
Bel telah berbunyi, para Trio pun masuk ke kelas kembali.
Eliz masih diselimuti oleh rasa kebingungan saat memperhatikan temannya sudah berbaikan. Ini bukan masalah, malah kemajuan. Tapi ini terlalu cepat.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Eliz penasaran. Maka kedua orang yang dia maksud menengok menatapnya. Alice yang sedang mencoret-coret bukunya terpaksa berhenti untuk membalas, "Well, aku masih kesal. Tapi aku tidak ingin kita berpisah selamanya. Like those."
Alex, Abigel, dan Maria.
Nama yang ada dalam pikiran Eliz. Dia tahu kecemasan Alice jika ditinggal sendirian lagi. "Aku ingin mempercayai kalian. Lagipula, aku jadi tahu bagaimana cara mengaktifkan kekuatanku dan ada Naoki yang melindungiku."
Eliz dan Fumika menelan ludah kasar. Kemudian saling memandangi satu sama lain. 'Kau juga tahu?' Pertanyaan yang sama-sama mereka keluarkan tanpa suara. Kemudian mereka melakukan kode isyarat tanpa sepengetahuan Alice.
'Apa kita harus memberitahunya?' Kira-kira apa yang akan Eliz katakan. Lalu disambut gelengan kepala oleh Fumika, 'Dia nanti syok. Diamkan saja.' Sambil mengacungkan tangannya dibibir tanda diam.
Setelah mereka berdua selesai ber-isyarat, Eliz berkata, "Thank God." Sambil memaksakan sebuah senyum.
"Btw gurunya belum datang. Ayo Fumika menduduk dimeja depanku, mumpung masih kosong." Perintah Eliz yang membuat Fumika berpindah tempat. "Oke, let's spill the tea¹, apa yang kalian lakukan selama berpisah?" Ucap Eliz membuka topik.
Alice kemudian mengajungkan tangannya tinggi-tinggi sampai Eliz dan Fumika dengan seksama melihatnya. "Tahu tidak?" Ucap Alice sambil menurunkan kembali tangannya. "Setelah berpisah dengan kalian aku dikejar Oni, loh." Dengan nada yang dibuat semanis mungkin, Alice memasukkan makna tersirat untuk menyindir Fumika.
Dan orang yang dia maksud pun langsung mengetahui sindirannya. "A-Alice... Aku sudah minta maaf." Ucap Fumika lemah karena fakta dia membahayakan nyawa temannya untuk kedua kalinya.
Alice puas dengan ekspresi masam Fumika, lalu melanjutkan, "Aku jadi berlarian sampai ke rumah kaca sekolah. Itu area perkebunan, i'm a right?" Eliz dan Fumika yang memperhatikan mengangguk, lalu Alice meneruskan kembali.
"Disana aku bertemu kak Haruka. Dia menceritakan aku kisah sahabatnya-Ayumi- yang membuatku sadar untuk memaafkan Fumika." Dari sini, mereka pun mengerti mengapa Alice bisa memaafkan Fumika dengan cepat.
"Kau harus berterima kasih kepada kak Haruka, Fumika." Sambil mengacungkan jarinya, Alice menatap Fumika tajam. Lalu dibalas, "Iya, iya." Oleh Fumika dengan keringat dingin yang keluar dari pelipisnya.
Alice pun melanjutkan ceritanya sampai tamat. Teman-teman mengangguk paham. "Kasih seorang kakak memang indah." Komentar Eliz sambil berpura-pura mengusap air matanya.
Kemudian dilanjutkan Fumika yang bahas cerita Kematian Sang Assasin Kaouri yang Alice lewatkan. Alice mengangguk paham sambil mendengarkan cerita Eliz yang bergantian dengan Fumika sampai pindah ke cerita lain. "Kak Enji dikunci dilemari oleh kak Na-Ehem namanya Na saja- agar tidak ditemukan oleh si pembunuh."
