
"Penerbangan tujuan Hokkaido, Jepang akan segera berangkat dalam 15 menit."
Jam masih menunjukan pukul 06.45, tapi bandara sudah dipadati oleh orang-orang yang akan bertemu dan juga berpisah. Dan perpisahan adalah hal yang paling berat sehingga keluarga ataupun teman harus membuat ucapan terakhir berkesan. Karena mereka tidak akan tahu kapan akan bertemu lagi dalam waktu dekat.
"Kabari jika kau sudah sampai. Oke, Akiko?" Ucap Violet melepas kepergiannya. Hari ini dia tampak cantik dengan dress warna peach dengan dibalut coat putih. Celana jeans smoky blue-nya mirip dengan yang Steve pakai. Rambut sepundaknya tersisir rapih dan cahaya mentari menerangi rambut kecoklatannya sehingga Violet seperti dalam foto Polaroid.
Berbeda dengan Steve yang berpenampilan seadanya dengan T-shirt hitam andalan-nya karena tidak sempat berdandan seperti Violet. Atau lebih tepatnya, malas. Setidaknya Steve tidak malas mengantar mereka ke bandara dengan mobil miliknya.
Dalam hati Akiko berpikir mungkin ini perasaan Alice saat berpisah dengannya.
Sedih. Tapi dia tetap maju dan tidak menengok kebelakang lagi. Walaupun pesawat yang Alice tumpangi tidak ditemani Elizabeth dari keterangan Ibunya saat mereka berpapasan dijalan pulang dari bandara. Saat itu Akiko merasa bersalah karena Alice pasti kesepian.
"Baiklah. Steve, Violet, aku pergi dulu." Balas Akiko sebelum dia menarik kopernya menuju counter pemeriksaan. Dari kejauhan Steve berteriak, "Hati-hati Akiko!" Sambil melambaikan tangannya.
Saat Akiko melihat kebelakang kembali, dia memasang senyuman simpul dengan melambaikan tangannya pelan. "Iya."
***
Didalam pesawat, Akiko mencari tempat duduk yang bernomor sama dengan tiketnya sampai akhirnya menemukan bangku didekat jendela, bagian kiri pesawat, nomer ke 3 dari tempat pilot berada. Karena bangku disebelahnya kosong, Akiko mudah memasukinya.
"Pesawat akan Take Off dalam 5 menit lagi. Para penumpang diharapkan duduk dibangkunya masing-masing dan mematuhi aturan yang ada dalam pesawat demi kenyamanan dan keamanan bersama selama penerbangan."
Suara pilot dari speaker yang Akiko dengar mengingatkannya kembali pengalaman pertama menaiki pesawat. Saat itu dia sedang berlibur ke Inggris karena memenangkan hadiah lotre. Dan tidak disangka akan bertemu kehidupan bahagianya disana. Memiliki pekerjaan baik dengan gaji yang tinggi dan keluarga luar biasa. Semua seperti mimpi.
Tapi mimpi juga dapat hilang dalam sekejap jika terbangun.
"Permisi. Kursi ini kosong?" Ucapan itu membuyarkan lamunan Akiko. Refleks dia menengok ke arah sumber suara disebelah kanan dan mendapati seorang wanita seumurannya menunggu diluar barisan kursi. Kulitnya putih dan rambutnya ikal berwarna coklat kehitaman. Kemeja biru mudanya selaras dengan jeans warna Abyss Green yang dia kenakan. Ditangan kiri ada tas kulit buatan brand ternama. "I-Iya, silakan saja." Ucap Akiko gugup.
"Tertama kali naik pesawat ya?" Wanita ini membuka percakapan mereka dengan topik acak. Karena ini bukan pengalaman pertama Akiko, maka dia menjawab dengan sopan, "Tidak juga."
"Wah! Pantas saja anda wajahnya seperti orang asing. Apakah Chinese?"
"Aku Japanese."
Akiko merasa sedikit terusik karena wanita ini lumayan berisik. Namun dia berusaha tetap tersenyum dan membalas percakapan mereka dengan baik. "Haaa... Berarti anda mau pulang ke rumah ya?" Wanita ini menanyakan hal yang sudah jelas. Maka Akiko menjawab "Iya." Singkat.
Hah...
