
Setelah lama berjalan, pak Tanaka akhirnya berbelok dan diam didepan sebuah pintu dari kayu jati. Warnanya hitam legam dengan motif kayu mencolok jika dilihat dari dekat. Lalu ada plat nama diatasnya bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' yang berarti kita telah sampai ditujuan.
Gagangnya yang terbuat dari besi dipegang oleh pak Tanaka dan diarahkan ke bawah lalu didorong kedalam sehingga pintu terbuka. Pak Tanaka masuk lebih dulu kemudian aku, Fumika, dan yang terakhir Eliz.
"Sumi mase n." Salam kita serempak saat memasuki ruangan kepala sekolah. Ruangannya sangat luas dengan diisi oleh beberapa furniture mewah. Lantainya dari keramik yang warnanya indah. Jendela yang ada didepan kita terlihat besar karena gordengnya diikat sehingga cahaya matahari menembus langsung membuat banyak bayangan hitam dari cahaya putih.
"Silahkan masuk, ayo duduk." Ucap seorang pria paruh baya yang berada dibalik meja. Sedang duduk dikursinya. Sepertinya ini pak Hideyoshi, kepala sekolah disini, Pikirku.
Dia kelihatan tenang dengan tatapan sayu. Walaupun wajahnya keriput, kulitnya mulus dan bersih. Tubuhnya sehat dan sedikit gemuk. Apalagi saat aku melihat jarinya yang memegang pulpen.
Karena sudah mempersilahkan duduk, aku dan yang lainnya menggunakan sofa didekat meja pak Hideyoshi karena hanya itu yang tersedia. Sedangkan pak Tanaka keluar dari ruangan untuk mengambilkan kami minuman.
"Nak, terima kasih telah menolong sekolah ini. Saya sangat menghargainya." Pujian kembali kami terima. Tapi sekarang dari kepala sekolahnya langsung sehingga membuat kami menjadi gila karena terlalu senang. Kapan lagi dipuji oleh orang yang paling superior disekolah?
Fumika yang masih tersenyum-senyum sendiri mencoba untuk tidak terlena dan membalas, "Kami sangat berterima kasih pak, tapi ini semua murni karena keinginan kami sendiri untuk membantu." Sambil membuat kontak mata dengan pak Hideyoshi yang sedari tadi memperhatikan kami.
Pak Hideyoshi tertawa keras sampai memukul mejanya pelan, "Haha! Anak muda jaman sekarang memang hebat." Reaksinya sedikit berlebihan sampai tertawa keras seperti itu tapi aku tidak berani berbicara. Akhirnya kita ikut tertawa kecil agar suasana tidak semakin canggung. "Haha, iya." Ucapku spontan karena bingung harus perkata apa.
"Hah, baiklah. Saya punya hadiah untuk kalian." Tiba-tiba pak Hideyoshi menunduk dibalik mejanya. Lalu setelah kembali ke posisi semula ada koper besar ditangannya.
Beliau meletakkan koper itu dimeja lalu membuka kuncinya sehingga terbuka dan menampakan berjuta-juta ikatan uang didalamnya. "ini untuk kalian bertiga, ayo mendekat." Ucap pak Hideyoshi ringan. Tapi kami masih syok berat.
Bagaimana tidak? Kita mendapatkan hadiah kober berisi uang. Walaupun nanti dibagi, pasti nilai mata uangnya masih besar untuk setiap orang. Apalagi kami ada 3 orang ditambah kak Enji dan kak Akbar jadi 5 orang.
Omong-omong nama mereka tidak dipanggil padahal kemarin kak Enji dan kak Akbar ikut maju dipanggung bersama kami. "Permisi pak, kenapa kak Enji dan kak Akbar tidak dipanggil juga?" Tanyaku karena rasa penasaran yang menumpuk ini.
"Hah, itu. Karena mereka sedang sibuk, kalian sebagai adik kelas menjadi perwakilan. Nanti bagikan untuk mereka juga." Ucapan pak Hideyoshi cukup masuk akal.
Kakak kelas saat ini sedang sibuk belajar seperti biasa, apalagi kak Enji sebagai ketua OSIS harus mengurus keperluan sekolah dan belajar secara bersamaan. Sedangkan kami yang masih baru punya banyak waktu luang seperti hari pertama. "Saya mengerti." Ucapku.
