Unexpected Friends

Unexpected Friends
Chapter 33. Need A Hand?



Detak jantung berdebar keras. Nafasku keluar masuk tidak beraturan bersama kakiku yang terus berlarian tanpa arah. Keinginan bertahan hidupku tinggi sampai tidak sadar Fumika tidak berada disampingku lagi.


Aku menengok kebelakang dan melihat tubuh Fumika yang jatuh dilantai. Samar-samar aku mendengar suaranya berkata, "A.. Alice, aku... tidak kuat lagi... Efek obatnya telah... bereaksi." Ternyata Fumika mendapat sial karena meminum obat tidur dalam teh itu.


"I can't left you." Terpaksa aku berbalik untuk mengangkat tubuh Fumika yang melemah. Tubuhnya yang mungil dapat aku papah dibahu kiriku sehingga kami bisa lari bersama. Walau aku yang lebih banyak bergerak dan Fumika sedikit demi sedikit melambat.


Saat aku menengok kebelakang untuk mengecek keadaan, aku melihat sosok pak Hideyoshi. Dia berlari dengan penuh perjuangan kearah kami yang sekarang berada dilantai 1 koridor utama yang selalu ramai. Tapi sekarang tidak.


Aku memaksa Fumika untuk berbelok ke kanan, arah menuju kantin sekolah. Aku tidak bisa berpikir jernih karena semua tekanan, jadi secara naluri aku membiarkan perasaan yang menuntun entah kemana.


Sial, seperti dugaanku, kantin juga kosong. Tidak ada seorang pun didalam bahkan dan jajanan yang biasanya dijejerkan didepan kotak kaca kantin. Kecuali peralatan masak masih ada ditempatnya. Setiap blok tempat orang-orang kantin menjualkan dagangannya sekarang sunyi bagai ditinggalkan.


"Keluar kalian bocah!" Teriakan pak Hideyoshi membuatku kaget. Dia semakin dekat!


Aku terpelatuk dan sangat panik karena Fumika yang aku papah sekarang sudah tertidur pulas. Meninggalkan aku sendirian dalam situasi genting ini. Aku harus bertindak cepat, demi kita berdua.


Terpaksa aku menyeret tubuh Fumika kebawah meja kantin agar kami bisa bersembunyi. Untungnya meja kantin cukup tertutup sehingga kami bisa bersembunyi untuk sementara waktu sampai aku bisa memikirkan tindakan selanjutnya.


"Keluar!!" Bersama dengan teriakan pak Hideyoshi, ada bunyi benda yang sangat keras berbenturan. Dia mengambil sesuatu, batinku yang tidak membantu sama sekali.


Aku harus meminta pertolongan seseorang. Andai aku memiliki ponsel seperti kak Enji, aku bisa menelpon polisi. Andai kita tidak sendirian, pak Hideyoshi tidak akan berani melawan. Andai ada Naoki disini, jika dia belum bangun... Tidak! Dia harus tetap hidup dan itu yang terbaik untuknya. Aku tidak boleh egois.


Saat ini aku sangat terpuruk oleh pikiran buruk. Eliz disandera, Fumika pingsan, dan sekarang aku harus mencari cara untuk menghentikan pak Hideyoshi.


Dia bisa saja membunuh kami karena dia sendiri yang menyuruh Anzu untuk membunuh. Dan Eliz... Aku tidak mau membayangkannya tapi pikiranku selalu mengkhawatirkan Eliz. Selalu kemungkinan buruk terlintas dibenakku.


"KELUARLAH!"


Teriakan pak Hideyoshi semakin terdengar jelas, dia mendekat.


Alice! Sekarang bukan waktunya melamun. Aku berpikir keras cara untuk menghentikan pak Hideyoshi seiring bunyi tapak kakinya bergema mendekat.


Jika tidak bisa mendapat bantuan manusia, maka yang tersisa...


Tidak, tidak. Bad idea! Aku sudah bersumpah untuk tidak melakukannya lagi. Bahkan setelah kejadian 'itu', aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Situasi sangat tidak mendukung. Sehingga hanya ada satu nama yang bisa aku pikirkan. Orang pertama yang selalu menolongku sebelum Naoki, Mandora.


Tapi dia membunuh Daddy.


Dia pembunuh.