Akiko mendengar wanita disebelahnya menghembuskan nafas pelan. Saat dia menengok, wanita tersebut melihat keatas langit pesawat sejenak, lalu turun lagi. Kemudian tiba-tiba berkata, "Saya tidak suka dirumah. Keluarga terlalu menekan kehidupan saya. Jadi lebih baik saya 'pergi' saja, tapi entah kenapa saya merasa bersalah."
Salah satu lengannya diangkat untuk menutupi kedua matanya. Nafas terasa berat dan wajahnya sedikit mengerut. Dengan lirih wanita tersebut melanjutkan,
"Apakah saya salah, Miss?"
Miss? Akiko terkejut karena wanita tersebut memanggilnya dengan sebutan Miss yang artinya adalah Nona padahal dia sudah menikah. Tapi Akiko akan mengabaikannya agar percakapan mereka tidak menjadi lebih rumit. Apalagi wanita ini kelihatannya depresi.
"Saya tidak ada hak untuk berkata demikian. Tapi kita juga butuh waktu untuk 'beristirahat' sebentar 'kan? Saya yakin anda tidak sepenuhnya membenci mereka." Karena ucapan Akiko, wanita ini mengangkat sebelah lengannya yang menutupi kedua mata dan menatap Akiko sayu.
Lalu sebuah senyuman kecil terbentuk diwajahnya. "Terima kasih, Miss." Ucapannya terlihat tulus karena matanya hampir berkaca, namun tidak ada niat untuk menangis.
Akiko yang melihat hal tersebut mengangguk kecil, lalu menjawab, "It's okay."
"Pesawat telah Take Off."
💮🗾💮
15 Juli 2013
Setelah kurang lebih 15 jam 35 menit di udara, akhirnya Akiko berhasil datang ke Jepang lagi pukul 06.00 dipagi hari.
Mungkin Inggris sudah malam karena perbedaan waktu dunia bagian Barat dan Timur. Jadi Akiko akan menelpon Violet atau Steve nanti saat mereka sudah bangun disore hari waktu Jepang.
Setelah mengambil kopernya dari ruangan pengambilan bagasi pada area kedatangan penumpang, dia berjalan di lobby Bandar Udara Chitose Baru menuju pintu keluar. Sekarang Akiko sedang menunggu depan pintu keluar bandara untuk menemui kakaknya yang akan datang menjemput.
Dari kejauhan, Akiko melihat seorang wanita mendekatinya dengan melambaikan tangan sambil memegang tas disebelah kirinya. Akiko langsung mengenalinya lalu menyapa, "Konniti ha, Oni-chan, Hana-san."
"Konniti ha, Akiko-chan." Mereka saling membungkuk sebagai tanda hormat resmi. Mungkin karena waktu telah berlalu cukup lama, mereka menjadi canggung satu sama lain dan akhirnya bersikap formal sebagai permulaan. Kemudian Hana berbasa-basi. "Sudah lama kita bertemu lagi. Kenapa kau tidak menelpon-ku lagi?"
Tapi tidak disangka Akiko malah menyindirnya. "Kenapa? Bukannya Hana-san yang tidak menjawab teleponku?" Ucapnya ketus. Akiko ingat percakapan terakhir yang mereka buat beberapa bulan yang lalu hanya berlangsung kurang dari 1 menit sebelum akhirnya Hana mematikan sambungan secara sepihak karena sedang sibuk menghadiri rapat harian.
"Hana-San-"
"Sssht, aku telepon lagi nanti. Aku sedang rapat. Piip..."
Memikirkannya saja Akiko menjadi frustasi.
Hana meminta maaf berkali-kali didepan Akiko sambil menjelaskan semua alasannya. Dari kesibukan saat bekerja, membantu ayahnya menjaga toko, mengerjakan pekerjaan dirumah, sampai lupa menelpon. "Gomae, gomae. Tapi aku benaran sibuk akhir-akhir ini. Bekerja di Perusahaan Swasta itu memerlukan energi ekstra, lalu aku harus membantu Otau-san, dirumah pun masih ribet mengurus ini-itu karena kamu tidak ada sampai aku lupa menelponmu. Hehe."
