
London, pukul 19.36,
Sehari setelah kepergian Alice, 13 Juli 2013
Didalam sebuah apartemen lantai 7.
Seorang wanita bernama Akiko Yamada 'Henkis' memandangi jalanan kota London yang tidak pernah sepi sambil meneguk jus jeruknya bosan.
Semua lampu ruang tamu tempat dia duduk sekarang dimatikan, kecuali lampu lentera didekatnya. Kursi yang dia duduki memiliki busa dibawahnya namun Akiko selalu merasa tidak nyaman. Diatas meja yang dia gunakan ada sebuah buku filosofi yang baru setengah dibaca. Lalu ditutup dengan meninggalkan pembatas dihalaman terakhir yang dia baca.
Kotak berisi jus jeruk dan gelas menemaninya dikala sendirian itu. Tapi bukan teman yang bisa diajak bicara karena dia masih merasa kesepian setelah melihat putri tunggalnya pergi di bandara untuk melanjutkan sekolah. Dan Akiko tidak bisa pulang ke rumah karena terlalu sepi sehingga memilih menginap di apartemen adik iparnya.
Namun dia bersyukur pemandangan terakhir dengan putrinya hari itu dihiasi oleh senyuman diwajah mereka berdua. Lalu saling merelakan untuk berpisah.
Padahal dia selalu kasar terhadapnya setelah kepergian suaminya, Jack Henkis. Dan semua ini sebenarnya bukan salah Alice-putrinya-, bahkan bukan salah siapapun.
Tapi dia selalu menyalahkan Alice sebagai pelampiasan rasa frustasi, kemarahan, dan dengki yang selalu membutakan mata hatinya. Dan setelah dia mengingat semua perlakuannya yang dulu, kuduknya merinding dan hatinya dipenuhi rasa malu. Akiko gagal menjadi ibu yang baik.
Dan yang terparah, selama ini dia tahu apa Alice katakan adalah kenyataan. Bahkan pernah melihatnya sendiri, sosok 'teman khayalan' anaknya. Seorang gadis remaja berumur sekitar 16-an yang mengenakan gaun abu-abu tanpa beralaskan sepatu. Kulitnya putih pucat dengan mata berwarna hitam pekat. Rambut panjang sepinggang dan poni yang hampir menutupi sebelah matanya. Gadis itu ada dibelakang Alice saat berpapasan dengannya.
"Okaa-san! Ini teman aku, namanya Mandora Clementine." Ucap Alice bersemangat didepan seorang yang selalu dia panggil sebagai Okaa-san. Namun sekarang Akiko merasa tidak pantas menyebut dirinya sebagai 'Okaa-san' lagi.
"Alice, tidak ada orang disana! Jangan berkhayal!" Bentaknya tanpa menyadari hati gadis kecilnya tergores. Alice menahan tangisannya dibalik senyum kecil sambil berpikir, mungkin Okaa-san sedang lelah. "B-Baiklah Okaa-san."
Lagi, Akiko membentaknya karena ucapan yang keluar dari bibir Alice tanpa alasan. "Pergi ke kamarmu!" Karena itu Alice buru-buru menaiki tangga masuk ke kamarnya. Ada bunyi pintu yang dibanting dan rengekan kecil.
Dalam hati dia bertanya atas tindakannya, Kenapa aku melakukan membentaknya? Seharusnya itu tidak perlu. Apa aku lelah, sedang kesal, atau...
"***Kau ketakutan**? Tolong, jangan salahkan Alice karena dia berbeda denganmu*."
Perkataan sosok Mandora didepan matanya membuat Akiko terkejut. Mereka berhasil membuat kontak mata sehingga membuat Akiko panik. Namun dia berusaha fokus untuk bersikap biasa dan berjalan menembus tubuh transparan Mandora ke dapur. "Aku tahu kau berpura-pura." Hatinya hampir goyah oleh perkataan itu, namun dia tetap berusaha mengabaikannya.
