
"Gomae kak Naoki!!"
Entah sudah keberapa kali aku menyebutkan kalimat itu berulang-ulang. Aku tertunduk karena malu dan tidak sanggup membalas tatapan mata Naoki yang tajam. "Aku..." Bahkan sampai kata-kataku terputus karena kelelahan mengatakannya. Tapi tidak bisa meredakan amarah Naoki yang menyebar keseluruh ruangan. Bahkan Enji yang tidak terlibat ikut menunduk bersamaku.
Buagh!
Tiba-tiba Naoki melempar sebuah bantal tepat ke wajah kak Akbar. Kak Akbar menerima lemparan itu dengan terkejut sehingga mundur beberapa langkah.
Kejadian itu membuatku syok sehingga tidak mampu bergerak dan mematung. "Jika kau memang menyesal," Wajah Naoki yang sebelumnya fokus ke depan saat melempar bantal, perlahan menengok kearahku. Sorot matanya mengintimidasi dan ekspresi wajahnya membuatku ketakutan. Atmosfir terus bertambah berat seiring berjalannya detik. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain diam bagai penjahat yang sedang di hakimi.
"Lupakan nama itu, dan jangan pernah sekali-kali menyebutnya." Aku tahu Naoki tidak suka julukan itu, tapi aku tidak tahu kenyataannya sampai se-sensitive ini. Sebelumnya dia tidak pernah membentakku karena menyebut julukannya. Dan lagi, aku tidak sengaja menyebutnya sambil berpikir mungkin ini hanya bercandaan kecil untuk menghibur. Tapi Naoki yang saat ini aku hadapi adalah orang yang berbeda. Dia lebih serius.
"I-Iya."
***
Kebingungan, tertekan, dan sedih pasti perasaan yang sekarang dia pendam. Tapi kenapa aku yang menjadi sesak?
Bertahun-tahun aku sudah terbiasa dengan hal ini walaupun dalam hati merasa bersalah. Semua agar mereka patuh padaku, tidak kurang dan tidak lebih. Tapi sekarang rasanya sangat aneh.
... "Tapi menurutku, julukanmu itu unik. Menggambarkan dirimu yang baik dan lembut. Aku suka."...
Darimana ingatan itu berasal? Aku tidak pernah ingat ada orang yang memuji julukan terkutuk itu. Cih!
Meski dia menundukkan wajahnya, aku masih dapat melihat sorot matanya. Tatapannya kelihatan sebam dan sangat tertekan. Aku membenci tatapan itu walaupun sudah sering melihatnya dan pergi begitu mudahnya sambil mengabaikan hal dibelakangku. Kejam memang, tapi lebih baik daripada harus berempati dan membiarkan hatiku hancur bersama citra diriku.
"Kak Naoki, aku minta maaf." Sudah ke 17 kalinya kau mengatakan hal itu. Dan setiap kali mendengarnya aku semakin merasa bersalah. "Sudah, pergi sana!" Terpaksa aku mengusirnya pergi karena tidak tahan.
Maka perlahan dia melangkah mundur. Setelah membungkuk hormat, dia berpamitan pergi. Enji yang khawatir mengikutinya keluar dari kamar. Aku dapat mendengar bunyi pintu yang berdecit.
Haruskah aku merasa senang karena kepergian ini?
Buagh.
Bantal yang seharusnya lembut tiba-tiba terasa keras saat menimpa wajahku. "Hey!" Tentu saja si Gorila Hitam Akbar yang melemparnya. Aku ingin melanjutkan ucapanku, tapi belum sempat aku menarik nafas, dengan kasarnya Akbar menyentak didepan wajahku. "Sumpah. Lo. BO-DOH BANGET!!"
Aku cukup terkejut, tapi juga sangat marah. Berani-beraninya dia menyalahkanku karena mengusirnya pergi. Padahal, "Kisane yang memulainya dulu!" Ucapku membela. Akhirnya menit-menitku yang berharga habis secara percuma karena adu mulut tentang masalah sepele ini. Seharusnya bisa cepat selesai karena Akbar tahu sifatku yang satu ini.