Hana tertawa datar untuk mencairkan suasana. Untunglah Akiko cepat memaklumi dan melupakan semua kesalahan Hana, kalau bukan karena Akiko sedang terburu-buru. "Baiklah. Ayo kita pulang." Ucap Akiko saat berjalan keluar dari pintu bandara.
Hana mengikuti dari belakang sambil berlari kecil sampai bisa sejajarkan jaraknya dengan Akiko. "Jangan cepat-cepat Akiko!" Keluhnya ditengah jalan.
Tujuan mereka sekarang adalah ke terminal untuk menaiki bus menuju Subprefektur¹ Ishikari, tempat rumah mereka berada. Berbeda dengan lokasi sekolah Alice yang berada di Prefektur Sapporo.
Ishikari adalah Subprefektur, Prefektur Hokkaido, Jepang, yang terletak di bagian barat pulau. Hampir berdekatan dengan Sapporo jika menggunakan alat transportasi seperti kereta atau bis. Itu sebabnya Akiko sangat mempercayakan Alice kepada keluarganya di Ishikari sebagai Wali jika ada urusan menyangkut sekolah dan lain-lainnya. Terutama Hana sebagai Bibi Alice dan kerabat terdekat.
Cahaya matahari masih enggan menampakan diri. Namun perpaduan warna gradien biru dan putih membuat langit tampak jernih dengan awan pagi yang terlihat seperti kapas.
Jalanan beraspal disekitar mereka tidak menghambat pertumbuhan rumput liar dan beberapa bunga kecil berwarna terang disetiap cela trotoar. Mereka menyatu dengan sempurna pada bangunan yang dekat dengan jalan dan memberikan kesan tersendiri.
Meski ada banyak perubahan dibeberapa sudut seperti kemunculan beberapa toko baru, hilangnya fasilitas lama, dan lingkungan yang mengalami pembaruan, Akiko masih mengenali jalan yang biasanya dia lalui bersama teman-teman saat pulang sekolah. Dan terminal yang sekarang ada didepan matanya. Walaupun sudah mengalami perubahan.
"Banyak yang berubah selama aku tidak ada ya?" Ucap Akiko berbasa-basi. Lalu Hana membalasnya dengan anggukan. "Hai! Kapan-kapan aku akan mengajakmu berkeliling. Aku tahu restoran enak dekat sini." Hana menyenggol bahu Akiko sambil mengedipkan matanya. Sedangakn Adiknya malah menunjukan ekspresi jijik dengan ringisan kecil. "Ishh...." Dengus Akiko.
Tiba-tiba mereka saling bertatapan tajam selama detik didepan pintu masuk terminal. Kemudian menahan kedua sudut bibir mereka yang naik dengan sendirinya. Lalu karena tidak tahan, mereka malah tertawa lepas. "Bwahaha!" Tawa mereka pecah saat masuk kedalam dan saling merangkul hangat. "Aku rindu kamu, Akiko." Perkataan Hana membuat Akiko semakin mengeratkan pelukannya.
Dan tiba-tiba melepaskannya karena sekarang ada banyak orang yang melihat mereka disekitar. "Haha, ayo ke counter untuk ambil tiket." Ucap Akiko canggung. Lalu Hana langsung membalas, "Lama tinggal di Inggris bahasanya jadi dicampur-campur." Candaan Hana dibalas pukulan pelan oleh Akiko berkali-kali.
Setelah itu, mereka melihat beberapa jalur bis menuju beberapa destinasi berbeda yang mencangkup semua wilayah disekitar pulau Hokkaido. Mata Hana terpaku pada jalur menuju Ishikari agar Akiko dapat beristirahat dan meletakkan barang-barangnya, namun adiknya malah memilih jalur menuju Sapporo langsung.
Mereka saling berdebat diruang tunggu tentang keputusan mereka yang berbeda. "Dik, kau baru sampai. Ayo ke rumah dulu." Bantah Hana yang membuat Akiko berpikir kembali. Tidak mungkin dia mengunjungi Alice sambil membawa koper besar di asramanya. Lagipula mungkin sekarang Alice sedang bersiap untuk belajar, Batin Akiko.
Akhirnya dia mengalah dan membiarkan Hana memilih destinasi bis mereka. Setelah beberapa menit Akiko menunggu dibangku terminal, akhirnya Hana kembali dengan dua tiket bis ditangannya. "Ayo dik." Ajakan Hana yang membuat Akiko berdiri kembali. Lalu mereka bersama-sama pergi menuju bis yang baru datang.
