
Gemerlap lampu di sekitar area pesta jamuan keluarga kevin masih saja menyala, namun kemeriahannya mulai berkurang dari detik ke detik, sepertiga dari seluruh tamu undangan kini telah pamit tuk kembali ke rumah masing-masing agar dapat beristirahat dan menyambut hari esok. Tampak dari kejahuan, terlihat segerombolan orang tengah asik berbincang, diantaranya terdapat Kevin dan Cassy yang juga ikut serta dalam perbincangan itu, akan tetapi mimik muka baik Kevin maupun Cassy menyiratkan ketidak nyamanan atas pembicaraan sekerumunan orang di dekatnya, dalam obrolan itu mereka hanya menjadi sebuah pelengkap layaknya buah yang diselipkan di ujung gelas demi kesempurnaan akan penampilannya walau nyatanya hanya sekedar kepalsuan tuk menjadi pemikat. Orang-orang itu nampaknya telah berumur, akan tetapi mereka rela melecehkan harga dirinya demi mendapatkan simpati para orang tua kedua anak itu dikarenakan sebuah urusan bisnis yang tentunya dapat mengangkat derajat dan stasus sosialisasi mereka.
Setelah berbincang cukup lama dengan orang yang dapat dikatakan penjilat itu, Kevin dan Cassy akhirnya mendapat kesempatan tuk beristirahat sejenak sebelum menyampaikan salam rindu kepada beberapa kerabat dekat mereka yang akan segera pulang ke rumahnya.
“Ehh Vin!”
“Kenapa Cass?”
“Tadi kamu kedapatang nggak?”
“Yah enggak dong… aku tuh udah berkali kali ngerjain yang beginian!”
“Sombong amat sih lu Vin!”
“Yah harus dong cass! Kan aku ini jagonya kalau soal kabur.”
“Emangnya kamu enggak pernah gitu kedapetan? Songong amat jadi manusia!”
“Kalau ditanya pernah enggaknya… yah pasti jawabannya itu pernah.”
“Udah berapa kali kamu di dapet?”
“Kalau aku hitung… kayakyna nggak nyampe sepeluh deh.”
“Kamu pernah dihukum Vin?”
“Yah jelas dong pernah!”
“Apa aja hukuman kamu?”
“Mending kamu nggak usah nanya lagi deh Cass!”
“Loh emangnya kenapa kalau aku nanya soal kamu?”
“Ya karena kamu itu kalau nanya pasti selalu sampai ke akar-akarnya.”
“Namanya juga penasaran Vin! Kamu itu kenapa sih, pelit amat jadi temen! Huhh…”
“Bukannya soal pelit atau enggaknya tapi…”
“Tapi apa? Awas aja kamu bilang yang aneh-aneh tentang aku.”
“Yah tapi kamu itu habisin waktu istirahat kita Cass!!! Ini sisa tinggan dua menitan doang.”
“Emang yang dua puluh delapan menit lalu kita enggak istirahat?”
“Enggak!!! Kita cuman habisin dua puluh menit yang lalu cuman buat ngejawab pertanyaan kamu aja!”
“Lah emangnya ada larangan gitu kalau istirahat enggak boleh dipakai buat bertanya?”
“Udah cukup Cass!!! Rasanya aku mau nangis aja kalau kamu udah jadi kek gini.”
“Yaudah nangis aja sana!”
“Arghh…!!!”
Kini pesta jamuan itu tak lagi meriah, tamu secara berangsur telah pergi, dan saat ini hanya nampak di dalamnya sekumpulan dua keluarga yang saling bercengkerama tuk berbincang mengenai suatu hal. Kevin dan Cassy juga tentunya ikut serta di dalamnya karena kedua ibu mereka itu adalah pusat perbincangan dalam obrolan dua keluarga itu, akan tetapi wajah mereka tampak berbanding terbalik saat berada di kerumunan orang-orang sebelumnya. baik itu kevin maupun cassy, keduanya tampak begitu ceria dan sumringah bahkan tanpa sadar senyuman mereka mekar begitu lebar. Walau keduanya tak dapat berdialog panjang, namun hal yang demikian tetap saja tak dapat menahan senyuman yang mengembang. Entah apa yang membuat mereka begitu gembira.
*1 Week Later…
‘kring…kring*…’
Bunyi alarm kembali terdengar, bertanda sang fajar telah menjemput hari. Angin lembut nan sejuk di pagi hari mulai menyapu seisi kota, walau tak sekuat sang buritan, namun sepuhannya mampu mengangkat dedaunan pohon yang rontok. Langit bumi masih berwarna biru gelap begitupun dengan suhunya yang masih rendah, akan tetapi sesaat lagi sinar mentari pasti kan menembusnya dan menydorkan kehangatannya.