Andai saat itu Akiko mau membuka hatinya kepada semua orang, terutama anak dan suaminya, tragedi ini tidak akan terjadi. Alice tidak akan kabur dari rumah dan Jack tidak perlu mati sia-sia. Tapi sekarang kejadian itu telah berlalu lebih dari 6 tahun. Tinggal penyesalan yang masih tersisa.
Penyesalan yang amat dalam.
Biib, biib... Tiba-tiba bunyi bel pintu terdengar. Lalu datanglah pasangan suami-istri yang masuk ke dalam apartemennya sendiri dengan membawa beberapa keranjang berisi barang belanjaan. Segeralah Akiko mendekati kedua orang tersebut dan membantu mereka merapihkan barang belanjaan tersebut.
"Akiko, kau tidak perlu repot-repot." Ucap Violet sambil membukakan kulkas yang terlihat kosong. Tapi Akiko menolak dengan gelengan kepala keras, "Tidak apa-apa. Aku yang memaksa."
Steve yang melihat istri dan saudara iparnya terlihat senang karena setidaknya pekerjaannya sedikit teringankan. Dia membayangkan kedua orang ini adalah pembantu dan dirinya-lah si raja.
Maka dengan santainya Steve mengambil buku yang baru dia beli dan duduk disofa. Televisi yang ada depannya hanya sebatas furnitur untuk menemani Steve, tapi tidak dinyalakan.
Tanpa basa-basi, sampul plastik yang menyegel buku itu Steve robek sampai terlepas sepenuhnya, lalu bekas sobekan plastik itu dibuang tanpa arah sampai jatuh ke lantai. Mulailah dia membaca halaman pertama berupa kata pengantar, daftar isi, lalu bab pertama.
Violet yang melihat Steve melempar sampah sembarang marah besar. "Steve! Ambil lalu buang yang benar sampahnya." Omelnya dengan tatapan tajam dan ekspresi terganggu. Dia berkecak pinggang dan bersiap untuk memarahi Steve lagi. Namun Steve larut dalam membaca sehingga hanya menjawab, "Nanti." Singkat.
Kesal dengan sikap tidak peduli suaminya, Violet berjalan kearah Steve dan mengambil paksa bukunya. "'Paranormal Activity'?" Gumamnya saat membaca judul dalam cover buku tersebut. "Untuk apa kau beli buku ini?" Tanya Violet kebingungan sambil menatap Steve tidak percaya.
Dia tahu Steve bertingkah aneh belakangan ini. Mungkin karena hobi barunya. Tapi saat melihat buku ini, Violet harus memastikannya kembali. Steve yang terkejut, refleks berdiri dihadapan Violet untuk mengambil bukunya kembali.
"Please, give it back Violet." Ucapnya lembut agar Violet mau memberikan bukunya secara sukarela. Namun lawan bicaranya malah membolak-balik halaman buku dengan cepat karena penasaran. Steve berusaha sabar sampai Violet selesai 'membaca'.
Beberapa menit kemudian, raut wajah Violet menjadi kebingungan bercampur syok setelah dia menutup buku itu kembali. "Kau sudah selesai?" Tanya Steve sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil buku itu.
Namun Violet tetap menyimpannya dalam dekapan. "Steve! Kenapa kau habiskan beberapa ratus Euro¹ untuk buku ini?" Wanita berkebangsaan Irlandia ini memaki Steve berkali-kali karena hobinya telah membuang banyak uang yang seharusnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Steve sendiri menunduk sambil menghadapi takdirnya.
"Sudahlah Violet." Akhirnya Akiko sebagai pihak ketiga melerai pertikaian sepihak mereka. "Kau tidak akan percaya Akiko, 'orang ini' membeli buku tidak berguna." Violet memberi buku yang dia pegang ke Akiko agar dia membaca dan ikut sependapat dengannya.
