
Hari telah sore, tak terasa sudah 2 jam berlalu. Para wartawan sudah pergi dari sekolah dan polisi yang masih tersisa berpesan kepada kami, "Suatu hari nanti kita akan memanggil kalian untuk sidang Sakamoto Anzu. Harap datang untuk menjadi saksi."
Kami meng-iya-kan lalu mereka pergi dengan mobil mereka yang terparkirkan dihalaman parkir yang disediakan sekolah.
"Huwaa! Capek sekali menjadi orang terkenal." Ucap kak Akbar yang menemani kami ke asrama untuk istirahat. Ada kak Enji juga yang sedang bermain dengan ponselnya.
Dring, Ring. Suara notifikasi dari ponsel kak Enji menujukan sebuah panggil masuk. Nama kontaknya adalah 'Okaa-san' dengan emotikon Love. Seperti kak Enji menyayangi Ibunya. "Oh! Tolong tenang sebentar, aku mendapat telepon." Kami menuruti dan diam untuk menguping percakapannya. We are curious, you know?
Akhirnya kita berhenti didepan halaman asrama. Beberapa lagi kita akan memasuki ruang utama asrama, kita memilih didepannya karena lumayan sepi sambil menunggu kak Enji yang sedang menelpon.
"Moshi moshi(Halo), ada apa Okaa-san?"
"Enji, kami melihatmu di televisi. Okaa-san dan Otau-san sangaaaat bangga padamu nak!"
Suara wanita yang lembut diketahui milik Ibu kak Enji terdengar keras seperti keluar dari ponsel. Sepertinya kak Enji lupa menurunkan volume suaranya atau memang itu volume idealnya.
"Terima kasih Okaa-san~ anakmu memang hebat 'kan?"
"Yah, kalo sendiri baru hebat. Ini bareng-bareng."
"Otau-san? Oh ayolah, hargai aku sedikit. Dia pembunuh disekolah dan hanya kita saja yang berani tangkapnya."
"Hoho, iya iya. Sebagai hadiahmu akhir pekan ayo kita makan ramen favoritmu."
Kali ini terdengar suara pria yang berat. Kata terakhirnya membuat kak Enji kegirangan sendiri sampai menutup ponselnya untuk menjerit senang. Setelah itu mengangkatnya lagi dan membalas, "Baiklah." Seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kok biasa saja jawabnya? Gak mau nih?"
"Otau-san!"
"Ngomong-omong, kita punya berita bahagia ini dari kakak sepupumu."
"Hah? Ada apa dengan kak Naoki."
Mendengar namanya saja tiba-tiba aku terpelatuk. Ada apa dengannya? Bukan hanya aku, sepertinya yang lain langsung mendekati kak Enji untuk mendengar lebih jelas. Untungnya kak Enji tidak terlalu menghiraukannya.
"Dia sudah sadar nak. Kita sangat bersyukur dan senang!"
Kalimat itu membuat kami terkejut karena bahagia.
"Astaga sungguh?! Sampaikan salamku Otau-san."
"Sampaikan saja sendiri."
Tiba-tiba suara telepon menjadi hening sebentar dengan beberapa bunyi glitch. Beberapa detik kemudian ada suara yang membalas disebrang.
"Moshi moshi, ini siapa?"
"Kak... Kak Naoki! Ini aku Enji kak. Syukurlah kau sudah sadar."
Sedetik, tiga detik. Belum ada balasan lagi. Naoki terdiam dengan penuh misterinya.
"Aku tidak mengenalimu. Gomae."
Bagai dihantam palu godam, kepala kami hancur berkeping-keping. Hatiku tiba-tiba perih karena sesak. Jika Naoki tidak mengingat Enji, bagaimana dengan aku, Fumika, dan Eliz yang baru dia temui dulu? Tidak jelas juga apakah dia masih mengingat kami saat menjadi hantu.
"Se-senpai, ini aku, Edogawa Enji, adik sepupu kak Naoki." Suara kak Enji gemetaran, dia sama terkejutnya dengan kami.
Kemudian dengan cepat kak Akbar merampas paksa ponsel kak Enji dan menggantikannya menelpon. "Pinjam Enji." Ucapnya telat meninggalkan Enji yang masih syok.
"Hoi Naoki Furugawa, jangan bercanda! Kita mati-matian nangkap si pembunuh lo dan kata pertama yang lo ucapin itu 'Gak Kenal'? Sorry, sorry saja, Gue gak terima perlakuan ini dan akan datengin rumah sakit lo terus benturin kepala lo biar benar lagi! Gue masih inget nomornya, 167."
"Emosi gue 'Ko. Lo tega bet hilang setahun ninggalin gue sendirian bareng temen yang ternyata bau..."
Kak Akbar sepertinya meluapkan semua emosinya kepada Naoki. Bahkan ada beberapa kata yang tidak bisa aku mengerti saking frustasinya kak Akbar. Menyeramkan.