Beberapa orang di waktu ini tengah asik melakukan serangkaian olahraga pagi yang sering mereka laksanakan di alun-alun kota, diantara banyaknya orang itu terdapat Kevin dan Cassy yang juga tampaknya saling berlari larian sembari susul menyusul seloah berada di medan perlombaaan.
Dengan menggunakan pakaian olahraga santai berupa kaos branded dan celana training panjang berbahan impor buatan seorang desainer, Kevin juga Cassy nampak sumringah berlari-larian di sekitar lapangan basket umum.
Kedua orang itu sedari fajar telah saling menunggu di taman alun-alun kota tuk meluncurkan rencana olah raga mereka dan berakhir dengan kekonyolan yang keluar dengan sendirinya.
“Ehh Vin! Tungguin dong…”
“Lelet amat sih cass jadi orang! Ayo cepetan dikit dong… masa sih enggak bisa ngalahin aku.”
“Kamu kan cowok vin! Yah wajar kalau aku agak lambatan.”
“Udah ngaku aja deh kalau kamu tuh kalah sama aku.”
“No way Vin!!! Biarpun aku cewek, tapi aku bakalan ngalahin kamu! Huh!!!”
“Sombongnya mulai keluar nih hahah…”
“Bilang aja kalau kamu tuh sirik sama aku… iya kan?”
“Idih… geer amat sih jadi orang!”
“Ehh Vin! awas depan kamu!!!”
Tepat saat setelah kata terakhir yang keluar dari mulut Cassy, Kevin terjatuh dengan mendarat menggunakan posisi duduk sehingga tak menimbulkan luka kecil maupun lecet sedikitpun di kulit halus dan putihnya itu, si penabrak tadi hanya menoleh sejenak ke belakang tuk sekedar mengucap maaf walau tak menolong kevin karena anggapannya menyatakan bahwa ia tidaklah sepenuhnya bersalah. Melihat tragedi kecil itu, Cassy lantas tertawa tanpa beban sedikitpun ataupun niat tuk menolong Kevin, wajah rupawan Kevin tampaknya menyiratkan sedikit kekesalan namun ia berusaha tuk menyembunyikannnya agar tak terlihat oleh Cassy yang saat ini tengah puas bergembira menertawai dirinya.
“Vin! Bangun!!!”
“Yah bantuin dong cass… masa sih kamu tega banget sama aku.”
“Iya..iya aku bantuin.”
“Lagian kamu sih… sombong amat jadi orang, kan kena karma jadinya.”
“Niat nolongin nggak nih…?”
“iya! Dasar manja huh…!”
“Siapa yang manja?”
“Yah kamu!”
“Ohh… jadi kalau orang minta tolong itu bisa dibilang manja yah Cass! Kok baru tahu aku loh!”
“Tapi berlakunya cuman sama kamu aja Vin!”
“Lah kok bisa?”
“Yah emang bisa lah…”
“Iyain aja deh biar kamu seneng.”
“Nah… gitu dong jadi temen.”
“Ehh btw habis ini kamu mau ngapain Cass?”
“Ngapain yah? Hmm… keknya aku lagi nggak punya agenda deh hari ini vin!”
“Oh yah!… kalau gitu mau nggak kamu ngelakuin sesuatu sebelum besok kita masuk sekolah?”
“Gimana kalau kita kamping aja vin! Lumayan lah buat refreshing otak.”
“Bagus juga tuh…”
“Sekalian kita ajakin sepupu aku yah! Yang kamu kenal pas di jamuan, dia itu murid baru di sana juga loh.”
“Ajakin aja cass! Kan kalau rame bagus juga, daripada cuman berdua.”
“Emang kenapa kalau berdua hah?”
“Yah… enggak apa-apa juga sih sebenernya.”
“Kata nenekku orang tuh nggak boleh pendam kata-katanya sendiri loh Vin! Nanti bisa kemakan sama diri sendiri loh.”
“Yaudah aku keluarin aja yah…”
“Udah cepetan… bikin penasaran orang aja deh kamu!”
“Tapi masalahnya aku enggak mau kamu denger.”
“Tuh kan… kamu mah sukanya bikin orang kegantung.”
“Kalau kamu mau tahu, kita tatapan sambil duduk dulu biar kamu enggak marah.”
“Emang bisa gitu yah?”
“Iya dong bisa…”
“Yaudah deh kalau gitu.”
