Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 22. Who Is It?



Benar apa yang dijabarkan di MaDing.


Jika melewati beberapa jalan akan tembus ke Laboratorium, tepatnya Lab IPA. Seharusnya kita melewati tempat itu sebagai jalan pintas ke gedung pertama, tapi kak Enji malah menyarankan jalur alternatif lainnya.


Aku bertanya "Kenapa tidak lewat Lab IPA saja?" Lalu kak Enji menjawab, "Kau tidak lihat disekitar sana ada banyak jimat? Disana ada pembunuhan. Kalau tidak salah korbannya teman kak Naoki, kak Kenji."


Kemudian aku melihat sekilas dan menemukan banyak jimat dan benda-benda yang sepertinya keramat didepan Lab IPA. Korban Pureya lainnya ternyata bernama kak Kenji. "Aku turut berduka." Ucapku pelan. Kak Enji mengangguk pelan lalu kita terus berjalan.


Jalan alternatif yang ditawarkan kak Enji mengarah ke Taman Bagian Tenggara. Aku melihat orang-orang berlalu lalang disekitar taman ini. Bahkan tidak jarang kita berpapasan dengan teman kak Enji. Mereka menyapanya, "Yo Next Mellow Prince. Gimana Manga-mu."


Lalu kak Enji membalas, "Baik kok Bronto-Sayuran." Sepertinya mereka sangat akrab.


"Kamu udah baca Manga kelanjutannya Kimi Ni Todoke¹*?"


"Aku masih baca Ao Haru Ride¹**. Aku recommend ini! Soalnya ceritanya bener-bener menyentuh hatiku."


"Serius? Aku mau request manga gendre lain dong. Shounen² misalnya."


"Fruit Basket¹*** oke, Haikyu!!¹**** juga."


"One Piece¹*****!"


Aku yang tidak mengerti pembicaraan para Otaku ini hanya diam mematung. Buku yang aku suka baca adalah novel, dan itupun baru beberapa halaman selesai dibaca.


"Eliz, kamu suka Manga Shoujo?" Pertanyaan singkat Kak Enji membuatku sedikit kaget. Aku menjadi gugup seketika untuk menjawab. Terpaksa aku mengangguk ragu sambil berkata, "H-hai(Iya)." Pelan.


Tiba-tiba teman-teman kak Enji memandangku dengan tatapan aneh menambah rasa gugupku. "Gila, Enji si Otaku senior, bisa dapet pacar bule."


Bagai ada petir disiang bolong, perkataannya tadi membuatku ingin meleleh. "Oi, oi, ini adik kelasku. Jangan ganggu dia." Setelah berkata demikian, kak Enji memegang tangan kananku lalu pergi menjauh dari teman-temannya. Aku yang tidak tahu harus apa hanya mengikutinya. "CIEEEE CIEEE!!!" Teriakan mereka dari kejauhan.


Kita berjalan cukup jauh dari mereka, tapi kak Enji masih memegang tanganku. "Kak Enji?" Ucapku pelan kemudian kak Enji berbalik. Lalu baru menyadari pegangan kami belum lepas.


"A-aa...!!" Kak Enji malu lalu melepaskan tangannya yang dengan erat memegangku. "K-kita sampai di stadium." Walaupun kak Enji memalingkan wajahnya, aku dapat melihat pipinya yang merona merah. Imutnya!!!


Setelah dia membuka pintu belakang stadium, ruangan yang pernah aku masuki ini menjadi semakin ramai oleh pengunjung. Ada yang berolahraga dengan permainan bola, dan ada yang sekedar makan siang dibangku penonton.


Kami melewati lapangan demi lapangan sampai ke pintu keluar stadium. Seingatku, setelah ini kita ada di koridor Gedung Sekolah Pertama.


Tujuan kita kesini untuk pergi ke kelasku agar kak Enji bisa bertemu dengan Alice. Yah, semoga saja. Ini juga pertaruhan apakah Alice akan ke kelas.


Tapi sebelum itu aku berkata kepada kak Enji untuk menceritakan apa yang terjadi kepada kak Naoki. Lalu dijawab, "Nanti saja dikelasmu."