Tapi sebelum Akiko membuka halaman pertama buku tersebut, tangannya terasa licin dan menjatuhkan buku itu. Dengan satu gerakan cepat Steve berusaha mengambil kembali buku yang beberapa senti lagi akan jatuh ke lantai. Namun dia kurang cepat sehingga buku itu jatuh dan menghasilkan bunyi benturan pelan. "Oh My God. Hati-hati Akiko." Ucap Steve sambil mengambil kembali buku yang terjatuh dengan posisi menyedihkan.
"I-i'm sorry." Suara Akiko terdengar lemah karena dia masih terkejut saat melihat cover buku tersebut. Covernya berupa gambar ilustrasi seorang pria yang memegang bola ajaib ditangannya, lalu ada banyak bayangan hitam dibelakangnya.
Yang membuat Akiko bergidik adalah bayangan hitam yang semula menatap pria itu tiba-tiba terlihat menatapnya dengan tajam.
"It's oke dear. Ayo bantu aku membuat makan malam." Ucapan Violet membuyarkan lamunan Akiko. Maka setelah mengangguk kecil, Akiko berjalan ke dapur yang dekat dengan ruang tamu dan mulai mengelurkan beberapa bahan makanan yang mungkin diperlukan. Karena Violet akan membuat Chicken Wings, Akiko mengambil beberapa sayuran dan potongan sayap ayam di kulkas. Rempah-rempah dan penyedap bisa menyusul.
Selama dia mempersiapkan barang-barang, Akiko tidak sadar Violet dan Steve sedang berdiskusi. Awalnya Violet berpikir permintaan Steve aneh dan mengabaikannya. Tapi akhirnya luluh setelah beberapa kali dibujuk oleh Steve. "Baiklah." Ucap Violet yang setuju. "Be nice while i gone. Oke sweetheart?" Steve mengangguk mantap dengan perkataan Violet.
Maka Violet berbalik arah mendekat Akiko. Setelah dia berada disamping kirinya sambil membersihkan potongan sayap ayam, Violet menyuruh Akiko untuk ke ruang tamu karena permintaan Steve sedangkan dia akan menyibukkan diri didapur untuk memasak makan malam.
Akiko menurut lalu menghampiri Steve dan duduk di sofa yang berbeda dengannya, sofa tunggal disebelah kanan sofa utama yang Steve gunakan. Sambil mengatur nafasnya, Akiko bertanya, "Ada apa Steve?" Lalu dibalas dengan sebuah amplop yang diserahkan Steve kepadanya dari saku bajunya.
"Aku dapat surat dari Ayahmu, Akiko. Dia sangat merindukanmu." Ucap Steve lembut saat memberikan sepucuk surat itu. Ada sedikit rasa curiga saat Akiko menerimanya.
Jarang-jarang Otau-san kirim surat. Bukan hanya itu, kenapa juga Steve yang menjadi penerima suratnya dan bukan Akiko langsung jika Ayahnya memang 'rindu'.
Akiko mengulurkan tangannya untuk mengambil surat yang ada ditangan Steve. Lalu membuka lipatan di amplop tersebut dan mengambil kertas kecil didalamnya sampai dia melihat tulisan tangan dari tinta pulpen.
Tulisannya bukan dari Kanji, namun Alfabet yang membuat kecurigaan Akiko terkuak. "Kenapa tulisannya begini?" Tanya Akiko selidik. Steve menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Ayahmu pikir kau lupa kanji." Jawab Steve tenang. "Daripada itu, apa tulisannya?"
Steve mengalihkan pembicaraan, batin Akiko. Namun dia lebih terkejut bahwa Ayahnya menganggap Akiko lupa tanah air.
"Baiklah." Satu kata singkat Akiko telah mengobati rasa gugup Steve. Akiko menyiapkan hatinya untuk mulai membaca. Dia tidak ambil pusing karena pengiriman yang berupa kertas karena ayahnya memang belum terbiasa dengan email dan teknologi semacamnya.
Tapi dia merasa resah saat membaca isi kertas tersebut. Terlihat hanya berisi 2 paragraf. Jika memang 'rindu' seharusnya ada banyak paragraf dan halaman untuk ditulis. Kertas pun bukan barang paling langkah.