Kali ini mereka duduk dilantai yang beratapkan meja agar obrolan mereka tidak ketahuan. Alice mengeluh beberapa kali karena kepalanya terbentur meja yang pendek. Sedangkan Fumika yang menyarankan ide ini tangannya tergores besi bangku yang keras. Eliz? Posisi duduknya yang paling tidak nyaman karena hampir keluar dari meja.
Tapi mereka tidak terlalu menghiraukannya dan lanjut bercerita. "I'm swear to god, Pureya kejam! Apa maunya membunuh mereka? Kak Na kasihan." Komentar Alice frustasi sambil berbisik.
"Entahlah. Motifnya masih misterius. Tapi yang aku tangkap, sepertinya dia melakukannya untuk bersenang-sedang." Balas Fumika sambil mengatur kembali posisi duduknya dengan mendorong kursi menjauh.
"Tunggu. Waktu kak 'Yumi' bercerita, sebelum Kaouri dibunuh dia berkata 'ingin mati' lalu ditanyai seseorang apakah dia anak Beasiswa, setelah itu kepalanya dibentur batu 'kan?" Fumika menyela kata-katanya sendiri lalu mengambil buku note berisi catatannya yang dia taruh disaku almamater.
... "*Jadi kau ingin mati?" Kaouri asal memberikan jawabannya. Namun ia mengangguk. "Apa kau anak beasiswa?"
...Maka saat Kaouri masih terisak tangis, batu yang ia pegang dengan cepat menghantam kepalanya sampai Kaouri tidak sempat teriak*...
"Itu berarti dia dijadikan 'Pion' oleh seseorang. And funfact, semua korbannya kecuali kak Kenji adalah anak Beasiswa." Lanjut Fumika. Mereka pun berdeham pelan. Tapi ada menurut Alice ada yang janggal diucapan Fumika. "Kenapa dia bisa tahu Kaouri ingin mati?"
Tiba-tiba...
'BRAK BRAK!!'.
Suara pukulan keras diatas meja Eliz membuat mereka terkejut. "Guru sudah masuk!" Teriak seorang anak lelaki yang tadi memukul meja sehingga membuat kami terkejut. "Ya ampun, Cewe memang tukang gosip." Sindirnya lalu pergi berlalu.
Mereka tidak terlalu memikirkan sindiran lelaki itu lalu bergegas kembali ketempat duduk masing-masing.
Saat Alice sudah bangun untuk duduk kembali, Eliz memanggil namanya, "Alice." Spontan dia menengok untuk memperhatikan maksud Eliz. "Nanti sehabis kelas kita ke 11 - IPA 9 untuk menemui kak Enji."
Alice tersenyum nakal karena berpikir, "Ohh, kencan kedua?" Pipi Eliz merona karena malu. Dengan cepat dia menyela, "B-bukan! Kak Enji ada perlu denganmu."
Alice bingung dengan apa yang Eliz sampaikan. "Apa maksudmu?" Tanya Alice. Lalu dijawab, "Tapi jangan kaget ya. Sebenarnya..."
"Kak Enji tahu kekuatanku 'kan?" Sebelum Eliz selesai merangkai kata-katanya, Alice menyelanya. "Elizabeth, I had enough of this things. My real nightmare."
Eliz tidak dapat membalas. Dia kehabisan kata-kata untuk membujuk Alice. Tapi, Fumika dari mejanya memutar tubuhnya kearah mereka sambil berkata, "Kita akan melindungimu." Perkataan Fumika tentu membuat Alice tersentak seketika.
"Dan lagi, ada 'Pangeran' yang akan menjagamu." Antara senang atau malu, perkataan Fumika membuat Alice menutup wajahnya dengan kepalan tangannya.
"Siapa? Siapa yang Alice taksir?" Ucap Yugi entah darimana mendengarkan percakapan mereka.
"Fu-Fumika shut up!"
"Na - O - Ki~"
Perkataan singkat Fumika membuat sekelas langsung heboh dengan ucapan, "Ohhh!" Kini mereka punya bahan bercandaan untuk Alice. Sedangkan si pelaku semakin tak gendar melawan cemooh teman-teman sekelasnya yang salah paham.