Beberapa menit kemudian, sampailah kami dikelasku, 10 - IPA 1. Didalam ada beberapa siswa, seperti Yugi Kamigara yang sedang bermain bersama anak laki-laki lainnya dikelas.


"Makan nih Joker!" Teriaknya, saat bermain Kartu Bridge bersama.


Aku dan kak Enji berdiri di balcon untuk menghindari keributan 'ada Kakak Kelas diarea kelas 10'. Something like that.


Kami memandang lurus area sekolah yang luas. Ada Gazebo disamping jalan utama dimana banyak siswa berlalu lalang. Gedung kedua sekolah terlihat dari kejauhan bersama Asrama disebelahnya. Cuaca saat ini berawan sehingga matahari bersembunyi dibalik awan. Tapi dari warna awannya yang seperti abu-abu, mungkin akan hujan.


Aku melihat sekilas wajah kak Enji. Dia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Setelah sekian lama akhirnya kak Enji berbicara, "Baiklah. Aku siap bercerita."


Lalu aku membalas, "Kalau kakak tidak mampu, tidak apa." Kak Enji menggeleng kuat. "Tidak, aku bisa sekarang." Kak Enji memaksakan sebuah senyuman. Aku tahu ini berat baginya, tapi kak Enji menguatkan dirinya. Ini patut di apresiasi, aku akan mendukungmu.


Omong-omong, "Kak Enji tahu kejadian Kak Kenji juga tidak?" Tanyaku sebelum kak Enji bercerita. Dia melihatku sekilas, lalu berpaling kepada Gazebo didepan. "Rumornya, kak Kenji sendiri yang memancing si pembunuh, tapi malah terbunuh. Alasannya juga tidak diketahui."


"Tapi dari cerita kak Naoki kira-kira seperti ini..."


🎐⚠️🎐


16 Juni 2012.


Mayat tanpa kepala ditemukan di Gudang Taman. Berita pembunuhan kedua ini kembali menggemparkan sekolah setelah kejadian Pembunuhan Sang Assasin Dilapangan Basket.


Seorang pemuda memaksa masuk kedalam Ambulan, namun ditahan oleh guru-gurunya. Lelaki itu bernama Okinawa Kenji yang telah kehilangan adik satu-satunya.


"Lepaskan! Biarkan aku pergi!" Teriaknya saat Pak Atsushi menahan dirinya. Banyak berontakan yang dia lakukan, namun percuma karena tenaganya tidak sebanding.


"Sudahlah Nak Okinawa, relakan dia pergi." Ucap Pak Atsushi yang malah membuat hati Kenji semakin sakit.


Setelah berjam-jam pencarian kepala si mayat. Ternyata disembunyikan dalam lemari pakaian Kamar Nomor 21 Asrama Laki-laki dan telah dibungkus oleh keresek hitam. Sepertinya akan segera dibuang.


Para penghuni kamar nomor 21 yang diisi oleh Kak Akbar, Kak Anzu, dan Kak Naoki ditanyai satu-satu karena dicurigai sebagai pelaku. Mereka memiliki alibi karena sedang tidak ada dikamar.


Kak Naoki dan Kak Akbar sedang mengerjakan laporan dan tugas diruang OSIS, karena sudah malam mereka malas ke kamar. Sedangkan kak Anzu menginap dikamar nomor 18 karena kesepian.


Pemandangan Ambulan yang pergi dari sekolah disaksikan banyak siswa. Saat itu masih pagi sehingga jalanan tampak sepi didepan gerbang.


Pak Atsushi melepaskan pegangannya kepada kak Kenji dan membiarkannya pergi entah kemana.


"Jadi karena kamar kalian sepi ada yang menggunakannya untuk menuduh kalian." Ucap salah satu polisi yang sedang menanyai kak Naoki.


Setelah beberapa lama, akhirnya kak Naoki, kak Akbar, dan kak Anzu selesai ditanyai dan diperbolehkan pergi untuk merapihkan barang-barang karena mereka akan pindah kamar.


