diajarkan. Jadi aku akan memilih ekskul ini nanti.


"Ohayo, adik-adik sekali!"


Kakak OSIS pembimbing kelasku bernama Amy-San dan Nami-san. Mereka yang mengarahkan kami dihari pertama dan mengajak kami berkeliling lingkungan sekolah. Tapi karena luas, mereka hanya mengajak kami melihat-lihat gedung pertama walaupun ada gedung kedua.


Kak Amy berdiri pinggir kelas lalu membagikan kertas satu per satu disetiap barisan meja untuk setiap siswa dikelas. "Itu kertas untuk memilih ekskul yang ingin kalian ikuti. Perlu diingat, wajib mengikuti minimal 1 ekskul." Ucap kak Nami menambahkan didepan kelas.


Lalu dilanjutkan kak Amy yang menghampiri kak Nami. "Ditunggu paling lambat Jumat ya." Tentu saja, termasuk minggu depan kegiatan belajar mengajar kembali efektif.


Aku melihat lembar formulir yang diberikan kak Amy dan mengisi data diri dikertas tersebut dengan pulpenku. Lalu yang terakhir, ekskul apa yang akan aku pilih. Saat aku melihat-lihat, aku mengerutkan alis bersama Aoi yang ada diatas kepalaku karena banyak sekali daftar ekskul yang bisa dipilih.


"Mana mungkin manusia kuat mengerjakan semua ini." Ucap Aoi tidak percaya. Baiklah, aku akan mencari 1 ekskul yang aku pilih sebelumnya lalu selesai sudah. Setelah melihat nama 'Perkomikan' aku langsung mencentang disebelahnya tanda aku akan ikut.


"Alice, kau benar-benar mau ikut ekskul itu?" Tanya Eliz yang seperti mengkhawatirkanku. Tapi aku malah menjawab, "Memangnya kenapa? Kamu tidak suka aku senang." Aku tidak bermaksud berkata seperti itu, tapi lidahku bagai berbicara sendiri. "Mind your own business."


Setelah aku tersadar kembali, aku yang ingat kesalahanku sangat menyesal dan memandang wajah sedih Eliz sambil berkata. "I-I'm sorry. Please forgive me."


"It's oke, Alice." Meski tatapannya sedu, Eliz memaksakan seutas senyuman yang membuat hatiku semakin sakit.


"Aku bisa melihat kesedihanmu."


Ucapan singkat Aoi dapat aku dengar begitu jelas sehingga membuatku malu tanpa alasan. Jika aku di izinkan untuk berbicara sekarang, pasti aku akan membalas perkataan Aoi. Tapi sekarang kelas sedang ramai.


["Kepada Ananda Alice Yamada, Elizabeth Van Hose, dan Fumika Hattori untuk segera menghadap ke Ruang Kepala Sekolah sehabis kelas."]


Tiba-tiba speaker kelas berbunyi dan membuat suara mirip seorang pria. Tapi bukan itu yang jadi fokus utama. Nama kami dipanggil secara umum untuk menghadap kepala sekolah!


Panik bercampur gugup adalah rasa yang aku dan Eliz dapatkan. Apa dosa kita sampai dipanggil kepala sekolah? Atau mungkin, Beasiswa kita akan dicabut?!


Memang berlebihan tapi hanya kemungkinan buruk yang bisa kita pikirkan mengenai kata-kata tersebut.


"Tenang saja, mungkin kita akan diberi hadiah oleh kepala sekolah." Fumika berbisik ditelingaku dan Eliz bersamaan agar kita tenang. Setelah aku pikirkan kembali, ada juga kemungkinan itu juga mengingat kita telah menjadi pahlawan yang menangkap Anzu. Tapi kenapa nama kak Enji dan kak Akbar tidak dipanggil?


"Waduh, dipanggil kepala sekolah. Wayoloh, kalian salah apa?" Ucapan provokatif Yugi mengalahkan ucapan positif Fumika. Ditambah semua siswa dikelas ikut terprovokasi Yugi.


"Wayoloh, wayoloh, Wayoloh..."


Menyebalkan! Mereka mengulang kata-kata yang sama untuk memojokan kami. Rasanya seperti De javu.


... "Tadashii! Tadashii! Tadashii!"...


Oh iya, hantu gadis yang datang kepadaku saat malam penyerangan Rokurokubi. Tapi yang sekarang lebih menyebalkan. Bahkan sampai Aoi jatuh dari kepalaku lalu duduk meringkup dipangkuan.


"Wayoloh, wayoloh, Wayoloh..."


Cukup!


