The Strongest Cultivator In The Universe

The Strongest Cultivator In The Universe
39. Bertemu ayah dan ibu dan kemarahan Jin



Pria paruh baya yang berbicara bicara dengan gadis kecil itu adalah ayah dari gadis kecil itu dan tentunya ayah Jin pemilik tubuh yg lama dan tetua ke-lima dan orang terkuat ke-empat di Klan Qi,


Dia adalah tetua yang tidak hadir di ruang pertemuan Klan Qi, karena sedang menjalankan sebuah misi dari Klan. Jadi dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian di ruang pertemuan Klan jadi dia langsung marah mendengar ucapan Jin dan amarahnya menghilang saat gadis kecil yang anak perempuannya mendekatinya.


Jin sendiri masih membelakangi pria paruh baya itu yang sedang berbicara dengan anak gadisnya. Tatapan mata Jin menyala ada sesuatu di tubuhnya berontak-rontak tak jelas, tubuhnya bergetar hebat.


Seolah tubuhnya bertanya kenapa dia di tinggalkan waktu saat umurnya masih 10 tahu dan sekarang dia sudah tepat berumur 20 tahun saat Kamari bermalam bermalam di kamar tamu Klan Qi.


Yang berarti sudah dua puluh tahun dia di tinggalkan sediri oleh keluarganya. Saat Aurah membunuh bocor, terdegar juga sudah seorang wanita paruh baya yang berbicara dan masuk dari depan gerbang rumah tetua ke-lima.


"Uhuhuh sayang kamu sudah pulang" tanya wanita paruh baya tersebut yang tampak tidak sehat. Tapi masih terlihat wajah cantiknya walupun terlihat sakit aura kecantikan wanita tersebut masih terpancar.


"Iya sayang, aku baru saja sampai" balas pria paruh baya tersebut sambil berbalik badannya berjalan mendekat sambil mengendong anaknya


Pria paruh baya tersebut bernama Qi Lin sedangkan istri dari Qi Lin adalah Lian Yun, gadis kecil itu bernama Qi Yunyue, mereka bertiga adalah keluarga Jin yg lama di dunia ini.


"Sayang apa kau sudah menemukan jejak putra kita?" Lian Yun bertanya pada suaminya dengan harap kalau putranya sudah di temukan.


"Sayang sudah ku bilang tidak usah mananyai kabarnya, putra kita sudah mati" ucap Qi Lin dengan nada yang tidak suka istrinya menanyai putra mereka dan juga menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa kamu selalu saja berkata anak kita sudah mati, apakah kamu tidak mempunyai perasaan, aku yakin putraku masih hidup. Walaupun bebapa saat yg lalu aku merasa bahwa putraku berada dalam bahaya tapi aku merasakan putraku masih hidup" Lian Yun berbicara sambil menyeka air matanya.


Memang firasat seorang ibu itu sangat kuat jika menyangkut anaknya dan firasat itu tidak pernah salah, mau itu di novel atau kehidupan nyata seorang ibu dapat merasakan keadaan anaknya yg sedang mengalami sesuatu.


"Sayang sebaiknya kau lupan saja putra kita. Dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, lebih baik kita fokus saja dengan putri cantik kita" balas Qi Lin sambil mencium pipi Qi Yunyue.


Qi Yunyue sediri dia selalu penasaran siapa orang yang di bicarakan oleh kedua orang tuanya, sebab dia selalu mendengar orang tuanya selalu bertengkar saat menyangkut ini.


"Uhuhuh sayang memang kita harus peduli dengan putri kita tapi kita harus peduli juga dengan putra kita dia sudah menghilang sangat lama dan sampai saat ini tidak ada kabarnya uhuhuh" Lian Yun semakin menagis dan batuk-batuk.


"Sudah ku bilang sudahi saja menghawatirkan sesuatu yang sudah tidak ada, kawatir kan saja kondisi mu, lihat karena terlalu banyak pikiran kamu jadi sakit-sakitan" Qi Lin malas memabahas putra nya terus-menerus.


"Aku tidak akan sakit-sakitan seperti ini jika putraku ada disini" balas Lian Yun


Telinga Qi Lin sudah panas mendengar keluhan istrinya, lalu dia berkata dengan suara bentakan keras pada istrinya, "sayang kau sudah bertahun-tahun menanyakan ini berkali-kali saat aku menjalankan misi kau selalu saja meminta mencari putra sampah itu


Apa kau tidak malu jika dia tetap berada di sini" suara kerasnya menakuti Qi Yunyue dan Lian Yun tidak mengira kalau suaminya akan membentaknya di hadapan putri mereka. Qi Yunyue menagis mendengar ayahnya membentak ibunya.


Tiba-tiba saja Aurah Kultivasi yang sangat mengerikan keluar dari belakan Qi Lin. Jin yg tak terima kalau seorang ibu yang menghawatirkan anaknya di bentak oleh seorang apa lagi itu seorang suaminya sendiri.


