
Suara bising serangga di semak belukar terus saja mengitari telinga, tak ada suara lagi selain bunyi bising itu dan hembusan nafas berat dari Kevin dan juga Cassy.
Kedua orang itu kini berada dalam kebingungan dikarenakan keanehan akan suatu hal.
Hilangnya Pak Jeffry bersama Tiany adalah suatu perkara yang membuat mereka pusing memikirkan kejadian saat ini.
Nafas keduanya berhembus begitu cepat setelah sepasang mata mereka tak melihat sosok Tiany dan Pak Jeffry di tempat mereka berada sebelumnya.
Kecemasan yang mereka rasakan sebelum menemukan lampu rupanya tergantikan oleh kebingungan terhadap hilangnya kedua orang itu.
“Vin! Kok Pak Jeffry sama Tiany bisa hilang sih?”
“Aku juga nggak tahu Cass! Dari tadi kita juga nggak bisa lihat mereka pergi ke mana gara-gara lampu belum nyala.”
“Yah gimana dong?”
“Gimana kalau kita cari aja dulu, siapa tahu mereka keluar atau balik ke villa.”
“Tapi aku gak mau kita pencar yah!”
“Iya! Nggak kok, aku bakal nemenin kamu terus.”
“Janji dulu dong!”
“Iya! Aku janji Cass!”
“Oke! Kalau gitu yuk buruan kita cari.
Eh tapi… pertama kita mau nyari ke mana Vin! Ini kan hutan?”
“Lebih baik kita jangan cari di luar dulu deh.”
“Terus nyarinya ke mana? Apalagi sekarang udah malam.”
“hmm…”
“Vin! Ke mana?”
“Nah Cass! Di situ tuh!”
“Kenapa?”
“Tangga! Di situ ada tangga.”
“Kamu mau naik ke atas?”
“Iya aku mau nyari ke atas dulu.”
“Ohh! Yaudah kalau gitu, yuk!”
Dari pantulan mata Kevin, terdapat sebuah tangga yang berada di samping kiri meja barista.
Tangga itu nampaknya tak memiliki cukup cahaya untuk menerangi seluaruh anaknya, sehingga Kevin dan Cassy menduga bahwa mereka harus berjalan lagi dalam kegelapan demi menemukan Pak Jeffry juga Tiany.
Kevin dan Cassy mengambil langkah perlahan untuk menuju tangga di samping kiri meja barista itu yang tampaknya cukup tinggi menjulang ke atas.
Kaki Kevin maupun Cassy berjalan dengan begitu hati-hati seolah tak ingin menimbulkan sedikit pun suara, walau nyatanya kini di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.
Suasana di dalam sana begitu tegang dan mencekam, di sempurnakan oleh aura mistik dari bohlam lampu dengan cahanya yang memancarkan warna ke kuningan.
Dari salah satu di antara mereka berdua, terdapat sebuah kekhawatiran yang menjadi dinding di antara rasa tenang juga kesenangan, membuahkan rasa takut dari lahirnya kecemasan belaka.
Kevin juga Cassy akhirnya berada di anak tangga deretan kedua dari bawah lantai di dalam ruangan pengap itu, kaki mereka sesekali bergetar dan menolak tuk mengambil langkah naik menuju anak tangga selanjutnya hingga sampai ke atas sana karena rasa takut di rongga dada mereka terus saja mengganggu.
Deretan anak tangga di atas sana masih panjang dan tak lagi mendapat seberkas cahaya dari bohlam lampu berwarna kuning yang terpasang di tengah langit-langit ruangan kedai kue itu, sehingga Kevin dan Cassy merasakan hal demikian.
Akan tetapi usaha mereka tak ingin tersia-siakan, hingga kemudian kedua orang itu pun bertaruh kembali juga rela hanyut dalam kegelapan demi mencari Pak Jeffry dan Tiany agar mereka berempat dapat keluar dari siksaan batin di ruangan ini.
Langkah demi langkah Kevin dan Cassy telah pijakkan di atas deretan anak tangga itu, sehingga kini mereka berdua hampir mendekati ujung tangga lalu naik ke atas dan mencoba tuk mencari keberadaan Pak jeffry beserta Tiany yang hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Waktu menunjukan pukul 07:48 sehingga menandakan malam semakin larut, Kevin beserta Cassy juga telah sampai dan berdiri tegap di lantai atas kedai roti usang itu.
Dari pantulan mata keduanya, tergambar jelas sebuah ruangan yang tataannya tak terlalu nampak karena cahaya minim dari sang rebulan malam di tepian jendela yang mengelilingi hampir seluruh dinding bagian belakang bangunan tua itu.