Tapi dia terus membela gadis yang baru kita temui. "Apa spesialnya gadis ini? Maksudku, kau tahu aku. Kenapa lebih memilihnya?" Aku berusaha menenangkan diri dan merendahkan suaraku agar suster tidak datang untuk mengomeli kami karena membuat keributan.
Akbar menghela nafas kasar, lalu mengusap kedua matanya perlahan. "Gadis ini, Gadis itu, lo kira dia gak punya nama? Alice baru saja memberi tahu namanya! Inget, A-L-I-C-E." Akbar menyilangkan kedua tangannya sambil mengeja nama itu.
Aku tidak peduli dia siapa ataupun namanya. Jawab saja pertanyaanku! Aku ingin menyatakannya tapi pasti akan memperkeruh suasana. Apalagi Akbar saat ini tiba-tiba menjadi keras kepala. Terpaksa aku mengiyakan ucapannya. "Iya, iya. Namanya Alice, puas?" Akbar menggelengkan kepalanya keras sambil memejamkan matanya tidak puas. Cih, jadi apa maumu sebenarnya?
"Kamu bener-bener lupa?"
"Hah? Just to the point!"
Aku menjadi semakin muak dengan pembicaraan ini. 'Lupa'? Memangnya aku pernah melupakan apa?
"Hah... Ini lumayan rumit, kamu juga tidak akan percaya." Karena lelah berdiri, Akbar mendekat kearahku untuk duduk dibangku bundar di sebelah kasurku. Kemudian dengan intens menatapku dari atas ke bawah sehingga aku merasa risih. "Katakan saja." Ucapku tidak sabaran.
Setelah mengambil nafas panjang, lalu perlahan menghembuskannya, Akbar mulai berkata, "Jadi begini Naoki, selama..." Tiba-tiba suara Akbar terputus. Lalu dengan mata yang membulat dia menatap lurus kearah jendela. Penasaran, aku mengikutinya.
"UWAAA!!!" Saking terkejutnya, aku sampai jatuh dari kasur dan membentur lantai. Rasa sakit di punggung dan tulang ekorku tidak sebanding dengan kengerian yang sedang aku alami. Sesosok Youkai¹ mengerikan menempel di kaca jendela sambil menatap kami dengan sorot mata yang tidak bisa aku jelaskan. Matanya ada lebih dari 2 dan semuanya berfokus kepadaku bagai menatap jiwaku lekat-lekat. Warnanya hitam pekat dan tubuhnya yang besar dengan lengan yang ramping menutupi hampir semua bagian jendela.
Ini sepertinya mimpi buruk, tapi terasa sangat nyata. "A-Akbar, k-kau melihatnya 'kan?" Untuk memastikan kewarasanku, aku bertanya kepada Akbar yang sekarang sudah bangun dari bangkunya untuk membantuku berdiri. Dia membopongku dengan tangannya, lalu meletakkanku kembali ke kasur tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Kemudian berjalan kearah jendela dan menutupinya dengan gordeng. Sekarang aku tidak bisa lagi melihat Youkai itu, tapi rasa bergidik ini masih bertahan.
"Hiraukan saja. Makanya perbanyak doa kalau lagi sendirian." Tanpa rasa takut sedikitpun, Akbar dengan santainya berkata demikian. Tentu saja, dia juga bisa melihat hal 'itu'. Tapi tidak kusangka aku juga bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
"KYAAAAAA! K-Kak i-itu... Susternya!!!"
"UWAAA!! Kepalanya hilang!"
Aku mengenal suara ringisan dan teriakan ini. Dan tidak berapa lama kemudian, ada bunyi derap langkah kaki dan pintu yang terbantingkan. Lalu tiba-tiba ada suara jatuh yang cukup keras hingga aku tersentak. "Hey! Ada apa?" Ucap Akbar khawatir sambil membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Karena penasaran, aku menghampiri sumber suara tersebut dan menemukan Enji dan, ... Alice terjatuh dilantai.
Kemudian mereka bangun kembali dan mengusah pakaian masing-masing yang berdebu. Aku melihat ekspresi ketakutan diwajah mereka yang terlihat pucat.
Tak, tak, tak. Suara aneh datang dari belakang mereka. Bersamaan dengan itu, seseorang membuka pintu dengan cukup keras sehingga bunyi benturannya terdengar. Refleks aku menutup telinga karena terkejut.