Akiko berpikir ada banyak kejanggalan dalam surat ini. Namun dia masih tidak mengerti kenapa Steve memberikannya. Maka sebelum dia memberi tahu isinya, dia membaca sejenak kata-katanya dalam hati.
"Akiko, ada apa?"
"Sebentar Steve."
Akiko berusaha sabar dengan sikap aneh Steve belakangan ini. Namun saat dia membaca kertas ditangannya, Akiko merasa sikap ini sudah kelewatan.
'Bagaimana kabarmu, Nak?'
Saat melihat baris pertama itu, Akiko sadar ini bukan surat dari ayahnya. "Apa maksudnya ini?" Steve terkejut saat Akiko meremas kertas itu menjadi bola kecil lalu melemparnya ke depan meja.
"Sial." Gerutu Steve pelan. Namun tidak disangka Akiko mendengarnya lalu membentak keras. "Steve! K-Kenapa berbohong? Bahkan sampai membawa Otau-san?" Akiko paling benci jika nama orang tuanya dibawa dan ini adalah petaka bagi Steve padahal dia sudah mengetahui konsekuensinya, tapi masih berpikir semua akan berjalan lancar.
"A-Akiko, tenanglah."
"Kotae Ha(Jawaban)!"
Akiko menatap Steve tajam dengan tangan disilangkan. Alisnya bertautan dan kakinya dihentakkan berkali-kali dilantai sambil menunggu jawaban Steve.
Setiap detiknya menyakitkan karena oksigen terasa menipis. Atmosfir menjadi berat sehingga suara hati kecil Steve memintanya mengungkap kebenaran yang dia sembunyikan dihadapan Akiko.
Setelah dia mengambil nahas cepat lalu mengatur kembali posisi duduknya, Steve berusaha menatap balas Akiko sambil berkata, "Dengar, mungkin ini terdengar gila, tapi aku percaya perkataan Alice sekarang."
Kata-kata itu bagai membalas serangan dingin Akiko. Sekarang wanita itu membuang muka sambil mempertahankan posisi duduknya dengan angkuh. "Jangan bercanda." Ucapnya marah, namun lebih mirip ketakutan.
"Memangnya aku terlihat seperti ingin bercanda?" Steve menaikkan nada suaranya sehingga Akiko terkejut. Namun ini terlalu awal karena ucapan Steve masih berlanjut. "Seperti orang yang pura-pura bodoh dan menjebloskan anak sendiri ke RSJ sehingga dia punya catatan medis Skizofernia yang ternyata palsu?"
"Atau menyalahkannya karena kematian seseorang selama bertahun-tahun? Itu keterlaluan dan kau tahu itu." Tiba-tiba emosi menguasai Steve. Dia tidak bisa menahan diri untuk terus memaki Akiko terhadap kejadian yang telah berlalu dan sikap tidak pedulinya.
Selama ini Steve diam, tapi sekarang dia harus melakukan tindakan benar. Jika Akiko tidak pernah 'ditampar' realita, selamanya dia akan lupa akibat 'omong kosong' yang menyebabkan Jack dan Alice harus menderita. Sedangkan wanita yang paling dekat dengan mereka diam tidak berdaya padahal dia yang paling tahu. "Meski palsu, aku tahu satu hal yang asli dari Ayahmu. Kau bisa melihat hantu seperti Alice jika diberi suatu media, contohnya surat ini."
"Baca kalimat dikertas ini dan buktikan jika aku salah." Ucap Steve memberi tantangan. Kali ini dia yakin seratus persen akan berhasil karena sekarang Akiko tidak bisa menyangkal. Dia telah terpojok.
Namun yang belum dia perkirakan adalah Akiko bisa melarikan diri jika terpaksa. "Ini sia-sia, aku akan membantu Violet." Balasnya sambil berdiri lalu membelakangi Steve.