“Vin! Ternyata di sini nggak gelap-gelap amat yah.”
“lya Cass! Untung di belakang masih ada jendela lebar.”
“Tapi kayaknya Pak Jeffry sama Tiany nggak ada di sini deh Vin!”
“Kamu tahu dari mana mereka nggak ada disini? Kan kita belum nyari.”
“Kamu mau nyari di mana Vin? Di sini kan nggak ada ruangan atau apapun. Adanya cuman kardus-kardus bekas dong.”
“Tapi kan di sini masih agak gelap, di tambah kita cuman bisa liat sebagian dari ruangan ini, dan mungkin mereka sembunyi di salah satu benda atau sudut ruangan ini”
“Emangnya kamu pikir kita lagi main-main Vin! Masa kamu ngira mereka ngumpet dari kita sih!”
“Aku bukannya bermaksud kayak gitu Cass! Tapi kita kan belum tahu pasti apa yang terjadi sekarang.”
“Arghh! Aku bingung Vin sama hari ini”
“Yah sama! Aku juga bingung sama kejadian aneh hari ini.”
“Kalau gitu yaudah deh, kita nyari baik-baik kemana mereka berdua pergi”
“Gitu dong! Eh tapi kita pencar aja yah supaya lebih cepet.”
“NO! I said no!”
“Iya..iya aku cuman becanda hehehe…”
“Bisa aja kamu Vin! Masa becandanya sekarang.”
“Maaf!”
“Huh!”
“Tapi kita mau nyari ke mana dulu nih!”
“Ke sana aja dul Vin!”
“Ke kiri? Yang ada meja sama kursi-kursi patah itu?”
“Iya!”
“Ohh! Yaudah yuk buruan jalan!”
Dengan langkah yang lebih cepat, Kevin juga Cassy langsung bergegas setelah mereka berunding dalam hitungan menit.
Kedua orang itu nampaknya telah melepaskan sebagian rasa ketakutannya saat sebelumnya berada di tangga, mungkin karena perkiraan mereka yang menyatakan ruangan lantai dua ruangan kedai roti itu gelap gulita telah salah.
Walau demikian, Kevin juga Cassy terlihat berjalan dengan penuh waspada melihat sekeliling agar dapat mengawasi ruangan itu dengan baik dan menemukan Pak Jeffry beserta titany yang sedari tadi menghilang entah ke mana.
Mata mereka selalu berbolak balik melihat dari sisi kanan lalu sebelah kiri, guna mereka dapat menemukan orang yang di cari.
“Cass! Kamu lihat sesuatu nggak?”
“Nggak Vin! Aku nggak liat apa-apa kecuali barang-barang bekas.”
“Masa sih? Kamu emangnya gak ngelihat tanda-tanda yang mencurigakan gitu?”
“Dari tadi aku emang gak ngelihat apa-apa.”
“kalau kamu?”
“Yah sama aja. Aku juga nggak ngelihat apapun dari tadi.”
“Kan aku udah bilang, kalau di sini tuh gak ada apa-apa.
Kamu sih nggak dengerin apa yang aku omongin, kan jadinya percuma.”
“Jangan bilang percuma, kita cari aja dulu baik-baik, siapa tahu nanti dapet.”
“Terserah kamu aja deh Vin! Aku ngikut aja.”
“jangan ngambek dong Cass!”
“Aku nggak ngambek kok Vin! Aku cuman capek aja dari tadi. Apalagi kita nggak dapet apa-apa, kan aku jadi kesel.”
“Kamu capek? Kenapa gak ngomong dari tadi sih Cass! Kan kita bisa istirahat.”
“Gimana mau ngomong kalau kita dari tadi cuman kaget aja!”
“Iya juga sih! Yaudah, kalau gitu kita istirahat aja di sana.”
“Di mana Vin?”
“Di jendela situ tuh, di depan!”
“Yang ada balkonnya?”
“Iya!”
“Tapi aku bukan cuman capek Vin! Aku laper, dan aku takut maag aku bakal kambuh.”
“Duh gimana dong Cass! Kita gak bisa cari makan kalau di tengah hutan kayak gini.”
“Di mobil kan ada makanan, coba kamu ambilin.”
“Yaudah! Kalau gitu kita turun aja dulu.”
“oke! Tapi Pak Jeffry sama Tiany gimana?”
“Nanti aja urusnya! Yang penting kamu nggak sakit!”
“Oke lah Vin! Kita turun aja.”
“Tapi kamu masih kuat jalan?”
