
Yang tak bisa di hukum oleh Tetua Agung hanyalah leluhur Klan Qi.
"Nak apa benar kau anak kandung tetua ke Lima?" Tanya Qi Zhu Yan leluhur Klan Qi.
"Oh maksud mu pria tua yg sekarat itu" jawab Jin menunjuk ke arah Qi Lin.
"Iyah"
"Bukan, dia bukan ayahku" ucap Jin yang mengelak tidak mau mengakui Qi Lin sebagai ayahnya.
"Nak jangan seperti itu, dia ayahmu, ayah kandung mu" Ucap Lian Yun yang mengingatkan jika Qi Lin adalah ayahnya.
"Ayah ibu Jagan becanda. Dia bukan seorang ayah, di mana-mana seorang ayah tidak akan meninggalkan anaknya sendiri, tumbuh dan besar sendiri di luar rumah tak pantas menjadi ayah"
"Aku tidak peduli dengan permasalahan yang terjadi di Klan, hingga Klan sampai tegah mengusir ku, tapi yang aku tahu seorang ayah tak patutnya membiarkan anaknya sendiri, walaupun Klan menolak, tetapi seorang ayah tidak akan mengabaikan anak kandungnya sendiri" Ucap Jin dengan nada suara yang meninggi.
"Nak tenanglah jangan marah" ucap Lian Yun membujuk Jin, dia berdiri dan berjalan ke arah Jin lalu menyapu punggung Jin.
"Kau itu hanya anak sampah terkutuk, Klan tidak mau membesarkan seorang sampah tidak berguna seperti mu" ucap Tetua pertama sambil menunjuk ke arah Jin.
"Tetua pertama ka..." Ucap Tetua Agung yg di selah oleh Jin.
"Oh bagus,,,, bagus, jadi kalian mengangap ku sampah, jika begitu aku akan menghancurkan Klan Qi rata dengan tanah, dan lihat siap yang sampah di sini" Ucap Jin mengancam
"Pak tua tahukah kamu bahwa aku sangat sengsarah, jika tidak ada guruhku yang mengurusi ku, aku sudah mati sejak lama, orang lain tumbuh dan besar, merasakan kasih sayang dari orang tuanya dan hidup bahagia. Tetapi aku tidak"
Qi Zhu Yan dan lainnya yang mendengar ucapan ancama dari Jin ketakutan. Jika Jin benar-benar menghancurkan Klan Qi mereka tak bisa berbuat apa-apa, kekuatan Jin sudah di luar imajinasi.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi menyelamatkan anggota Klan mereka. Bahkan Leluhur dan tiga orang terkuat di sisanya bergabung sekalipun mereka tetap tidak bisa mengalahkan Jin.
"Waktu aku masih kecil. Aku setiap malam membayangkan wajah kalian yang sudah mulai hilang dari ingatan ku, berharap esok kau datang dan membawa ku pergi, tetapi apa! Itu hanya hayalan ku semata dan tidak akan pernah terjadi" ucap Jin menunjuk ke arah Qi Lin
Mata berubah menjadi warna Biru cerah dan mata sebelah kiri mengeluarkan air mata darah, baru hari itu Jin menangis dia sudah melewati latihan yg keras, keringat dan darah keluar dari tubuhnya, tapi tidak sedikitpun dia mengeluarkan air mata. Saat ini dia mengeluarkan unek-unek dari dalam hati yang dia rasa oleh pemilik tubuh lama, pemilik tubuh lama sangat frustasi
Karena orang tuanya tidak pernah datang menjemput dan membawanya pulang, setiap hari pemilik tubuh lama selalu tertekan, setiap kali guruhnya Ma Lee mengajak Jin keluar ke dunia luar dari Sakte buatan. Jin selalu melihat anggota keluarga yang lengkap berjalan di pasar dengan senyuman bahagia.
"Nak biarpun ayahmu dan parah anggota Klan tidak menyayagimu. Tetapi Ibu masih tetap menyayagimu nak" ucap Lian Yun yang menangis.
Dia tak mengira jika Jin akan semenderita itu di masa-masa kecilnya, anak kecil yang seharusnya menikmati kebahagiaan bersama keluarga, tetapi dia tidak demikian.