Tapi kak Akbar tidak mendapat balasan suara lagi. Malah bunyi, 'Tuuuut' singkat yang artinya Naoki mematikan panggilan. "@$#! Argh!" kak Akbar menyumpahi dan hampir membanting ponsel kak Enji jika Fumika dan kak Enji sendiri tidak menghentikannya.
Akhirnya ponsel kak Enji kembali ketangannya dengan selamat tanpa goresan. Tidak seperti kami yang masih sakit hati. Entahlah, Naoki tidak mengingat kami seharusnya ini wajar.
Wajar 'kan?
Tiba-tiba air mataku tumpah dengan sendirinya. Hatiku semakin sakit dan memanas. Kakiku tidak bertenaga tapi aku memaksa berdiri sehingga terhuyung-huyung. Untunglah ada Eliz dan Fumika yang menopangku dan melerai isak tangisku.
Kak Akbar dan kak Enji saling menguatkan satu sama lain karena telah pasrah pada takdir. "Sudahlah, akhir pekan nanti kalian mau mengunjunginya bersama?" Tawar kak Enji yang disambut anggukan lemah oleh kita. "Sumpah, gue bakal benturin kepalanya biar bener. Itu manusia bisa-bisanya melupakan kita." Ucapan kak Akbar yang menambah rasa pahit kami yang sedang bersedih. Walaupun kita tidak mengerti.
Dring, Ring. Suara notifikasi ponsel kak Enji kembali berbunyi dan ada panggilan masuk. Kali ini nama kontaknya bukan 'Okaa-san' kak Enji lagi. Tapi nomor yang tidak dikenal.
"Jangan diangkat Enji."
"Aduh kepencet."
Kak Akbar menarik nafas panjang agar oksigen murni masuk kedalam otaknya. Kemudian menghembuskan dan mengulanginya kembali untuk menenangkan diri. "Astagfirullah, Enji. Bagaimana caranya bisa kepencet?"
Well here goes nothing. Aku yang sudah sadar dari tangisan singkat, ikut bergabung untuk mendengarkan suara dari sebrang. Pertama suara seseorang yang sedang batuk-batuk tidak masuk akal. Kemudian,
"Kalian kena tipu~!"
Goddamn it! @$
Satu kalimat itu membuat kami emosional parah hingga aku ingin mencekik manusia disebrang sana bersama yang lain.
Jadi, Naoki masih ingat mereka-Bukan aku, Eliz dan Fumika-. Lalu mematikan telepon dan menghubungi lagi dengan ponselnya sendiri. My God, aku menangis sia-sia. Kembalikan air mataku yang menangisi makhluk sialan ini!
Aku berusaha mengendalikan kembali nafasku yang tiba-tiba bergebu-gebu karena adrenalin rush. Pikiranku sedang berjalan untuk merancang rencana balas dendam khusus bagi Naoki.
"Haha, gomae, gomae. Ternyata lucu juga mendengar reaksi suara kalian. Bagaimana kabar kalian?"
"Kami baik-baik saja kok, Mellow Prince."
"Yang siang bolong nangisin kucing mati."
"Dapat nilai jelek dan pelajaran istimewa karena maraton Sailor Moon. Ck ck ck, such a shame. Wait, are you serious, kak Akbar?"
Aku, Fumika, dan Eliz berturut-turut mengucapkan rahasia paling memalukan Naoki yang diberitahu kak Akbar diponsel kak Enji yang dengan sukarela dia berikan karena setuju ingin membalas dendam. "Bagaimana denganmu, kepalanya masih ada otaknya tidak?" Dan terakhir kak Akbar yang membalas.
"AKBAR!! ZYA-KU!! Aku dengar itu suara orang lain! Sialan kau @#*%! Bocah ileran, rank 5 saja s-hirik!"
"Sirik, 'Ko"
"Masa bodoh. Siapa saja yang ada disana selain Enji, apa yang dibicarakan gorila hitam ini bohongan."
Aku hanya tersenyum sinis karena Naoki sedang menyangkal. Bagaimana aku tahu? Sebelum kak Akbar memberitahu, aku sudah tahu dari buku diary-nya. Tulisanmu mengkhianati dirimu sendiri Naoki!
"He's deny. Ini ada buku Diary-nya jika kalian ingin membacanya." Aku mengeluarkan buku diary Naoki didalam Almamater-ku lalu menunjukkannya kepada semua orang.
"Oh iya Alice, bagaimana jika kita melakukan percobaan? Karena pemilik buku ini sudah sadar lagi, kekuatanmu masih bisa tidak?" Kak Akbar menjauh dari ponsel dan berbisik padaku.