"Sumpah demi apa, kamar kita jadi angker." Ucap kak Akbar saat sedang memasukkan bajunya dikoper. Kak Naoki dan kak Anzu yang sudah selesai merapihkan barangnya menunggu dipintu bersama 2 polisi yang mengawasi mereka.


"Iya, ditambah Akbar yang lambat membereskan kopernya." Ejek kak Naoki, lalu disambut tertawa oleh kak Anzu. Merasa harga dirinya terhina, kak Akbar membalas "Berisik! Dasar sipit!" Tapi tentu saja, kak Akbar malah semakin dicela karena semua orang disekitarnya sipit. "S-sorry." Ucapnya lemah lalu menutup resleting kopernya.


"Tidak ada yang ketinggalan?" Tanya kak Naoki memeriksa, lalu dibalas gelengan oleh kak Akbar dan kak Anzu. Mereka pun pergi dengan masih diantar 2 polisi sebelumnya.


Sekarang mereka akan tinggal dikamar nomor 34 lantai 5 untuk seterusnya.


***


"Akui, salah satu dari kalian adalah si pembunuh." Kata pertama yang dikeluarkan kak Kenji membuat semua orang diruangan terkejut. Kak Akbar yang pertama menyapanya merasa sangat tersinggung. "Hey, jaga ucapanmu. Kita masing-masing punya Alibi." Balasnya ketus.


Kak Kenji berdeham pelan, lalu tertawa kecil. "Hah! Jika alibinya asli." Ucapnya tak kalah ketus. "Aku akan membuat kalian mengakuinya sendiri dengan mulut kalian. Terutama kau Anzu." Kata terakhirnya mengancam kak Anzu, namun dia tetap tenang atau berusaha tenang.


"Berisik! Masih pagi gak usah ganggu! Sana pergi." Batas kesabaran kak Akbar habis lalu mengusir kak Kenji. Namun kak Kenji anehnya dengan senang hati pergi.


Kak Akbar membanting kuat pintunya karena kesal. "Dia kok nyalah-nyalahin kita? Dikira adiknya bisa balik? Bullshit!" Ucap kak Akbar.


Lalu kak Naoki membalas, "Sudahlah, dia yang sedang berduka. Apalagi kematian adiknya yang tidak wajar jadi menyalahkan kita. Sabar ya Anzu, kau jadi pelampiasan." Kak Anzu mengangguk lemah.


"Ayo pergi." Ucap kak Anzu setelah selesai memakai seragamnya. Teman-temannya pun setuju lalu mereka membuka pintu dan keluar.


Ancaman kak Kenji tadi bukan main-main. Selama berbulan-bulan mereka di terror olehnya. Dari hal kecil seperti melempar kertas berisi surat, sampai bertengkar hebat.


"Anzu tidak melakukan apa-apa!" Kak Naoki selalu heran kenapa kak Kenji selalu menuduh kak Anzu dibanding yang lainnya. Maka dia berteriak kepada kak Kenji saat dia mencacinya dihalaman belakang asrama. "Omae terlalu percaya padanya. Dasar Mellow Prince." Balas kak Kenji sinis.


"Kalau begitu, berikan alasan kenapa kau mencurigainya? Anzu menginap dikamar nomor 18, kamarmu 'kan?" Setelah kak Naoki berkata demikian, kak Kenji mendengus kasar.


Lalu membalas, "Dia memang menginap dikamarku..."


"Terus kenapa?!" Sela kak Naoki frustasi.


"Lalu dia pergi setelah jam 12! Aku tidak bohong, saat itu aku dari toilet. Aku pikir 'kenapa', ternyata si Zya-ku itu membunuh Ayumi."


Kak Naoki tiba-tiba syok dengan perkataan tadi kak Kenji. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, mematung ditempat.


Disaat diam itu, kak Kenji mendekatinya, lalu berkata, "Jika ada yang meninggal lagi, kau tahu siapa pembunuhnya. Bahkan jika aku yang meninggal." Lalu pergi dari hadapan kak Naoki.


Kak Naoki ditinggal sendirian. Lututnya terasa berat, tapi dia memaksa berjalan keluar dari halaman belakang asrama.