"Bisa berhenti?! It's very childish!" Karena tidak mau mengambil konsekuensi dengan semua anggota kelas, aku mengecilkan suaraku dibagian terakhir dan mempercepat vokalku.


Mereka yang sudah berhenti mengulang kata-kata itu membalas, "Hah, kita 'kan cuma bercanda."


Sorry if i doesn't fit in your joke. But, it's make me ache. Memangnya ada orang yang mau merasakan ini? Diejek sekelas dengan alasan bercanda? Lelucon atau tidak tetap ada batasnya dan ini bukan batasku.


"Memangnya kalian mau dibalikin?" Ucap Fumika yang juga dipojoki seperti aku dan Eliz, tapi tetap tegar melawan.


Kak Amy and kak Nami kelihatan bingung menyikapi perang dingin dikelas. Atmosfir terasa sangat berat sampai Aoi mengeluh. "Aku akan bertemu dengan kalian nanti." Ucap Aoi sebelum dia melompat keluar dari jendela.


karena risih dengan sikap adik-adik kelasnya, kak Amy menasihati, "Kalian jangan begitu dengan teman sekelas. Ayo baikan, kalian akan bersama selama tiga tahun."


Ucapan kak Amy ditimpal oleh kak Nami dengan tatapan matanya yang tajam kearah kami. "Kalian semua minta maaf. Bukan Kamigara Yugi saja." Sontak ucapan kak Nami membuat pelaku yang sebut terpelatuk kaget.


"Gomae." Ucap semua anak kelas bersamaan. Entah mereka niat atau tidak saat mengatakannya. "Nah, Alice, Elizabeth, dan Fumika mau terima permintaan maaf teman-teman?" Kata-kata kak Amy bagai menempel diotakku.


Terima atau tidak? Bagai sebuah pilihan rumit dalam hidupku padahal hanya sebuah kata. Sebenarnya ini terlalu cepat untuk berbaikan. Tapi terpaksa aku menjawab, "Baiklah." dengan setengah hati seperti Eliz dan Fumika karena tidak ingin memperbesar masalah kecil ini. Jadi sekarang kita semua impas.


Tiba-tiba suara nyaring bel berbunyi dengan kerasnya menandakan kelas telah berakhir dan akan ada festival!


Membayangkan saja membuat bad mood aku hilang karena makanan karnival dan atraksi unik yang mungkin akan ditunjukkan. Katanya sekolah juga mengundang Band untuk memeriahkan suasana. Pasti seru.


Tapi setelah ingat kembali perkataan speaker beberapa menit sebelumnya, pemikiran itu buyar karena kita harus mendatangi ruang kepala sekolah. Ditambah seorang bapak guru bernama pak Tanaka yang menghampiri kelas untuk mengantar aku, Eliz, dan Fumika.


"Permisi, dikelas ini ada yang bernama Yamada Alice, Hose Van Elizabeth, dan Hattori Fumika?" Ucapnya dibalik pintu sambil membaca secarik kertas yang pasti isinya nama kami.


Serentak semua anak siswa dikelas melihat kearah kami yang baru merapihkan alat tulis. "Ada!" Ucap salah satu siswa. Kemudian pak Tanaka membalas, "Tidak usah rapihkan, langsung ikut saja. Cuma sebentar."


Terpaksa kita berhenti untuk bangkit dari kursi dan berjalan kearah pak Tanaka. "Kami permisi kak." Ucap kami bersamaan saat berpapasan dengan kak Amy dan kak Nami lalu dibalas senyuman dan anggukan kecil.


Saat kita sudah didekat pak Tanaka, beliau berkata. "Ayo, kalian sudah ditunggu." Maka kami mengikutinya dibelakang untuk pergi ke ruang kepala sekolah.


🌳🏵️🌳


Taman Bagian Timur yang ramai oleh bazar kini semakin meriah dengan banyak persiapan untuk festival penutupan Masa Pengenalan Sekolah. Hampir semua lahan taman penuh diisi oleh kedai yang siap memperdagangkan barang-barangnya.


Semua orang berlalu lalang dengan kepentingan masing-masing untuk kebutuhan dagang. Kecuali 3 orang dengan pakaian paling tertutup untuk musim panas bulan juli.


Akhira menggunakan T-shirt putih didalam coat abu-abu dengan topi hitam dikepalanya dan masker yang baru dia beli di minimarket. Dia mengenakan jeans biru dongker dan sneaker green army.


Sedangkan Suzuki mengenakan jaket orange dengan topi kupluk warna navy blue. Celana training-nya hitam selaras dengan bot dan kacamata yang berwarna sama.