"Apa yang kalian bicarakan?! Aku dan dia sebatas teman! Di-dia mirip anjing peliharaan keluargaku." Teriak Alice membela diri.
"Alice jahat sekali, disamakan dengan anjing."
"Naoki! Naoki!"
"Eh, mereka sudah pacaran?"
"Gak tahu."
"Happy wedding!"
Namun sepertinya malah menambah bahan omongan mereka. Alice berusaha memikirkan sebuah cara agar bebas dari omongan. Akhirnya dia mendapat ide.
"Fumika, Momo gimana kabarnya? Boneka monyet kesayanganmu?" Gasp, Semua orang dikelas menahan nafas karena mendapat gosip tambahan. Fumika mendengus kasar lalu membalas, "Eliz pake make-up dikelas!"
Tentu saja Eliz yang tidak ada sangkut pautnya naik pitan. Lalu membalas, "Yugi berjudi bareng anak lelaki yang lain!"
"Apa?! Kita main kartu saja!"
Akhirnya terjadi rantai saling menyalahkan dikelas 10 - IPA 1 yang semakin membesar, sampai guru benar-benar datang ke kelas mereka sambil berkata, "Kelas kalian paling berisik tahu!"
***
"Ha.. Hah!!!" Naoki bersender dijendela kelas 10 - IPA 1 sambil menenangkan pikirannya. Awalnya dia sedang memperhatikan Trio yang nampaknya kembali bersama lagi.
Tapi bisa-bisanya Fumika mengatakan dia adalah 'Pangeran' Alice didepan teman-teman mereka. Dan lagi, kenapa Alice menyamakannya dengan seekor Anjing?!
Perkataan itu masih teriang jelas dikepala sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi dengan benar. Rona merah tiba-tiba muncul, namun tidak ada kehangatan darinya. "A..aa..." Bahkan Naoki sepertinya menjadi gagap seketika.
"Yo, Mellow Prince. Bagaimana pengintaian-nya?" Kaouri tiba-tiba datang entah kemana lalu menghampiri Naoki dari samping kanannya. Naoki terkejut, namun berusaha tenang kembali. "Mereka akan menemui Enji." Jawabnya datar.
Lalu muncul penampakan Kenji dan Ayumi dibawah, menunggu mereka turun. Terpaksa, mereka kebawah dan berteduh dibalik pohon yang rindang bersama-sama. Walau sebenarnya panas dan sinar matahari tidak berpengaruh terhadap mereka.
"Sungguh, ini benar-benar diluar rencana!" Ucap Kenji frustasi. Menurutnya jika Alice tidak pergi rencana mereka dapat berjalan lancar.
Namun sepertinya orang yang dia maksud masih melamun. Menatap hampa ke depan. "Naoki, Naoki!" Panggilan dari Kaouri cukup untuk menyadarkannya kembali. "Apa yang kau pikirkan MP?" Tanya Kenji yang anehnya ternyata khawatir.
Naoki diam untuk beberapa waktu. Wajahnya semakin pucat dan saat dia melihat kepalan tangannya tidak ada bayangan. Bahkan kepalan tangannya semakin transparan seperti teman-temannya yang sudah meninggal. "Waktuku hampir habis." Gumam Naoki tiba-tiba.
"Aku tahu apa yang Enji inginkan dari Alice. Dia ingin berbicara denganku." Tambahnya lalu disambut tanda tanya oleh Kaouri, "Iya, terus kenapa?"
"Apa Alice akan memaafkanku karena membohonginya?" Tidak ada satupun yang sanggup menjawab. Mereka terdiam dalam lamunan masing-masing.
🌸💀🌸
Bel keluar kembali berbunyi pukul 12.00
Setelah Ketua Kelas Sementara yang dipilih secara acak mengucapkan salam lalu disusul siswa yang lain, guru pergi dari kelas meninggalkan mereka untuk membereskan barang masing-masing.