"Biarpun saat ini aku menetap di kediaman Klan Qi Aku tak akan menggangap kalian sebagai keluarga ku. Jika ada satu dari kalian menyakiti ibu dan adik ku aku akan menghancurkan kalian semua,
Sekarang pergilah dari hadapan ku, aku mala melihat kalian" Ucap Jin mengusir orang-orang yang datang itu.
Qi Zhu Yan dan yang lainnya langsung keluar dari rumah, mereka takut jika tetap bertahan disitu akan membuat Jin lebih marah.
-
-
-
Hari berikutnya hal yang Jin lakukan adalah melatih adiknya. Dia tidak pernah megira kalau dia akan sesantai ini.
Hari-hari yang dia habiskan hanyalah berlatih, setelah keluar dari Lembah dia tidak merasakan rasanya menikmati hidup.
Setelah beberapa jam berlalu dia telah selesai melatih adiknya, adiknya pamit untuk istirahat. Saat sendiri Jin mengeluarkan Plat (Lembah Kematian yang berubah menjadi Plat) dari dalam cincin Galaxy miliknya, lalu mengeluarkan satu makhluk hidup.
Setelah muncul makhluk itu ternyata adalah hewan iblis yang tinggal di dalam Plat, dia langsung berlutut di hadapan Jin
"Salam Yang Mulia" ucapnya
"Berdirilah" balas Jin
"Terimakasih kasih Yang Mulia" ucap hewan iblis "apa ada sesuatu yang Yang Mulia butuhkan dari yang rendah ini" lanjutnya sambil membungkuk
"Ya... aku perintahkan kamu menjadi kepala pelayan di rumah ku sambil melindungi ibu dan adikku saat aku tidak ada di sisi mereka"
"Siap laksana Yang Mulia"
"Sebelum itu kau harus merubah penampilan mu seperti manusia, akan aneh jika kamu tetap memakai wujud mu seperti ini" ucap Jin
Setelah mendengar ucapan Jin hewan iblis itu langsung berubah menjadi menusia dengan penampilan seperti orang tua berumur delapan puluhan dengan jenggot dan rambut putih.
Gaya pakaiannya seperti kepalang pelayan yang berada di istana raja
"Mulai saat ini namamu pelayan Yi dari kediaman ku, satu hal yang perlu kau ingat
Aku tak mau ada goresan sekecil apapun di tubuh ibu dan adikku, jika ada aku akan memusnahkan mu tanpa sisa. Apa kau mengerti" ucap Jin dengan ekspresi dingin
"Yang rendah ini mengerti Yang Mulia" ucap pelayan Yi
"Mulai saat ini kau harus memanggil ku tuan mudah, panggilan mu tadi rasanya aneh, ikuti aku, aku akan memperkenalkan kau kepada ibu dan adikku" ucap Jin, pelayan Yi hanya mengangguk setuju
Setelah memperkenalkan pelayan Yi kepada ibu dan adiknya, Jin sedang duduk santai sambil minum teh di depan rumah.
Dari gerbang pintu masuk rumah seorang pelayan berlari menuju arah Jin yang sedang duduk santai
"Maaf mangganggu tuan muda" ucapnya sambil membungkuk
"Ada apa?" Ucap Jin dengan nada malas
"Tuan mudah di depan gerbang ada Leluhur Qi dan Patrick Qi, meminta izin untuk bertemu dengan anda" ucap pelayan itu
"Ada keperluan apa mereka sehingga datang untuk menemui ku?" Tanya Jin
"Pelayan ini tidak tahu tuan muda" balasnya
"Baiklah kamu bisa pergi dan suruh mereka menunggu di depan gerbang, aku akan segera kesana" ucap Jin
Pelayan itu membukuk lalu pergi dari tempat itu
Beberapa saat berikutnya Jin sampai di gerbang pintu masuk rumahnya, dia di ikuti oleh pelayan Yi.
Terlihat dua orang yang berdiri di depan gerbang sedang menunggu kedatangannya, mereka Leluhur Qi Zhu Yan dan Patrick Qi Yang, saat mereka melihat Jin mereka tersenyum ramah.
"Ada perlu apa? Sampai kalian berdua datang kemari" ucap Jin langsung to the point.
Ucapa Jin ini membuat kedua orang tua itu tersenyum canggung, tidak Meraka kira Jin langsung to the point tanpa menyapa mereka