Anzu yang paling tertutup, terpaksa ikut dengan mengenakan jaket ber-hoodie kebesaran berwarna coklat pucat dan celana overall abu-abu pinjaman Akhira dan Suzuki. Karena identitasnya sekarang sudah diketahui publik dan mendapat reaksi keras, dia harus mengenakan kacamata hitam milik Akhira dan masker untuk menutupi wajahnya.


"Kau diam saja." Ucap Suzuki memperingati, lalu dibalas anggukkan kecil oleh Anzu.


Mereka sedang menuju area yang ditunjuk rekan-rekan yang ada disekolah untuk melakukan pertemuan. "Sumi mase n, Taman Bagian Timur ada dimana?" Tanya Suzuki kepada salah satu pedagang yang sedang mempersiapkan kedai-nya. Lalu dibalas, "Kau sudah sampai berarti, ini Taman Bagian Timur."


Walaupun mereka sudah tahu fakta itu, tapi masih kebingungan mencari teman-teman mereka disekeliling taman yang luas. Tapi mata jeli Akhira dapat menangkap orang-orang yang mereka tuju. "Itu!" Ucap Akhira sambil menunjuk 2 'siswa' yang sedang duduk di bench terdekat sambil melambaikan tangan.


Akhira dan Suzuki pun menghampiri dan saling berjabat tangan. Sedangkan Anzu mengikuti dibelakang sambil berdiam diri berdasarkan perintah Suzuki. "Senang melihat kalian kembali. Opsir Marshell dan Hideo." Sapa Akhira.


"Haha! Kita lebih senang jika kasus ini selesai." Ucap Hideo sambil tersenyum lebar saat menjabat tangan Akhira. "Precisely, kita hampir memiliki 2 ijazah SMA karena penyamaran ini." Timpal Marshell yang sedang menjabat tangan Suzuki.


Marshell adalah agen FBI yang khusus ditugaskan ke Jepang untuk menuntaskan kasus di SMA Hokkaido yang ternyata berkaitan dengan kasus transaksi ilegal yang sedang ditangani di Amerika. Jika dibiarkan akan akan mengganggu kedaulatan kedua negara tersebut karena hal ini hampir masuk kejahatan skala internasional.


Sedangkan Hideo-rekannya- adalah sesama agen rahasia pemerintah yang menyelidiki kasus ini secara diam-diam. Awalnya dia tidak percaya dengan tugasnya menyamar sebagai anak SMA untuk menuntaskan kasus rumit yang ternyata menjerat nama seluruh anggota keluarga Sato-pemilik SMA Hokkaido 45-


"Untung saja wajahku baby face jadi tidak ada yang sadar umurku sudah awal 30." Ucap Hideo berbasa-basi. "Kau saja yang pendek." Ejek Marshell puas sehingga Hideo mengutukinya.


"Oke, oke. Apa yang kalian dapatkan?" Ucap Suzuki tidak sabaran. Mereka sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk ke Sapporo dan menemui Marshell dan Hideo. Jadi tidak ada ruang lagi untuk berbasa-basi.


Melihat ekspresi serius Suzuki, Hideo mulai ikut terbawa suasana dan melaporkan. "Baiklah, ada nama 3 gadis yang dipanggil oleh Sato Hideyoshi. Kita belum tahu apa maksudnya, tapi kita sudah memerintahkan 2 anak buah untuk berjaga-jaga."


"Berarti benar katamu." Gumam Akhira sambil memperhatikan Anzu yang kelihatannya mendengarkan percakapan mereka dengan baik.


***


"Oke, sekarang siapa namanya?" Pertanyaan terakhir Akhira untuk Anzu. Lalu dijawab, "Sato Hideyoshi, Si Kepala Sekolah."


Akhira dan Suzuki kelihatan tidak begitu kaget. Karena kenyataannya mereka sudah menduga Hideyoshi adalah 'dalang dari dalang' pembunuhan berantai tersebut dan yang membuat anak didiknya sendiri menjadi pembunuh karena kepentingan pribadi.


Dia memanfaatkan Anzu dengan masa lalu kelam dan berasal dari keluarga tidak mampu agar menjadi kambing hitam. Akan tetapi, mereka juga tidak bisa langsung mengadili Anzu karena telah membunuh 4 siswa. Apalagi dia masih pelajar.


Selalu ada alasan dibalik tindakan, Pikir Akhira.


"Kalian sepertinya tidak terkejut." Ucapan Anzu membuat Akhira dan Suzuki terpelatuk. "Bagaimana jika aku bilang begini saja, besok Sato-san akan memanggil 3 gadis yang telah menangkapku."