Aku bisa melihat sosok yang membanting pintu tersebut dengan tertatih-tatih berjalan mendekat. Penampilannya mungkin seperti suster, tapi dia bukan manusia. Kepalanya hilang dengan keempat anggota geraknya yang sudah patah. Darah berceceran dipakaian dan lantai saat dia berjalan. Kakinya semakin payah dalam bergerak karena memakai high heels sambil menjaga keseimbangannya.
"Pergi!" Sambil menatap waspada suster hantu itu, Alice ucapkan satu kata yang tidak berguna. Bodoh! Youkai tidak mungkin diusir semudah itu. "Jangan mendekat!" Teriakan lanjutan dari Enji. Astaga, dia ikut menjadi bodoh seperti ini.
Meski mereka menyuruh hantu itu untuk pergi, dia mengabaikan ucapan tersebut dan tetap berjalan mendekat. "Per-Pergi.. lah kumohon." Percuma saja kau mengatakan hal itu Alice. Kau yang seharusnya Pergi!
Jarak antara ketiganya semakin dekat. Aku heran kenapa Akbar tidak menghadang Youkai itu dan mengusirnya pergi. Dia hanya diam ditempat dan melihat mereka seperti, penonton. Sedangkan Enji dan Alice sama saja. Diam ditempat sambil memohon untuk mengusir hantu yang tidak bisa bernegosiasi.
Aku memperhatikan dibalik tirai tempatku dan berharap mereka mampu membalikan suasana. Tapi sampai jarak diantara mereka tinggal sejengkal saja tidak ada perubahan yang berarti. "Akh!" Alice memegang lehernya sambil gemetaran. Matanya membelalak dan mulutnya menganga. Dia meringis sambil berbisik, "Sakit." Berulang kali sampai tubuhnya kelihatan melemah dan akhirnya jatuh dalam pingsan seperti Enji.
Yang benar saja! Bisakah ada seseorang yang bertindak sekali ini saja daripada aku. Akbar tidak berguna, dia masih mematung ditempat sambil memegang lehernya gemetaran. Aku tidak bisa membantu karena terhalang ego yang besar. Dan jika bisa, apa yang harus orang sakit lakukan?
"Ki... Naoki..." Suaranya bisikan tiba-tiba terdengar memanggil namaku. Aku membuka telingaku kembali dan melihat kearah Akbar yang sedang menatapku sayu. "Kau... bisa, kumohon."
Dia memintaku untuk melakukan hal yang selama ini telah aku hindari. Menunjukan empati, membantu seseorang. Bahkan diperparah setelah aku memarahi mereka sebelumnya. Mau ditaruh dimana wajahku?
Hah...., Masa bodoh.
"Pergilah sialan!" Dengan langkah cepat aku berlari kearah suster yang sedang membungkuk untuk menarik rambut Alice. Kedatanganku yang tiba-tiba membuatnya terkejut ditambah refleksku menendang tubuhnya yang rapuh sampai terpental keluar dari kamar dan menghilang bagai asap.
"Amazing! Aku pikir ego-mu lebih besar dari nurani-mu. Aku bangga padamu Naoki." Nada menyebalkan yang Akbar buat didalam ucapannya membuatku memutar bola mata malas. "Terserah kau saja." Ucapku jengkel. Meski aku ingin membuat citra seperti diktaktor, tidak mungkin aku sekejam itu membiarkan adik-adikku sengsara.
"Hey, kalian tidak apa-apa?" Aku berlutut didepan kepala Alice dan Enji yang sedang pingsan. Aku sempat lupa tangan kananku di gips sehingga menggantinya dengan tangan kiriku yang bebas. Perlahan aku memutar kepala Enji yang tertunduk dilantai sampai aku dapat melihat wajahnya yang tertutupi rambut. Sepertinya dia harus potong rambut, Pikirku yang ironisnya rambutku lebih panjang daripada Enji. Mungkin aku juga harus meminta Okaa-san potong rambut.
"Enji!" Aku memanggil namanya. Tapi tidak ada respon. Rasa khawatirku semakin bertambah. Akbar yang dapat melihatnya berjalan mendekatiku untuk sekedar menemani. Dia tidak mencoba membangunkan Enji ataupun Alice mungkin karena dia juga kebingungan harus berbuat apa.