"Hati-hati Alicia, jangan berada diluar batas."


Kenapa disaat genting ini aku malah teringat dengannya? Kebaikannya yang dulu semoga tidak semu dan aku tidak sedang bermimpi. Bukan imajinasi belaka, aku bahkan bisa merasakannya sebelum aku menjadi boneka hidup di rumah sakit jiwa. Ini nyata 'kan?


... "Kita teman 'kan? Jadi matilah!"...


Bukan, dia bukan Mandora. Kenapa aku baru sadar setelah bertahun-tahun, gaun Mandora warnanya abu-abu bukan hitam dan rambutnya tidak berwarna putih melainkan hitam. Dia adalah The Grey Lady!


"London Bridge Is Falling Down, Falling Down, Falling Down."


Aku harap suaraku tidak terlalu keras sehingga menarik perhatiannya. "London Bridge Is Falling Down, my dear..."


"Lady."


Aku terpelatuk. Ternyata pak Hideyoshi dengan cepatnya menemukan kami dibawah meja kantin. Tapi yang membuatku bergidik adalah tangan kanannya yang memegang sebilah pisau pendek, namun terasah dengan baik teracung didepan hidungku.


Wajahnya kelihatan lelah ditambah keringat yang membuat pakaiannya basah. Dasinya berantakan dan nafasnya kelihatan tersenggal-senggal. "Cih, seharusnya kau tidak usah menghalangiku! Sekarang tanganku benar-benar kotor." Pak Hideyoshi tiba-tiba mencekik leherku dengan tangannya. Aku baru sadar tangannya memang sangat besar sehingga sanggup memegang semua bagian leherku.


Aku memberontak dengan meronta. Tapi tubuhku mendadak dilempar ke lantai sehingga keramik dingin menyentuh kepalaku dengan keras. Aku kesulitan dalam bernafas karena perlahan pak Hideyoshi menaikkan jarinya menuju pangkal leherku dimana biasanya aku mengambil udara. The hell is this nonsense?!! Bentakku dalam hati.


"Ke... Kena..pa bapak ingin mem..bu..nuh ki-kita?" Dengan susah payahnya, aku bertanya alasan atas semua omong kosong ini.


Tenggorokanku tersedak dan pita suaraku seperti mau putus. Paru-paruku hampir sekarat karena kekurangan oksigen. Jantungku selalu berdebar keras tanpa henti, mungkin suatu saat nanti akan meledak.


Aku mendengar suara pak Hideyoshi membentakku. "Aku tidak membunuh mereka! Anzu yang melakukannya." Hentikan semua omong kosong ini. Kau yang jelas-jelas menyuruhnya.


"Kau sudah lihat sendiri bukan? Bagaimana temanmu diracuni olehnya lalu kau yang beruntung lolos darinya?" Lanjutnya tanpa rasa bersalah. Bibirnya menekuk kebawah dan alisnya bertautan, artinya dia sedang marah. Tapi matanya menunjukan kepuasan, padahal dia sadar yang lakukan itu salah.


Sosiopat, kepribadian yang lebih berbahaya daripada psikopat karena dia memiliki kesadaran penuh atas apa yang dia lakukan dan konsekuensinya. Tapi tetap melakukannya walaupun itu perkara buruk sekalipun atas dasar pribadi. Emosinya tidak stabil dan gampang meledak, dia bisa menghancurkan apapun didepannya.


Funfact yang aku dapat dimajalah rumah sakit masih bisa aku ingat. Dan itu sama dengan ciri-ciri pak Hideyoshi. Monster sesungguhnya.


Sekarang aku terpojokkan dan hampir mati. Aku tidak ingin ini menjadi pemandangan terakhir. Bahkan melihat wajah iblis didepanku perlahan mencabut nyawaku. That's real nightmare.


"Tapi akan kuberikan rahasia 'kecil'-ku karena kau akan mati." Pandanganku mulai buram. Dengan susah payahnya aku menendang kakiku tanpa arah dan menjaga agar tangan besar pak Hideyoshi tidak mencekikku terlalu keras. Walaupun semua sia-sia.


"Anak beasiswa, mereka jenius karena berhasil masuk SMA ini tanpa dibayar. Ini tidak adil bagi kami sebagai seorang guru karena harus mengajar tanpa dibayar padahal sekolah ini berbasis swasta."


