The Strongest Cultivator In The Universe

The Strongest Cultivator In The Universe
12. Mati Karna Kesembongan



Setelah dua Minggu Jin meninggalkan kota Bulan, dia berjalan melewati gerbang di sepanjang perjalanan dia selalu mendengar tentang runtuhnya Klan Lan di sepanjang jalan, tapi Jin tidak peduli sama sekali dia hanya berjalan dan keluar dari gerbang kota


Setelah memasuki hutan Jin sudah melepaskan hewan roh tingkat 5 itu karena dia tidak mau memeliharah hewan roh yg lemah Jin jga sudah melepaskan segel miliknya dari hewan roh itu.


Jin telah berjalan sangat laman dan masih belum menemukan Sebuah gua untuk bermalam karena hari sudah mulai gelap. Tak punya pilihan lain Jin memutuskan untuk tetap mencari gua.


“Ngomong-ngomong dimana aku berada sekarang…” Ucap Jin yg baru terhenti karna sudah terlalu jauh berjalan, dia menghela nafas sambil mengaruk kepalanya, dia berjalan selama beberapa jam tanpa memperhatikan arah yg akan dia tujuh, Jin hanya kalau dia tersesat di hutan yg sangat asing begitu asing baginya.


"Huuu seharusnya aku bertanya pada orang yg lewat tadi" Ucap Jin dan berkalan masuk sedikit lebih dalam di hutan itu.


“Sepertinya lokasi ini cukup aman, untuk bersistirahat malam ini, sambil menunggu hari esok.” Lalu Jin duduk di bawah pohon yang cukup rindang lalu mulai memejamkan matanya.


Belum sempat dia Jin tertidur pulas, dia mendengar suara dari semak-semak yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


Jin membuka matanya dan melihat sesosok makhluk menunjukan diri dari balik semak-semak. Ternyata itu hewan Roh belalang sembah tingkat 8 hewan Roh itu mengayunkan tangannya yang berbentuk arit ke arah Jin, namun sayangnya hanya dengan sekali hempasan dari tangannya hewan roh itu mati.


Jin lalu melanjutkan tidurnya yg tergangu sambil mengeluarkan Aurah tingkat kultivasinya tingkat Kaisar awal, agar hewan roh tidak mengangu tidurnya.


Jin baru terbangun saat sinar matahari mulai menerangin wajahnya tersebut. Jin bangkit berdiri, selang beberapa saat Jin berjalan keluar dari hutan itu, dia melebarkan Indra spritualnya untuk mencapai manusia terdekat.


Setelah lama mancari ahirnya ia menemukannya segerombolan orang tidak jauh dari tempatnya berdiri, sekita 5 km dari tempatnya, tanpa menunggu Jin melesat ke arah segerombolan orang itu.


"Permisi paman-paman, saya seorang kultivator pengembara, kalau boleh saya tau kota terdekat ke arah mna dimana?" Tanya Jin pada rombongan yg terlihat sebagai pedagang.


"Oh, Kota terdekat berada di sebelah utarah, Kamu hanya perlu mengikuti jalan setapak ini, lalu kamu akan sampai di kota bernama Mawar." Jawab mereka.


"Terima kasih kalau bigitu saya permisi duluh" Balas Jin.


Lalu Jin berjalan mengikuti jalan setapak yang ditunjuk oleh segerombolan pedagang tadi, dia arah utara. Selang sepuluh menit berlalu Jin akhirnya keluar. Dapat melihat sebuah tembok Raksasa dengan tinggi Kurang lebih sekitar 20 Meter mengitari sebuah Kota di depan.


Menatap Jauh, terlihat banyak sekali orang yang sedang mengantri untuk memasuki Kota, Jin jg ikut mengikuti bersama Mereka.


Jin menganguk paham. Kota mawar adalah Kota tingkat menengah di pimpin oleh seorang Pemimpin kota bernama Tiang Chu. Kultivasi Pemimpin kota itu berada di tingkat Pendekar Bumi tahap 3, di kota menengah seperti Kota Mawar ini, seseorang yang telah memasuki tingkat Pendekar Bumi tahap 3 merupakan Sosok hebat yang keberadaannya harus di akui di kota tingkat menengah.