Merasa puas dengan jawabanku, pak Hideyoshi mengangguk kecil sambil tersenyum. Tiba-tiba beliau mengambil cangkir yang ada didekatnya lalu meneguk isinya yang berupa kopi sampai habis. Saat itu, suasana menjadi sunyi karena pak Hideyoshi diam untuk minum kopi tersebut.
Beberapa menit kemudian setelah pak Hideyoshi selesai meneguk kopinya, dia berkata kepada kami. "Wali kelas kalian bu Takumi Youki, benar bukan?"
Kenapa tiba-tiba menanyakan bu Youki? Ucapku dalam hati. Aku ingin balas bertanya dan sepertinya kedua orang didekatku-Eliz serta Fumika- juga setuju. Namun kita hanya mengangguk untuk membenarkan ucapan pak Hideyoshi sambil menahan rasa penasaran.
"Oh baiklah." Lanjutnya. "Jadi kalian sudah tahu sifat beliau juga. Kasar dan pemarah tanpa alasan."
Iya memang. Itu karena penyakit Bipolar-nya. Entah pak Hideyoshi tahu atau tidak.
"Begini, bapak minta bantuan kalian lagi untuk membuat bu Youki 'pensiun dini' karena bapak kasihan dengannya dan murid yang dia didik."
Apa? Membuat bu Youki pensiun dini?
Kata-kata pak Hideyoshi membuat kita cukup kebingungan. Maka Fumika sebagai perwakilan bertanya, "Bukannya mem-pensiun-kan dini itu wewenang bapak? 'Kan bisa langsung bapak bilang saja kepada bu Youki tanpa bantuan kami."
Tepat sekali, pertanyaannya adalah 'Mengapa'. Mengapa pak Hideyoshi butuh bantuan kami untuk mem-pensiun-kan dini bu Youki? Bukannya sebagai atasan punya wewenang lebih? Mengapa?
Kami masih menunggu jawaban dari pak Hideyoshi yang lama terdiam. Senyuman sudah hilang dari wajahnya sehingga beliau menatap kami datar. "Nak, ini untuk kebaikan bersama. Bapak kasihan jadi tidak sanggup." Ucap pak Hideyoshi sambil melepaskan kacamata yang beliau pakai lalu mengelapnya dengan dasi.
"Saya tidak mau dugaan Youki dibenarkan. Bisa repot jika menangani semua orang."
Tak, tak, tak. Suara aneh tiba-tiba terdengar. Seperti bunyi kaca yang diketuk. Atau jangan-jangan...
"Pak Hideyoshi. Kalau boleh, tolong bukakan jendela. Sekarang musim yang cukup panas ya." Ucapku untuk memastikan sesuatu tanpa memunculkan kecurigaan. Untungnya pak Hideyoshi menyetujui ucapanku lalu membuka lebar jendela sehingga ruangan dipenuhi udara dingin. "Iya juga. Ruangan ini butuh udara segar." Ucapnya sambil menarik gordeng lebih ketepian.
"Life is like riding a bicycle. To keep you balance, you must keep moving." Gumamku pelan. Tiba-tiba penglihatanku menjadi buram untuk beberapa detik. Lalu semua menjadi hitam dan dadaku terasa sesak seperti ada tangan yang meremas jantungku dari dalam. Ngilu dan menyakitkan, tapi aku mencoba bertahan walaupun pada akhirnya orang disekelilingku khawatir.
Ini tidak masuk akal. Kadang-kadang saat mengaktifkan kekuatan ini, aku merasa sakit sampai ingin mati. Tapi dilain waktu tidak berefek apa-apa. Ada apa dengan diriku? Apa kunci dan polanya?
"Alice, nak, kau baik-baik saja?" Pak Hideyoshi mengusap pelan punggungku, tapi aku malah batuk berkali-kali. "Tidak apa-apa pak, saya sepertinya sedang pilek." Ucapku beralasan sehingga pak Hideyoshi mengerutkan dahinya bersamaan dengan Eliz dan Fumika.