Menyisakan aku yang masih berusaha membangunkan kedua orang ini. "Alice? Enji? Bangunlah!" Hantu suster tadi bukan malaikat maut, tapi aku masih memikiran kemungkinan terburuk itu. Kematian.
"Alice, Alice! Kumohon bangunlah. Aku minta maaf karena memarahimu." Aku tidak rela jika hal ini memang terjadi lagi. Seperti maut memisahkan aku dengan Nero. Bahkan aku tidak tahu apakah aku adalah pemilik yang baik, sepertinya aku yang terburuk karena tidak tahu penyakit yang dia alami.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Janji!" Makanya kau harus sadar lagi.
"Do you mean it?" Aku mendengar suara beraksen Inggris. Saat aku melihatnya untuk memastikan dugaanku, ternyata benar dia yang mengatakannya. Maksudku, Alice yang mengatakannya.
Dia menatapku dengan sebuah senyuman dibalik rambut pirangnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya. "Kau janji jika aku memanggilmu MP, you won't mad again. Oke?" Sejujurnya aku ingin marah lagi karena kenyataan dia-atau mereka- ternyata mempermainkanku. Ditambah Akbar dan Enji yang tertawa kecil dibelakangku. Tapi itu tertepis karena janji dan rasa bahagiaku karena ternyata semuanya baik-baik saja.
"Promise or not to?" Alice bangun dan duduk dihadapanku dengan masih menagih janjinya. Aku mencoba mengambil nafas sambil menahan kesalku. Tapi akhirnya dengan senyum simpul aku berkata, "To promise." Sekarang aku tidak akan peduli lagi dengan omong kosong pencitraan. Lagipula aku sudah pensiun menjadi OSIS. Jadi tidak ada maknanya lagi.
"Thank you, my Mellow Prince."
Tiba-tiba Alice memelukku erat sehingga aku tidak bisa menghindar. Terlebih lagi aku masih syok karena kalimat terakhirnya membuatku merona merah. "Y-Your welcome?" Aku menjadi gagap dan asal menyebutkan kata-kata yang terlintas dipikirkan. Jalan otakku menjadi kacau balau karena momen ini dan tidak ada yang bisa aku lakukan. Waktu terasa melambat atau memang Alice tidak ingin melepaskan aku?
Tapi dilain sisi aku merasa seperti ada sesuatu yang aneh, seperti, De javu?
***
"A-Apa sih?!"
Aku melihat gadis manis itu merona merah. Dia menjadi bertambah imut. Andai aku bisa mengingat kembali wajahnya yang buram diingatanku. Tanpaku sadari, aku membiarkan emosi meluap dan memeluknya hangat karena rasa sayangku.
Aku mendengar keributan disekitarku tapi aku abaikan. Waktuku semakin sedikit, aku harus kembali tapi aku ingin dia tahu dimana aku berada. "Tolong jenguk aku di rumah sakit..." Kata-kataku terputus.
Sekelilingku berubah menjadi putih menyilaukan. Entah sekarang aku berada dimana, tapi aku merasa seperti terjatuh dan semuanya menjadi hitam seketika. Perlahan aku merasakan kehidupan dan kembali menarik nafas. Saat aku membuka mataku, wajah pertama yang aku lihat adalah Okaa-san. "Naoki! Syukurlah." Okaa-san menangis diatas tanganku dan memegangnya erat seperti tidak ingin aku pergi lagi.
Jadi, aku bangun kembali? Aku penasaran isi mimpiku sebelumnya.
***
"K-Kau gadis dalam mimpiku?" Entah kenapa kalimat itu bisa keluar dari mulutku. Alice yang mendengar ucapanku melonggarkan pelukannya dan menatapku bingung.
"Sore ha hontou desu ka(Apakah itu benar)?" Kalimat pertama yang Enji katakan saat sudah terbangun dari pingsannya. Senyuman kecilnya malah semakin membuatku kebingungan dan mengerutkan dahi karena ucapannya.
"Kita kembali ketempat semula dulu kak Naoki."
"Alice, kau tidak usah memanggilku dengan 'Kak'."
Entah mengapa sekarang saat Alice memanggilku dengan tambahan 'Kak' rasanya sangat aneh. Jadi aku membiarkannya melepas formalitas.