Kini saat giliran Jin akan memasuki Kota, seroang penjaga gerbang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Mana kartu identitas mu?" Tanya penjaga 1 yang bertubuh kekar.


"Maaf aku seorang kultivator pengembara. Saat di perjalanan, aku kehilangan kartu identitas." Jawab Jin berpura-pura kehilangan kartu identitasnya.


"Kalau begitu bayar 5 Koin Emas untuk masuk." Ucap penjaga 2.


Setelah membayar 5 Koin Emas pada penjaga Jin langsung masuk kedalam Kota dan mencari penginapan untuk di tinggali. Selang 30 menit mencari penginapan, Jin berhenti di sebuah Rumah besar bertuliskan Penginapan Mawar biru.


Tanpa basa basi, Jin langsung memasuki Penginapan itu. Di meja Resepsionis terlihat seorang Gadis Cantik seumuran Jin Berdiri disana sambil menerima tamu.


Jin menghampiri gadis itu. "Permisi Nona, berapa biaya untuk menginap disini selama satu minggu." Tanya Jin kepada gadis Resepsionis tersebut.


"Untuk biaya menginap selama satu minggu, Tuan cukup membayar 2 Koin Emas, dan untuk makan tuan perlu membayar 70 Koin Perak." Jawab gadis Resepsionis tersebut sambil tersenyum.


Jin mengambil 3 koin emas dari sakunya kemudian memberikannya kepada gadis itu.


"Tuan ini kembaliannya.'' Ucap gadis Resepsionis itu sambil memberikan uang 30 perak kepada Jin.


"Kembaliannya ambil saja." Balas Jin sambil tersenyum lembut.


"T-tapi tuan." Belum sempat menyelesaikan perkataan nya, Jin sudah terlebih dulu naik ke lantai dua untuk merebahkan tubuhnya di kamar.


Ketika sampai di kamar Jin langsung merebakan tubuhnya di tempat tidur kemudian menutup matanya. Jin sudah semalaman tidak tidur di kasur sehinga sampai di peginapan dia langsung tertidur.


Pada siang harinya Jin berjala-jalan di kota mawar sambil menikmati pemandangan keramaian di kota, sesaat berjalan dia melihat rumah makan yg cukup megah.


Jin lalu masuk di rumah makan yg bernama Rumah Makan Angrek Salju, dia makan di lantai 4 di dekat dengan jendela agar dia bisa melihat pemandangan kota dari lantai 4.


Sebelum makan Jin masuk ke mulutnya, tiba-tiba seseorang berteriak.


Para tamu rumah makan yang mendengar suara itu langsung beranjak Pergi, sebab mereka mengenali suara tersebut, Orang tersebut tak lain adalah Tiang Lin putra Pemimpin Kota.


Menatap Ke pojok arah jendela terlihat seorang pemuda seusianya yg masih memakan makanan dengan lahap bahkan tidak mempedulikannya yg sedang berbicara.


Tiang Lin mengerutkan kening melihat Jin yg masih makan dengan santainya. Merasa orang itu tidak menanggapi peringatannya ia mendekati orang tersebut.


"Hei Idiot, Apa kau sudah Tuli?" Tanya Tiang Lin dengan sombongnya.


Jin yang mendapat pertanyaan dari Tiang Lin hanya diam saja dan meneruskan makannya.


"Sialan beraninya kalian mengacuhkan ku..." Teriak Tiang Lin yang penuh emosi.


Tiang Lin mengepalkan Tangan, Ia memfokuskan Qi di tangan Kanannya dengan cepat bersiap memukul Kepala Jin yang masih duduk di Meja makan.


Melihat sebuah Serangan yg selambat siput mengarah kepadanya, Jin menghela Nafas panjang. mengangkat tangan Kanannya Jin menjentikkan kedua ujung jari dan terjadi hembusan angin yang membuat Tiang Lin terpental mundur..


Semua orang menghentikan langkahnya melihat Tiang Lin di pukul mundur oleh seorang pemuda seusianya. Pasalnya Tiang Lin merupakan jenius kota Mawar, di usia yang masih terbilang sangat muda ia telah mencapai Tingkat Petarung Senior tahap 8.