Setelah kata persetujuan terhampas dari lidah Cassy, sontak mata mereka saling memandang dan menciptakan kontak mata yang berbeda entah itu dari segi mana.
Kedua orang itu bukan hanya saling berkontak mata, akan tetapi mereka seolah berbicara melalui jalur yang hanya dipahami oleh diri mereka masing-masing.
Waktu masih berjalan dengan normalnya akan tetapi bagi mereka, serasa waktu kini terus saja melambat bahkan hendak tuk terhenti.
Beberapa menit telah berlalu dan saat ini kevin hendak akan membuka pembicaraan mereka.
“Cass! Kamu serius mau denger?”
“Iya… udah ah cepetan.”
“Tapi aku ngelarang kamu buat dengerinnya!”
“iya…”
“Lah kok kamu bilang iya?”
“Emang kenapa kalau aku bilang? Tapi perasaanku kayaknya aku nggak pernah bilang deh Vin! ”
“barusan tadi apa?”
“Ngaco kamu ah Vin!”
“Seriusan Cass! Sumpah!”
“Apaansih kamu vin? Kok jadi aneh gini? Terus kita ngapain sekarang duduk di sini?”
“Hah? Cass!!! Kamu ada riwayat TGA* yah?”*gejala amnesia secara tiba-tiba
“Lah kok jadi ke situ pembahasannya? Ada-ada aja kamu Vin! Makin hari kayaknya kamu tambah ngasal ngomongnya.”
“Aku serius nanya cass! Kamu ada nggak?”
“Enggak ada Vin! Aku nggak pernah punya riwayat kek gitu.”
“Terus masa kamu lupa sih?”
“Lupa apaan? Udah ah aku mau pulang, capek ngomong sama kamu vin! Bisanya cuman ngawur aja huh…”
“Cass! Tunggu!!!”
Seiring dengan berteriaknya Kevin, Cassy berjalan meninggalkan Kevin yang sedang kebingunan menuju lokasi dimana tempat ia akan di jemput oleh supir keluargnya.
Kevin sendiri hanya duduk terdiam sambil memandangi Cassy yang kian detiknya menjauh dari pandangan dengan siratan wajahnya yang keheranan terhadap sepintas potongan waktu.
Bersama dengan kebingungannya itu, kevin lantas berdiri dan berjalan dengan kaki panjangnya menuju pinggiran taman alun-alun kota Pulau Sotus.
Walau kakinya tengah melangkah, akan tetapi pikirannya terus saja mengganggunya dan berusaha keras tuk menggapai kata kunci atas serpihan waktu yang terlupakan. Pikirannya sedari tadi tak dapat ia buyarkan dengan kemauannya sendiri, namun akhirnya ia dapat terelakkan dengan sebuah deringan ponselnya yang bertanda seseorang sedang menghubunginya melalui via telpon.
“Halo!”
“Ehh vin! Sorry tadi aku hampir lupa nanya, kamu udah nentuin tempatnya belum?”
“Tempat apaan cass?”
“Masa kamu lupa sih!!! Tadi yang ngajakin kamu loh yah.”
“Hah? Oh… yang tentang piknik!”
“Iya loh… udah belum nentuin tempatnya di mana?”
“Sorry cass! Aku belum search tempat yang bagus buat piknik.”
“Yah… Kevin! gimana sih kamu jadi orang!”
“Iyaa… nanti aja yah soalnya aku baru mau balik nih!”
“Hah? Baru mau balik? Emangnya kamu ngapain aja di sana sampe jam segini baru ma balik!”
“enggak ada kok Cass! hehe…”
“Btw aku juga udah tanyain ke Tia.”
“Gimana? Dia punya waktu atau nggak?”
“Dia bilang sempet kok, soalnya lagi senggang juga katanya.”
“Ohh kalau gitu sisa tempat dan jam-nya yah?”
“Iya sisa itu aja kok… kamu cepetan dong ngurusinnya!”
“Iya..iya aku bakal kasih kamu secepatnya”
“Janji dulu dong!”
“Iya aku janjji kalau nanti udah nyampe rumah, aku bakalan infoin ke kamu.”
“Oke deh… bye vin! See you”
“Bye… see you to”
Pembicaraan mereka telah usai, namun kevin tampaknya masih saja kebingungan. Anak itu berdiri mematung memikirkan kemungkinan yang dikiranya dapat ia ambil sebuah simpulan sembari menunggu tunggangannya datang menjemputnya.