Dipikirannya, kak Naoki berusaha tetap tenang untuk tidak menuduh kak Anzu sama seperti kak Kenji, Positive Thingking.


"Hey Mellow Prince." Suara kak Anzu yang lembut malah membuat kak Naoki terkejut hingga jatuh.


Kak Anzu mengulurkan tangannya untuk membantu kak Naoki berdiri. "Kau tidak apa-apa? Kenji apakan kau lagi?" Tanya kak Anzu sambil memeriksa kak Naoki dengan seksama setelah berdiri.


Tidak mungkin Anzu pelakunya 'kan? Batin kak Naoki.


Tapi untuk memastikan, kak Naoki bertanya kepada kak Anzu yang masih ada didepannya, "A-Anzu, kamu saat dikamar nomor 18 setelah tengah malam katanya Kenji kamu pergi. Kamu kemana?" Suara kak Naoki tiba-tiba gemetar sendiri.


Ekspresi wajah kak Anzu berubah, dia merasa temannya ikut terhasut. "Naoki, kamu percaya dengan orang yang telah meneror kita selama 3 bulan ini?" Tanya balik kak Anzu.


Tentu saja dia paling percaya pada temannya. Tapi disudut hatinya, ada perasaan tidak benar.


***


26 September 2012, terjadi pembunuhan lagi. Korbannya adalah Okinawa Kenji dengan banyak luka tusuk diperutnya. Ditemukan pertama kali di Laboratorium IPA, Gedung Sekolah Kedua.


"Tuh 'kan, kualat dia." Sindir kak Akbar saat mengerjakan tugas sekolah diruang OSIS bersama kak Naoki dan kak Anzu. "Hush! Jangan berkata begitu." Balas kak Anzu sambil membalikan halaman buku tulisnya.


"Kenapa? Toh, dia sering nerror kita. Iya tidak Naoki?" Kak Akbar mencari dukungan dari kak Naoki yang sedang menghitung soal aljabar yang panjang.


Kak Naoki berhenti sebentar untuk membenarkan posisi kacamatanya, tapi tidak menggubris pernyataan kak Akbar. "Sudahlah, Naoki sedang fokus. Jangan diganggu nanti dia marah."


Walaupun kak Anzu susah menasihatinya, kak Akbar malah mengganggu kak Naoki dengan mendorong kacamatanya kedalam sehingga kak Naoki terkejut dan kehilangan hitungannya. "Dasar Gunder-uwo³ sialan!" Balas kak Naoki marah sambil mengacak barang-barang kak Akbar.


"Typo kamu Naoki. Yang benar...Akh!!"


"Masa bodoh! Nomor 4 itu udah banyak bercadang!" Saking sebalnya, kak Naoki melembar Buku Paket Matematika-nya ke wajah kak Akbar.


Terjadi pertikaian diantara mereka dan kak Anzu terpaksa melerai. "Hari ini kenapa kamu sangat sensitif Naoki?" Tanya kak Anzu saat berhasil memisahkan mereka.


Kak Naoki juga bingung. Dia teringat perkataan kak Kenji jauh-jauh hari, dan akhirnya kak Kenji menemui ajal dengan cara yang mengenaskan.


... "Jika ada yang meninggal lagi, kau tahu siapa pembunuhnya. Bahkan jika aku yang meninggal."...


Kata-kata terakhir kak Kenji kepada kak Naoki. Dia ingin berbohong tidak pernah mendengarnya, bahkan jika bisa ingin dihapus dari ingatannya.


Orang yang sering kak Kenji terror hanya kak Anzu. Tapi setelah mengenal jauh kak Anzu, tidak mungkin dia berbuat hal sekeji itu. Tidak mungkin.


[To Be Continue!] 🎑


____________________


¹* Karya Karuho Shiina


¹** Karya Io Sakisaka


¹*** Karya Natsuki Takaya


¹**** Karya Haruichi Furudate


¹***** Karya Eiichiro Oda


²Manga atau Anime yang khusus untuk bagi remaja laki-laki


³Hantu endemik Indonesia. Tapi Naoki tidak tahu namanya yang benar sehingga Typo.