🚃🎡🚃
Setelah turun dari bis, akhirnya Hana dan Akiko sampai di Ishikari. Lalu dilanjutkan perjalanan beberapa kilometer melewati pertokoan, sampai mereka bisa melihat sebuah rumah yang kelihatannya kecil dikomplek perumahan yang padat.
Kayu mendominasi bahan dasar dari rumah tersebut. Halaman depan berukuran sekitar 2 meter dengan pagar besi dan balok beton disekitarnya. Kotak pos yang berwarna merah ada disebelah kiri pagar besi dan belum terisi.
Tampak depan rumah tersebut sederhana dengan pintu yang terbuat dari bambu, 2 jendela yang tidak diisi kaca tapi semacam kertas minyak, dan beberapa tanaman tumbuh dengan baik dihalamannya. Hijaunya dahan dan warna yang beragam dari bunga-bunga seperti menyambut kedatangan Akiko dan Hana dengan ramah.
Saat mereka masuk kedalam rumah dan mengucapkan salam, tidak disangka pasangan suami istri lansia telah menunggu didepan pintu masuk sambil mengucapkan, "You Koso(Selamat datang)!" Bersamaan.
Akiko terkejut dengan perayaan kepulangannya yang tiba-tiba sehingga dia membelalak kaget sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya karena tidak percaya.
"Selamat datang kembali, nak." Ibu Akiko memeluknya dengan hangat sebagai pelampiasan rasa rindunya. "Okaa-san..." Akiko tiba bisa berkata-kata lagi karena dulu telah berpikir mereka telah melupakannya. Dalam pelukkan Ibunya Akiko membalas pelukannya dengan sedikit tersenyum.
"Akiko-Chan, putriku sudah pulang." Akiko mendengar suara serak yang berat tersebut berasal dari ayahnya. Saat dia mecoba mencari sosok pria itu, Gin Yamada sudah berada depannya. "Bagaimana kabarmu nak?" Tanyanya lembut.
Tiba-tiba Akiko cemberut dan menautkan kedua alisnya, "Otau-san tidak pernah bilang bisa memakai ponsel." Gin tersenyum kikuk saat ingin menanggapi Akiko, lalu menggaruk lehernya grogi. "Ah, ya ya maaf. Aku juga baru belajar sedikit-sedikit." Jawab Gin canggung.
Keluarga Yamada akhirnya bersatu lagi. Reuni kecil ini bermula dari Akiko yang dipersilahkan membereskan kopernya didalam kamar lamanya bersama Hana. Setelah itu mereka berbincang ringan tentang keseharian masing-masing diruang tamu sambil menunggu Ayako Yamada-Ibu Akiko- selesai memasak.
Hana mengawalinya dengan topik tentang pekerjaan barunya yang belum Akiko ketahui sehingga membuatnya mengangguk paham lalu memuji Hana. "Eh? Benarkah?! Selamat Oni-chan, aku turut senang!" Ucapan Akiko membuat Hana tersipu, lalu membalas, "Haha, terima kasih Akiko."
Kemudian Gin melanjutkan dengan topik pendapatan toko kelontongnya yang meningkat. Tentu saja Hana dan Akiko yang tidak mengerti topiknya hanya menyimak dan mengangguk kecil karena tidak ingin menyakiti hati tua Gin.
Lalu Akiko mencoba bertanya tentang Alice dengan harapan keadaannya baik-baik saja. "Ah, Alice! Apakah sekolahnya lancar?" Tanyanya. Tiba-tiba Hana yang sedang meneguk air putih tersedak lalu batuk beberapa kali sehingga membuat ayah dan adiknya khawatir. Tapi ucapan pertama Hana saat sudah pulih malah membuat Akiko menjadi kacau saat mendengarnya. "M-Matte, memangnya Alice sudah di Jepang?"
Spontan Akiko menjerit, "Jangan bercanda! Aku sudah mengatakan padamu jauh-jauh hari." Gertakan Akiko membuat sekitarnya ikut terkejut. Hana bersumpah tidak bertemu Alice hari itu, bahkan dia menunggu selama beberapa jam dibandara sampai malam. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Alice.