Antara penasaran dan sesal, dengan polosnya aku meng-iya-kan. Kak Akbar membolak-balikan halaman buku sampai akhirnya berhenti dihalaman tanggal 19 Agustus. Kemudian aku membacakannya.
"Ini mungkin sedikit menggelikan, tapi aku punya mimpi menjadi...!!! T-Tentara, a-agar aku bisa melindungi jagat raya dengan kekuatan hukum."
Sekesal apapun aku, aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Apalagi mengejek impiannya yang luar biasa aneh.
Tulisan aslinya adalah, 'Ini mungkin sedikit menggelikan, tapi aku punya mimpi sebagai laki-laki ajaib agar aku bisa melindungi jagat raya dengan kekuatan bulan. Sparkling like the star~' dengan emotikon Love dan Bintang.
Astaga dia sangat aneh. Apa dia bersungguh-sungguh?
"What?! Kau serius Alice dia menulis seperti itu?" Kak Akbar berusaha meraih buku Diary-nya, tapi aku langsung memasukannya kembali kedalam almamater sehingga kak Akbar menyerah. "I'm serious." Ucapku datar karena masih syok dengan tulisan Naoki.
Sebenarnya, aku memang sudah membaca buku Naoki. Tapi belum sampai selesai. Ada beberapa halaman yang aku lewatkan.
"Haha! Terima kasih. Mimpiku memang menjadi tentara, mulia bukan?"
"I-iya." Jawabku kaku.
"Daripada Akbar. Katanya setelah lulus ingin menjadi OB¹ perusahaan X."
"Sembarangan! Dasar Otaku kebanyakan halusinasi!"
"Senpai, aku juga Otaku."
Eliz dan Fumika menanyakan apa benar yang aku katakan, tentu saja aku mengangguk karena kasihan kepada Naoki.
Dan walaupun beberapa kata hanya karangan, setengahnya lagi asli. Seharunya berhasil membuatku melihat hantu lagi, tapi setelah beberapa menit hanya pemandangan normal yang aku lihat. Kak Akbar, kak Enji, dan Naoki ditelpon yang sedang bertengkar dengan bersilat lidah. "Well, sepertinya tidak bisa." Ucapku.
"Berisik! Yang makannya selalu berantakan diam saja. Aku yang selalu membersihkan remah-remahanmu!" Teriak Naoki ditelpon yang membuat kami menjadi sedikit jijik kepada kak Akbar. "Kau bukan lelaki, Senpai." Jawab kak Enji dengan ekspresi yang sebaiknya aku tidak deskripsikan. Saking kecewanya.
"Omong-omong, siapa teman yang bersama kalian?" Tiba-tiba Naoki menanyakan tentang kami. Lalu kak Enji menjawab, "Oh, itu adik kelasku. Ada Alice, Elizabeth, dan Fumika. Mereka juga yang membantuku menangkap si pembunuh, apalagi Alice yang paling berjasa."
"Kak Naoki juga bantu kok!" Ups, tanpa sengaja aku mengatakan hal yang menambah kerumitan pembicaraan kami karena aku sudah tidak tahan.
"Ehm? Sungguh?"
Shot, dia pasti mengetawai kebodohanku disebrang. "Bwahaha! Duh kau terlalu baik. Tapi aku kan masih koma, bagaimana caranya aku menolong kalian?" Tuh 'kan.
"Yah kau ingat sendiri Senpai." Ucapan kak Enji mewakili perasaanku, *somehow.
"Ya, ya. Oh iya, tadi ada yang namanya Alice*?"
What the...?!! Tiba-tiba Naoki menanyakan namaku sehingga membuatku terpelatuk. Belum lagi Eliz dan Fumika yang tersenyum nakal dan menggodaku.
"Hoho, dia memanggil namamu."
"Ciee Alice, hehe."
Ucap Eliz dan Fumika berturut-turut yang membuat pipiku merona merah. "B-baka!" Ucapku pelan.
"Iya Senpai, ada apa?" Akhirnya kak Enji menjawab pernyataan Naoki. Sebenarnya ada gerangan apa dia menanyakan namaku?
"Entahlah, rasanya aku kenal saja. Akhir pekan nanti ajak mereka ya, mungkin aku akan ingat."
"Serius kak? Nama 'Alice' disini sangat jarang loh."
"Iya, ya. Apa mungkin nama karakter kartun masa kecilku?"
Naoki bodoh! Teganya kau membuatku jadi insecure begini. Nama Alice bukan hanya ada di kartun Alice in Wonderland. Argh!!
"Ya sudah, bye-bye. Jaga kesehatan ya."
"Oke kak."
Akhirnya panggilan telah berakhir. Tapi perasaan insecure sialan ini masih teriang dikepalaku. "For goodness sake, kenapa dia benar-benar seperti Magical Boy." Ucapku lemah sambil menutup wajahku dengan telapak tangan.
[To Be Continue!] 🕊️
__________________
¹Office Boy