"Jadi aku dan Tanaka ingin menyingkirkan kalian dan membiarkan anak yang lebih kaya bersekolah disini."


Sekolah ini lebih kotor daripada kelihatannya. Tapi betapa teganya kepala sekolah ini mau menyingkirkan kami-anak beasiswa- karena tidak membayar sekolah. Bukannya itu tujuan beasiswa? Agar kita bisa bersekolah dengan gratis?


"Where's your humanity, The Sinner?"


Bersamaan dengan suara itu, tubuh pak Hideyoshi terlempar cukup jauh sampai menabrak dinding kantin didepanku. Bunyi benturannya sangat keras sampai pak Hideyoshi tidak bisa bergerak setelah jatuh dari dinding.


Setelah itu dia duduk bersipu dengan tatapan mata yang masih syok. Aku bisa melihat ketakutan dalam dirinya. Dan sekelebat abu-abu didepannya perlahan bersatu membentuk suatu wujud.


Tidak butuh waktu lama untukku menyadari siapa yang aku lihat, "Mandora." Gumamku kecil. Sulit untuk terima jika aku masih merindukanmu, maka aku membuang jauh-jauh perasaan itu sambil menghampiri Fumika untuk membangunkannya.


"You can't run anymore." Suara Mandora bisa aku dengar dari balik meja saat aku menggoyangkan tubuh Fumika yang sulit disadarkan. Karena penasaran, aku mengintip keluar dari meja disisi kanannya.


Tidak ada yang berubah. Kecuali posisi sujud pak Hideyoshi didepan Mandora sambil memohon-mohon dan merapalkan doa. "Dewi, tolonglah saya. Ampunilah saya. Saya tidak akan mengulanginya lagi, saya mohon berikan kesempatan kedua." Ucapnya sesegukkan. Doanya membuatku muak, dia pikir semudah itu mengubah situasi.


Disgusting.


"Disgusting."


Secara kebetulan perkataanku dalam hati dan ucapan Mandora sama. Sepertinya dia juga setuju dengan kesalahan pak Hideyoshi.


Tiba-tiba lampu kantin mati-nyala berkali-kali, bersamaan dengan itu semua barang disekitar Mandora perlahan melayang. Terutama meja dan kursi.


Ada suara yang mengganggu masuk ketelingaku, namun aku tidak tahu ini apa. Rasanya seperti memanggil namaku, "A... lice." Lirih namun jelas. Tiba-tiba aku baru menyadarinya.


Aku kenal suara ini, "Daddy..." Refleks aku berlari keluar dari persembunyianku mendekati Mandora. "Stop, stop right it now!" Dia tidak mendengarkan. Semakin aku mendekatinya, barang-barang berbenturan tanpa henti dan bunyinya sangat nyaring sehingga aku ketakutan.


Tapi aku memaksa maju, karena aku dapat melihat sosok Daddy dibalik punggung Mandora. Wajahnya ter-corrup sehingga menampakan sebelah matanya dibalik hitam. Mulutnya kelihatan robek dan rambutnya menipis. Mereka terikat oleh semacam gumpalan hitam, atau mantra seorang penyihir.


Tangan kanan Daddy terulurkan didepanku, padahal jarak kami baru beberpaa meter. "Tanganku... jangan le..paskan." Ucapan Daddy membuat hatiku remuk. Bukan hanya wujudnya yang hancur, tapi suaranya rusak seperti kaset radio.


Susah payah aku menghindari benda-benda yang bertebaran didepanku dengan memanfaatkan barang seadanya untuk membalas serangan serupa bertubi-tubi.


Sampai akhirnya aku dan Daddy berjarak sejengal. Sedikit lagi, aku akan sampai. "Daddy!" Aku ulurkan tanganku memegang tangan Daddy.


Spontan Mandora berteriak histerias saat tangan kami saling bertemu. "Cepat! Release him!!" Teriak Mandora kepadaku, sedangkan pak Hideyoshi didepannya masih patuh bersujud.


Tanpa basa-basi, aku menarik tangan Daddy dengan susah payahnya. Tubuh mereka menempel dengan erat sehingga membuat ikatan yang kuat. Pastinya, ini sudah 6 tahun lamanya Daddy ditumbalkan untuk Mandora. Tapi sekarang aku akan membebaskannya!