Tiang Lin terpental sejauh 7 meter ke belakang hingga menabrak tembok bangunan, dan tak sadarkan diri. Jin pada saat itu hanya mengeluarkan 1% dari kekuatan fisik aslinya dan tidak menggunakan Energi qi.


Melihat banyak orang sedang menatapnya, Jin memutuskan keluar dari rumah makan, tapi ketika sampai di depan pintu keluar ia di hentikan oleh orang yang disebut Tiang Lin sebagai saudara Han.


"Aku tidak ingin membuat Masalah ini semakin panjang, singkirkan tangan mu atau aku akan membuatmu sepertinya." Ucap Jin ancam.


"Apa Kau mengira aku takut padamu?" Ejek Pemuda yang dipanggil saudara Han.


"Oh, Hanya seorang di Tingkat Petarung Senior tahap 9 beraninya kau bersikap sombong didepan ku." Balas Jin mengejek Pemuda baju Hitam di depannya.


Han yang mendengar Ejekan keluar dari mulut Jin tidak bisa menahan marahnya Lagi. Kemudian Ia mengeluarkan Pedang dan bersiap untuk menyerang Jin.


Saat Saudara Han hendak berlari menyerang Jin Sebuah Suara tajam terdengar dari Ruangan Manager


"Siapa yang berani bertarung di dalam rumah makan ku." Ucap Manager Rumah Makan sambil mengeluarkan Aura Pendekar Raja tahap 6. Semua orang di dalam Lantai 4 tertekan kecuali Jin, dia masih berdiri dengan tegak.


Manager Rumah makan yang melihat Jin yg masih berdiri dan tidak merasakan tekan oleh aura nya sedikit terkejut, Dia adalah seorang di Tingkat Pendekar Raja tahap 6, melihat Jin yang masih bisa berdiri Tenang mulai muncul rasa Curiga di matanya.


Manager itu kemudian melihat ke samping kanan dan melihat seorang pemuda tergeletak pingsan Ia cukup terkejut melihat pemuda yang tergeletak disana. kemudian manager toko itu mendekati Jin dan Han..


"Siapa yang menyerang Putra Pemimpin kota hingga tak sadarkan diri." Teriak Manager membuat seluruh rumah makan bergetar.


"Itu aku, terus kenapa jika aku menyerangnya." Jawab Jin dengan acuh tak acuh..


"Ho... apakah kamu tidak takut berhadapan dengan Pemimpin kota setelah melukai anaknya." Ancam manager itu.


"Hmph, siapa kamu? hanya seorang di tingkat pendekar Raja tahap 1 Berani mengancam ku.." Jawab Jin yg tak peduli denga maneger toko tersebut.


Mendapat jawaban dari Jin, semua orang terkejut bahkan manager toko itu juga terkejut. Semua orang mengira-ngira seberapa kuat pemuda yang di depannya itu.


Tapi tak lama kemudian Han yang dari tadi diam kemudian berbicara. "Kau hanya membual omong kosong untuk bisa keluar dari sini kan." Ucap Han dengan nada mengejek.


Semua orang juga mengangguk setuju mendengar jawaban dari Han, bagaimana bisa seorang pemuda berani memprovokasi seorang kultivator yang telah mencapai Ranah Pendekar Raja.


"Lebih baik kau potong tangan mu, maka aku akan membiarkan kamu pergi dari sini." Ucap manager Rumah Makan.


"Hahaha... Kau ingin Tuan Muda ini memotong tangan nya? Jangan Mimpi." Ucap Jin yg tertawa terbahak-bahak.


Jin kemudian mengeluarkan Aura tingkat Pendekar Raja tahap 9 nya keseluruh toko rumah makan.


Seketika semua orang bersujud Tak kuasa menahan Aura penekanan yang Jin keluarkan, tak terkecuali Manager Rumah Makan dan Han.


Keringat dingin membasahi Punggung Manager, mengingat kembali Perkataan yang ia ucapkan tadi sekujur tubuhnya gemetar Takut.. Ia mengangkat Wajahnya menatap Jin, dia hendak membuka Mulutnya untuk Berkata..


"A...ampuni aku tua..."Tak sempat menyelesaikan ucapannya kepala manager itu terbang dari tubuhnya.