Trio-Alice, Elizabeth, dan Fumika- sibuk meletakkan kembali alat tulis mereka kedalam tas. "Sudah siap Alice?" Tanya Eliz sambil mengenakan tasnya.
Alice sedang memasukan kembali bukunya lalu menutup resleting tasnya. Setelah selesai dia mengenakan tasnya dan berdiri menghadap Eliz ragu. "Kalian tidak akan pergi 'kan?"
Eliz tertawa kecil karena perkataan Alice, "Bukannya yang selama ini kabur kamu?" Balasnya renyah lalu berjalan keluar dari kursinya diikuti Alice.
Fumika menunggu mereka dipintu kelas sambil memperhatikan sekeliling karena bosan. "Ayo pergi." Ucap Fumika setelah mendapati mereka didekatnya.
"By the way, kau tahu kelas 11 - IPA 9 dimana?" Tanya Alice penasaran. Eliz terdiam mematung. Sejenak dia berpikir, lalu menjawab, "Kita tanya-tanya saja~" Dengan tampang tidak berdosanya.
Alice dan Fumika sangat kecewe karena artinya mereka akan berputar-putar untuk mencari kelas.
***
Setelah bertanya-tanya kesana sini, akhirnya Trio berhasil menemukan kelas 11 - IPA 9, kelasnya Enji. Mereka mencari-cari sosok Enji yang ternyata sedang bersandar dibalkon memperhatikan pemandangan sekolah.
"Kak Enji!" Panggil Alice setelah melihatnya. Enji menengok lalu dengan semangatnya berjalan kearah Alice. "Hai Alice. Maaf merepotkanmu, tapi aku ingin punya permintaan."
"Ingin berkomunikasi dengan seseorang?" Tebak Eliz menyela ucapan Enji. Dia hanya mengangguk karena ucapan Eliz mewakilinya.
Alice ragu dengan apa yang Enji katakan. Setiap kali dia mencoba untuk melihat 'alam yang lain' dia selalu celaka. Dia mengantupkan mulut karena ketakutan. Membayangkan hal mengerikan yang mungkin akan terjadi. Tenggorokan seperti tercekik dan detak jantungnya tidak seirama.
Sebelum dia menolak permohonan Enji. Tiba-tiba ada suara yang terdengar ditelinganya yang berkata, "Tidak apa-apa, kau tidak sendirian." Ucapannya begitu lembut dan menenangkan. Namun disisi lain rasanya familiar.
"Ha?" Alice berbalik untuk mengetahui orang yang berbicara dengannya. Lalu yang yang dia dapati adalah seorang lelaki tinggi besar yang mengalahkan ukurannya dan Eliz. Kulitnya terlihat gelap karena langit mendung. Mata coklatnya menatap tajam Alice. Rasanya seperti mangsa yang bertemu dengan predatornya.
Refleks, Alice mundur perlahan sambil berjaga didepannya. "Kak Akbar mau ikut kita?" Ucapan Fumika membuat Alice terpelatuk. "Iya dong. Awalnya aku mampir untuk melihat Enji, tapi sepertinya ada sesuatu yang menarik."
Suaranya berbeda, batin Alice.
"Oh iya, perkenalkan aku Akbar Sudirman, dari Jawa Tengah. Nice to meet you." Kakak Kelas dengan tampang menakutkan ini ternyata hanya 'kelihatan'-nya saja menakutkan. Alice malu dan mengusap lehernya grogi.
Eliz dan Alice pun mulai memperkenalkan diri secara singkat. Kemudian, "Maaf kak, tadi kakak dari mana?" Ucap Alice berbasa-basi.
"Jawa Tengah, dek."
"Itu dimana?"
"Ehmm... Kau tahu Indonesia?"
"Ha?"
"Bali, kau tahu Bali? Bali ada di Indonesia. Nah, di Indonesia ada Jawa Tengah."
Alice bergumam, "Ohh." Pelan karena telah mengerti. "Indonesia itu negara kepulauan bukan? Lalu Jawa Tengah ada dipulau Jawa 'kan?" Tambah Alice memastikan, lalu dibalas acungan jempol oleh Akbar. "Mantap!" Balasnya.