Hal ini membuat Steve frustasi lalu secara tidak sengaja menyatakan kemarahannya. "AKIKO YAMADA! Putrimu menderita dan kau mengabaikannya! Suamimu meninggal dan kau melupakannya! Apa kau sadar atas semua perbuatanmu?!" Akiko mematung ditempat. Hatinya tertusuk lebih dalam dari sebelumnya saat mendengar teriakan Steve sampai tidak bisa berkutik.
"Alice tidak salah, kau yang salah! Sialan, jika kau jujur dari awal semua ini akan terjadi. Kakakku tidak perlu mati!"
Violet yang mendengar teriakan tersebut spontan menghampiri ruang tamu saat dia masih mengenakan celemek dapur. Lalu melihat Akiko yang meringkup membelakangi Steve yang membuat kegaduhan tadi. "Steve! Ini sudah malam."
Violet tidak bisa banyak bicara jika mereka membicarakan kecelakaan Alice yang ada di jembatan beberapa tahun yang lalu karena saat itu dia tidak ada disana dan belum bertemu dengan Steve.
Jadi sekarang yang bisa Violet lakukan adalah melerai. "Akiko, kalau kau merasa tidak sehat tidur dikamarku saja." Tawar Violet, namun dengan lancangnya Steve masih menyindir Akiko.
"Hah, pathetic woman."
Violet membentak sikap kasar Steve yang tidak ketahui alasannya lalu melempar buku Paranormal Activity milik Steve yang ingin mengenai wajah menyebalkannya, namun malah mengenai tembok dibelakang Steve. "Watch your mouth." Ancam Violet.
Tidak disangka, gerakan tiba-tiba Akiko yang mengambil kembali surat yang dia remas membuat Violet seolah-olah kena serangan jantung. Secepat kilat Akiko merampas surat itu diatas meja dan membuka lipatan demi lipatan yang dia buat.
Violet menghampiri Akiko yang masih membungkuk untuk membuka surat itu sampai dapat melihat kata-kata yang sudah lecak oleh guratan kertas, namun masih bisa dibaca. "Apa ini? Akiko?" Violet kebingungan dan ada banyak pertanyaan dalam benaknya. Tapi hanya kata-kata ringkas itu yang bisa mewakili semuanya. Sayangnya Akiko tidak menjawab dan malah membaca dengan lantang isi suratnya.
"*Bagaimana kabarmu, Nak?
Semoga hari ini menjadi hari paling bahagia untukmu.
Selamat ulang tahun Alice!
Tertanda,
The Best Gramps In The World*."
Isi kertas yang Steve berikan adalah kartu ucapan ulang tahun dari kedua orang tuanya dan Jack yang telah meninggal. Akiko sadar jika dia membacanya, maka mata batinnya yang telah lama tertutup akan terbuka. Lagi.
Deg, deg, deg. Akiko menahan rasa sakit sementara yang dia hadapi saat membuka penglihatannya dengan perasaan negatif. Akiko berusaha mengambil nafas dengan tergesah-gesah karena dadanya sesak sehingga Violet mengkhawatirkannya.
Namun tidak sebanding dengan ketakutan yang merasuki saat melihat sesuatu yang aneh didekatnya.
"Kyaaa! A-Apa itu?!" Teriakan histeris Violet membuat Steve terpelatuk dan ikut melihat apa yang Violet tunjuk. Berawal dari potongan tangan manusia segar yang masih mengeluarkan darah. Lalu perlahan meluas hingga dia bisa melihat sesosok hitam diujung ruangan, hantu manusia dengan kondisi mengerikan, dan hal-hal tidak masuk akal lainnya di apartemen.
Steve juga merasakan hal yang sama. Dia melihat semua monster sejelas Violet dengan berbagai wujud dan suara yang sangat mengganggu. Mulai dari tawa lirih sampai tangisan pilu entah dari mana. Mereka kira atap akan roboh saat mendengar langkah kaki berat diatasnya dan hampir pingsan oleh penampakan yang berbeda dengan semua hantu lainnya.
"Steve...?" Ucap sepasang lansia yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak percaya dan sangat sayu. Mr dan Mrs Henkis.
[To Be Continue!]🍵