Setelah menunggu beberapa menit sedari usainya ia menghubungi supir yang hendak menjemputnya, mobil tunggangannya itu pun tiba tepat di hadapannya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi Kevin refleks membuka pintu kanan mobil sedan berwarna putih milik keluarganya itu tuk kembali ke rumah dan menyiapkan segala sesuatu hal yang dapat mengabulkan rencana pikniknya bersama Cassy juga sepupunya Tia.
Matahari pagi masih menampakkan dirinya, menunjukan waktu siang masih lama tuk tergapai. Langit juga terlihat cerah seperti biasanya, arakan awan yang tergantung di atas sana terus saja bergerak tanpa sepengetahuan manusia yang ia naungi dari panasnya sinar matahari. Kicauan burung pun masih ramai sorak menyorak terdengar oleh setiap pejalan kaki di sepanjang trotoar, kicauan itu dapat di samakan dengan sebuah nyanyian syahdu yang menyambut bahagia pagi hari. Dari sudut pinggiran kota indah itu, terdapat ibu Kevin yang tengah asik menyantap sarapannya sambil menunggu putra bungsunya itu datang mengucapkan sepatah kata dialog pagi mereka, sebuah kata yang biasa mereka ucapkan di pagi hari seolah menjadi sebuah rutinitas tersendiri.
Setelah menghabiskan seperpempat sarapannya, Kevin sang putra bungsu kesayangannya itu akhirnya datang, lalu dengan segera ia menelantarkan makanan yang hendak ia masukkan ke dalam mulutnya demi menyambut putranya itu.
Bagi dirinya, setiap kepergian kevin adalah suatu hal yang ia nantikan kepulangannya, karena sebongkah rasa sesak akan terus menghantuinya apabila anaknya itu tak sedang berada di sisinya maupun dalam jangkauan pengawasannya.
“Wihh… mamaku yang cantik udah nungguin nih!”
“Dasar gombal kamu vin! Udah cepetan masuk sana ke ruang makan, udah mama siapin tuh makanan kesukaan kamu.”
“Ohh yah? Emang mama tuh paling the best deh pokoknya hehe…”
“Jangan ngomong terus, buruan masuk, nanti keburu dingin loh.”
“Iya mah…”
Setelah acara penyambutan itu, kedua anak ibu itu pun kemudian berjalan beriringan dan di ikuti oleh kepala pelayan rumah mereka menuju ruang makan tempat di mana semua jenis hidangan tersedia di atas meja. Mereka berjalan tanpa berdialog sedikitpun sehingga sesampainya di ruang makan, Kevin akhirnya membuka pembicaraan mereka dan memulai dialognya bersama ibunya itu.
“Mah! kok enggak ada apa-apa di sini? Katanya udah di siapin.”
“Sabaran dikit napa Vin! Tungguin aja”
“Yah bukan salah Kevin dong!”
“iya ah… udah! Diem aja kamu, ‘Bi tolong jejerin lagi yah! Soalnya kevin baru datang’* (berbicara dengan pelayan)”
“Emang sekarang jam berapa sih? Kok sarapannya udah di beresin.”
“Kamu buta atau sengaja enggak punya mata hah? Jelas-jelas ini udah jam Sembilan, yah wajar dong kalau sarapannya udah di beresin duluan sama bibi.”
“Nah kan! Pasti aku yang di salahin.”
“Yah emang kamu orangnya suka bikin orang emosian kok! Tanya aja sama bibi kamu tuh kalau enggak percaya.”
“Kalau udah gini, aku ngalah aja deh sama mamah! Nanti kalau diterusin bakalan lama banget sarapannya cuman gara-gara debatin hal yang gak penting.”
“Nah… itu otak kamu jalan Vin! Jangan sering-sering dianggurin yah itu akal, takutnya enggak bisa kepake nanti”
“iya mah iya..iya!”
Kalimat setuju yang dilontarkan kevin, ialah penutup terhadap pembicaraan panjang bersama ibunya itu sebelum beberapa detik setelahnya hidangan akan di suguhkan kembali.
Beberapa pelayan kini tengah sibuk berlalu lalang sambil membawa nampan berisi sarapan yang akan dihidangkan untuk Kevin, walaupun hidangannya tak sebanyak saat makan siang, namun beberapa diantaranya mungkin tak akan pernah terlihat di dalam menu sarapan restoran biasa bahkan di beberapa tempat ternama, karena makanan yang saat ini tengah disuguhkan kepada kevin ialah buah karya dari seorang chef ternama dari paris, chef itu tentunya telah memiliki sertifikat internasional dan juga ia pernah memenangkan beberapa penghargaan atas prestasinya dalam dunia masak-memasak.