Meski Alice tidak mengerti maksud Akbar, dia bisa menebak jika itu adalah pujian.
"Oke, kita mau kemana untuk memulai ritualnya? Apa kau butuh sesuatu Alice." Perkataan kak Enji membuat Alice bergidik karena dia berpikir kak Enji menganggapnya seperti penyihir yang butuh ramuan-ramuan aneh. "K-kita hanya butuh barang yang dimiliki kak Na." Balas Alice masih merinding.
"Siapa kak Na?"
"Shhht!"
Alice kebingungan, "Benar namanya kak Na?" Tanya Alice memastikan. Lalu dibalas anggukan oleh Akbar yang sudah paham maksud Fumika sebagai nama 'samaran'-nya Naoki. Eliz mencoba menjelaskan pelan-pelan kepada Enji agar Alice tidak melihatnya.
"Long story, tapi kak Na adalah kak Naoki." Jelas Eliz kepada Enji. Lalu dibalas anggukan.
"Alright? Jadi barang apa yang berharga bagi kak Na, kak Enji?" Alice masih curiga. Namun dia tidak ambil pusing lalu bertanya kembali.
Enji berpikir sejenak, lalu menjawab, "Kak... Na(?) suka menulis, mungkin kita bisa menemukan bukunya dikamar 'gulp' terkutuk." Enji menelan ludah saat membicarakan kamar terkutuk. Mendengar namanya saja hampir membuat traumanya kambuh.
"Tidak usah, sudah Alice ambil. Sekarang ada dikamar kita." Balas Eliz sambil menggandeng tangan kiri Alice. "Iya, nanti kita akan ke asrama dulu." Tambah Alice sambil merapihkan kembali rambutnya yang berantakan karena angin.
Disaat Alice merapihkan rambutnya, Akbar melihat sekilas sesuatu yang aneh dilengannya. Lalu dia bertanya seketika, "Sebentar Alice, dilenganmu ada apa?"
Alice terpelatuk sehingga berhenti merapihkan rambutnya. "Boleh aku lihat?" Ucap Akbar memohon. Refleks, Alice mengulurkan tangannya dan memperlihatkan gelang yang belum dia lepas dari semalam.
Akbar melihat sepintas, lalu menemukan kata-kata yang membuatnya terkejut, "Ini... Ini gelang yang aku berikan kepada 'Na'." Ucapnya sambil menahan diri menyebut nama Naoki.
"Yang benar? Kalau begitu kakak tahu tulisan yang ada disini?" Alice sama terkejutnya dengan Akbar. Namun dia senang karena dia akhirnya tahu siapa pemilik gelang ini, walaupun sayang dia tidak ada bersama mereka. Akbar berdeham sebentar, lalu menjawab, "Ini dibaca..."
"Oi, oi. Nanti saja setelah kita menemukan tempat yang tepat. Sekarang ini kita belum bersiap-siap untuk pemanggilan Alice." Fumika dengan cepat memotong ucapan Akbar dan membuatnya kesal.
Alice yang baru ingat kekuatannya aktif jika mengucapkan 'kata terakhir' menyetujui ucapan Fumika. Lalu ditambah Eliz. "Better then chaos." Ucap Eliz sambil memeluk kedua sahabatnya erat.
"Oke, bagaimana kalau di Rooftop?" Ucap Enji memberikan saran untuk mereka. "Disana sepi dan luas. Tenang, ada pagar jika kalian takut ketinggian." Tambahnya untuk menyakini.
Akbar mengangguk setuju. "Oke, ayo kesana." Ucapnya bersemangat. Sedangkan Trio masih berdiskusi apakah mereka mau keatap.
"Terserah kalian."
"Aku setuju-setuju saja."
"Oke, jadi kita sepakat ya."
Alice, Eliz, dan Fumika berturut-turut menyuarakan pendapat mereka. Lalu hasil akhirnya mereka setuju untuk ke Rooftop.
[To Be Continue!]🌸
__________________
¹Bergosip