"Nak, kalau tidak tahan dingin jangan dipaksakan." Pak Hideyoshi kembali ke jendela dan menutupnya rapat-rapat. Tapi, setidaknya dalam waktu singkat itu ada yang bisa masuk kedalam.
"***DIA**! Dia manusia yang memerintakan si pendosa itu*!!" Jeritan Aoi membuatku kaget ditambah kemunculannya yang mendadak. Tapi itu tidak sebanding dengan fakta kepala sekolah adalah dalang yang sebenarnya dari pembunuhan ini. "Jangan bercanda Aoi." Bisik Fumika ragu-ragu sama seperti aku dan Eliz. Kita masih tidak bisa percaya.
"Astaga apa itu?!" Pak Hideyoshi berteriak saat melihat kedatangan Aoi. Karena teriakannya cukup kencang, Aoi ikut kaget lalu berlarian tidak tentu arah sampai pak Hideyoshi membuka pintu dan membiarkan rubah kecil itu pergi. "Mengagetkan saja." Ucap pak Hideyoshi. Sepertinya dia tidak mengetahui pembicaraan kami. Untunglah.
Krieet. Bunyi decitan pintu kembali terdengar bersamaan dengan kemunculan pak Tanaka yang membawa nampan berisi 3 gelas teh. "Ini untuk kalian." Ucap pak Tanaka sambil memberikan ketiga gelas tersebut untuk kita masing-masing.
"Maaf hanya bisa memberikan teh ini. Semoga kalian suka." Ucap pak Tanaka sambil menaruh nampan besi itu dimeja depan kami. Kita mengangguk sambil berkata, "Terima kasih." Bersamaan.
Saat aku melihat teh itu, apa sedikit perasaan aneh dan curiga. Warnanya lebih pucat dari biasanya. Apakah ini teh asli Jepang?
"Selamat minum."
"Apa ini?" Tanyaku memastikan sambil membuang gelas berisi teh itu kelantai karena frustasi. Emosi dingin menguasaiku sampai aku tidak peduli pak Hideyoshi atau pak Tanaka memarahi dan menyentak tindakan bodohku tidak menghargai pemberian.
Bahkan sampai Eliz dan Fumika juga ikutan mencemoohku. "Alice! Apa-apaan kau?!" Teriak Fumika panik bercampir marah. Alisnya bertautan dan ada ekspresi kecewa diwajahnya. Bahkan sampai Eliz bangkit dari diduduknya untuk mengambil tisu dimeja pak Hideyoshi. "M-maafkan teman kami." Ucap Eliz canggung sambil mengelap bekas tumpahan teh itu. Dia memukul kakiku berkali-kali sambil mengutuki tindakanku.
Tapi aku tidak peduli karena bau terkutuk ini membuatku terpelatuk dengan sesuatu yang sering Okaa-san berikan sebelum aku tidur untuk mengobati 'insomia'-ku. Padahal alasan yabg sebenarnya agar aku tidak membuat kegaduhan dimalam hari lagi. "Etklorvynol. Ini adalah obat tidur."
Pak Tanaka tiba-tiba kaget dengan sendirinya saat aku mengucapkan kalimat itu. Apalagi pak Hideyoshi yang mundur beberapa langkah. Berarti dugaanku benar-benar, "Kalian mau meracuni kami?" Ucapku to the point untuk memojokan mereka dengan tatapan tajam.
Tidak mau kalah, setelah pak Hideyoshi menemukan kembali keberaniannya, 'dia' maju ke depanku. Jarak antara kami kini hanya sejengkal, "A-Apa maksudmu? Kau mau menantang orang tua? Kau berani?"
Pertanyaan bertubi-tubinya tidak masuk akal dengan perkataanku sebelumnya. Dia sedang mengalihkan topik pembicaraan. "Saya bukan menantangin pak. Coba saja bapak minum teh ini jika memang tidak diracuni." Aku mengambil gelas teh milik Fumika yang tinggal setengah dan memberikannya kepada pak Hideyoshi dengan berpura-pura ramah.
"Coba minum pak~"
Plak. Gelas yang aku sodori ditepis dengan kasarnya oleh pak Hideyoshi sampai pecah dilantai.
"*Lari*."
Detik itu aku tiba-tiba ketakutan sampai tidak bisa bergerak. Tapi aku lebih ketakutan karena dugaanku ternyata benar.