Aurah Kultivasi Jin segeralah mengunci pergerakan Qi Lin, Lian Yun serta Qi Yunyue tidak merasakan dampaknya, Qi Lin tidak dapat bergerak dia langsung di tindih oleh Aurah Kultivasi Milik Jin.


Sebelum dia tergeletak di lantai Jin sudah memindahkan Qi Yunyue di samping Lian Yun, jika saja gadis kecil itu tidak di pindahkan dia akan mengalami dampaknya.


"Kau seorang suami yang tak bertanggung jawab bukan saja kau meningalkan putramu, kau juga berani membentak istrimu" ucap Jin berbalik melihat Qi Lin dengan penuh amarah.


Mata kiri Jin mengeluarkan air mata darah, sesuatu di tubuhnya tidak terima saat Qi Lin membentak Lian Yun, hal itu membuat Jin mengeluarkan seluruh Aurah Kultivasi Miliknya.


Lian Yun yang yang melihat Jin menjadi bergetar dia menatap warna kedua bola mata milik Jin yang sama dengan warna bola matanya yaitu berwarna biru. Saat seseorang dari Klan Lian atau yg memiliki darah dari Klan Lian marah kedua bola mata mereka akan berubah warna menjadi biru seperti Petir.


"Putraku, ahirnya kau sudah pulang, ibu sangat merindukan mu" Ucap Lian Yun sambil menangis dan memeluk Qi Yunyue yg berada di sampingnya.


Sedangkan untuk Qi Yunyue dia tak mendengar ucapan ibunya dia hanya terpaku dengan keadaan di depannya yang di mana langit di atas mereka menjadi gelap bukan hanya di atas mereka tetapi di seluruh benua selatan tertup awan gelap. Petir menyebar di sekitar awan gelap itu.


Hal itu membuat benua selatan gempar karena kejadian itu. Parah sesepuh yg sudah berada pada ranah Mistic dan diatasnya juga merasakan tekanan dan muntah darah.


Mereka tak tau siapa yang mereka singgung dan membawa bencana bagi mereka. Dengan cepat mereka menyembunyikan aurah keberadaan mereka agar tak di temukan.


Kembali ke kediaman Klan Qi, saat itu suasana di Klan tersebut menjadi mencengkram para tetua yg sedang mengawasi Jin tak bisa bergerak bukan hanya mereka tetapi seluruh tetua di ibukota kekaisara Han dan juga kaisar Han.


Hampir setengah dari penduduk ibu kota kekaisaran Han mati, empat puluh persen Kultivator di ranah Pendekar Senoir juga mati. Jika Jin tidak sempat mengontrol Aurahnya mungkin seluruh orang. Manusia biasa atau Kultivator di bawah ranah Mistic akan mati hanya karena Aurah Kultivasi penuh milik Jin.


"Pak tua kau harus tahu aku tak akan pandang bulu dalam membunuh seseorang jika aku sudah menggangapnya sebagai musuh" Ucap Jin melangkah mendekat menujuh ke arah ke arah Qi Lin.


"Jangan, jangan nak dia ayahmu. Walaupun dia seperti itu dia tetap ayah kandung mu" Ucap Lian Yun berlari menghampiri Jin.


Jin yang melihat Lian Yun berlari ke arahnya dia menghilakan Aurahnya. Lian Yun sampai di depan Jin tanpa basa-basi dia memeluk Jin dengan tatapan rindu yang amat sangat.


"Nak ibu mahon maafkan lah ayahmu" ucap Lian Yun sambil menangis dia tidak ingin Jin membunuh ayahnya sendiri.


Jin hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan ibunya "Baiklah" ucapnya sambil memandang ibunya yang sedang memeluknya lalu melanjutkan ucapannya sambil melihat ke arah Qi Lin "dengan ini pak tua, aku akan mengampuni mu kali ini saja


Karena permintaan dari ibuku, tidak ada kedua kalinya aku mendengar kau membentak ibuku jika kau menghiraukan ucapan ku, kau akan tahu akibatnya" ucap Jin, lalu dia menyepi punggung ibunya agar tenang.


Karena kondisi ibunya yang sedang sakit, ibunya melepaskan pelukannya dan memanggil Qi Yunyue lalu mereka bertiga masuk ke dalam rumah, sedangkan untuk Qi Lin setelah dia yang mendengarkan ucap Jin dia pingsan.


Jin sengaja membuat Qi Lin tetap sadar agar dia dapat merasakan kemarahannya supaya dia akan teringat akan kejadian ini saat dia membentak Lian Yun, dan sebaigai balasannya dia melampiaskannya kepada sesepuh yang sedang Berkultivasi tertutup.


Sejam berikutnya seluruh orang di ibukota kekaisara Han sedar begitu juga dengan tetua di Klan Qi. Tetua yang sedang mengawasi Jin melihat Qi Lin yang tak sadarkan diri mereka membawanya ke aulah pengobatan.


Agar Qi Lin dapat di obati karena dia orang yang mendapatkan luka yang begitu parah.