"Maaf dik." Hana tidak tahu harus perkataan apalagi karena kesalahannya. Tapi Akiko yang baru sadar dari frustasinya menyangkal, "Tidak, tidak..." Yang membuat Hana keheranan.
Ini bukan tanpa alasan, Akiko baru ingat bahwa dia memberitahu Alice untuk langsung pergi ke sekolahnya saat mereka sedang sarapan. Padahal sudah meminta bantuan Hana untuk menjemput Alice. Baka, baka... Umpat Akiko dalam hati.
Gin yang ikut terbawa suasana langsung berdiri dan spontan berkata, "Ayo ke kantor polisi!" Dengan terburu-buru, Gin masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian walaupun Akiko sudah memberitahunya. "Otau-san! Tidak usah, aku bilang pada anakku untuk langsung ke sekolah." Ucap Akiko tidak kalah paniknya karena salah bertindak.
Tentu saja ucapan Akiko yang sebelumnya membuat semua orang panik, langsung marah besar padanya. Terutama Hana yang merasa dipermainkan, "Hah, apa?! Aku bolos kerja untuk menunggu anak yang sudah ada disekolahnya?!!" Teriak Hana kesal. Kemudian kakak-beradik ini saling berkelahi sampai Gin datang kembali untuk melerai mereka dengan jaket yang tidak terpasang dengan benar.
"Sudah, Sudah! Akiko, kalau bertindak pikirkan dulu. Kau jadi menyusahkan kakakmu." Sambil merapihkan jaketnya, Gin mengomeli Akiko yang sekarang tertunduk malu. Hatinya seperti tertusuk dalam, tapi Akiko tetap menerimanya dengan lapang dada. Bukan hanya Akiko, Hana juga ikut dicercah karena tindakannya memulai perkelahian dengan menjambak rambut Akiko.
Akhirnya mereka diminta bermaafan dengan perasaan terpaksa daripada menghadapi omelan Gin terus-terusan.
"Maafkan aku."
"Ya, maafkan aku juga."
Ucap Akiko dan Hana berturut-turut yang sebenarnya tidak niat.
Ring, Ring....
Tiba-tiba suara telepon rumah berdering. Spontan, Hana yang biasanya mengangkat telepon berdiri lalu berjalan kearahnya. Saat sudah berada dekat dengan telepon kabel tersebut, Hana mengambil gagangnya lalu menjawab, "Moshi, moshi. Dengan kediaman Yamada."
Kemudian suara dari seberang membalas, "Good Morning, -ehem- Apakah benar dengan Hana Yamada?" Hana terpelatuk karena namanya terpanggil. Terlebih lagi orang yang memanggil sepertinya adalah laki-laki dari vokalnya yang berat dan anehnya logat yang dia gunakan tidak seperti orang Jepang asli. Lebih mirip orang luar.
Namun Hana berusaha tetap tenang dan mencoba bertanya dengan selidik tentang identitas penelpon misterius ini. "Iya, ini dengan siapa?"
Tidak ada balasan lagi dari seberang yang menjawab pertanyaannya. Lalu tiba-tiba terdengar suara glitch dan sepertinya ada percakapan singkat yang terjadi. Walaupun sangat pelan, Hana dapat mendengar,
"Here you go kid."
"Thank you."
Dalam hati, Hana berpikir keras maksud dari telepon ini. Kenapa namaku dipanggil? batin Hana kebingungan. Setelah beberapa detik kemudian, akhirnya ada balasan. Tapi kali ini suaranya berbeda karena bervokal tinggi dan ringan. Dan lagi, logatnya bukan dari orang Jepang asli.
"Moshi, moshi. Bibi Hana-san, ehm...sebenarnya kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi aku harap bibi kenal namaku dari Okaa-san."
Okaa-san? Apa mungkin Akiko? Rasa curiga menyeruak di hati Hana dan muncul sebuah kemungkinan. Apa mungkin...
"Namaku Alicia Yamada Henkis. Biasa dipanggil Alice. Aku adalah anak dari adik bibi. Saat ini aku butuh bantuan."
[To Be Continue!]🍵
_____________
¹Subprefektur adalah sebuah pembagian administratif sebuah negara yang berada di bawah prefektur atau provinsi.