"*Lari*."
Aku terus memikirkan kata-kata yang sama berulang-ulang. Dan sekarang aku harus mewujudkannya. "Lari!" Teriakku yang menyadarkan Eliz dan Fumika dari lamunan. Spontan kami berlarian kearah pintu yang dijaga oleh pak Tanaka.
Elis mengorbankan dirinya untuk mendorong pak Tanaka sampai jatuh dari pintu agar aku dan Fumika bisa keluar. "Eliz!" Teriakku memanggil namanya untuk ikut keluar bersama.
Tapi, "Tinggalkan saja aku! Panggil yang lain!" Bersamaan dengan itu, aku melihat sosok Eliz disekap oleh pak Hideyoshi dari belakang.
Aku bermaksud untuk berbalik menyelamatkannya, tapi tarikan tangan Fumika menyadarkanku. "Kita akan menyelamatkan Eliz, jangan khawatir." Aku terpaksa mempercayai kata-katanya dan berlari menjauh.
"Tanaka, pegang dia!" Ucapan pak Hideyoshi yang aku dengar dari belakang. Berarti dia akan mengejar kami!
Kita mencari kesana kemari untuk mencari bantuan, tapi percuma. Sekolah kosong tidak berpenghuni karena semuanya menghadiri festival hari terakhir Masa Pengenalan Sekolah. Jadi sekarang kita harus pergi dari sekolah menuju lokasi festival.
"Gerbang!" Ucapku saat kami melihat sebuah gerbang sekolah didepan mata. Jika kita berhasil melewatinya, kita bisa mencari pertolongan.
Kretak, kretak. Tapi betapa kecewanya kami saat mengetahui gerbang telah dikunci dengan rantai yang tergembok. Mau sekuat apapun tenaga menghancurkannya, kita tidak punya banyak waktu karena masih ada pak Hideyoshi yang mengejar.
Sial, dia sudah memikirkan semuanya sehingga membuat kita seperti tikus dalam perangkap.
***
"Tanaka, pegang dia!" Ucapan mendadak Hideyoshi membuat Tanaka terkejut karena kebingungan. Namun dengan kikuknya dia menerima tubuh Elizabeth yang tidak sadarkan diri karena pengaruh obat dalam teh yang dia teguk sebelumnya.
"B-baik." Balasnya gugup, tapi tidak dihiraukan Hideyoshi langsung pergi mengejar kedua gadis yang lolos itu. Meninggalkan Tanaka sendirian dengan korban lainnya. Tapi tidak dalam waktu lama.
Tanaka tidak sadar jendela diruang tersebut terbuka lebar selagi dia meletakan Elizabeth diatas sofa yang sebelumnya diduduki olehnya. Tapi saat Tanaka baru menyadarinya, semua sudah terlambat.
Suara benturan keras bersamaan dengan tumbangnya Tanaka disebabkan oleh sebuah ponsel yang kini terpecik darah. Sekali pukulan saja dapat membuatnya tidak sadarkan diri dengan cepat lalu terkapar dilantai.
"Hm, kau belum mati 'kan pak? Nanti aku repot kalo Suzuki-san marah." Ucapan pertama yang Anzu katakan setelah seharian diperintahkan diam.
Anzu memperhatikan denyut jantung Tanaka di tangan kirinya. Setelah mengetahui jika Tanaka masih hidup, dia menyeret tubuhnya keluar dari ruangan dan meletakkan Tanaka disebelah pintu. Lalu masuk kembali untuk memastikan Elizabeth masih hidup.
Deg... deg... deg.
Walaupun detak jantungnya lemah, Elizabeth masih hidup. Jika Anzu menelpon Akhira sekarang mungkin dia masih bisa diselamatkan.
Setelah membersihkan percikan dari diponselnya, Anzu menyalakan ponselnya lalu membuka home srceem dan klik icon telepon. Anzu mencari-cari nama yang dia tuju sampai dia menemukan nama kontak 'Hattori Akhira'. Tanpa basa-basi, dia langsung klik kontak itu dan menunggu tersambungkan.
Tuut...tuut...tuut...., "Moshi moshi, ada apa?"
[To Be Continue!] 💀