Suzuki mengerutkan alisnya bingung. "Apa maksudmu sampai percaya diri begitu?" Tanyanya ketus.


Anzu memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Suzuki sekilas dengan senyuman simpul yang membuat lelaki sekuat Suzuki sedikit merinding. Lalu berkata dengan tenang, "Sepanjang aku mengenal Sato-san, dia bukan orang yang setengah-setengah. Lagipula bukannya wajar memanggil 'Pahlawan' yang sudah menyelamatkan sekolah dengan alasan memberi hadiah padahal ingin dihabisi?"


Sorot matanya membelalak saat menatap Suzuki, ditambah senyum mengerikan yang mengembang lebar diwajahnya. Dalam 3 detik tersebut, Suzuki seolah-olah melihat monster sampai menelan ludahnya.


"Oi! Bicara yang benar!" Tapi dia tidak akan terbawa suasana dengan membiarkan imajinasi berbuat seenaknya.


Suzuki memukul wajah Anzu tepat dipipinya sampai dia meringis kesakitan. "A-Apa-apaan, aku sedang berusaha ramah karena kita sedang berbicara santai. Bukannya tersenyum bisa mencairkan suasana?" Anzu terpaksa mengelus pipi kirinya yang memerah dengan bahu karena tangannya diborgol.


"Eh...." Suzuki merasa malu karena salah menanggapi ekspresi aneh Anzu yang tidak tepat waktu dan tempatnya sehingga kesalahpahaman terjadi. "Aku tidak bisa merasakan emosi, jadi aku berimprovisasi." Tambah Anzu dengan nada ditinggikan sebagai maksud dia sedang marah.


"Jadi sekarang kau marah atau tidak?" Akhira mengeluarkan pertanyaan karena penasaran dengan apa yang Anzu rasakan. Kemudian dijawab, "Sebenarnya tidak." Dengan wajah dan suara yang sangat datar. Emosinya yang sebenarnya.


"Ringisan kamu juga palsu?"


"Iya, karena aku juga tidak bisa merasakan sakit."


Kalau begitu untuk apa kau usap?!


Jerit Akhira dan Suzuki bersamaan dalam hati.


Pada detik itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah kepolisian. 2 petugas bernama Hattori Akhira dan Suzuki Miyamura bersimpati kepada seorang psikopat pelaku pembunuhan berumur 17 tahun, Sakamoto Anzu karena kekurangan dan usahanya untuk menjadi normal seperti sedia kala.


***


Marshell sedari tadi memperhatikan gerak-gerik aneh orang yang ada dibelakang kedua rekan kerjanya merasa risih. Karena penasaran dia bertanya, "Who is he?" Sambil menunjuk Anzu.


"Oh, dia keponakanku yang ikut jalan-jalan." Ucap Suzuki spontan sambil tersenyum dan merangkul Anzu.


"Keponakan?"


"Diam atau aku pukul?"


Bisik mereka dalam rangkulan yang seharusnya tampak ramah dan hangat.


Marshell malah menekuk salah satu alisnya heran, "Seharusnya kau tidak usah membawanya. Tinggalkan saja dia disini, kita punya misi yang lebih penting." Kemudian Marshell menyilangkan tangannya agar Suzuki lekas menjalankan perintah untuk meninggalkan Anzu.


"Baiklah." Ucap Suzuki sambil mengantar Anzu menjauh dari mereka. Setelah dirasa sudah tidak diperhatikan lagi, tiba-tiba Anzu berbisik, "Sato-san punya ruang bawah tanah rahasia."


Ucapannya itu tentu membuat Suzuki membelalak kaget. "Kau tahu ada dimana?" Tanya Suzuki yang dibalas anggukan oleh Anzu.


Sekilas Suzuki tersenyum simpul. Lalu berbalik menghadap Anzu sambil menyerahkan sebuah benda. "Ini ponselku, telepon jika kau sudah dekat menggunakan kontak Akhira."


Anzu mengangguk paham saat menerima ponsel tersebut. "Sekarang pergilah! Tebus dosa-dosamu." Perintah Suzuki. Lalu Anzu pergi berlarian menjauh dari pandangannya menembus hutan pepohonan Taman Bagian Timur.


"Aku percaya padamu, bocah."


Sebelumnya Suzuki berpikir untuk memberikan Anzu senjatanya. Namun setelah dipikirkan lagi, mungkin akan jatuh korban lagi jika idenya dilanjutkan.


[To Be Continue!]🌷


___________________


¹Animasi dari Jepang yang digambar dengan tangan maupun menggunakan teknologi komputer.


²Karakter hewan yang memiliki sifat manusia