Aku bersumpah, aku akan menebus kesalahanku.


"Aku minta maaf Daddy." Ucapku sambil menarik paksa tubuh Daddy yang masih menyatu. Namun seiring berjalannya waktu ikatan itu sedikit demi sedikit terputus secara ajaib, sehingga aku harus terus menariknya dengan kedua tanganku dan berjalan mundur.


"Aku bukan putri yang baik. Sering mengecewakan, bahkan sampai Daddy meninggal karena menolong aku." Perlahan wajah Daddy kembali normal dan gumpalan hitam itu menghilang dari tubuhnya. Tangan kirinya tiba-tiba muncul dan ikut berpegangan dilenganku. "I'm sorry. I'm very sorry, Daddy."


Aku tidak henti-hentinya meminta maaf. Air mata tiba-tiba keluar dengan sendirinya membasahi pipiku. Aku mengungkap semua rasa penyesalan, ketakutan, dan deritaku kepada Daddy yang sekarang setengah tubuhnya telah keluar.


Kesepian yang menyiksa dadakku membuatku menyebut semua nama-nama orang yang tidak mempercayaiku termasuk Okaa-san. "Setiap hari aku harus meminum obat yang tidak pernah menyembuhanku. Hidup dalam kebohongan karena tidak ada yang percaya." Tiga per empat tubuh Daddy keluar. Sedikit lagi kakinya akan bebas.


"Alicia..." Suara Daddy sudah pulih kembali, berarti ikatannya akan lepas. "Nak, maafkan Daddy karena tidak ada disampingmu saat itu..."


Daddy tidak perlu meminta maaf, aku yang salah. Aku juga yang bodoh membiarkan kekuatanku mengambil alih sehingga keluargaku hancur. Hidupku sendiri kacau dan semua ini salahku.


Okaa-san dan Uncle Steve yang selalu ada disisiku mencoba yang terbaik agar aku bisa hidup normalntanpa menyakiti siapapun lagi.


Namun dalam kesakitan itu, ada juga bunga yang tiba-tiba mekar ditengah-tengah padang pasir hatiku. "Daddy, jika semua sudah berakhir, aku akan berjanji menjadi anak yang lebih baik." Lega rasanya saat aku mengatakan semua hal yang membebani aku selama ini. Rasanya semua terangkat begitu saja ke langit.


Kaki Daddy akhirnya lepas dari punggung Mandora, dan ikatan diantara mereka hancur. Mandora tiba-tiba sesegukkan sampai tertunduk, namun Daddy dapat berdiri tegak didepanku yang tingginya hampir sama denganku.


Daddy memeluk tubuhku dengan erat. Hangat, rasa yang seharusnya tidak bisa hantu buat. Tapi sangat nyaman dan membuatku rindu, "Daddy, tolong tenang disana. Alicia tidak akan mengecewakan Daddy lagi."


"Tidak, Daddy sudah bangga padamu sayang. Jangan pernah sedih karena tidak ada yang mempercayaimu, selalu ada orang yang mau menerimamu." Setelah Daddy mengecup keningku, dia melanjutkan, "Like your boyfriend, Naoki Furugawa, right?"


A-apa?! Bagaimana ayah tahu tentang Naoki. Tapi yang terpenting,


"Who's the who?!"


"Oh my precious daughter has grown up."


"DADDY!!"


"Alicia, saat kau bertemu dengan Okaa-san, maafkan dia. Janji oke?" Aku tidak menyangka ini adalah kata terakhir Daddy sebelum menghilang bagai kabur diantara bunga dan daun yang beterbangan disekitar.


Barang-barang berhenti melayang lalu jatuh ke lantai. Ini membuat kantin nampak berantakan. Untuk beberapa detik aku berdiri mematung sambil bertatapan dengan Mandora yang sudah pulih dari sesegukannya. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyai kepadanya tapi aku akan menyingkatnya. "A.."


Sebelum aku sempat mengatakannya, aku mendengar bunyi langkah kaki cepat. Tiba-tiba ada teriakan keras dari sampingku sampai refleks aku menengok, "Ini Polisi angkat tangan!"


[To Be Continue!]🍵