"Kalau begitu aku tidak perlu memanggil kak Akbar dan kak Enji dengan tambahan kak juga dong. Technically, you are older then Enji." Aku melihat Alice menjadi gugup seketika karena permintaanku. Saat melihatnya aku mencoba menahan senyuman karena dia terlihat lucu.
"Ya sudah, anggap saja kita sepantaran. Lagipula kita hanya beda beberapa tahun saja."
"Setuju, aku juga masih 15 tahun."
Akbar dan Enji secara berturut-turut menyetujui pernyataanku. Alice mengangguk kecil kemudian kami semua berdiri kembali lalu pergi menuju kasurku.
Setelah itu Alice mulai menceritakanku sesuatu yang membuatku tersedak saat meminum air mineral karena haus. "Uhuk..., uhuk. K-Kau tidak bercanda 'kan Alice?" Ucapku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
'Sebelumnya kita pernah bertemu saat kau masih menjadi hantu lalu kita kerja sama untuk menangkap pembunuhmu dan berhasil.' Dari intinya saja sudah frontal sekali, bagaimana bisa aku percaya cerita yang hampir mirip fantasi ini. Terlepas Alice yang mirip seperti gadis dalam mimpiku.
Alice cemberut dan menatapku lekat-lekat. Sedikit menyeramkan karena mengingatkanku kepada Youkai yang ada dijendela. Kemudian berpaling kearah Akbar dan Enji. "Akbar, Enji, dia tidak percaya." Setelah Alice mengucapkannya, aku mendengar mereka mengatakan, 'ck ck ck' dengan nada merendahkan.
Aku yang merasa tersinggung membalas, "Tidak mungkin hal ini aku bisa cerna baik-baik!" Aku pribadi adalah orang yang berpikiran rasional, jadi singkatnya, aku tidak percaya hal fantasi seperti yang ada di film dan komik. Saat menonton anime saja aku masih sadar dengan dunia realita. Soshite sore wa kanashīdesu(Dan itu menyedihkan)
Wajah orang disekitarku menjadi kecewa. Mereka tahu aku tidak akan mudah menerima 'kenyataan' tersebut. Maka Akbar sebagai perwakilan berkata, "Alice, tunjukan gelang itu." Gelang? Masa sih...
"Ingat tidak kau yang memberikan gelang ini? Untuk temanku." Alice menunjukan sebuah gelang yang dia pakai dipergelangan tangan kanannya. Mataku tidak sedang tertipu, gelang yang Alice pakai adalah yang asli karena akulah pembuatnya.
Sekian menit melihat gelang ditangan Alice dengan seksama membuatku terdiam. Orang-orang disekelilingku menjadi sedikit terganggung dengan hal ini dan mungkin menebak apa yang ada dalam pikiranku. Akhirnya setelah lama terdiam aku berkata, "Jadi semua mimpi itu adalah..."
"Ingatan."
Dan jika benar adalah ingatan, maka aku sangat senang karena mendapat kenangan paling indah dalam hidupku dan sangat bersyukur aku masih mendapat kesempatan untuk membuat kenangan indah lagi. Dan semua terlihat di hari ini saat teman-temanku datang berkunjung dengan memberikanku sebuah kejutan paling mengerikan yang pernah aku temui. Tapi dilain sisi mereka membantuku meruntuhkan ego terbesarku.
Aku menahan nafasku. Tapi masih berusaha untuk mengucapkan sepatah kata. "Terima kasih, teman-teman." Semuanya terlihat sangat lega. Mereka tersenyum dan sesekali tertawanya Akbar terdengar. "Dan Alice." Lanjutku yang membuat orang yang aku sebut terpelatuk. "Jangan pernah memanggil hantu lagi." Meskipun samar, aku ingat Alice bisa memanggil hantu jika dia, membaca? Entahlah, mungkin aku akan ingat sesuatu lagi.
"Haha, kau ingat ya?" Alice cekikikan dan terlihat canggung. Dia sekilas bermain dengan anak rambutnya dan menghindari kontak mata dariku.
"Promise or not to?"
"Hah, kau membalikannya. Mungkin nanti saja."
[The End!] 🎉
______________
¹Hantu