“Masih kuat kok Vin! Kamu nggak usah khawatir berlebihan.”
“Tapi kan perut kamu bisa sakit nantinya!”
“Gak kok! Nggak apa-apa, aku masih bisa tahan.”
“Nggak! Kamu naik aja ke punggung aku, biar kugendong sampai ke bawah.”
“Beneran Vin! Aku masih kuat jalan, kamu gak usah repot-repot mau gendongin aku segala.”
“Kalau gitu, biar aku rangkul kamu aja biar bisa bantu jalan.”
“Yaudah kalau itu mau kamu!”
Dengan persetujuan dari Cassy, Kevin lalu mengambil tangan gadis di depannya itu kemudian membantunya berjalan melewati ruangan gelap yang hanya di terangi oleh lembutnya sinar bulan purnama sang malam.
Kedua orang itu berjalan beriringan, dan secara perlahan mereka lalu menapaki lantai putih bernoda cokelat sehingga dapat mendekati tangga yang akan membawanya kembali turun juga keluar melewati pintu di bawah sana.
Sedari tadi Cassy memang menahan rasa sakit di perutnya agar tak terliat oleh Kevin karena alasan yang bernyatakan bahwa ia tak ingin dirinya menambah beban dan membuat Kevin bertambah cemas dan khawatir.
Setelah mereka menuruni tangga, Kevin dan Cassy lantas mengarahkan pandangannya kepada pintu keluar yang akan mengeluarkan mereka dari tempat ini nantinya.
Dengan segenap tenaga yang masih tersisa sedari mereka mencari Pak Jeffry beserta Tiany, Kevin juga Cassy lalu berjalan kembali menuju pintu keluar itu walau terpaksa meninggalkan niat tuk mencari keberadaan dua orang yang mereka ajak tuk berpartisipasi dalam rencana liburannya ini.
“Cass! Kamu masih kuat?”
“Iya vin! Masih kok.”
“Sabar yah Cass! Pintu keluarnya udah deket, cuman beberapa langkah aja.”
“Iya vin! Tapi rasanya perut aku udah mulai sakit nih.”
“Waduh! Gimana dong?”
“Gak apa-apa kok Vin! Kita lanjut aja.”
“Yaudah deh kalau gitu!”
Kriieet…
Suara desakan keluar begitu Kevin membuka pintu kayu di kedai roti itu.
Baik Kevin maupun Cassy, keduanya sontak menutup mata meski tanpa alasan yang menentu saat pintu itu terbuka.
Walau kelopak mata mereka tertutup rapat, akan tetapi pendengaran kedua orang itu tentu saja tidak tertutup dan masih bisa mendengar suara-suara bising dari serangkaian semak belukar.
Namun anehnya, telinga mereka tak lagi mendengar suara bising serangga yang berasal dari semak-semak itu, melainkan suara-suara yang berasal dari pijakan kaki seseorang.
Suara itu sempat membuat mereka melintaskan pertanyaan dalam otak, sehingga membuat rasa penasaran muncul kembali dan membuat kelopak mata kedua orang itu kembali terbuka.
“Loh! Vin, ki..kita kok ada di sini?”
“A..aku juga gak tahu Cass!”
“Permisi kak! Kakak datang untuk beli obat apa?”*Pelayan
“I..iya mbak! Kenapa?”*Kevin
“Kakak mau beli apa?”*Pelayan
“Maaf mba! Tapi saya ada di mana?”*Kevin
“Kakak sama temennya lagi tersesat yah? soalnya saya lihat, kakak seperti sedang kebingungan.”*Pelayan
“Kayaknya gitu deh!”*Kevin
“Oh! Jadi kakak memang lagi tersesat. Kalau gitu silahkan duduk dulu biar saya bantu.”*Pelayan
“ah! Iya, makasih!”*Kevin
“sama-sama!”*Pelayan
Dengan sebuah keajaiban yang datangnya entah dari mana, Kevin dan Cassy kini telah berada di sebuah toko apotik dengan wajah kebingungan.
Mereka berdua sempat tak percaya akan hal ini sampai salah satu dari kostumer di sana menyapa mereka dengan ramah, yang akhirnya Kevin juga cassy pun tak dapat menyangkal dan terpaksa menepis rasa penasarannya lalu memercayai kenyataan bahwa kini mereka mereka berada di sebuah toko apotik yang nampaknya cukup besar.
Halo para readers 😊😊😊
Saya mau minta maaf karena udah seminggu nggak update karena kondisi saya yang kurang fit.
Mohon maaf sekali lagi 😞
👉👈