Tak lebih dari lima belas menit yang lalu sarapan Kevin di antar, dan saat ini ia telah menghabiskan seperempat dari hidangan yang disuguhkan dan menyisakan selebihnya karena beralasan tak ingin memakannya, anak itu lalu mengangkat kepalanya dan memandang waja ibunya yang sudah tua, dan tanpa sadar ia dibalas kembali dengan tatapan sinis.
“Ngapain kamu natap-natapin aku Vin hah!”
“Enggak kok, si..siapa juga yang liatin, orang lagi mamdang tembok di belakang mamah.”
“Jangan bohong kamu Vin! Katanya… anak, kalau bohong sama orang tua biasanya dia tuh gelagapan.”
“Siapa yang bohong coba? Mamah mah suka kegeeran jadi orang.”
“awas yah kamu Vin! Mamah pantengin loh kamu.”
3 minute later
“Mah aku mau ambil saran dong…”
“Saran apa vin? Saran buat cepet buat dapetin pacar gitu.”
“Ih… mamah mah becanda mulu, kevin serius loh mah.”
“Iya mamah juga lagi serius Vin! Bukan cuman kamu aja.”
“Mah… ayo dong kasih saran, jangan baca majalah doang terus anaknya di diemin.”
“Iya Kevin!!! Mamah bilang kamu mau saran apa?”
“Ohh iya kevin lupa ngasih tau mamah hehe…”
“Mangkanya dari tadi tuh jangan cuman ngegas dan ceplas-ceplos aja, mau mamah saranin apa nih?”
“Kevin minta saranin tempat piknik yang bagus mah!”
“Yang mau kamu itu kayak gimana?”
“Hah? Maksudnya mah?”
“Yah maksudnya itu… kamu tuh mau piknik yang kayak gimana? Suasanya kayak apa? Berapa orang? Gitu loh maksudnya Vin! Masa gituan doang kamu nggak tahu”
“Hmm… kayak gimana yah? Kevin juga bingung mah heheh…”
“Haduhh… punya anak kok cuman tau bikin masalah aja sih!”
“Yah maaf mah! kan aku anak mamah berarti nakalnya kevin itu pasti nurun dari mamah, iya kan?”
“Nyolot aja kamu kalau orang tua ngomong!”
“Cepetan dong mah… kevin lagi buru-buru.”
“Iya sabar! Mamah juga lagi mikirin.”
“Ayo dong mah!”
“Mamah udah dapet nih!”
“Apa mah? di mana”
“Gimana kalau kamu piknik aja di danau? Jadi sekalian aja kamu bermalam di sana.”
“Boleh juga tuh mah! Btw tempatnya di mana mah?”
“Kalau tempatnya tuh di sebelah bagian barat daya kalau nggak salah!”
“Hah? Di situ kan bukannya agak jauh dari kota mah!”
“Rnggak kok, nggak jauh-jauh amat dari kota.”
“Ohh yah? Kalau gitu aku suruh Pak Jeffry buat enterin aku yah mah!”
“Iya nanti kalau kamu mau pergi, suruh aja Pak Jeffry anterin kamu soalnya dia tuh udah pernah ke sana beberapa kali.”
“Kalau gitu pas banget dong hehe...”
“Pak Jeffry nggak keberatan kan?”*berbicara kepada Pak Jeffry
“Iya bu… saya sama sekali tidak keberatan untuk mengantar tuan Kevin dan temannya.”*Pak Jeffry
“Ngomong-ngomong Pak Jeff udah kenal tempat itu?”*kevin
“Iya tuan… saya udah sering ke sana.”*Pak Jeffry
“Kamu jangan ngeraguin Pak Jeffry Vin! Dia tuh udah kerja di sini pas masih jamannya kakekmu loh.”*ibu Kevin
“Iya mah… Kevin juga tahu kalau soal itu!”*kevin
“Ohh iya pak! Di deket sana ada toko nggak?”
“Setahu saya di sana itu lumayan banyak toko, tapi toko di sana hanya milik masyarakat sekitar, dan yang paling besar cuman Toko Kue Riri.”
“Hah! Toko kue Riri?”
Halo para readers 😊😊😊
Sebelumnya author mau minta maaf kepada para pembaca karena udah seminggu nggak update karena ada beberapa alasan pribadi 😞😞😞👉👈
Meskipun begitu... jangan lupa yah buat support terus😁😁😁
Like juga yah kalau kalian suka...
sekaligus komen buat masukin kritik dan saran kalian agar novel ini bisa lebih baik lagi
see you again di episode selanjutnya 😉😉😉